Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
kita akhiri saja


__ADS_3

Kayra memilih duduk di kursi belakang. Ia menumpahkan segala kesesakannya dalam tangisan. Kakek Ujang yang melihatnya kebingungan. Namun ia memilih untuk diam tidak berkomentar sama sekali.


Sepanjang perjalanan, mereka terperangkap dalam kebisuan. Kakek Ujang sekali-kali memastikan keadaan Kayra melalui kaca spionnya. Dilihatnya Kayra sangat bersedih. Air matanya terus mengalir, isakan tertahan lolos dari sela bibirnya.


Keadaan Kayra membuat kakek Ujang kawatir. Dalam hatinya ia berfikir, apakah cucunya tidak bahagia dengan pernikahan yang baru dijalaninya?


Ini sudah kedua kali, kakek Ujang melihat kesedihan Kayra karena Dariel. Sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Ia tidak mau, cucunya bersedih terus. Ia harus melakukan sesuatu.


Tak terasa, mobil kakek Ujang sudah memasuki halaman rumah. Kedatangan mereka disambut ibu Neta dan nenek Sari.


Kayra cepat-cepat menghapus air matanya. Meskipun ia berusaha menyembunyikan bekas tangisannya, namun mata bengkak dan hidung yang merah membongkar kesedihannya. Sekilas pandang ibu Neta dan nenek Sari mengetahui ada kesedihan yang tengah dirasakan Kayra.


Nenek Sari dan ibu Neta segera mencuci tangan dan bergabung dengan Kayra di meja makan. Mereka kompak tidak membahas mata Kayra yang membengkak. Nenek Sari sibuk menyiapkan makanan sementara ibu Nita membuatkan jus apel.


Tak berapa lama, makan siang sudah siap. Semua sudah berkumpul di meja makan. Kakek Ujang memimpin doa. Acara makan terlihat sedikit kaku, masing-masing orang menahan diri. Mereka sepakat menyibukkan diri dalam pikiran masing-masing.


Saat acara makan siang selesai, Kakek Ujang membuka percakapan.


"Kayra, cucuku. Adakah yang ingin kamu bagi untuk keluargamu yang sangat menyayangimu ini?" Pertanyaan kakek Ujang mengejutkan Kayra.


Ia tergagap, belum siap dengan jawaban yang akan diberikannya.


"E... e... Aku baik-baik saja Kek, aku hanya terbawa suasana saja." Jawab Kayra tanpa berani menatap manik mata kakek, nenek dan ibunya. Kegugupan Kayra tertangkap jelas oleh Kakek Ujang.


"Udahlah Ra... tidak perlu ditutup-tutupi lagi!" Nada lembut kakek penuh penekanan.


Kayra menghela nafas dalam. Ia tidak akan mengubah keputusannya dan saat ini ia harus mengatakannya di hadapan keluarganya. Kayra sudah tidak bisa mundur lagi. Keputusannya ini semata-mata untuk kebaikan Dariel juga demi menghapuskan rasa bersalahnya.

__ADS_1


"Rara akan bercerai." Kata Kayra singkat.


Kakek, nenek dan ibu Neta saling berpandangan. Dalam pikiran mereka timbul tanda tanya besar. Ada apa sebenarnya antara Kayra dan Dariel?


"Ra... ada apa sebenarnya nak?" Tanya ibu Neta ingin tahu, apa sebenarnya yang terjadi pada Kayra. Apakah putrinya tidak bahagia dengan pernikahannya ini?


"Aku ingin cerai Bu..." Jawab Kayra gamang.


Ibu Neta semakin tidak mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi pada putrinya itu.


"Ra... apapun keputusan mu, Ibu, nenek juga kakek pasti akan dukung. Tapi tolong lah Ra... kasih tahu apa alasannya?" Tanya Ibu Neta mendesaknya.


Kayra menggeleng lemah. "Aku hanya ingin bercerai." Jawab Kayra sambil berlalu. Ia meninggalkan ketiga orang yang masih kebingungan dengan keinginan Kayra bercerai. Kayra berlari naik ke kamarnya di lantai dua.


Kayra menumpahkan air matanya di sana. Ia tidak menyangka keputusannya untuk bercerai dengan Dariel terasa menyakitkan. Ia tidak ingin berpisah dari Dariel yang semakin dicintainya. Sementara kutukan itu bisa membuatnya membunuh Dariel kapan saja.


Dariel memeluk Kayra. Ia ikut merasakan kegalauan yang dirasakan istrinya itu. Jari-jari tangan Dariel tak henti-hentinya membelai rambut panjang Kayra. Sesekali dikecupnya pucuk kepala Kayra.


