Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Sang Pemimpin


__ADS_3

Kayra hanya pasrah pada nasib yang akan segera menghampirinya. Saat ini tubuhnya terasa sangat lemah, rasanya seluruh kekuatannya tersedot keluar. Mungkin juga efek mual dan dua hari ini ia tidak makan dengan baik.


Kayra merindukan babby M, ia juga rindu pada Dariel. Matanya mulai berkabut, sebutir mutiara bening meringsek keluar dari ujung kedua matanya. Kayra terisak pelan, ia putus asa. Semuanya terasa menyiksa baginya. Ia membiarkan air matanya mengalir membasahi bantal tempatnya meletakkan kepala.


Saat ini hatinya diliputi kecemasan. Potongan pembicaraan dua orang bertudung hitam telah membuatnya cemas. Bagaimana kalau ia menjadi korban di ritual aneh itu dan tidak bisa menyelamatkan diri? Kayra tidak ingin mati, ia masih ingin hidup bersama-sama dengan Dariel dan babby Miracle.


Detik berganti detik begitu perlahan, seakan waktu enggan berganti. Semakin membuat Kayra terhimpit dalam kecemasan. Berkali-kali ia berusaha memejamkan mata namun tak juga mampu terlelap. Ia melihat ventilasi udara yang membiaskan sinar jingga.


"Sudah sore... malam ini apakah akhir kisahku di dunia?" Gumam Kayra dalam hati. Ia beranjak bangun dari tidurnya.


Kayra bersedekap. Sepertinya sudah tidak ada peluang lagi untuknya. Saat ini ia hanya bisa pasrah dengan apapun yang akan terjadi padanya malam nanti. Dimana bulan merah akan muncul.


Lamunannya teralihkan oleh rasa perih diperutnya. Akhir-akhir ini ia merasa tidak nyaman dengan keadaan perutnya. Bukan hanya rasa perih karena asam lambungnya naik. Tetapi sepertinya ada yang lain. Bahkan Kayra pun tidak tahu tentang itu.


Kayra terus memandang ke arah pintu. Ia sangat berharap ada seseorang membukakan pintu. Dan orang yang sangat diharapkannya datang adalah Dariel suaminya. Namun sepertinya harapannya jauh dari kenyataan.


Pintu itu masih tak bergeming. Tak ada suara anak kunci diputar. Yang ada hanya kesenyapan mencekam. Benar-benar sepi, bahkan suara jangkrik ataupun binatang-binatang malam tak terdengar satupun.


Di sebuah ruangan khusus di gedung yang sama, tampak seorang pria muda berbaju serba hitam menatap beberapa layar monitor di depannya. Tatapan nya kemudian tertuju pada layar dimana ia melihat Kayra terbaring di ranjang.

__ADS_1


Ia mendengkus dalam kemarahan. "Hari ini kamu pasti mati Ra... semua dendam ku akan segera terbalaskan. Juga aku akan menyerap semua ilmu yang kamu punya. Hahahah." pria itu tertawa serak. Sebuah tawa yang mengandung aura mistis kental. Siapa pun yang mendengarnya pasti merinding ketakutan.


Rambut sebahunya dikuncir dengan karet gelang ke belakang. Menyisakan anak rambut membingkai wajahnya yang tampan. Sesekali ia merapikan anak rambut yang sedikit mengganggu matanya.


"Kapan kau bunuh wanita itu?" tanya seorang wanita bercadar hitam yang tiba-tiba masuk ke ruangannya. Jari telunjuknya mengarah ke arah monitor dimana Kayra terlihat sedang terbaring. Wanita itu terlihat gusar.


"Nanti malam." jawab pria itu dengan intonasi yang cukup tenang.


"Aku tidak mau tahu apapun alasanmu berlambat-lambat membunuh wanita itu. Kalau kamu tidak bisa membunuhnya, biar aku saja yang melakukannya." Wanita bercadar itu berniat hendak keluar dari ruang operator.


Belum sampai ia mencapai pintu keluar, kakinya tertahan oleh sesuatu. Tiba-tiba ia tidak bisa menggerakkan kakinya. Seperti ada yang memaku kakinya hingga melekat dilantai.


