
Kayra melirik arlojinya, sudah hampir jam delapan. Ia memberikan kode pada Dariel. Rupanya Dariel segera paham. Ia pun berpamitan.
"Kak... kami pergi dulu ya. Hari ini ada ospek di kampus. Takutnya kena hukuman kalau sampai terlambat." Pamit Dariel.
"Kalian belum melihat baby Miracle kan?" Tanya Keke mencoba menahan mereka.
"Pulang kuliah aja kak. Kami mampir ke sini. Kalau ada titipan nanti sms kami ya?" Kata Kayra sambil berpamitan pada kak Keke.
"Ya... kuliah benar- benar jangan pacaran mulu." Kata Raka melucu. Membuat semua orang yang mendengarnya menahan senyum.
Dariel dan Kayra bergegas keluar dari rumah sakit. Di depan lobi, si satpam yang tadi sempat reseh sudah berdiri menunggu mereka dengan senyum lebar di bibir nya.
Mungkin Dariel dan Kayra akan berfikir kalau orang itu aneh banget. Namun mereka dengan mudah tahu apa yang difikirkan security di depan mereka. Dariel dan Kayra senyum tertahan.
"Maaf Den, ini kunci mobil nya. Mobilnya sudah saya parkir di tempat vip. Juga sudah saya lap tadi." Kata si security menggebu- gebu. Dariel tidak menanggapi, ia segera menerima kunci mobil yang di serahkan security itu.
Dariel menggandeng Kayra agar tak tertinggal. Mereka berjalan bergandengan sampai memasuki mobil nya.
"Riel... apa sih alasan mu pake mobil ini? Kan ada dua mobil sport punya mu yang lebih bagus?" Tanya Kayra heran.
"Kenapa? Rara malu ya?" Tanya Dariel memastikan.
"Ehm... kenapa mesti malu? Yang penting mobilnya nyaman dan aman dipakai itu sudah cukup." Kata Kayra menjelaskan.
"Oh ya Riel... nanti bilang aja kita bersaudara ya. Supaya pernikahan kita tetap tertutup sampai kita lulus nanti." Pinta Kayra.
"Oke. Apa pun permintaan mu ratu ku... pasti akan ku lakukan." Kata Dariel sambil menyentuhkan jari kanan di kening nya. Seperti penghormatan ala pangeran Eropa. Membuat Kayra tersenyum.
"Ada- ada aja deh." kata Kayra sambil gemas mencubit perut sixpack Dariel.
"Ra... kamu menggoda ku? Apa perlu kita singgah ke hotel?" Goda Dariel yang seketika membuat Kayra terdiam.
Kayra menggelengkan kepala. Gawat, kalau Dariel sampai benar- benar mengajak nya ke hotel. Apa jadinya nanti? Kuliah pasti terbengkalai.
Saat mobil mereka sampai di parkiran sudah hampir penuh. "Itu di depan Riel... ada tempat kosong," kata Kayra kegirangan saat melihat ada ruang parkir kosong, cukup untuk sebuah mobil. Saat Dariel sudah mulai mengatur mobil nya untuk diparkir. Tiba- tiba dari arah berlawanan muncul mobil sport langsung menyerobot parkiran mereka.
Seketika tensi Dariel naik. Ia berniat akan turun dan melabrak pengendara mobil sport yang menyerobot parkiran nya. Namun jemari Kayra menahan lengan nya.
"Sabar ya Riel... tidak usah diladeni." Kayra berusaha menenangkan Dariel. Melihat tatapan puppy eyes Kayra seketika amarah Dariel luluh. Ya... ia tidak perlu membuat pembalasan yang norak, karena ia anak pemilik Yayasan Tunas Bangsa. Ia bisa membalasnya nanti, tentunya dengan cara berkelas dan elegan. Dariel tidak sadar mengembangkan senyum sinis nya.
Mereka terpaksa berputar- putar, mencari tempat parkiran lain. Untungnya mereka bisa juga menemukan tempat parkiran yang bagus. Parkiran nya ternaungi pohon ketapang.
Sebelum turun, Dariel menahan lengan Kayra.
"Ra... kalau ada yang isengi kamu, segera kasih tahu aku ya.! Suami mu akan siap menjadi pelindung mu!" Kata Dariel sungguh- sungguh.
