Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Rayuan Alex


__ADS_3

Tia masih sibuk dengan segala pikirannya. Tanpa diketahuinya, Kayra dengan jelas mendengar isi hatinya.


Kayra tersenyum. Senyuman pertama Kayra karena seorang sahabat yang memperdulikannya.


"Hallow.... hey... cewek nya Alex.... Kamu mau terima bunga ini kan?" Kata si cowok alay bikin telinga Kayra panas.


Ia tidak terima dikatain sebagai ceweknya Alex. Statusnya sudah menikah. Kata-kata cowok alay itu seketika membuat amarahnya meledak.


"Bawa pergi... aku tidak mau terima apapun pemberian Alex. Dan jangan pernah sekalipun menyebutku sebagai ceweknya Alex. Aku sudah punya cowok. Katakan pada Alex jangan ngasih apa pun sama aku!" Kata Kayra tegas.


"Aduh cin.... cinta bertepuk sebelah tangan ini namanya..." Katanya si cowok alay dengan gaya kemayu nya. Ia ngibrit pergi dengan kegembiraan, karena dapat bahan gosip untuk disiarkan ke seluruh warga kampus.


Kayra dan Tia menggeleng kesal.


"Kok ada cowok kayak itu ya?" Tia benar- benar tidak habis pikir.


"Kay... kamu sudah punya pacar?" Tanya Tia tiba-tiba.


"Enggak ada. Aku bilang begitu supaya Alex gak bikin acara aneh-aneh kayak itu. Sumpah aku gak suka sama Alex." Kata Kayra keceplosan.


"Kamu gak suka Alex? Cowok paling cakep di kampus ini lho. Dia juga terlihat baik dan orang nya juga sangat baik ku lihat." Kata Tia membanggakan Alex. Membuatnya gak percaya pada perkataan Kayra. Atau jangan-jangan ada masa lalu kelam antara Kayra dan Alex?


Suara hati Tia sangat mengganggu Kayra. Namun ia tidak bisa menjelaskan masalah yang sesungguhnya. Apalagi itu baru perasaan Kayra saja belum ada bukti yang nyata.


"Kay... kenapa kamu makan nya dikit banget? Kamu lagi sakit atau ada masalah?" Tanya Tia penuh perhatian.


"Aku gak papa, cuma lagi malas aja." Kayra menghabiskan jus apel nya. Ia jadi teringat masalahnya dengan Dariel. Bagaimana keadaan Dariel saat ini? Apakah ia sudah pulih? Hatinya terasa pedih mengingat keadaan Dariel. Dengan tangan nya sendiri ia telah melukai suaminya sendiri. Bersyukur, Dariel masih tertolong. Bagaimana kalau Dariel meninggal ditangan nya?


Air mata Kayra menitik dari sudut matanya. Kepedihan menghimpit hatinya. Membuatnya merasakan kesesakan tak terperi. Ia ingin berlari menemui Dariel, menanyakan keadaan nya saat ini. Hingga tak dapat dicegah isakannya semakin menjadi.


Tia melihat Kayra menangis sampai terisak menjadi semakin kawatir.


"Kay... ada apa? Apa yang terjadi pada mu?" Tanya Tia penasaran. Ia merasa iba pada keadaan Kayra yang mengenaskan.


Kayra seketika menghentikan tangisannya. Saat ia menyadari kalau saat ini mereka di kantin kampus yang ramai. Kayra menghapus air matanya. Ia mulai menguasai diri. Tidak boleh ada tangisan.


Di pojok bangku kantin sepasang mata elang mengawasi Kayra dengan seksama.


"Gadis penuh misteri, layak untuk dikejar dan ditakhlukkan." Pikir Alex. Ia pun tersenyum. "Tidak ada dalam sejarah ku, seorang cewek bisa menolak ku begitu saja. Lihat saja Kayra Mahendra... kamu pasti jatuh dalam rayuan ku." Seringaian penuh misteri menghiasi wajah Alex.


***


Di Rumah Sakit Melati. Nampak dua orang dokter berjalan tergopoh- gopoh memasuki ruang meeting. Dua orang itu adalah dokter spesialis kardiologi dan internis. Mereka mendapat panggilan tiba-tiba untuk menemui Dirut sekaligus pemilik Rumah sakit itu.


