
"Ra... coba sini dulu, sepertinya ada yang aneh pada resep masakan yang kak Keke tuliskan."
Dariel menunjukkan buku agenda itu pada Kayra. Kayra tersenyum tidak percaya. Buku itu benar-benar hanya resep masakan. Tadi ia sudah membukanya sekilas. Namun ia tidak ingin membuat Dariel kecewa, ia pun datang mendekati suaminya.
"Lihat Ra... resep masakan nasi goreng, apa perlu ditambah jahe dan kunyit?" Tanya Dariel kebingungan. Kayra hanya bisa mengeryit tidak mengerti.
"Mungkin nasi goreng ala Timur tengah, biasanya mereka suka rempah. Jadi mungkin..." kata-kata Kayra terpotong.
"Tuh kan bener.... liat Ra... di halaman paling akhir ada kosakata mungkin maksudnya ini kunci untuk membaca isi dari keseluruhan agenda itu." Kata Dariel antusias.
"Bagaimana bisa?" tanya Kayra masih belum mengerti.
"Lihat contohnya, cabe rawit \= cubitan, pukulan, gula\=tertawa, 1sdt \=seharian dan lain-lain. Aku coba terjemahkan dulu." Dariel terlihat khusuk membolak-balik lembaran kertas agenda. Ia sangat terhanyut, nampak dari raut mukanya, ia menghayati benar apa yang sedang dibacanya.
Dariel menggeleng-gelengkan kepalanya, seperti orang yang menolak percaya.
"Riel... apa yang kamu baca?" Tanya Kayra penasaran.
Dariel menghela nafas dalam-dalam sebelum ia kembali meletakkan buku agenda itu di atas meja. Ia menatap Kayra dengan perasaan yang mengharu biru.
"Ra... kisah kak Keke, kasihan sekali nasib nya." Kata Dariel. Kayra semakin penasaran.
"Apa yang ditulis kak Keke?" tanya Kayra meluapkan rasa penasarannya.
"Sebaiknya kamu baca sendiri Ra... aku tidak sanggup menceritakannya. Oh ya, aku mau melihat keadaan papa dulu ya?" Dariel bergegas keluar meninggalkan kamarnya. Ada air mata yang disembunyikan dari pandangan Kayra. Di balik pintu yang sudah ditutupnya dibelakang, Dariel menumpahkan tangisnya.
"Kak Keke ... begitu malangnya nasib mu kak." Dariel berusaha menghapus air mata yang terus merembes keluar dari ujung matanya. Kali ini ia kehilangan sisi maskulinnya. Kisah yang ditulis kak Keke sangat menyentuh hatinya. Sebuah kisah sedih yang cukup tragis.
Dariel berusaha melupakan kisah rahasia pedih mendiang kak Keke. Ia berjalan menuju kamar papa nya untuk memastikan keadaannya.
***
Kayra penasaran, bagaimana cara Dariel bisa membaca pesan tersembunyi dari agenda kak Keke. Juga ia merasa aneh, kenapa Dariel tidak mau membacakan untuknya?
Kayra mengambil sebuah buku dan mulai mengartikan isi agenda kak Keke. Ia mencari satu persatu kata berdasarkan kosa kata yang dibuat kak Keke di halaman terakhir agendanya. Kemudian ia menuliskannya di buku catatannya. Baru dapat satu kalimat, ia sudah merasa frustasi.
"Bisa-bisa satu bulan baru selesai mengartikan seluruh buku." keluh Kayra dalam hati. Ia baru ingat, pagi tadi ia bisa membaca tulisan yang tidak bisa dipahami orang lain. Mungkin kali ini, ia juga bisa mengartikan buku agenda kak Keke.
Kayra menutup buku tulisnya. Ia berkonsentrasi pada halaman pertama buku agenda kak Keke. Ia kemudian mencoba membaca kata-kata yang tertulis. Sebuah resep masakan. "Aduh... kenapa aku gak bisa ya?" Kayra kebingungan.
Ia kembali berkonsentrasi, kali ini ia memejamkan matanya rapat-rapat. Membayangkan buku di depannya berubah menjadi sebuah tablet. Huruf-huruf nya menari-menari menyusun sebuah kisah.
Saat Kayra membuka mata, ia sudah tidak berada di kamarnya. Ia berada di sebuah rumah kecil dengan lantai semen yang banyak lobangnya. Kayra menoleh ke sana ke mari. Ini tempat yang sangat asing baginya.
"Cepat... masuk sini. Orang nya sudah mau lahiran." Kata seorang wanita tua tiba-tiba memanggilnya.
__ADS_1
Kayra kebingungan. "Nenek memanggil saya?"
"Cepatlah, bantu anak saya. Ia sudah sangat kesakitan. Sudah waktunya melahirkan." Wanita tua itu begitu cemas dan mendesaknya.
"Membantu wanita melahirkan? Aku belum pernah. Aku tidak bisa." Gumam Kayra dalam hati. Ia memilih tetap berdiam di tempatnya.