"Oke Riel... aku janji, akan melaporkan kalau sampai ada yang jahatin aku." Kayra menempatkan telapak tangan nya di pelipis kanan nya, memberi hormat pada Dariel. Dariel tertawa melihat kekonyolan istri nya. Ia tidak tahan untuk melahap bibir Kayra. Namun Kayra sigap menghindar dan ia pun segera turun dari mobil. Kayra menghambur kabur.
Dariel turun belakangan. Saat ia baru turun dari mobilnya, dua orang mahasiswa mendatanginya. Memukul kap mobil nya hingga mengagetkan Dariel.
"Heh... anak baru, jangan belagu ya. Mobil butut mu ini tidak pantas berada di kampus elit ini. Sebaiknya kamu segera pindah dari kampus ini. Kalau tidak kamu akan jadi tumbal ku di sini!" Kata salah satu mahasiswa yang berkulit hitam.
Dariel menghela nafas dalam. Ia sudah berjanji untuk sabar dan tidak meladeni keisengan mahasiswa lain. Padahal kalau ia mau dengan kemampuan nya ia bisa membuat orang di depan nya ini lumpuh hanya dengan sekali pukulan. Tapi sekali lagi Dariel tidak mau gegabah.
__ADS_1
"Ingat...! Keluar suka rela atau menunggu kami keluarkan paksa!" Ancam pemuda berambut keriting.
Dua orang itu segera pergi saat melihat Dariel terpojok tanpa melakukan perlawanan sedikit pun.
Dariel mencari- cari di mana Kayra berada. Ia tidak ingin sedikit pun lengah dalam mengawasi Kayra. Sampai ia masuk ke dalam lobi kampus, namun Kayra tak juga terlihat. Mungkin sudah masuk ke dalam kelasnya. Dariel memutuskan mencari ruang kelasnya.
Ia sampai tepat waktu. Saat ia baru menghempaskan pantat nya, bersamaan seorang Bapak dosen masuk ke dalam ruang kelas.
"Selamat pagi Maba... Selamat datang di Universitas Tunas Harapan. Disinilah kalian akan ditempa menjadi tenaga kesehatan profesional. Terlatih dan berdedikasi tinggi menjadi pahlawan negara di bidang kesehatan. Semangat dalam meraih prestasi. Karena disini sangat menghargai prestasi dan loyalitas."
Sejenak, sang dosen menghela nafas dalam sebelum melanjutkan ucapan nya.
"Selama tiga hari ke depan, kalian para Maba akan dikenalkan dengan lingkungan kampus, tata tertib juga mengenal mahasiswa/ mahasiswi lain yang mungkin akan jadi Future Wife/ future Husband?? Who knows??"
Kata- kata jenaka sang dosen segera disambut dengan sorakan dan cuitan. Dariel hanya tersenyum mendengar kelakar sang dosen. Ia sudah punya istri tercantik, jadi buat apa ia mesti mengenal mahasiswi lain nya?
Dariel tidak sabar ingin segera keluar ruangan. Ia sangat ingin bertemu dengan Kayra istrinya. Sesekali ia mengetuk- ngetuk bangku nya karena tidak sabar mendengar penjelasan sang dosen yang terlalu lama. Tanpa menyadari, tatapan cewek- cewek di kelas nya yang terpesona pada ketampanannya.
"Ra... Rara... cinta.... kamu dengar aku gak?" Panggilnya dalam batin. Tidak ada respon.
"Ra.. Rara.. cinta... kamu lagi ngapain? Kamu di kelas mana? Aku samperin ya?" Ia kembali memanggil Kayra dengan kekuatan batin nya.
"Ssstttt jangan berisik. Dosen ku galak." Jawab Kayra juga dalam hati. Kayra tidak menyangka kalau ia masih bisa mendengar suara hati orang. Eh bukan, ini telepati. Ia dapat mendengar suara Dariel meski berbeda kelas. Kejutan kedua yang seketika mendirikan bulu tengkuk nya. Kalau kemampuan khusus nya belum hilang, apakah ini berarti kutukan itu masih ada dalam darah nya?
Kayra menutupi wajah nya dengan kedua telapak tangan nya. Sebentuk ketakutan seketika menyerang perasaan nya. Bagaimana kalau kutukan itu menghancurkan rumah tangga yang baru dijalani sehari? Air mata Kayra seketika menitik di sudut matanya.
