Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Bimbang


__ADS_3

Dariel berteriak memanggil Kayra namun diacuhkannya. Kayra terus melangkah menuju dapur. Ia segera memeriksa isi kulkas yang penuh sesak dengan beraneka bahan makanan. Tanpa diduga Dariel memeluknya dari belakang. Ia pura - pura mengacuhkannya dan tetap memilah - milah bahan makanan yang akan dimasaknya untuk sarapan. Berkebalikan dengan hatinya yang tiba- tiba bergetar menyalurkan sensasi hangat dalam dadanya. Mungkin seperti ini kebahagiaan sepasang suami istri setelah menikah. Ada pelukan hangat saat sang istri memasak di pagi hari. Memikirkannya membuat pipi Kayra memanas bersemu merah. Ia berusaha tak terlihat dengan selalu membuang muka dari tatapan Dariel. Ada perasaan malu bila sampai terlihat wajahnya memerah.


"Kenapa Rara gak mau dengar aku?" Tanya Dariel dengan manjanya. Masih dengan memeluk erat tubuh Kayra dari belakang.


"Kita masak sesuatu ya Riel... soalnya dari kemarin aku gak makan dengan benar. Coba lepasin dulu tangan mu supaya aku bisa cepat masaknya. Apalagi kalau Riel mau bantu, pasti cepat selesai."


Kayra sebenarnya ingin mendapat sesuatu yang lebih. Mungkin sebuah ciuman hangat namun itulah kata - kata yang berhasil keluar dari bibirnya. Benar apa yang dibilang orang, 'lain di mulut lain di hati.' Apa boleh dikata ia seorang wanita yang harus bisa jaga harga diri. Kayra tersenyum sendiri.


Dariel melepaskan pelukannya dan membantu mencuci beras juga memotong sayur. Sementara Kayra menyiapkan bumbu- bumbu.


Satu jam tak terasa berlalu. Berbagai macam hidangan akhirnya tersaji manis di atas meja. Nasi hangat mengepul, tumis brokoli, sup ayam, ayam tepung dan tidak ketinggalan sambal tomat uleg dengan biji cabe utuh terlihat menantang.


Dariel langsung duduk manis di kursinya, sementara Kayra bersiap mau mandi. Seperti mengerti pikiran Kayra, Dariel memanggilnya.


"Ra... Makan dulu aja. Habis makan baru mandi!"

__ADS_1


Kayra menurutinya dan langsung memilih duduk di samping Dariel. Seperti istri yang baik Kayra mengambilkan makan untuk Dariel. Juga menuangkan teh hangat tawar di gelas Dariel baru kemudian ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Mereka makan dengan lahap sesekali saling menambahkan lauk dipiring yang lain. Mungkin karena makanan sangat lezat atau karena sangat kelaparan membuat nafsu makan mereka meningkat. Hingga makanan sebanyak itu ludes tak tersisa. Makan pagi kesiangan terasa sangat nikmat.


Kayra langsung beranjak dari kursinya dan dengan cekatan ia membereskan sisa makanan juga piring- piring kotor. Di bawanya ke dapur dan segera mencucinya.


Dariel hanya melihatnya, ada rasa bangga dalam hatinya. Ia membuat pilihan terbaik. Kayra adalah calon istri dan ibu yang baik. Cantik, pintar masak, rajin dan banyak hal yang membuat Dariel sangat kagum padanya. Namun ada hal yang mengusik pikirannya.


Dariel tertunduk sedih mengingat kejadian penculikannya. Salah seorang penculiknya, mungkin orang itulah pemimpin penculikan dirinya. Dilihat dari aksesoris yang digunakan paling mencolok. Kalung, juga ikat kepala pria itu sangat mengerikan. Untaian kalung dari tengkorak - tengkorak manusia yang menyusut. Hiasan kepala dari untaian rambut beraneka warna. Juga coretan - coretan diwajahnya terlihat sangat menakutkan.


Sesaat sebelum Dariel dibebaskan, orang itu mengatakan suatu hal yang membuatnya bimbang. Orang dengan aura mengintimidasi itu memberikan ancaman yang membuat bulu kuduknya meremang. Bahkan saat mengingatnya saja menyisakan sensasi ngeri membuatnya masih merinding takut.


