Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
pembebasan


__ADS_3

"Sandra? Kamu kah itu? Kenapa kau menakutiku?" Kayra segera bangun dan merapatkan badannya di kepala ranjang. Seketika bulu kuduknya meremang. Sandra yang berdiri di dekatnya sekarang sangat menakutkan. Bola matanya melotot, tangannya terjulur memperlihatkan kuku- kuku jarinya yang panjang.


"Bebasssss.... kannn.... akuuuuu." Suara parau menyeramkan keluar dari mulut arwah Sandra. Seketika sosok transparan itu tiba- tiba menghilang.


Kayra memegangi dadanya yang bertalu- talu. Ia begitu ketakutan melihat arwah Sandra berinteraksi dengannya.


"Hufff.... ternyata begini ya kalau arwah minta tolong. Bukan dengan cara baik- baik tapi malah neror bikin takut setengah mati." Gumamnya. Kayra melirik jam dinding. Masih jam 3 pagi. "Sebaiknya aku tidur lagi, nanti aku baru kasih tahu Shinta.


Jam 7 Kayra bangun, ia bergegas ke dapur berniat memasak sesuatu untuk sarapan. Ternyata Shinta sudah di dapur duluan. Memasak mie instan. Aroma gurihnya langsung tercium saat Kayra masuk ke dapur.


"Masak apa Shin? Tanya Kayra mendekati Shinta yang tengah asyik memasak.


"Masak mie instan ala Korea. hahahha."


"Oh ya... pasti enak tuch." Kayra melongok ke arah panci masak. Ia melihat mie ramen matang di ceplokin telur mentah. Seketika ia bergidig, Kayra tidak suka telur mentah ataupun setengah matang.


"Kalau mau kita bagi dua." Kata Shinta sambil menuangkannya ke mangkok.


"Aku gak suka ada telur mentahnya. Aku masak sendiri aja." Kayra mengambil alih anci bekas masak Shinta. Ia kemudian merebus air untuk memasak mie instan. Ia mengambil bakso dan sosis dari kulkas. Memotong- motongnya dan memasukkannya ke dalam rebusan mie. Di kulkas tidak ada stock sayur, padahal Kayra sangat suka mie yang dicampur sawi segar. Ia mengambil telur dan mencampurkannya dalam rebusan. Setelah semua matang, mie dituangkan kedalam mangkok dan ditaburi bumbu. Mie instan soto buatan Kayra selesai. Ia pun bergabung dengan Shinta di meja makan.


Kayra dan Shinta menikmati sarapan mereka. Mereka berdua begitu terfokus dengan mie instan masing- masing. Hingga tidak ada yang memulai pembicaraan.


Shinta menyelesaikan makan nya terlebih dahulu. Ia mengambil apel dari kulkas, mengupas dan memotongnya kecil- kecil.

__ADS_1


"Ra... gimana tidur mu semalam? nyenyak?" Tanya Shinta sambil mengunyah apelnya.


Kayra mendongak melihat ke arah Shinta. "Arwah Sandra menemui ku, ia minta dibebaskan."


"Apa maksudnya?"


"Apa jenasahnya sudah dimakamkan dengan layak?" Kayra balik bertanya. Shinta menggeleng kuat- kuat.


"Aku sudah mencarinya bertahun- tahun namun tidak ada hasilnya. Tahun ini aku berhenti mencarinya, aku sudah putus asa. Kemana lagi aku harus mencari jenasah Sandra? Ini sudah tahun ke lima apakah jenasahnya masih berwujud?" Shinta seketika murung.


"Sandra pasti akan kasih petunjuk. Kita tunggu aja dulu, sebelum mencarinya." Seketika Kayra kehilangan nafsu makannya. Masih setengah orsi tersisa. Ia memilih makan apel yang telah dikupas Shinta.


"Ra.... kamu gak papa di sini dulu? Bagaimana orang tua mu?" Shinta teringat janjinya untuk mengantrnya kembali ke rumah.


"Makasih Ra... Kamu begitu baik, apa jadinya kalau aku jahatin kamu?" Kata- kata Shinta penuh penyesalan.


"Sudah lah Shin... semua ini adalah rencana Tuhan, yang jelas tidak ada kata terlambat untuk meminta pengampunan Tuhan. Dan yang terpenting tidak mengulangi kesalahan." Kata- kata Kayra serasa seperti oase di tengah padang gurun. Terasa menyejukkan hati Shinta. Membuat Shinta hanya bisa mengangguk- angguk membenarkan kata- kata Kayra.


