
"Ra ... istirahat aja dulu. Kalau menungguin pelayat yang datang tidak akan ada habis-habisnya." Bisik Dariel pada Kayra.
"Sebentar lagi Riel... aku mau menemui Tia dulu." Jawab Kayra dengan berbisik pula.
"Oke... jangan lama-lama ya!" Kata Dariel kembali. Ia tahu, seharian ini Kayra sibuk mengurusi babby M. Dan ia kawatir kalau Kayra kecapekan.
Kayra mengangguk. Ia berjanji tidak akan lama. Kayra bergegas hendak menemui Tia. Di tengah jalan, seorang pelayan menanyakan perihal pembagian nasi kotak. Kayra memberikan arahan sebentar. Saat pelayan itu meninggalkannya, Kayra kehilangan jejak sahabatnya.
"Tia... mana dia? Kok sudah tidak ada?" Gumam Kayra dalam hati. Ia tidak menyangka secepat itu sahabatnya menghilang. Mungkin Tia pergi saat ia bicara dengan pelayan. Kayra menyesali tidak bisa menemui sahabatnya itu. Saat ia berbalik hendak kembali ke kamar. Ada sebuah suara yang mengagetkannya.
"Kayra... kamu di sini?" Tanya Alex mengagetkannya. Kayra terdiam, ia tidak tahu jawaban apa yang akan diberikan pada Alex.
"Ya... aku tadi datang bersama mama ku. Maaf ya Lex, aku harus segera mencari mama."
Kata Kayra buru-buru. Ia tidak ingin rahasianya sebagai menantu di keluarga Erlangga terbongkar. Lagian ia sangat tidak nyaman saat berbicara dengan Alex.
Kayra segera masuk ke ruang tengah. Ia ingin melihat keadaan papa Erlangga dahulu sebelum melihat keadaan babby M. Kamar papa Erlangga tertutup rapat.
"Tok...tok.." Kayra mengetok perlahan, kakek Ujang membukakan pintu.
"Pak Erlangga tidur." Kata kakek Ujang berbisik. Ia takut suaranya membangunkan Erlangga.
Kayra melongokkan kepalanya untuk memastikan bahwa pak Erlangga benar-benar tertidur. Ia menghela nafas lega, melihat papa Erlangga tidur lelap. "Ya sudah Kek. Kakek menemani papa Erlangga?" Tanya Kayra memastikan.
__ADS_1
"Iya Ra... biar malam ini kakek yang menjaga pak Erlangga. Bagi tugas sama pak Hasan, kasian seharian dia repot sekali juga malam ini masih banyak tamu yang berdatangan." Kata kakek Ujang menyatakan kepeduliannya pada pak Hasan yang hampir seumuran dengannya.
Kayra mengangguk. Ia merasa lega, kakek nya juga ikut memperdulikan keluarga papa Erlangga. Kayra pamit untuk melihat babby M. Ia berjalan menuju kamar tamu. Kayra mengetok perlahan sebelum membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Ia melihat nenek Sari tertidur sambil tangannya memeluk babby M. Kayra bermaksud keluar kamar.
Kayra tidak berani mengambil babby M, ia takut membangunkan nenek Sari. Namun saat ia akan melangkah keluar, tiba-tiba babby M menangis. Suara tangisan babby M mengejutkan Kayra. Ia urung keluar kamar. Di dekatinya babby M, dan membawanya dalam gendongan. Seketika babby M terdiam dan tidur kembali. Sementara nenek Sari masih terlelap dalam tidurnya. Sepertinya nenek Sari kelelahan, karena meskipun babby M menangis cukup keras namun tak membangunkannya.
Kayra membawa babby M ke kamar. Tubuhnya terasa lelah, ia ingin segera beristirahat. Setelah mengganti baju dengan gaun tidurnya, Kayra merebahkan tubuhnya. Tak berapa lama ia terlelap. Namun dalam tidurnya ia didatangi mimpi buruk.
Ia terbangun dengan nafas terengah-engah, dan tersisa rasa nyeri di telinganya. Seperti baru mendengar suara teriakan yang memekakkan telinga. Kayra melihat babby M. Bayi itu terlihat seperti kecapekan setelah menangis. Sementara Dariel tampak berdiri tertegun membelakangi pintu kamar.