"Ra... aku sangat mencintai mu. Aku tidak akan meninggalkan mu. Kita pasti menang melawan kutukan itu. Dan kita akan hidup bahagia bersama selamanya." Sekali lagi dikecupnya puncak kepala Kayra. Tercium aroma wangi melati yang seketika membuat Dariel merasakan ketenangan. Ia pun jatuh tertidur memeluk erat istrinya seakan takut ditinggalkan Kayra.


Tok....tok...tok...


Suara ketukan pintu membangunkan pasangan suami istri yang menyatu dalam hangatnya pelukan. Mereka terkejut dan reflek duduk dipinggir ranjang. Masih mencoba mengumpulkan puing-puing kesadaran setelah bangun dari tidur yang dipaksakan.


"Ra.... udah waktunya makan malam. Cepat turun...!" Teriakan ibu Neta menggugah kesadaran Kayra.


"Iya Bu... Rara mandi dulu.." Jawab Kayra dengan teriakan mengimbangi suara teriakan ibu Neta. Terdengar langkah kaki di luar kamar pergi menjauh. Kayra memandang keadaan sekitar. Air matanya kembali menetes. Saat ia tidur tadi, ia merasa ada suaminya. Ia merasakan pelukan hangat Dariel, ia juga mencium aroma parfum maskulin Dariel. Apakah itu semua cuma mimpi?

__ADS_1


Kayra membenamkan wajahnya diantara kedua telapak tangannya. Perpisahan yang dirasanya dapat dengan mudah dilakukan. Namun kenyataannya, ia masih membutuhkan Dariel di sisinya.


Kayra segera mandi. Ia tidak mau membuat keluarganya menunggu terlalu lama.


Suasana meja makan kembali dicekam kebisuan. Masing-masing bergulat dengan pikiran dan prasangka. Hanya dentingan sendok dan garpu yang menjadi filler soundtrack nya.


Ibu Neta menjadi orang pertama yang memecahkan kebisuan.


"Ra... apakah kamu yakin dengan keputusan mu bercerai dengan Dariel?" Tanya ibu Neta mengharap sebuah penjelasan dari putrinya.


Kayra termenung. Ia masih mengumpulkan kosa kata terbaik yang bisa mengungkapkan perasaannya. Tanpa harus membuka tabir kutukan yang tak bisa dijelaskannya.


"Bu... aku tidak bisa hidup bersamanya lagi. Aku ingin cerai darinya." Jawab Kayra. Lagi-lagi tidak ada alasan dibalik keputusannya.


"Iya... tapi mengapa? Apa alasannya?" Tanya ibu Neta dalam intonasi meninggi. Ibu Neta benar-benar tidak sabar menunggu jawaban dari Kayra yang menurutnya tidak mendasar sama sekali.


Kayra menundukkan kepala, seakan ia ingin bergabung menjadi butiran nasi di atas piringnya. Ia iri kepada butiran nasi itu yang tidak perlu repot-repot memikirkan kebahagiaan ataupun pengorbanan untuk kebahagiaan orang lain.


Neta sudah akan melemparkan kata-kata kerasnya. Namun belaian tangan nenek Sari menghentikannya. Nenek Sari berkata lirih padanya.


"Sudah... jangan terlalu memaksanya. Mungkin Rara belum siap mengatakannya pada kita. Beri waktu padanya." Bisik nenek Sari menenangkan putrinya.


"Ra... ibu tidak akan memaksamu mengatakan alasan mu mau cerai dengan Dariel. Namun mama minta, pikirkan baik-baik. Karena sebuah keputusan besar jangan pernah dibuat dalam keadaan emosi yang labil. Jangan sampai membuat kesalahan. Lebih baik, untuk beberapa waktu kalian tidak bertemu. Dan pergunakan waktu itu untuk merenung serta memikirkan langkah terbaik ke depannya." Kata Nita sambil membelai rambut halus Kayra.


Kayra semakin dalam menundukkan kepalanya. Ia tidak sanggup menatap tatapan kecewa dari keluarganya.


"Maafkan Rara... ini sudah keputusan Rara. Lebih baik kita akhiri saja... sebuah hubungan...." Kayra tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia beranjak dari kursinya.

__ADS_1


"Maafkan Rara telah membuat kalian kecewa." Kayra berlalu pergi. Kembali ke dalam kamarnya untuk menumpahkan segala rasa galaunya.


__ADS_2