Dua orang dokter spesialis itu merasa tidak enak karena sudah ditunggu Erlangga di ruang meeting. "Selamat siang, maaf Pak kami terlambat." Kata salah seorang membuka percakapan. Sesaat setelah mereka duduk di kursi berhadapan dengan Erlangga.


"Ya... saya memanggil kalian tiba-tiba ketempat ini untuk mendiskusikan suatu hal." Kata Erlangga dengan nada mendesak.


"Kalian yang tadi malam memimpin operasi anak saya bukan?" Erlangga sengaja menjeda pertanyaannya menunggu respon dari kedua dokter spesialis yang duduk di depannya.


"I...iya Pak, saya yang memimpin operasi pasien atas nama Dariel Erlangga. Maaf pak apakah ada masalah?"


Tanya dokter spesialis kardiologi. Erlangga menjawab pertanyaan mereka, hanya dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"Saya memanggil kalian untuk meminta penjelasan secara ilmiah." Kata Erlangga semakin membuat kedua dokter itu saling melempar pandang.


"Bagaimana hasil observasi kalian mengenai luka anak ku? Kira-kira apa penyebab luka anak ku itu?" Tanya Erlangga penuh penasaran. Setelah tadi pagi tim forensik menyelidiki bekas ledakan. Mereka sama sekali tidak menemukan bubuk mesiu ataupun bahan peledak lainnya. Membuat tim forensik kebingungan.


Hasil awal penyelidikan menunjukkan ledakan disebabkan energi kinetik yang cukup kuat. Ledakan terjadi dari dalam ruangan kamar. Bisa dikatakan sebuah benda atau tenaga cukup besar lah sumber kerusakan ruangan kamar dan yang telah melukai Dariel. Namun anehnya, Kayra yang berada di dekat Dariel tidak terluka sama sekali.


Hal itu terasa janggal bagi Erlangga. Setahunya, baik Dariel maupun Kayra sedang beristirahat di kamar tidur. Hingga terdengar keributan dari dalam kamar. Juga suara ledakan cukup keras berasal dari kamar mereka.


Keanehan lain terjadi pada baby Mirachel. Sesaat sebelum ledakan itu, ia menangis melengking. Membuat seisi rumah terkejut. Baby M sepertinya menjadi alarm peringatan sebelum ledakan?


Memikirkan banyak hal membuat Erlangga semakin tidak habis pikir.


"Hasil observasi kami pra operasi, luka-luka anak bapak. lebih mirip luka karena senjata tajam. Sejenis pisau bedah yang cukup tajam. Sayatan disetiap luka sangat rapi. Juga sepertinya ada senjata tumpul yang dipakai untuk menghantam dada dan kepala," dokter Internis memberikan penjelasannya.


Dokter spesialis kardiofaskuler meminta kesempatan untuk menyampaikan hasil observasinya juga.


"Kalau dilihat dari pembekuan darah yang terjadi di otak dan di paru-paru. mengindikasikan efek dari pukulan yang cukup keras." Katanya sedikit meragu. "Juga tidak diketemukan adanya residu peledak ataupun material ledakan di tempat luka."


Erlangga mencoba mencerna informasi dari dua orang dokter kepercayaannya. Kalau memang benar anaknya menjadi korban penganiayaan. Siapa pelakunya?


Pemeriksaan rekaman cctv tidak ada aktifitas orang yang keluar masuk ke dalam kamar Dariel. Satu-satunya saat ini yang patut dicurigainya adalah Kayra. Karena Kayra ada bersama-sama dengan Dariel saat insiden itu terjadi. Juga kepergian Kayra tanpa pamit padanya. Ini lebih seperti tindakan melarikan diri.


Erlangga terhanyut dalam fikiran yang semakin dalam. Satu sisi pertimbangannya ia sangat tidak yakin kalau Kayra pelakunya. Sangat tidak mungkin gadis lemah lembut seperti Kayra bisa melakukan kejahatan sebesar ini.


Juga, Erlangga tahu betapa Kayra sangat mencintai anak nya. Ia tidak meragukannya.


Lalu siapa penjahat yang sebenarnya? Ia tadi juga ikut memeriksa rekaman cctv baik di dalam rumah ataupun di luar rumah. Tidak ada aktifitas mencurigakan yang terekam.


Kalau saja saat ini tidak ada orang lain di ruangan meeting itu, Erlangga pasti berteriak kuat-kuat. Ia ingin sekali melepaskan keruetan pikirannya.


