
Dariel menggeleng. Ia tidak tahu menahu genk cewek atau pun cowok yang sudah dua hari ini bikin masalah dengan mereka.
Sudah waktunya Dariel harus ekstra menjaga Kayra. Menghindarkan Kayra dari ancaman dan perundungan.
"Ra... temen mu Tia gak masuk?" Tanya Dariel tiba-tiba, saat menyadari Tia tidak terlihat dari tadi. Meskipun Dariel belum terlalu mengenal Tia, sepertinya teman Kayra itu bisa diandalkan untuk dilibatkan menjaga Kayra.
"Tia gak masuk, keterangan nya lagi sakit. Makanya dari tadi aku gak ada teman." Jawab Kayra sedih.
"Ra sepertinya kamu perlu bodyguard dech. Aku takut kejadian tadi terulang lagi." Kata Dariel sungguh- sungguh. Ia takut Kayra terluka saat ia lengah.
"Riel... kalaupun mereka melukai ku, mudah saja aku menyembuhkan diri. Sebenarnya mudah banget membalas mereka. Aku menahan diri aja supaya tidak menarik perhatian. Jadi gak perlu lah ada pengawal. Apalagi Riel kan selalu datang saat ku perlukan, jadi aku tidak perlu takut lagi."
Kata Kayra berusaha meredakan kekawatiran Dariel pada dirinya. Dariel menganggukkan kepala, ia tahu Kayra punya kemampuan khusus. Ia bisa mengeluarkan suatu serangan dari telapak tangan nya dengan kekuatan laser.
Mereka asyik bercakap- cakap hingga diingatkan jam kuliah ke tiga sudah akan dimulai dengan tanda bunyi bel.
"Oke Riel, sampai jumpa saat pulang nanti. Aku ke kamar mandi dulu, mau buang air kecil." Kata Kayra berpamitan pada Dariel.
Dariel berjalan masuk ke ruang kelas nya. Sementara Kayra bergegas ke kamar mandi. Saat ia akan masuk ke dalam toilet. Ada pukulan keras menimpa tengkuk nya. Seketika ia terhuyung dan tak sadarkan diri.
Hanya hitungan kurang sepuluh detik, Kayra sudah terbangun dari pingsan nya. Ia tetap berpura- pura pingsan. Ia ingin tahu siapa yang telah menjebak nya. Ada suara- suara berbisik- bisik.
"Kina,... kenapa kau pukul dia keras sekali? bagaimana kalau cewek ini sampai mati? Bisa- bisa kita ditangkap polisi dan masuk penjara. Aku gak mau masuk penjara Kin." Kata gadis berambut pendek sebahu.
"Ritsi... tenang aja. Cewek ini masih hidup. Kita cuma mau kasih pelajaran saja supaya dia tidak berani menentang kita. Kamu tenang aja, tidak akan ada bukti yang memberatkan kita. Oke...! Sekarang kalian bantu aku membawanya ke ruang kosong. Cepat...! Sebelum ada yang datang." Perintah Kina pada dua temannya.
Tiga orang genk pink kerepotan menggotong tubuh Kayra. Beberapa kali mereka sampai terhuyung, hingga akhirnya mereka berhasil juga membawa Kayra ke kamar kosong.
Tubuh Kayra diletakkan di pojokan ruangan, tersembunyi diantara tumpukan bangku dan kursi- kursi tak terpakai. Mereka segera meninggalkan Kayra.
"Devi... periksa dulu kantong juga tas cewek itu. Ambil ponselnya.!" Perintah Kina.
Devi berjalan mendekati Kayra, ia mengambil handphone Kayra yang tersimpan di saku bajunya. Kayra sudah berniat akan menghajar Devi. Namun ia mengurungkan niat nya saat ia mendengar Devi berbisik padanya.
"Maaf kan aku... aku tidak pernah punya niatan jahat pada mu. Semua ku lakukan karena terpaksa. Nanti malam aku akan membebaskan mu. Bertahanlah."
Kata Devi sambil meletakkan sesuatu di dekat tangan Kayra. Devi berlalu pergi menyusul ke dua teman nya yang keluar terlebih dahulu.
Kayra membuka mata saat genk pink keluar dari gudang. Ia sempat mendengar suara pintu dikunci dari luar. Kayra memeriksa barang apa yang ditinggalkan Devi. Sebuah paperbag kecil, berisi roti dan air mineral gelas.