Kayra tak sengaja memandang belakang tubuh Shinta. Disanalah sosok transparan Sandra berada. Sosok itu sedang melakukan sesuatu, membuat Kayra penasaran. Shinta yang melihat Kayra fokus pada sesuatu di belakangnya, ikutan menoleh ke belakang. Ia melihat ada sesuatu bergerak di kitchenset dibelakangnya. Shinta reflek berlari memastikan, ia sangat benci kecoak atau pun tikus. Shinta akan mati- matian memburu ke dua binatang itu bila sampai masuk ke dalam rumahnya. Ia menyambar sapu dan segera menghampiri kitchenset.


"Hati - hati Shin...."


Brukkk.... "Aduh.... apa - apa an ini... minyak goreng??? Bagaimana bisa tercecer di sini?" Shinta menggerutu tak jelas. Dia tidak habis pikir bagaimana mungkin bisa ada minyak goreng. Ia merasa menyimpan minyak goreng dalam botol yang tertutup rapat tidak mungkin sampai bocor dan tercecer.

__ADS_1


"Shinta... kamu gak papa?" Kayra bergegas menghampiri.


"pantat dan tangan ku sakit." Kayra membantu Shinta bangkit. "Bagaimana bisa minyak tercecer disini? Aneh." Shinta kebingungan pada kejadian aneh yang terjadi di ruang makan.


"Ini salah satu petunjuk dari Sandra. Mungkin ada hubungannya dengan keberadaan jenasahnya." Kayra menduga- duga.


"Maksud mu jenasah Sandra dalam minyak goreng?" Shinta terperangah tidak habis pikir.


"Mungkin jenasahnya terperangkap di lumpur berminyak atau sejenisnya." Kayra juga meragukan apa yang dikatakannya.


"Shinta terdiam sesaat, Bagaimana bisa?aku tahu dimana tempat itu." Shinta bergegas menuju kamarnya. Kayra geleng- geleng keheranan.


"Shinta ini aneh, ngeloyor pergi begitu saja? Lihatlah jejak minyak yang ditinggalkan, bisa membuat orang terpeleset." Gumam Kayra. Ia pun mengambil pel- pelan dan membersihkan minyak yang tercecer dan jejak Shinta samai di depan kamarnya.


Kayra melongok ke dalam kamar Shinta. Terlihat sedang melakukan panggilan telepon. Saat menyadari ada Kayra di depan pintu, Shinta mengakhiri panggilannya.


"Masuk Ra... aku sudah menyuruh orang melakukan penelusuran di sungai 'C' semoga mereka bisa mendapatkan hasil. Kita tinggal tunggu kabar dari mereka."


Dua jam kemudian kabar itu datang. Sebuah jasad gadis berumur dua belasan tahun diketemukan. Shinta dan Kayra segera meluncur ke rumah Duka Harapan. Mereka naik GoCar. Disepanjang perjalanan Shinta hanya menangis. Ada tangisan kesedihan sekaligus juga kelegaan. Akhirnya setelah lima tahun ia akan segera memberikan pemakaman yang layak untuk saudara kembarnya. Kayra hanya bisa memeluk untuk sedikit memberi ketenangan untuk Shinta.


Tangisan Shinta pecah saat ia melihat jenasah saudara kembarnya terbaring kaku di dalam peti. Jenasah Sandra masih utuh seperti baru meninggal kemarin. Mungkin limbah minyak yang membungkusnya menjadi pengawet alami. Jenasah Sandra kecil tampak cantik setelah di make up dan diberikan gaun indah berwarna pink. Hari itu juga jenasah Sandra dimakamkan di pemakaman 'SY palace' dipimpin seorang pendeta.


Shinta masih berlama- lama di pemakaman. Ia ingin mengucapkan perpisahan pada saudara kembarnya. Hari ini Shinta merasa terbebas dari segala beban yang membelenggunya. "Sansan... beristirahat dengan damai di sana. Sampai aku datang menyusul mu." Shinta mencium batu nisan Sandra. Ia bertekat akan memulai hidup baru melepas semua yang berhubungan dengan dunia malam. Mengubur identitas lamanya dan kembali kepada orang tuanya menjadi Shinta anak gadis mereka yang telah lama menghilang.

__ADS_1


__ADS_2