"Tok...tok...tokk...tok...tok"


Suara ketukan panjang, sepertinya ada sesuatu yang mendesak. Karena tidak biasanya ada seorangpun yang berani mengintrupsi pertemuan tertutup seperti ini.


Erlangga membukakan kunci pintu ruangan meeting dengan remote control. Ruangan meeting yang digunakan mereka saat ini bukan ruangan meeting biasa.


Ruangan meeting dirancang dengan parameter standar keamanan tingkat tinggi. Ruangan enam puluh meter persegi itu dilapisi dengan kaca anti peluru. Juga atap dan dindingnya anti api. Sistim penguncian ruangan, pencahayaan ruangan juga pendingin ruangan dikendalikan dengan sebuah remote control.


Dan sebenarnya ruangan itu terletak dibawah tanah. Sebuah ruangan khusus yang juga difungsikan sebagai tempat perlindungan.


Namun dengan kecanggihan digital, salah satu tembok disulap menjadi panel Lighting emiting Diode. Dimana tampilan layar bisa diatur sedemikian rupa memberikan tampilan yang terlihat sangat nyata. Seperti meeting saat ini, terasa seperti berada di lantai atas dengan pemandangan dinding kaca transparan. Memperlihatkan gedung-gedung, juga cahaya berpendar khas ibu kota yang padat.


Bahkan kedua dokter itupun tidak menyadari kalau semua yang mereka lihat adalah ilusi dari kecanggihan tekhnologi.


Erlangga terlihat sedikit gusar saat ia akhirnya menekan juga salah satu tombol remote di tangannya. Seketika pintu itu terbuka. Seketika terlihat Dio berdiri diambang pintu.


"Ada apa?" Tanya Erlangga tidak sabar.


"Tuan muda sudah sadar." Jawab Dio to the point.


"Benarkah?" Tanya Erlangga tidak percaya pada pendengarannya. Bukankah seharusnya Dariel masih dalam pengaruh bius? Karena luka dan juga bekas operasi itu belum pulih, sehingga akan sangat menyakitkan kalau ia dibiarkan dalam kondisi sadar.


"Kenapa bisa?" Tanya Erlangga seraya bangkit berdiri diikuti kedua dokter spesialis. Mereka bergegas menuju lift untuk melihat kondisi Dariel.

__ADS_1


"Tuan muda Dariel menolak saat akan diberi penenang juga tidak mau disuntik anti nyeri. Ia hanya minta untuk bertemu dengan tuan Erlangga segera." Jawab Dio.


"Terus bagaimana keadaannya?" Erlangga mulai panik. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Dariel bisa menahan rasa sakitnya. Ia menoleh kearah dua dokter yang mengikutinya. Pandangan Erlangga begitu menusuk melemparkan tuduhan.


Salah satu dokter membela diri. "Kami sudah memastikan memberi dosis rutin melalui infus tuan Dariel. Seharusnya tuan Dariel baru sadar setelah tiga hari menurut perhitungan medis. Jadi kalau saat ini tuan Dariel sudah sadar itu diluar kapasitas kami."


"Siapa yang sekarang ini menjaga Dariel?" Tanya Erlangga memastikan.


"Maaf tuan. Para dokter dan suster yang merawat diusir keluar oleh tuan Dariel. Mereka tidak berani menolaknya karena melihat sepertinya tuan Dariel baik-baik saja, tidak menunjukkan kesakitan. Itulah sebabnya saya memberanikan diri mengintrupsi meeting tuan. Maafkan saya." Kata Dio penuh penyesalan.


Erlangga mengangguk. Perjalanan mereka menuju ruang ICU terasa lama. Erlangga tidak bisa menyembunyikan rasa kawatirnya pada Dariel. Membuat pria paruh baya itu mempercepat langkahnya.


Di depan ruang ICU ada seorang dokter jaga dan tiga orang perawat mengawasi pasien dari balik kaca. Mereka tidak berani membuat keputusan sebelum ada persetujuan dari Erlangga selaku orang tua juga pemilik rumah sakit.


Saat melihat kedatangan Erlangga mereka segera memberi jalan. Erlangga segera masuk dan mendapati Dariel sedang tersenyum manis dihadapannya.


Senyuman Dariel terlihat dimatanya seperti olok-olokan.


"Papa... tenanglah. Dariel baik-baik saja. Aku serius." Kata Dariel saat ia membaca pikiran papa nya.


