Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Pergi


__ADS_3

Kayra berdiri termangu di depan kaca bening. Ia melihat keadaan Dariel terbebat perban hampir menutupi seluruh permukaan tubuhnya. Sebulir air mata luruh dari ujung matanya. Keadaan Dariel saat ini adalah akibat perbuatan nya. Ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


Kayra baru menyadari, keberadaannya melukai orang yang sangat disayangi. Setelah menghapus buliran air matanya Kayra menguatkan diri untuk menyembuhkan Dariel.


Kayra berjalan masuk ke dalam ruangan ICU. Ia meletakkan tangan nya di kepala Dariel. Ada tenaga dalam keluar dari tubuh nya mengalir menghangatkan tubuh Dariel. Sementara tubuh Kayra menjadi lemah. Seakan kekuatannya tersedot keluar dari tubuhnya. Ia terus menjaga keseimbangan tubuh nya. "Sedikit lagi" Ia harus terus bertahan, ini demi kesembuhan Dariel.


Saat dirasanya keadaan Dariel membaik, Kayra melepaskan tangannya dari kepala Dariel. Saat ini hatinya hancur berkeping-keping. Ada penyesalan mendalam yang dirasanya. Seandainya ia tidak menikahi Dariel, mungkin hal ini tidak perlu terjadi. Kayra menangis.


Kayra segera keluar dari ruangan ICU. Sesaat ia berhenti, menoleh memandang Dariel dari balik kaca. Air matanya luruh tak tertahan kan. Kali ini ia benar- benar harus pergi.


Kayra kembali meneruskan langkahnya keluar dari rumah sakit. Jalannya terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Hingga ia berhasil keluar dari gerbang rumah sakit. Ia mencoba menghentikan beberapa mobil yang tak juga mau berhenti. Mungkin karena keadaannya yang kacau juga ia tak memakai alas kaki.


Mata nya mulai berkunang-kunang, dan pandangannya mengabur. Beruntung sebuah mobil sport berhenti dan segera menolong nya.


"Tolong, antarkan saya ke jalan Jaksa no 301." Desah Kayra berusaha memulihkan kesadarannya.


"Kamu kenapa?" Tanya pria mirip Aliando.


"Aku mabuk." Kata Kayra singkat ia tidak bisa menahan hatinya. Ia menangis terisak mengingat apa yang telah dilakukannya pada Dariel. Ia hampir membunuh Dariel dengan tangan nya sendiri. Ia mencelakai suaminya sendiri.


"Sudah... jangan bersedih. Atau kau ingin menceritakannya pada ku?" Tanya pria itu lagi.


Kayra tidak sanggup mengatakan apa-apa. Ia hanya menangis dan menangis. Hingga mobil yang ditumpanginya sampai di depan rumah nya.

__ADS_1


Kayra turun dari mobil dengan hati yang hancur. "Trimakasih." Kata Kayra singkat. Ia langsung melangkah masuk ke halaman rumah tanpa menoleh pada orang yang telah menolongnya.


Kayra mengetuk pintu, beberapa saat ia harus menunggu sampai kakek Ujang membukakan pintu untuk nya.


"Kayra... apa yang terjadi pada mu?" Kakek Ujang langsung membantu memapah Kayra masuk ke dalam rumah.


"Neta... Sari... cepat ke sini. Ada Kayra..!" Teriak kakek Ujang. Ibu Neta dan nenek Sari yang sudah tertidur langsung bangun mendengar teriakan kakek Ujang.


"Ada apa?" Protes nenek Sari. Namun saat melihat Kayra dalam keadaan acak-acakan dan mata bengkak karena menangis. Nenek Sari dan ibu Neta langsung berlari memeluk Kayra.


"Ada apa nak...? Katakan ada apa?" Tanya ibu Neta panik.


Kayra semakin larut dalam tangisan nya, membuat Neta tidak tega menanyai nya.


Bik Sari membantu menyeka tubuh Kayra. Sementara ibu Neta menyisir rambut Kayra dengan hati-hati.


Kayra masih tersedu dalam tangisan nya. Membuat mereka kuatir. Apakah mungkin Kayra baru bertengkar dengan suaminya? Hingga malam-malam begini Kayra pulang ke rumah mereka sendiri.