Tia, teman barunya menggenggam jemari nya memberi dukungan nya. Meskipun ia tidak tahu masalah apa yang dihadapi Kayra. "Kay... sabar ya..., kamu pasti mampu menghadapi apa pun yang jadi masalah mu saat ini." Hibur Tia.
"Kalian berdua maju." Sang Ibu Dosen terdiam. Menunggu Tia dan Kayra maju ke depan kelas. Baru ia melanjutkan ceramah nya.
"Ini contoh penegak hukum yang tidak taat aturan. Bagaimana kalian bisa menegakkan hukum, sementara kalian sendiri tidak menghargai ilmu yang diberikan?"
Tanya sang dosen sambil mendelikkan matanya ke arah Kayra dan Tia. Seketika membuat mereka menempel ke papan tulis ketakutan. Sang dosen ini benar- benar menakutkan bagi Kayra. Wanita paruh baya dengan tubuh bulat gemuk, wajah cubi dan imut, namun sangat kontras dengan gertakan pedasnya. Semua kata- kata yang keluar dari mulut nya membawa aura seperti membunuh jiwa.
Kayra tidak mungkin mundur, mungkin selama beberapa tahun ke depan ia harus menguatkan hati menghadapi dosen di depannya. Andaikan ia punya kemampuan berteleportasi seperti Dariel. Saat ini ia ingin pergi jauh dari Dosen killer di depannya.
"Tugas kalian di masa depan adalah memecahkan kasus, bukan membuat kasus. Siapa saja yang membuat kasus tidak perlu di kelas, saya pastikan kalian dapat nilai F dari saya! Saya tutup sambutan penerimaan Maba ini. Jam ke dua kalian berkumpul di aula untuk mendapatkan pengarahan seputar ospek. Sekian Terimakasih. Selamat pagi!"
Bu Dosen mengakhiri ceramah panjang nya yang membuat panas telinga semua maba di kelas Kayra. Seketika seluruh maba menghembuskan nafas lega. Seakan baru menahan nafas berjamaah.
Bu Dosen keluar dari ruangan, namun tak lama kemudian ia kembali ke ruangan. Suasana kelas yang sempat ramai seketika bungkam. Aura bu Dosen tidak dapat di sepelekan.
"Kalian berdua ikut saya ke kantor." Perintah bu Dosen pelan namun tegas.
Kayra dan Tia mengikuti bu Dosen yang belum mereka ketahui namanya. Mungkin tadi beliau kelupaan memperkenalkan diri, karena sibuk marah- marah terus.
Bu Dosen berjalan cepat dengan kedua kaki pendek dan gemuk nya. Kalau dalam keadaan normal, bu Dosen akan terlihat sangat lucu. Seperti tokoh film kartun. Namun seperti nya semua mahasiswa bahkan dosen di sini sangat segan pada nya.
Kayra jadi penasaran, apa sih sebenar nya yang dipikirkan bu Dosen? Apakah dalam pikiran bu Dosen memang ia menyukai kemarahan? Saat Kayra mencoba membaca pikiran bu Dosen. Tiba- tiba muncul kabut hitam yang menghalangi mata batin nya.
"Aneh." Bisik nya dalam hati. Selama ini ia tidak pernah kesulitan membaca hati orang lain yang ia mau. Tapi bu dosen ini seperti nya bukan orang biasa. Apakah bu dosen ini termasuk orang dengan kemampuan khusus seperti dirinya dan Dariel?
Kayra masih terus bertanya- tanya dalam hati saat mereka sudah sampai ke dalam ruangan kantor. Apa kah mereka akan mendapat hukuman?
__ADS_1
"Kamu...! keluar dulu." tunjuk Bu Dosen pada Tia. Ia pun segera meninggalkan Kayra sendiri. Kayra semakin bingung. Apa sebenarnya rencana bu Dosen?
"Silakan duduk Nona Kayra." Bu Dosen berubah seratus delapan puluh derajat. Ia begitu lembut dan ramah pada Kayra.
"Perkenalkan nama saya Jessie... Saya minta maaf kalau tadi menghukum nona. Itu semua saya lakukan agar yang lain tidak menganggap saya tebang pilih. Di kelas mungkin saya tidak akan ramah dengan nona. Tetapi percayalah saya tidak akan pernah menyulitkan nona Kayra. Karena saya tahu nona Kayra adalah pemilik yayasan ini." Kata bu Jessie muter- muter membuat Kayra semakin mumet.
