Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Mawar Kuning


__ADS_3

Rino berlari-lari melalui jalanan yang menanjak. Setelah sekian kilometer akhirnya ia sampai ke sebuah rumah yang sangat sederhana. Ada seorang nenek sedang mengangkat jemuran di halaman.


"Nek... aku bawakan hadiah untuk mama Rara. Ayo Nek, kita kasih bunga ini untuk mama Rara." Kata Rino sambil menarik tangan neneknya.


"Iya sebentar, biar nenek selesaikan dulu mengambil jemuran. Hari mulai mendung, takutnya hari akan turun hujan."


Rino pun segera membantu neneknya.


"Rino dapat bunga cantik itu dari mana?" Tanya neneknya penasaran.


Rino sesaat terdiam, ia ingat kata-kata Asep tadi yang mengatakan kalau bunga di villa itu ada kutukannya. Ia tidak boleh mengatakannya pada nenek.


"Ada orang selesai hajatan, dan membuang bunga-bunga itu ke tempat sampah. Jadi Rino mengambilnya untuk hadiah buat mama Rara." Rino terpaksa berbohong pada neneknya.


Sang nenek hanya mengangguk pelan, ia segera membawa jemurannya ke dalam rumah dan meletakkannya di atas dipan kayu yang hanya dialasi tikar.


"Rino... ganti baju sragam mu. Besok masih dipakai lagi!" Suruh sang nenek pada cucunya yang masih terus memeluk buklet bunga di dadanya.


Dengan sedikit enggan, anak laki-laki yang berumur sepuluh tahunan itu segera bergegas mengganti bajunya dengan kaos oblong yang sudah koyak dibeberapa bagian.


"Rino gak makan dulu?" Tanya neneknya lagi setelah melihat cucunya sudah selesai mengganti bajunya.


Rino menggeleng, "Nanti saja Nek, setelah kita antar bunga ini buat mama Rara." Jawab Roni bersemangat.


"Ya udah, ayo!"


Nenek dan cucunya itu bergegas keluar rumah melalui pintu belakang. Mereka berjalan terus menuju ke hutan. Setelah beberapa lama, tibalah mereka di sebuah ceruk batu yang tertutup dengan tanaman rambat.

__ADS_1


Sang nenek menyingkapkan pohon rambat memberikan jalan pada cucunya. Ceruk batu itu tidak terlalu dalam. Di tengah ruangan ada sesosok wanita terbaring diatas batu datar.


Rino bergegas menghampiri wanita itu. Wanita bergaun merah itu tampak sangat cantik. Bibirnya terkatup rapat dengan tarikan pipi membentuk sebuah senyuman tipis. Rambut panjangnya terurai indah. Tampak kedamaian dipancaran wajahnya yang cukup cantik. Terlihat dadanya turun naik teratur, menandakan wanita itu masih hidup.


"Mama Rara... Rino bawakan mama bunga. Semoga mama suka ya. Ma... cepat bangun. Mama terlalu lama tidur." Bisik Rino tepat ditelinga wanita muda yang tak bergeming dalam lelap tidurnya.


Nenek Rino hanya mengawasi dari kejauhan tidak berani mendekat. Seringkali Rino bertanya pada neneknya mengapa dia tidak berani mendekat. Sang nenek hanya mengatakan kalau ia takut pada mama Rara. Rino akhirnya tidak mempersalahkan sikap neneknya pada mama Rara.


Rino merapikan baju mama Rara, dan meletakkan buket bunga mawar kuning di sebelah mamanya berbaring. Dirapikannya anak-anak rambut yang menutupi wajah mamanya. Dan diambilnya sekuntum mawar, disematkannya ditelinga mamanya.


Rino seringkali bertanya pada neneknya, mengapa mama Rara tidak juga bangun dari tidurnya. Namun sang nenek hanya mengatakan, nanti kalau sudah waktunya mamanya pasti akan bangun.


Rino tidak bisa lama-lama karena sang nenek yang terlihat ketakutan meringkuk di pintu masuk ceruk batu.


"Nek... ayo kita pulang." Dengan perasaan riang, Rino menggandeng tangan neneknya. Mereka pun berjalan pulang. Setiap kali mereka menemukan ranting kayu kering mereka membawanya pulang. Rino pun membantu neneknya. Sekarang ia bisa membawa kayu lebih banyak untuk dibawa pulang.