"Pa... ada yang ingin Dariel katakan." Kata Dariel dengan raut muka serius. Sorotan mata menuntut dan tidak mau dibantah. Erlangga mengenali sorot mata itu. Ya sorot mata yang diwarisi dari Jasmin istrinya. Sorot mata itu yang membuatnya bertekuk lutut dan tidak sanggup menentangnya. Dan selalu berakhir dengan keputusan Erlangga menuruti kemauan istrinya.


Sebenarnya itu bukanlah sorot mata intimidasi penuh ancaman. Namun sorot mata teduh yang menenangkan, memberikan kesan mendalam seakan mengatakan "percayalah aku baik-baik saja". Membuat Erlangga seketika itu juga akan menurut.


"Oke, baiklah. Papa akan mendengarkan mu nak. Katakan saja." Kata Erlangga pasrah. Meskipun saat ini pikirannya kalut. Hatinya penuh kecemasan. Bagaimana keadaan Dariel sebenarnya? Apakah ia benar baik-baik saja? Ataukah malah kebalikannya? Dariel sekarat dan diujung keputusasaannya?


Jantung Erlangga berpacu lebih cepat. Selintas pikirnya, apakah ini kata-kata perpisahan Dariel? Mata Erlangga berkaca-kaca. Erlangga sekuat tenaga menahan rasa perih yang tiba-tiba mengiris hatinya.


Tangan kanan Dariel menyentuh jari-jari papanya.


"Pa... jangan bersedih. Dariel belum ingin mati. Dariel masih ingin kasih papa dua belas cucu." Kata Dariel mencoba melucu. Membuat Erlangga spontan menepuk bahu Dariel gemas.


"Oh... maafkan papa. Apakah sakit?" Tanya Erlangga cemas. Tadi ia spontan memukul bahu anaknya karena Dariel berhasil melucu membuatnya lepas kendali.


"Tenang aja pa... Dariel kuat." Kata Dariel menenangkan papa nya.


"Pa... bawa aku pulang sekarang ya!" Kata Dariel pelan. Meskipun demikian kata-kata Dariel membuat Erlangga sangat cemas.


"Pa... aku baik-baik saja. Aku mau dirawat di rumah saja." Kata Dariel sungguh-sungguh.


"Riel... ini semua untuk kebaikan mu. Tunggulah beberapa hari lagi baru setelah kamu cukup pulih. Nanti baru rawat jalan." Kata Erlangga tegas. Saat ini tidak mungkin membawa Dariel pulang. Setidaknya perlu waktu dua atau tiga hari untuk mempersiapkan segala perlengkapan ruangan ICU di rumah.


Dariel tampak berpikir keras. Ia tidak mungkin berlama-lama di rumah sakit. Ia takut banyak orang akan tahu rahasianya. Ya... mungkin ini satu-satunya jalan. Ia terpaksa melibatkan papa nya dalam rahasia mistis kehidupannya.


"Pa... hari ini Dariel akan katakan sebuah rahasia. Apakah papa mau percaya sama Dariel?" Tanya Dariel sedikit ragu.


Pertanyaan Dariel terdengar aneh ditelinga Erlangga. Bukankah kalau seseorang mau membuka rahasia yang dipastikan adalah apakah pendengar bisa dipercaya memegang rahasia? Bukan sebaliknya meminta pendengar untuk mempercayainya.


Erlangga mengangguk. Ia menarik sebuah kursi ke dekat ranjang Dariel. Erlangga menggenggam tangan anak bungsunya erat-erat.


Hari ini, seperti bertahun-tahun lalu. Saat pertama kalinya Dariel masuk sekolah. Yaitu kelas 1SD. Sebuah dilema yang dirasakan Erlangga. Ia tidak pernah seprotektif itu pada Raka anak sulung nya.


Terhadap Dariel ia sangat berbeda. Dariel tidak diijinkannya sekolah PAUD di sekolah. Erlangga mengharuskan Dariel homeschooling. Alasannya saat itu karena tidak tega membiarkan Dariel jauh dari pengawasan mengingat Dariel masih kecil.

__ADS_1


Namun keposesifan Erlangga terhadap Dariel semakin bertambah. Bahkan saat Dariel sudah cukup umur untuk masuk sekolah Dasar, lagi-lagi Erlangga berusaha menahannya tetap sekolah di rumah.


Dariel dimata Erlangga adalah seorang anak yang lemah. Anak yang selalu mengingatkan pada sosok Jasmine istri yang sangat dicintainya.


__ADS_2