Kayra termenung. Apakah benar salah satu dari anggota genk pink itu melakukan kejahatan karena terpaksa? Kayra tidak habis pikir. Hal apa yang membuat orang mau dipaksa melakukan kejahatan? Sebenarnya kalau Devi keluar dari genk itu secara otomatis ia tidak perlu melakukan kejahatan yang sebenarnya ia pun tidak ingin melakukan nya.
Kayra menimbang-nimbang. Perlukah ia memanggil Dariel untuk membebaskan nya? Sebenarnya dengan kemampuannya ia bisa dengan mudah mendobrak pintu gudang.
Kayra memilih memanggil Dariel untuk membantunya dengan kemampuan telepati. Tak berapa lama, Dariel sudah di depannya.
"Ra... bagaimana bisa terjadi?" Tanya Dariel cemas.
"Perbuatan siapa Ra...?" Tanya Dariel bertubi-tubi. Ia benar- benar kawatir dengan keadaan Kayra.
__ADS_1
"Genk pink yang menyekap ku." Jawab Kayra.
"Kenapa gak dilawan saja Ra...?" Tanya Dariel lagi.
"Kita mesti tahu dulu apa motif nya, baru kemudian membuat mereka kapok." Jawab Kayra.
"Kalau begitu, kita keluar dari sini dulu. Baru aku akan buat perhitungan sama mereka." Kata Dariel berapi-api. Ia begitu marah karena ada yang berbuat jahat pada istrinya.
"Riel... bawa aku pulang ya..., aku ngantuk banget." Kata Kayra manja.
Dariel pun membawa Kayra pulang. Langsung menuju ke kamarnya. Sesampainya di kamar Kayra langsung menghambur dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Hari ini terasa sangat melelahkan. Kayra ingin menghabiskan waktunya untuk tidur. Sementara Dariel kembali ke kampus merampungkan kegiatan orientasi nya.
Sebenarnya ia malas ikutan kegiatan orientasi. Kenapa gak seseru cerita senior. Ini lebih seperti rutinitas perkuliahan. Dariel sebenarnya mengharap, acara orientasi mereka seru. Dimana para junior dikerjain habis- habisan oleh para seniornya. Sepertinya harapan nya tidak mungkin terlaksana.
"Tit..tit... "suara notifikasi pesan masuk. Saat dilihatnya, itu pesan dari Kayra? Dariel segera membuka pesan masuk.
"Riel... aku pulang dulu, gak perlu ditunggu." Bunyi pesan itu membuat Dariel penasaran.
"Ini pasti kerjaan genk pink yang ngerjain Kayra. Berani bikin masalah mereka. Tunggu saja aku pasti membuat mereka kapok." Geram Dariel dalam hati.
"Nguing.... nguing..." sayup-sayup didengarnya suara sirine ambulan. Dariel tersenyum, "Dua cowok yang ku kerjain tadi pasti sudah diketemukan orang. Semoga saja setelah kejadian ini mereka akan jera dan tidak berani mengganggu ku lagi." Gumam Dariel.
Hari ini ia sudah jadi orang jahat. Itu semua semata-mata untuk membuat orang-orang yang berani mengganggunya menerima balasan. Tidak lebih.
Hari kedua orientasi benar- benar bikin bete. Sepertinya lebih baik besok dia tidak usah masuk kuliah saja. Toh... cuma begini- begini saja, acara nya tidak seru sama sekali.
Wajah bosan dan kesal terus menghiasi raut wajahnya. Hari ini ia terpaksa mengikuti kegiatan orientasi sampai akhir, dan pulang juga sendirian.
Si kakek tua sangat berterima kasih pada Dariel. Ia menerima uang pembayaran Dariel dengan sukacita. Namun sesaat raut wajah nya seketika menegang. Kakek tua itu mengatakan sesuatu yang membuat Dariel sangat terkejut.
"Jauhi.... jauhi... dia. Dia adalah ratu kegelapan yang akan mendatangkan bencana besar...!" Suara sang kakek yang sebelumnya suara renta dan bergetar. Tiba-tiba berubah menjadi suara berat, menggema dalam gendang telinga Dariel.