"Apa yang kau lakukan? Jangan menahanku. Aku akan membunuh wanita itu dengan tanganku. Dan kamu akan tetap menerima bayaran seperti yang kita sepakati sebelumnya." Si wanita bercadar mencoba bernegosiasi. Berharap dapat segera membunuh Kayra.


Seketika memperlihatkan wajah sangat buruk. Tampak bekas luka bakar di sebelah kanan wajahnya. Bekas luka itu telah menumbuhkan jaringan parut tak rata berwarna kemerahan. Membuat wajah perempuan itu tampak sangat mengerikan. Kontras dengan sisi wajah sebelah kiri. Meakipun sudah berumur namun masih menyisakan kecantikan alami.


Wanita itu berusaha menggapai kain hitam penutup wajahnya yang sekarang dipegang pria muda itu. "Berikan cadar ku" Pintanya mengiba. Ia merasa sangat malu dengan keadaan dirinya yang buruk rupa. Ia adalah seorang janda kaya raya. Punya banyak harta. Beberapa kali ia berkonsultasi ke dokter spesialis rekonstruksi wajah. Namun hasilnya sangat mengecewakan. Dua kali operasinya di luar negeri gagal total. Bukannya ia mendapatkan kecantikannya kembali, malah dari sayatan operasi meninggalkan bekas yang semakin memperburuk keadaannya.


"Sesuai dengan kesepakatan kita. Lima puluh juta." Kata wanita itu mengerang marah.

__ADS_1


"Setelah apa yang kau dapatkan ini? Apakah nyawa Kayra hanya senilai lima puluh juta?" Hardik pria itu emosi.


"Apa maksud mu? Kau mau minta tambahan bayaran? Padahal kau belum melakukan apapun padanya?" Emosi si wanita meledak. Ia ingin mencakar wajah sang pria. Tangannya terulur berusaha menggapai sang pria namun kakinya yang membatu menahan gerakannya.


Pria berbaju serba hitam itu menyeringai penuh kemarahan.


"Aku tidak butuh apapun dari mu. Uang mu tidak ada artinya. Aku mau kamu jadi budak ku. Kalau kau bersedia, aku akan mengampuni nyawa mu." Geram sang pria.


Wanita itu terdiam, selama ini ia telah membunuh puluhan orang. Ia terbiasa menyiksa orang-orang itu sebelum dibunuhnya. Sekarang ia diposisi sebagai calon korban dan mendapat ancaman dari seorang pria muda. Ini suatu hal yang menggelikan baginya, pria muda yang terlihat belum berpengalaman mengancamnya? Sebuah ironi yang menggelikan. Jangan-jangan pria muda itu hanya berani menggertak saja?


"Amanda, jangan berani-berani meragukanku. Aku tahu kau wanita berhati dingin. Membunuh orang dengan memakai tangan orang lain. Apakah itu kebanggaan mu? Hahaha... Kau akan melihat dengan matamu sendiri bagaimana aku membunuh orang seperti menepuk lalat."


Kata-kata pria muda itu mengejutkan wanita paruh baya itu. Bagaimana pria muda itu bisa tahu nama aslinya. Padahal ia sudah berkali-kali mengganti identitasnya. Kalau bukan orang dari masa mudanya, tidak akan mungkin bisa mengenalnya. Bahkan polisi tidak mungkin melacaknya, karena ia telah berkali-kali mencuri identitas korban yang dibunuhnya dan dipakainya sebagai samaran. Dari mana pria muda ini bisa mengenalinya? Amanda mulai berhati-hati. Pria muda itu tidak bisa diremehkannya.


Tiba-tiba pria muda itu tertawa kembali dengan suara seraknya. "Hahahaaha..."


"Baru nama mu saja ku sebut, kau sudah mengkerut ketakutan? Bagaimana kalau aku membunuhmu seperti kau membunuh Kesya? Pasti menyenangkan. Aku pasti akan merasa puas seperti yang pernah kamu rasakan saat mendengar teriakan memilukan saudara kembarmu dari dalam api yang membakarnya." Sang pemuda menyeringai penuh ancaman.


Amanda seketika memucat. Bagaimana bisa seorang pria muda bisa tahu banyak mengenai masa lalunya? Siapa pria muda ini?

__ADS_1


"Siapa kamu?" Tanya Amanda. Suaranya bergetar ketakutan.


"Aku Sang Pemimpin".


__ADS_2