Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Keributan


__ADS_3

Dariel terlihat sangat menakutkan. Wajah dan bajunya berlumuran darah seperti baru tercebur dalam kolam darah.


"Riel apa yang telah terjadi?" Setelah yakin yang di depannya benar - benar Dariel, Kayra memberanikan diri mendekatinya.


"Aku gak papa Ra... tenang aja. Waktu kita tidak banyak, segera beresin barang - barang, kita harus segera pergi dari sini!"


Dariel memberi perintah mendesak yang segera dikerjakan Kayra. Ia membereskan semua baju - bajunya, make up dan barang - barang pribadinya. Beberapa kali kaki Kayra terantuk kaki ranjang karena tidak ada cahaya sama sekali. Sekalipun ia kesakitan, Kayra tetap bergegas menyelesaikan tugasnya. Tidak berapa lama semua barang - barangnya sudah berhasil terkumpul di atas meja. Dariel kemudian membawa Kayra dan semua barang - barangnya pergi dari kamar dengan teleportasi.


***


Sementara di luar kamar terjadi keributan. Rahmadi dan rombongan baru sampai di mes. Malam yang sunyi senyap berubah menjadi hiruk pikuk. Ada teriakan perintah juga suara orang berlarian kian kemari, seperti sedang persiapan perang.


Rahmadi mengumpulkan karyawan dan juga para penjaga. Ia memberikan perintah kepada mereka semua. Dalam waktu singkat ada empat team pencari diberangkatkan. Setiap team terdiri dari dua orang tentara bersenjata lengkap dan empat orang karyawan tambang bersenjata golok dan tongkat. Kloter kedua akan diberangkatkan sore hari setelah kloter pertama kembali ke mes.


Rahmadi terlihat kalut, ia menegak bir berusaha menghilangkan kecemasan dan ketakutannya. Baru kali ini ia melakukan kesalahan fatal. Seandainya tadi pagi ia tidak mengajak Dariel ikut kegiatan CSR ke Ukam Tengah pasti kejadian ini tidak akan terjadi. Kegiatan CSR yang mereka lakukan siang tadi selesai tepat waktu. pemasangan sumur pompa mekanik berjalan tanpa kendala. Sumber air yang didapat juga sangat jernih, namun sore hari disaat mereka dalam perjalanan hendak kembali ke mes ada kejadian yang tak terduga. Dariel diculik suku asli. Rahmadi dan rombongan sudah berusaha melakukan penyisiran. Juga mereka menggeledah rumah - rumah suku Ukam Tengah, namun pencarian mereka tidak mendapat hasil. Dariel tidak ditemukan. Suku Ukam Tengahpun terus berusaha menyampaikan bahwa mereka tidak terlibat dalam peristiwa menghilangnya Dariel. Dengan isyarat - isyarat yang mulai sedikit dipahami Rahmadi.


Rahmadi berusaha beristirahat, membaringkan badannya di meja ruang makan. Tubuhnya sangat lelah setelah perjalanan yang cukup menyita tenaga. Ia harus sedikit mengambil waktu untuk istirahat, supaya tenaganya segera pulih. Agar ia bisa kembali ikut dalam pencarian Dariel.


Rahmadi mencoba memejamkan mata, sekalipun matanya tertutup namun otaknya tidak bisa terlelap. Bayang - bayang kengerian melintas dalam pikirannya. Tinggal menunggu waktu ia harus menanggung konsekuensi atas keteledorannya dalam menjaga Dariel. Namun yang lebih ia takutkan bagaimana nasip Dariel di tangan suku pedalaman yang terkenal kanibal? Rahmadi sudah menganggap Dariel seperti anaknya sendiri. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Dariel ia tidak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri.


Rahmadi hanya bisa menunggu bantuan dari pusat, ia tidak mau ambil resiko lebih besar. Karenanya saat kejadian penculikan terjadi, ia segera mengirim salah satu anak buahnya untuk menyampaikan pesan kepada Bos Besar di Jakarta.

__ADS_1


Saat ini ia hanya bisa menunggu kabar dari empat team yang telah dikirimnya.


