Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Tentang Dio


__ADS_3

Suatu hari Erlangga menyuruh seseorang meletakkan tas berisi uang dua puluh juta rupiah di toilet pria. Saat Dio menemukannya, tanpa pikir panjang ia segera menyerahkan tas itu pada supervisornya yang tamak. Uang itu hanya kembali setengahnya saja pada pemiliknya. Nama Dio tidak pernah disebutkan sebagai penemu tas berisi uang itu. Sang Supervisor tamak mendapat pujian dan reward sejumlah uang. Saat itu Dio tidak protes ataupun kesal. Baginya hadiah dari Tuhan saja yang ia cari. Tak berapa lama sang supervisor tamak dikeluarkan dengan tidak hormat karena keteledoran dalam pekerjaannya.


Sementara Dio menjadi penggantinya sebagai supervisor Cleaning Service.


Ada juga saat ia akan disogok dengan jumlah uang yang cukup besar saat mengetahui ada staf yang korupsi. Dio tidak mau menerima uang sogokan itu. Ia seperti rohaniawan yang memberi nasehat panjang lebar agar pak Rusdi mengakui perbuatannya pada pimpinan perusahaan sebelum ia ketahuan dan dipecat.


pada mulanya pak Rusdi sempat mengancam Dio. Namun Dio tetap berkukuh karena ia tidak mau pak Rusdi sampai menyesal nantinya. pak Rusdi mulai ketakutan dan pada akhirnya ia melakukan persis seperti yang disarankan Dio. Ia aman dan tetap diposisinya, sekalipun harus dimutasi ke Surabaya. Dio sama sekali tidak tahu kalau itu hanyalah skenario Erlangga untuk menguji kejujurannya.


Tes yang paling berat. Saat itu ibunya Dio sedang sakit parah dan dirawat di rumah sakit. Ia mengajukan cuti. Bukannya ia mendapat ijin, ia malah mendapatkan ancaman dari HRD kalau sampai tidak masuk ia akan dipecat. Karena kebetulan saat itu Dio menjabat sebagai staf Administrasi. Dan hari dimana Dio akan meminta cuti, bersamaan dengan pembukaan cabang baru di luar kota. Sehingga kantor pusatpun mengalami efeknya. Kesibukan yang tidak bisa dielakkan.


Dio mengambil keputusan yang ia pikir akan sangat ia sesali. Dengan tegas ia berkata kepada HRD


"Di sini saya hanyalah seorang karyawan, saya bisa digantikan siapa saja dan kapan saja. Tapi dirumah, saya adalah seorang anak, tanggung jawab saya tidak bisa digantikan oleh siapapun. Saya percaya perusahaan ini dibangun bukan oleh robot. Tapi seseorang yang punya hati untuk keluarga dan karyawannya." Dio menghela nafas dalam- dalam dan menghembuskanya dengan tekat kuat.


"Apapun konsekuensinya saya ijin cuti dua hari kedepan. Trimakasih pak, maaf saya harus segera kembali ke tempat kerja." Dio melangkahkan kakinya untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Sementara HRDnya yang sudah berumur terlihat dari rambutnya bertabur uban sedang kalut. "Aduh gimana ini, si Bos pasti marah besar." Ia sebenarnya sangat menyukai kinerja Dio yang catatan absensinya sangat bagus. Tidak pernah absen selama tiga tahun. Bahkan masa cuti tahunan rela hangus tak diambilnya. Namun sekarang saatnya ia minta cuti karena ibunya sedang sakit keras Dio malah dipersulit.


Didik sebagai HRD tidak bisa berbuat banyak. Dia pun cuma sebagai karyawan saja yang tunduk pada bos nya. "Semoga saja Dio tidak mengalami masalah dengan keputusannya ini." pak Didik segera meninggalkan ruangannya menuju ruang presedir. Ia menyerahkan rekaman vidio percakapannya dengan Dio barusan kepada bos besarnya. Dengan segera diputar Erlangga. Raut wajahnya terlihat sangat gusar.


Didik sama sekali tidak berkutik saat mendapat tatapan intimidasi dari Erlangga. Sorot matanya yang tajam seakan membekukan tulang - tulangnya. Hatinya terus berdoa agar semua baik - baik saja.