Dariel berusaha menutup telinganya dengan kedua belah telapak tangan nya, namun suara itu terus menggema. Suara itu tidak asing. Ia pernah mendengarnya di suatu tempat. Di pedalaman Papua. Suara ketua sebuah suku mistis yang pernah menyekapnya.
"Den... den... aden tidak apa-apa." Kata sang kakek penjual gula kapas mengagetkan Dariel. Suara kakek itu sudah kembali menjadi suara renta dan bergetar.
Dariel tidak mengatakan apa- apa. Ia segera melajukan mobilnya menembus padatnya lalu- lintas ibu kota.
Dariel tidak menyangka, bagaimana suara teror itu kembali kepada nya? Bukankah beberapa waktu ini hubungan nya dengan Kayra baik- baik saja. Bahkan Kayra tidak lagi menyerangnya seperti waktu- waktu yang lalu.
Dariel meyakinkan diri nya sendiri. Suara yang didengarnya barusan mungkin hanya halusinasinya saja karena seharian ini ia capek mengikuti perkuliahan.
Dariel semakin mempercepat laju kendaraannya. Ia ingin segera sampai di rumah. Terlebih ia ingin segera bertemu Kayra juga baby boy, keponakannya.
Dariel sedang mempertimbangkan untuk berteleportasi, namun melihat padat nya lalu lintas ia tidak berani melakukan nya. Ia takut diketahui banyak orang dan itu tidak bagus untuk nya.
Terpaksa ia dengan sabar menanti laju mobil di depan nya yang seperti ulat merayap. Hari sudah mulai gelap saat mobil nya memasuki halaman rumah.
Lampu- lampu taman sudah dinyalakan, ia berharap Kayra sudah menunggunya. Namun saat ia masuk ke dalam rumah. Tak dijumpainya Kayra di mana pun. Dariel memutuskan memeriksa Kayra di kamar mereka.
__ADS_1
Kayra masih berbaring terlelap dengan baju yang dipakainya sejak tadi pagi. Dariel mencoba membangunkan Kayra.
"Cinta... sudah sore, mandi dulu." Kata Dariel sambil lalu. Ia memutuskan untuk segera mandi, karena badan nya terasa gerah dan lengket.
Dariel keluar dengan jubah mandinya. Air segar menetes dari ujung rambut nya. Ia tertegun melihat Kayra yang tidak bergeming dari posisi tidur nya yang semula.
"Cinta... bangun, sudah sore." Kali ini Dariel menggoncangkan tubuh Kayra. Namun lagi-lagi Kayra tidak memberikan respon sama sekali. Dariel meraba kening Kayra, ia mulai kawatir jangan- jangan Kayra sedang sakit? Kening Kayra panas sekali. Membuat Dariel panik. Ia mengambil kain dan mulai mengompres Kayra.
Sebenarnya ia ingin membawa Kayra ke rumah sakit. Namun ia kuatir kalau nanti ada hal aneh terjadi pada Kayra. Ya harusnya Kayra bisa mengobati diri nya sendiri.
Dariel mencoba kemampuan nya untuk menyembuhkan Kayra namun sepertinya tidak ada hasil nya sama sekali. Bahkan sepertinya demam Kayra semakin tinggi.
Dariel mondar- mandir berjalan mengelingi ranjang Kayra. Berkali- kali ia membasahi kain kompres yang mengering dengan cepat.
Dua jam kemudian demam Kayra berangsur turun. Dariel yang kelelahan tertidur bersandar di kepala ranjang dekat Kayra terbaring.
Tengah malam Kayra terbangun, ia merasa aneh melihat keberadaannya di dalam kamar. Terlebih saat melihat keberadaan Dariel. Seketika matanya berkilat penuh amarah. Tanpa berfikir lebih lanjut ia langsung menyerang Dariel yang terlelap.
Dengan kemampuan nya ia mengeluarkan seberkas sinar seperti laser dan langsung mengarahkannya pada Dariel yang tertidur dalam posisi bersandar. Dariel terpelanting roboh ke lantai dengan darah segar mengalir dari luka terbuka di seluruh tubuh nya. Bahkan ada darah keluar merembes dari hidung dan sudut bibirnya.
Dariel berusaha bangun, namun tenaganya seakan terkuras habis. Ia terbatuk dan memuntahkan darah segar. Kayra yang melihatnya tersenyum puas.
Pancaran sorot mata itu bukan Kayra, itu adalah roh yang selama ini datang menguasai Kayra.