Melihat bagaimana pria itu mengancam itu bukan ancaman main- main. Bahkan serasa kata- kata pria itu masih terngiang di telinganya. Terpatri kuat dalam ingatannya.


"Jauhi Ratu, jauhi petaka...!!!"


"Jauhi Ratu, jauhi petaka...!!!"

__ADS_1


Dariel semakin bimbang. Orang yang telah melepasnya itu dengan tegas mengatakan untuk dia melepas Ratu untuk menghindari malapetaka yang akan terjadi. Kayra bukan ratu, Kayra hanya gadis biasa. Hal yang mustahil tidak mungkin ada hubungannya dengan Kayra. Mana mungkin hubungan mereka bakal mengakibatkan terjadi petaka?


Disisi lain Dariel tidak bisa mengelak. Saat orang misterius itu mengatakan dengan tegas untuk dia melepaskan Ratu, ada gambaran yang datang padanya. Kayra dengan mahkota emas dan pakaian kerajaan yang menunjukkan strata tertinggi masa kerajaan jawa. Kayra duduk di singgasana emas sementara ribuan orang atau sosok - sosok yang seperti orang sedang sujud kepadanya.


Dariel memukul - mukul kepalanya berharap bayangan itu pudar dari ingatannya, syukur - syukur kalau bisa rontok dari kepalanya. Namun sekeras apapun ia memukul kepalanya, ingatannya pada pesan orang misterius dan bayangan tentang Kayra adalah seorang ratu menjadi semakin jelas.


"Tidak.... tidak.... ini hanya ilusi bodoh." Dariel begitu frustasi. Ia menempelkan kepalanya di atas meja. Berusaha mencari ketenangan hingga Dariel tidak menyadari Kayra datang mendekat.


"Riel.... mandi dulu, aku dah selesai."


Dariel mendongakkan wajahnya dan terlihat sangat kusut membuat Kayra kebingungan. Beberapa menit lalu Dariel baik - baik saja bahkan mengungkapkan ingin mengajaknya menikah. Tapi sekarang apa yang terjadi? Dariel terlihat sedang dilanda setres? Tadi juga makan cukup banyak.


"Gak apa - apa Ra.... aku cuma sedikit pusing." Dariel beranjak dari kursinya dan berjalan sedikit terhuyung. Membuat seketika Kayra panik. Ia segera mengalungkan tangan Dariel di bahunya. Kayra memapah Dariel menuju ke kamar. Sesampai di kamar Kayra mengarahkan Dariel menuju ke ranjang. Namun saat Dariel belum sempurna terbaring di ranjang, tiba - tiba badannya ambruk di ranjang. Dariel pingsan. Sementara kakinya masih terkulai di lantai. Dengan sekuat tenaga Kayra mengangkat kaki Dariel yang cukup berat, dinaikkannya ke ranjang.


Saat Kayra mendongak mengamati Dariel, terlihat wajah Dariel pucat pasi. Keluar peluh menganak sungai menetes dari pelipisnya. Kayra segera menyambar tissue dari atas meja. Dihapusnya peluh Dariel. Kulit Dariel terasa panas, membuat Kayra semakin panik. Ia berlari ke dapur mengambil baskom dan diisinya dengan air hangat. Diletakkannya baskom itu di atas meja dekat ranjang. Ia pun berlari kembali ke kamar mandi mengambil handuk kecil. Segera ia basahi handuk kecil itu dengan air hangat dan dikompreskannya pada dahi Dariel. Beberapa kali ia mengganti kompresan yang mulai kering.

__ADS_1


"Riel.... kamu benar - benar sakit, aku pergi sebentar ya cari bantuan untuk membawamu ke rumah sakit." Bisik Kayra tepat di telinga Dariel. Saat Kayra hendak beranjak, tangannya digenggam erat oleh Dariel. Lamat - lamat terdengar bisikan lemah Dariel.


"Ra... jangan tinggalkan aku."


__ADS_2