***


Sementara di kediaman Erlangga. Tampak seorang pria berumur setengah abad, berjalan mondar - mandir di ruang kerjanya. Sesekali ia menepuk keningnya melampiaskan kekesalan yang tak tersalurkan pada dirinya sendiri. Sore tadi ia mendengar kabar penculikan Dariel. Erlangga sangat terpukul. Seandainya si penculik meminta tebusan Trilyunan rupiah ia akan dengan mudah memberikannya. Baginya anak - anak nya adalah harta terbesar baginya. Namun saat tahu yang menculik adalah suku asli yang bisa saja memakan manusia. Seketika harapan untuk mendapatkan Dariel kembali dengan keadaan hidup sangat kecil.


Erlangga menarik nafas dalam - dalam seketika air mata menitik dari pinggir matanya yang sudah mulai dihiasi guratan - guratan usia. Ia mengambil foto istrinya "Jasmin" dari atas meja. Ia mengutarakan kegalauan hatinya pada foto di depannya.


"Jasmin, maafkan aku.... Aku gagal menjaga Dariel." Air mata Erlangga semakin deras mengalir.


"Tolong jaga anak kita dari sorga." Erlangga menyapukan jari - jarinya pada permukaan foto mendiang istrinya. Senyuman Jasmin dalam foto berhasil menenangkan hati Erlangga. Seakan- akan istrinya masih ada disisinya memberikan ketenangan yang saat ini sangat dibutuhkan Erlangga.


Tok....tok... tok


"Bagaimana? Sudah ada kabar?" Erlangga langsung menyambut mereka dengan pertanyaan.


"Maaf Tuan, masih dalam pencarian. Saya sudah kirimkan team pencari ke Papua untuk membantu pencarian di sana. Besok pagi mereka sudah sampai di sana" Dio memberi laporannya kepada Erlangga.


Brakkkk....


Erlangga menggebrak meja di depannya. Melampiaskan semua kemarahannya. "Dariel ada di luar sana mempertaruhkan nyawa. Sementara kita di sini tidak berkutik? informasi saja lambat kita dapat." Erlangga mendelik kearah Dio yang wajahnya mulai memucat. Baru kali ini ia melihat bos besarnya sangat marah. Seperti beruang kehilangan anaknya.

__ADS_1


"Baik Tuan, akan kita pasang kembali tower pemancar signal di sana, agar kita bisa mudah mendapatkan informasi perkembangan pencarian Tuan Muda Dariel." Jawab Dio takut - takut.


"Sudah cepat kerjakan." Usir Erlangga dengan gerakan lambaian tangannya mengusir Dio. Segera Dio mohon diri meninggalkan ruang kerja Erlangga.


Sementara Raka yang berdiri terpaku di depan meja papanya segera duduk di kursi depan papanya.


"pa.... Raka mau minta ijin."


Rupanya Erlangga tidak terlalu memperhatikan kalau Raka sudah sedari tadi berada di ruangannya. Erlangga mendongak dan menatap tajam Raka.


"Raka... kamu sudah mandiri, juga sudah berumah tangga jadi sudah tidak perlu lagi untuk hal apapun minta ijin pada papa." Kata Erlangga dengan sabar. Ia pun mendekat dan mengelus rambut anak sulungnya. Ia melihat ada keraguan di mata Raka.


"Memangnya apa, sehingga kamu perlu ijin papa?" Tanya Erlangga.


"Begini pa, Raka sudah bahas ini dengan Keke dan malah ia sangat mendukung Raka." Raka berhenti sebentar untuk melihat reaksi papanya. Ia melihat papanya memberikan isyarat agar Raka melanjutkan kata- katanya.


"Besok pagi Raka berangkat ke Papua bersama team pencari kloter dua. Raka akan memimpin pencarian Dariel pa.


Seketika wajah Erlangga pias. Tidak mungkin ia membiarkan anak sulungnya ikut - ikutan pergi.


"Tidak Raka... Kamu jangan pergi. Kasihan Keke sudah hamil besar dan sebentar lagi akan melahirkan."

__ADS_1


Erlangga tidak mau anak sulungnya menghadapi bahaya. Bagaimanapun ia tidak mau anak- anaknya satu persatu hilang dari perlindungannya. Seperti tahu isi hati papanya Raka menghibur papanya.


"Jangan kuatir pa... Raka dilindungi orang- orang terlatih. Raka tidak tenang sampai Dariel ditemukan dalam keadaan selamat.


__ADS_2