Tiba-tiba ada orang melangkah tergesa-gesa menabrak Kayra. Lebih tepatnya menembusnya. Karena ia hanya merasakan tekanan hembusan udara, bukan tabrakan fisik. "Berarti keberadaanku tidak disadari orang-orang itu? Atau mungkin sebenarnya aku sedang ditengah-tengah citra hologram? Sebuah tampilan yang terlihat nyata dan aku seakan ikut masuk ke dalamnya?" Gumam Kayra tak percaya.
"Iya aku sudah berusaha cepat, gak sabaran banget sih. Ini juga baru melepas jas hujan."
Kata seorang wanita muda yang datang dari belakang Kayra. Wanita itu membawa tas jinjing berisi peralatan untuk membantu persalinan. Sepertinya wanita itu seorang dukun beranak.
Kayra terpaku duduk di sebuah kursi usang ruang tamu. Tak berapa lama.
"Oek...oekk... oeeek..." Suara tangisan bayi memenuhi seluruh ruangan.
"Bu... jangan bawa anak ku... dia anak ku satu-satunya. Jawaban apa yang aku berikan pada bapaknya saat pulang dari kota? Tolong jangan bawa anak ku!"
Seorang ibu dengan baju dipenuhi darah, berusaha menggapai si dukun beranak. Namun dengan tanpa perasaan, si dukun beranak tetap berlalu.
"Ingat ya... ini bayaran hutang mu selama ini. Sudah berapa uang yang kamu pinjam dari ku. Dan dengan bayi mu ini, semua hutang mu kuanggap lunas." Kata si dukun beranak membalikkan badan sambil menyeringai puas.
"Aku-aku- aku tidak menjual anak ku. Nanti setelah aku kuat dan bekerja kembali, aku akan bayar semua hutang ku. Tolonglah Amanda, jangan ambil anak ku." Sang Ibu menangis terisak. Ia tidak terima dipisahkan dengan buah hatinya.
"Amanda, kita bersahabat bukan? Tolonglah untuk kali ini saja... aku mohon jangan pisahkan aku dengan anak ku." Sang ibu bayi memelas. Ia tidak menghiraukan darah yang terus merembes ke kakinya. Ia bersujud, mengharap Amanda jatuh iba padanya. Namun ia salah, Amanda telah berubah ia wanita tanpa hati.
"Ya Tuhan.... apa yang kamu lakukan Amanda??? Dia saudara kembarmu. Kenapa kamu setega ini? Selama ini aku diam dan menutupi kenyataan kalau kalian ada ikatan darah. Bahkan Kesya pun tidak ku kasih tahu. Semua ini kulakukan demi ambisimu sedari kecil, yaitu membawa Kesya jauh dari keluarganya. Supaya semua kasih sayang orang tuamu tercurah hanya buat mu. Tapi kamu tidak puas juga hah...?!!" Kata sang nenek yang baru keluar dari dalam kamar. Ia memegangi kepalanya yang berdarah.
"Rupanya kamu belum mati juga hah?! Dasar babu banyak mulut!!" Amanda menendang perut sang nenek tua, membuat nenek itu terlempar dan jatuh menimpa Kesya yang tak sadarkan diri.
Kayra tertegun melihat serentetan kengerian di depan matanya, ia tak mampu berbuat apa-apa.
Kayra berlari, mencoba menolong Kesya dan nenek itu. Namun tak juga berhasil, saat ia berusaha menyentuh kedua orang yang pingsan itu yang terasa hanyalah angin. Kayra tidak bisa menyentuh mereka.
Terlebih saat api mulai menyambar kedua tubuh yang sedang pingsan itu. Kayra tak berdaya, ia menangis dan menjerit histeris. "Tolong... tolong, siapapun tolong!!!" Teriak Kayra sia-sia. Tak ada seorangpun yang datang dan menolong. Hingga rumah itu hangus tak berbekas. Meninggalkan onggokan arang.
Tiba-tiba ada pusaran hitam yang menyelubungi Kayra. Pusaran itu semakin kuat, membuat pandangan Kayra menjadi semakin samar. Saat pusaran itu mulai terurai, Kayra telah dibawa ke tempat yang berbeda. Sebuah Rumah besar bergaya kuno.
Seorang anak belasan tahun sedang disiksa di sana. Gadis itu diikat pada sebuah tiang besar. Lengan dan kakinya penuh dengan goresan merah melepuh.
"Hai Kesya, kau tahu apa kesalahan mu?" Tanya seorang wanita yang dikenali Kayra sebagai Amanda.
"Am-pun nyonya... am-puni aku...!" Kata gadis itu lirih, disela-sela isakannya.
"Hari ini kamu tidak mencuci dengan benar. Trus besok apa lagi kesalahan yang akan kamu buat heh?!" Kata Amanda emosi, dijambaknya rambut Kesya hingga gadis kecil itu meringis kesakitan.