Rino mengenali salah satu dari bapak-bapak itu adalah Pak pembekal. Bapak Asep, teman sekelasnya. Perasaannya jadi tidak enak.


Sang nenek segera menyapa bapak-bapak itu dengan ramah dan mempersilahkan mereka untuk masuk. Namun bapak-bapak itu menolaknya.


"Di sini aja nek. Kami hanya sebentar. Tadi Asep cerita, kalau Rino mengambil bunga mawar yang ada di depan villa. Kita penduduk desa sudah memaklumi keberadaan bunga mawar misterius itu mengandung sebuah kutukan. Jadi supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Rino harus mengembalikan bunga itu ke tempatnya semula!"


Nasehat pak pembekal pada Rino.


Rino tertunduk, sesekali ia melirik pada neneknya yang terlihat sangat kesal. Sudah kepalang basah, ia sudah terlanjur bohong. Kalaupun ia mengatakan yang sebenarnya, dan orang-orang itu menemukan mamanya. Rino tidak bisa membayangkan apa yang bakalan terjadi padanya juga mamanya.


"Maafkan Rino, tadi Rino mengambil bunga itu. Namun Rino jadi takut waktu Asep mengingatkannya. Rino sudah kembalikan bunga itu. Nenek saksinya." Kata Rino takut-takut.

__ADS_1


"Iya Bapak-bapak, tadi Rino terlambat pulang. Waktu saya tanya alasannya katanya karena mengembalikan bunga yang sempat diambilnya dari villa." Jawab si nenek mendukung kebohongan cucunya.


"Oh... syukurlah." Bapak-bapak terlihat sangat lega.


"Semoga dengan Rino mengembalikan bunga itu di tempatnya semula, tidak akan membawa masalah di kampung kita. Ya sudah... Nek Ipah dan Rino kami pulang dulu." Bapak-bapak itu berpamitan. Mereka berjalan dijalan setapak, meninggalkan Rino dan neneknya yang berdiri mematung ditempatnya.


Nenek Ipah nampak sangat marah.


"Rino... kenapa kamu bohong?!" Tanya nek Ipah setelah memastikan kalau bapak-bapak yang tadi datang kerumah mereka sudah tak nampak lagi.


"Maafkan aku Nek, Rino melihat bunga itu sangat indah. Rino hanya berfikir mungkin mama senang melihat bunga itu." Rino tertunduk dalam takut, melihat kilatan amarah di mata neneknya.


"Sekarang juga! Ambil bunga itu dan kembalikan ke tempatnya semula! Sebelum kamu menyelesaikannya kamu tidak dapat makanan!" Bentak nenek Ipah.


Rino segera berlari kembali menuju hutan. Padahal perutnya sudah mulai berbunyi menuntut ada makanan yang masuk ke dalamnya.


Di tengah jalan, tak sengaja ia melihat ada pohon mangga hutan yang sedang berbuah lebat. Nampak beberapa buahnya sudah mulai ranum. Tanpa berfikir panjang, ia pun segera memanjatnya. Memetik beberapa buah mangga dan meyimpannya di lipatan kaosnya.


Rino sangat girang, saat berhasil mengumpulkan banyak buah mangga. Dengan hati-hati ia turun dari pohon, takut buah mangga yang sudah dipetiknya jatuh ke tanah dan menjadi lecet.


Rino melanjutkan perjalanannya menuju ceruk batu. Di sepanjang perjalanan dengan riang gembira ia berjalan riang sambil menyanyi lagu-lagu nasionalisme.


Tak terasa sampai juga ia di ceruk batu, tempat keberadaan mama Rara terbaring. Dengan tangan kanannya ia menyibakkan tanaman rambat yang menutupi pintu ceruk batu. Sementara tangan kirinya menjaga agar ujung kaosnya tetap melindungi buah mangganya dengan aman.


Baru satu langkah ia memasuki ceruk batu. Ia dikejutkan dengan apa yang dilihatnya. Tanpa sadar tangan kirinya terlepas dari genggaman pada kaosnya. Membuat mangga-mangganya jatuh menggelinding ke segala arah.


Seorang wanita berbaju merah berbalik dan menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2