"Ehm... apa nona haus?" Tanya bu Jessie tiba- tiba. Sebelum Kayra menolaknya, bu Jessie telah mengambilkan sebotol air mineral dingin dari dalam lemari es.
"Silakan diminum." Kata bu Jessie menawarkan.
"Terimakasih Bu." Kata Kayra sungguh- sungguh.
"Gini ya nona Kayra, karena anda adalah orang penting di kampus ini sebaiknya ada penjaga yang selalu melindungi mu."
Kata Jessie semakin membuat Kayra tidak habis mengerti. Buat apa ia memerlukan body guard di yayasan nya sendiri? Orang di depan nya benar- benar aneh, paranoid parah.
"Saya akan mengusulkan pada pak Erlangga agar nona Kayra ada yang menjaga." Kata sungguh- sungguh bu Jessie membuat Kayra melongo.
"Bu Jessie terimakasih perhatiannya. Kakak ku juga kuliah disini, jadi tidak perlu ada body guard untuk saya." Kata Kayra tegas.
"Kakak ku akan menjaga ku dengan sangat baik. Lebih dari sepuluh body guard." Kembali Kayra meyakinkan bu Jessie.
"Nona tidak tahu... hhhhhhh, ada psikopat berkeliaran di kampus ini." Kata batin bu Jessie terdengar jelas oleh Kayra. Kayra langsung memandang serius bu Jessie.
"Sering ada perundungan pada maba. Nona Kayra berhati- hati ya... Selalu aktifkan serlok/gps agar mudah terlacak dimana pun."
Nasehat bu Jessie sepertinya tidak main- main ada kecemasan besar membayang di mata nya. Kayra hanya menghela nafas dalam. Apakah benar? Universitas Tunas Harapan yang begitu terkenal menjadi sarang psiko? Kenapa tidak dilaporkan pada polisi?
Bu Jessie pun tidak memberikan penjelasan terinci. Ia hanya mengatakan perundungan. Itu kan memang sering terjadi di jajaran mahasiswa? Asalkan tidak mengancam nyawa. Masih bisa dihadapinya.
"Baik lah nona, silakan keluar dari ruangan. Percakapan ini hanya antara kita jangan sampai ke telinga orang yang tidak berkepentingan." Kata Bu Jessie kembali tegas pada nya.
"Iya bu, saya akan fikirkan nasehat bu Jessie." Kata Kayra mencoba menenangkan kekawatiran bu Jessie pada nya.
Kayra meminta ijin meninggalkan ruangan bu Jessie. Ia sudah akan mengajak Tia untuk pergi. Ternyata bu Jessie menyuruh Tia masuk ke dalam ruangan nya. Membuat Kayra terpaksa menunggu di lobi kantor.
Saat ia menoleh ke arah jendela kaca disisinya. Ia terkejut melihat Dariel sedang kebingungan seperti sedang mencari seseorang? Mungkinkah Dariel mencarinya?
"Riel... lagi cari aku ya?" Tanya Kayra dengan kemampuan telepaty nya.
"Hei cinta... dimana kamu? Aku sudah kebingungan mencari mu kemana- mana. Hp mu juga tidak aktif? Kenapa?"
Tanya beruntun Dariel. Ia bersandar di tembok lorong, sembari berpura- pura mengecek hp nya padahal ia sedang berteleportasi dengan Kayra.
"Aku di lobi kantor, kamu kelihatan dari tempat ku. Hp ku matikan karena dosen ku killer banget. Aku barusan dipanggil ke ruangan nya. Mendapat pengarahan khusus dari beliau. Saat pulang ku ceritakan semua." Lapor Kayra pada suaminya.
"Oke, Rara sudah tahu kan kalau setengah jam lagi semua maba harus berkumpul di aula?" Tanya Dariel memastikan.
"Ya Riel. Aku tahu. Aku sedang menunggu Tia, teman baru ku." Jawab Kayra.
"Oke Cinta, jaga diri ya..." Bisik Dariel dalam telepati nya. Ia berlalu mencari tempat tongkrongan.
Di ujung lorong, dua pasang mata mengawasinya dengan seksama seperti predator mengincar mangsa.
__ADS_1