__ADS_1
"Ampun... saya tidak akan lagi membuat kesalahan." Kata Kesya kecil, ia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.
Amanda tersenyum puas. Di bukanya ikatan yang mengikat Kesya. Ia melemparkan sebotol obat luka pada Kesya kecil yang seketika roboh menahan rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya.
Kayra menangis melihat betapa kelamnya masa lalu kakak iparnya.
Kesya kecil menguatkan langkahnya, ia berjalan tertatih menuju sebuah jendela, ia segera meloncat keluar rumah melalui jendela yang cukup tinggi. Hingga jatuh berguling di tanah yang keras. Rupanya Kesya bermaksud melarikan diri.
Ia berjalan terseok, memilih jalanan hutan. Kali ini ia telah membulatkan tekat meninggalkan wanita gila yang terus menerus menyiksanya. Langkahnya terhenti saat ia sampai ke sebuah rumah berpagar putih.
Hampir saja Kesya jatuh pingsan. Beruntungnya ada seorang wanita paruh baya yang dengan sigap menolongnya. "Kesya... kenapa kamu sampai seperti ini nak?" Wanita itu memapahnya membawa masuk ke dalam rumah.
Setelah luka-luka Kesya diobati. Wanita itu kembali menanyai Kesya.
"Kesya siapa yang menyiksamu nak?"
"Bu Guru Ida, tolong saya. Bawa saya pergi jauh-jauh dari sini. Saya takut." Jawab Kesya kecil, ada kepanikan terpancar dimatanya yang sembab.
"Apakah ibumu yang melakukannya?" terka sang ibu guru.
"Bu Amanda bukan orang tua ku, dia wanita jahat yang selalu menghukumku atas semua kesalahan kecil yang kulakukan." Isak Kesya kecil menahan kepedihan hatinya.
"Ya Tuhan, Kesya. Aku harus melaporkan bu Amanda. Ini sebuah pelanggaran hukum." Kata bu Ida berapi-api.
"Bu, itu tidak akan berhasil. Setahun lalu Pak Romy bermaksud menolong saya. Beliau tidak sengaja melihat memar di bahu saya. Dan akhirnya saya tidak bisa menutupi, kalau bu Amanda lah pelakunya. Pak Romy bermaksud menolong saya dengan mengancam bu Amanda, kalau tetap berbuat jahat pada saya ia akan melaporkannya pada polisi. Ibu tahu kan apa yang terjadi? Bu Amanda memfitnah pak Romy berusaha memperkosa dan menyakiti saya. Pak Romy guru yang baik itu, seketika hidupnya berantakan. Keluarganya meninggalkannya dan setelah enam bulan dipenjara untuk kesalahan yang tidak dilakukannya, ia dikucilkan oleh lingkungan. Berakhir bunuh diri." Kesya menjeda ceritanya, ia menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritanya.
"Bu Ida, Pak Romy bukan bunuh diri, tapi dibunuh oleh bu Amanda. Ia menunjukkan vidio rekaman, saat ia mencekik dan menggantung pak Romy di plafon kamarnya. Bu Amanda mengancam akan membunuh istri dan anak pak Romy kalau saya berani buka mulut." Kesya mendesah dalam.
"Bu... tolong Kesya pergi jauh dari sini." Kata Kesya memohon dengan sangat.
"Iya nak, aku akan membantumu pergi dari sini." Kata bu Ida mantap. Malam itu juga, Kesya dikirim bersama kotak-kotak sayur ke Jakarta. Ke sebuah panti asuhan, disanalah ia kembali merasa sebagai manusia bebas. Bebas dari rasa takut dan intimidasi.
Kesya berprestasi di sekolah, wajahnya yang cantik dan kelemahlembutannya telah menarik rasa cinta Raka padanya. Hingga mereka memutuskan untuk menikah.
Kayra seketika menangis haru. Ia tidak menyangka masa lalu kak Keke sekelam itu.
"Ra..." panggil kak Raka dan kak Keke bersamaan.
Kayra kebingungan, ia menoleh ke kanan ke kiri dan ke belakang. Hanya ada dirinya. Ia pun berjalan mendekat ke arah sepasang pengantin itu.
"Iya kak." Jawab Kayra ragu-ragu.
Kak Raka dan kak Keke menyerahkan selembar kertas. "Jaga dia untuk kami." Kak Raka menyerahkan kertas itu yang seketika berubah menjadi bayi Miracle. Babby M dalam gendongan Kayra menangis. Dan saat itulah Kayra di bawa kembali ke tempatnya semula. Di dalam kamar bersama babby M.
Kayra segera menggendong babby M dan menenangkannya. Bayi itu seketika tenang dan menggapai-gapaikan tangannya.
__ADS_1
"Kami akan selalu menjagamu babby M. Tak kan ku biarkan wanita jahat itu menyakitimu." Bisik Kayra di telinga babby M.