Seketika Kayra merasa ada sesuatu yang salah. "Riel... ada apa?" Tanya Kayra penasaran.
"Ehm.... Ra... kamu tidak apa-apa?" Tanya balik Dariel. Membuat Kayra semakin bingung. Seketika kepala Kayra berdenyut nyeri. Rasa sakit yang membuatnya merasa tidak nyaman.
"Riel... katakan, apa yang barusan terjadi?" Tanya Kayra sambil mengalihkan perhatiannya ke arah babby M yang telah tertidur. "Sepertinya babby M baru menangis? Tapi kenapa aku tidak mendengarnya?" Tanya Kayra kebingungan.
"Ehmmm... Ra... barusan ada yang merasukimu. Tapi saat babby M menangis tiba-tiba kamu terlihat kesakitan, dan memegang telinga. Seketika itu juga kamu tersadar. Ra... apa mungkin babby Miracle membawa keajaiban?" Kata Dariel berbunga-bunga.
Setidaknya saat ini ada sebuah alternatif penyelesaian masalah Kayra. Beberapa waktu sebelumnya, rapalan sirep bisa menghentikan Kayra yang sedang dirasuki. Namun Dariel sempat gagal, membuatnya diserang habis-habisan oleh Kayra. Saat itu ia hampir kehilangan nyawa.
Beruntungnya suara tangisan babby M berhasil menghentikan Kayra. Waktu itu Dariel berfikir itu sebuah kebetulan. Namun saat ini ia sangat yakin, kalau babby M memang bayi spesial. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat bagaimana saat Kayra tadi terbangun dengan kilatan pandangan mata penuh kebencian bersiap menyerangnya yang baru masuk ke kamar. Tiba-tiba menutup telinga dan mengerang kesakitan saat babby M tiba-tiba terbangun dan menangis.
"Apakah benar babby M bisa menghentikan ku Riel?" Tanya Kayra tidak percaya.
__ADS_1
"Iya Ra... sudah dua kali ini." Kata Dariel sembari menyentuhkan jari-jarinya di wajah babby M yang tidur pulas. Dariel tersenyum melihat kelucuan babby M.
Kayra tidak bisa menahan rasa haru yang tiba-tiba menghinggapi hatinya.
"Babby M, kalau kemarin aku berfikir untuk menjagamu. Namun sekarang aku baru menyadari sesungguhnya aku lah yang perlu kamu jaga. Trimakasih sayang. Cup..." Kayra mengecup pipi Babby M. Meluapkan rasa syukur dan bahagianya. "Teruslah jadi keajaiban... Babby M." Bisik Kayra haru.
"Ra... ayo kita tidur lagi. Seminggu ini kita akan disibukkan dengan acara doa penghiburan. Jangan biarkan tubuhmu lelah. Supaya kamu tidak kehilangan kendali atas fikiranmu dan dirasuki roh jahat." Nasehat Dariel yang dibalas anggukan oleh Kayra.
Kayra dan Dariel merebahkan tubuhnya mengapit babby M di tengah-tengah mereka.
"Ra... kalau boleh tidur dekat aku sini. Aku ingin memelukmu." Bisik Dariel menggoda Kayra.
Kali ini Kayra menuruti kemauan Dariel. Ia beringsut berpindah dekat suaminya. Dariel memeluk Kayra, menyalurkan kehangatan yang membawa kedamaian. Hingga mereka berdua terlelap dalam buaian mimpi indah.
***
"Tolong.... tolong... jangan bunuh aku.." Erlangga lari terengah-engah. Ada ular besar yang mengejar-ngejar memburunya. Ular itu sangat lincah, badannya yang besar tidak menghalagi gerakannya meliuk dan melesat memburu Erlangga.
Erlangga terus berlari hingga ia terhuyung kecapekan. Ular itu berhasil mengejar dan membelitnya. Mulutnya yang terbuka lebar, bersiap menelan bulat-bulat Erlangga yang sudah tak berdaya dalam belitannya.
"Tuan... tuan... sadar tuan... bangun Tuan..." Pak Hasan mencoba membangunkan majikannya yang sepertinya sedang menggigau karena mimpi buruk. Pak Hasan menggoncang bahu Erlangga. Untunglah tak berapa lama, Erlangga mulai membuka matanya.
Erlangga meringkuk ketakutan. Mimpinya barusan terasa seperti nyata.
__ADS_1