__ADS_1


"Ckckck.... Sudah berapa tahun kamu jadi HRD?" Tanya Erlangga meremehkan.


"Sudah empat tahun pak." jawab pak Didik dengan hati gentar. Siapa yang gak takut menghadapi bos besar seperti Erlangga yang punya kuasa untuk melemparkannya ke jalanan saat ini juga.


"Sudah empat tahun jadi HRD ngurusin masalah kecil aja tidak becus? percuma perusahaan buang duwit untuk bayar karyawan seperti kamu." Erlangga berkacak pinggang. Cerminan bos otoriter. Sebagian besar karyawan takut kepadanya, namun tak ada satupun yang membenci kepemimpinannya. Sekalipun terkesan galak, Erlangga sangat memikirkan kesejahteraan karyawannya. Karena baginya, ketika ia melihat karyawannya sejahtera dan bahagia maka mereka akan bekerja padanya dengan lebih baik. Otomatis pundi - pundinya juga terisi dengan baik.


"Setelah ini, keputusan apa yang kamu akan berikan buat staf admin itu." Kata Erlangga menguji Didik.


"Saya akan berikan cuti seminggu


untuk Dio staf admin itu pak." Jawab Didik. Dalam hatinya ia membatin ya sudahlah terlanjur basah njebur aja sekalian. Kalau memang dia dipecat ya sudahlah. Asalkan setidaknya ia bisa membantu anak muda yang berprestasi dan baik seperti Dio.


"Secara materi tidak ada kerugian berarti. Jam kerja masih bisa digantikan lain waktu. Namun untuk kasus Dio, perusahaan akan mengalami kerugian bila sampai ia mengajukan tuntutan. Selama tiga tahun tidak pernah ambil hak cuti tahunan. Juga alasan Dio mengajukan cuti ini untuk alasan urgen secara kemanusiaan. Jadi tidak bijak kalau kita sampai menolak pengajuan cutinya ini." Didik menjelaskan panjang lebar dalam sekali helaan nafas. Dan diakhirinya dengan kelegaan.


"Oke segera buatkan surat persetujuan cutinya nanti saya tanda tangani. Silahkan kembali kerja." Kata Erlangga melunak.


"Baik pak, saya permisi kembali kerja." Didik serasa limbung saat melangkah meninggalkan ruangan presedir. Seperti baru turun dari roller coster. Sumpah presedirnya telah sukses mengaduk - aduk mentalnya.


Tok....tok....tok....


Ini kali kedua dalam satu hari ini bagi Dio mondar - mandir ke ruangan HRD nya. Hatinya kecut, merasa keder ketemu pak Didik dengan kewibawaannya. Hingga untuk mengetuk pintu seperti akan membuka pintu kandang macan. Segera ia memasuki ruangan HRD.

__ADS_1


"Selamat sore bapak memanggil saya?"


Tanpa menjawab pak Didik langsung


mengulurkan sebuah amlop putih padanya.


"Apa ini pak?" Tanya Dio dengan jantung


yang berdebar - debar, jangan - jangan ia dipecat? Bagaimana nanti ia harus membiayai rumah sakit ibunya juga kelanjutan sekolah adiknya? Tak terasa keringat dingin mulai merembes keluar pori - pori kulitnya, membayangkan kejadian buruk yang akan segera menghadangnya.


"Buka aja supaya gak penasaran.!" pak Didik mengintruksikan.


Saat membaca isi amplop itu, seketika lidahnya menjadi kelu.


"pak benaran ini? Saya diijinkan cuti bahkan satu minggu? Dan cek ini buat saya pak?" Tanya Dio tidak percaya.


"Ya. Kalau sudah selesai, cepat kembali ke tempat kerjamu. Segera selesaikan kerjaan hari ini. Tidak perlu lembur!" Kata pak Didik dengan nada datar.


"Oh ya pak presedir titip salam semoga ibu mu cepat sembuh."


"pak terimakasih banyak." Dio segera minta diri dan keluar dari ruang HRD dengan hati yang berbunga - bunga. Dapat cuti juga cek senilai sepuluh juta. Dio merasa seperti dapat durian runtuh. Ia berjanji dalam hati akan sepenuhnya mengabdi pada perusahaan yang sangat baik kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2