Bu Neta meminta nenek Sari untuk sementara menjaga Kayra. Sementara dia memilih untuk menghubungi Erlangga, besan nya. Ia harus tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan Kayra.


"Halo selamat malam. Maaf malam-malam mengganggu. Saya merasa tidak enak, apakah ada sesuatu terjadi?" Tanya Ibu Neta mencoba mencari info dari Erlangga.


"Maafkan kami belum mengabari. Beberapa waktu lalu ada orang menyerang rumah kami. Dariel terluka parah, sementara Kayra baik-baik saja. Kami membawa mereka ke rumah sakit Melati. Beberapa waktu lalu Kayra sadar dan menjerit kesakitan. Perawat memberikan obat penenang padanya namun tiba-tiba saja Kayra sudah tidak ada di kamar nya. Kami sedang menyusur rumah sakit untuk mencarinya. Bu Neta, maafkan saya. Saya tidak bisa menjaga Kayra dengan baik."

__ADS_1


Kata- kata Erlangga penuh penyesalan. Ia menyadari ketidak becusan nya dalam menjaga Kayra. Padahal itu sudah dijanjikannya pada orang tua Kayra. Sekarang hanya tinggal penyesalan yang mendalam.


"Apakah Dariel baik-baik saja?" bu Neta mendapat firasat kalau anaknya berlaku sedemikian karena keadaan Dariel.


"Dariel luka parah. Namun bersyukur ia terselamatkan. Operasinya tadi juga berjalan dengan lancar. Sekarang ia masih dalam pengaruh bius. Mudah- mudahan besok ia bisa sadar." Kata Erlangga dengan berat hati.


Ia sangat menyayangi putra-putranya. Dan keadaan Dariel saat ini membuatnya sangat kawatir. Rasa cemasnya pada Dariel sama seperti saat Dariel menghilang di rimba Papua beberapa waktu lalu. Ia tidak ingin kehilangan anak bungsunya ini.


"Pak Erlangga, Kayra sudah bersama kami. Namun ia sepertinya sangat tertekan. Ia terus menangis dan tidak mau memberitahu apa- apa kepada kami." Kata Neta akhirnya. Ia tidak tega membiarkan Erlangga semakin tertekan karena kecemasan memikirkan Dariel juga anak nya.


"Bu Neta... benarkah Kayra sudah bersama ibu? Oh Syukurlah. Saya benar- benar takut tadi. Apakah perlu saya kirim ambulan untuk membawa Kayra kembali ke rumah sakit?" Tanya Erlangga bersemangat. Kabar bahwa Kayra sudah bersama orang tuanya membuatnya lega.


"Ehm... sepertinya tidak perlu pak, fisik Kayra baik-baik saja. Mungkin ia hanya perlu istirahat bersama kami." Kata Ibu Neta seraya mengakhiri panggilan telephonnya.


Ibu Neta menyusul Kayra ke kamar nya. Nenek Sari tertidur di sofa. Wanita berumur itu mungkin sudah terlalu kelelahan setelah beberapa hari ini membantu Neta menata kebun. Neta memilih membiarkan ibunya tertidur.


Neta mendekati putrinya yang meringkuk di ranjangnya. Mata Kayra terpejam namun isakan tangisnya masih terus berlanjut.


"Ra... Dariel sudah mendapat penanganan yang baik dari dokter. Ia baik- baik saja. Sudah cukup...! Jangan menangis lagi.!" Kata Neta tegas. Ia tidak ingin melihat anak nya terpuruk dalam kesedihan.


"Ra... katakan pada mama apa yang sebenarnya terjadi?" Desak Neta. Ia sudah tidak sabar melihat kebungkaman Kayra. Karena saat melihat kepedihan hati Kayra, hatinya juga merasa teriris perih.


Neta mau anak nya terbuka pada nya agar ia bisa membantu meringankan beban yang ditanggung putrinya.

__ADS_1


"Ra.... katakan pada ibu! Jangan kau tutup-tutupi apa pun yang kamu alami...! Rara... percayalah pada ibu nak... Katakan! Apa sebenarnya yang telah terjadi pada mu Nak?" Tanya ibu Kayra putus asa.


__ADS_2