"Ra... sadar... aku Dariel suami mu." Kata Dariel menguatkan diri berusaha memanggil kesadaran Kayra.
Kayra melangkah mendekati Dariel. Inilah kesempatan terakhirnya untuk membalas dendam. Nyawa diganti dengan nyawa. Kematian Ayahanda dan bundanya harus terbalaskan.
Kayra mengumpulkan tenaga ditelapak tangan nya. Cahaya yang semula hanya pendaran kecil cahaya, semakin lama semakin membesar. Saat ini ditangannya sudah menjadi bola api ungu memendarkan rasa panas membakar.
Seringaian menakutkan menghiasi wajah Kayra. Ia berjalan semakin mendekati Dariel. Kali ini ia tidak ingin usahanya gagal. Ia harus menghabisi musuh bebuyutannya.
Kayra mengangkat tinggi-tinggi tangan kanan nya. Ia sedang memperhitungkan sudut terbaik untuk menyerang Dariel.
"Mati lah kau...!" Teriak Kayra sambil mengayunkan tangan nya menyerang Dariel. Bersamaan terdengar suara tangisan bayi yang seketika membuyarkan konsentrasinya. Pukulan tenaga dalam nya meleset dari sasaran. Pukulan itu mengenai jendela kamar yang seketika hancur lebur.
Suara tangisan bayi Raka semakin menjadi. Tangisan yang seketika berubah menjadi lengkingan. Membuat sakit di telinga Kayra. Ia berusaha menutup telinganya dengan kedua belah telapak tangannya. Namun suara itu tetap masuk dalam lobang telinganya. Memberikan sensasi sakit menusuk hingga gendang telinganya.
Kayra bergulung-gulung di lantai dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri. Kayra pingsan. Dariel merasakan rasa sakit disekujur tubuhnya yang terkoyak oleh serangan Kayra yang tiba-tiba. Ia pun jatuh pingsan.
Erlangga, Raka dan dua orang bodyguard langsung mendobrak pintu kamar Dariel yang terkunci. Betapa terkejutnya mereka melihat keadaan Dariel yang berlumuran darah juga Kayra yang jatuh pingsan di dekatnya. Sementara ada lobang besar di dinding dekat jendela. Erlangga berspekulasi ada seseorang yang melemparkan bom ke dalam rumah nya.
Dariel dan Raka dibawa ke rumah sakit Melati untuk mendapatkan pertolongan. Dariel langsung dibawa ke ruang operasi untuk mendapatkan penanganan luka-lukanya yang parah. Juga ada pendarahan dalam di otak juga di paru-paru nya.
Untunglah, nyawa Dariel terselamatkan. Dua jam operasinya berjalan lancar. Untuk perawatan selanjutnya, Dariel ditempatkan di ruang ICU, ia kehabisan banyak darah. Seluruh tubuhnya tertutup oleh perban. Membuatnya terlihat seperti mummy hidup.
Sementara Kayra ditempatkan di ruang perawatan VIP. Matanya mulai mengerjap. Ia terbangun dari pingsan nya. Kepalanya terasa nyeri dan berdenyut- denyut. Ia bangun dan bersandar di kepala bangsal. Kayra mencoba mengusir rasa sakit kepalanya dengan memijat-mijat pelipisnya.
Rasa sakit itu tidak juga berkurang. Terlebih saat kilasan bayangan tiba- tiba tergambar jelas di mata nya. Sesosok tubuh lemah berlumuran darah, memanggil- manggil nama nya.
__ADS_1
"Ra... sadar... aku Dariel suami mu." Pria itu berusaha menyadarkan dirinya. Namun Kayra tidak lagi ada kendali atas dirinya. Kemarahan itu membakar hati dan jiwa nya. Menjadi satu-satunya kendali atas tindakannya.
Rasa denyutan mengiris membuat Kayra berteriak kesakitan. Mengundang beberapa perawat berlari menuju kamar rawat nya. Seorang perawat menyuntikkan obat penenang. Kayra pun tertidur paksa. Perawat yang melihat Kayra sudah terlelap memutuskan untuk meninggalkan Kayra. Dan saat itulah Kayra terjaga, ia melepaskan selang infus yang tertancap di nadinya. Kemudian ia berjalan tanpa ragu menuju ruang ICU tempat Dariel mendapat perawatan intensif.