Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Salam perpisahan


__ADS_3

Kayra juga ingat kalau dia perlu makan siang. Ia mengambil sedikit nasi dengan sayur dan lauk pauk. Meskipun ia tidak bisa menikmati makanan nya namun ia memaksakan diri, agar tubuhnya tetap terisi nutrisi. Baby M tetap setia dibawa nya serta. Bayi itu sedang terjaga di atas babby walker.


Kayra hanya bisa makan tiga suapan. Ia sudah tidak bisa menelan makanannya. Bukan karena makanan yang tidak enak tetapi karena ia terus kebawa pikiran. Sore nanti, jenasah kedua kakak iparnya dikebumikan. Hatinya terasa pilu. Ia tidak sanggup, bagaimana nanti ia akan menjelaskan pada babby M saat sudah besar.


Kayra memilih untuk menyelesaikan makan siangnya, meskipun masih tersisa lebih dari setengah porsi. Ia membawa babby M kembali masuk ke dalam kamarnya. Di kamar, Kayra membaringkan babby M di tengah ranjangnya. Dipandanginya babby M lekat-lekat. Bayi mungil itu telah membuatnya jatuh cinta. Ya ada ikatan mulai terjalin dihatinya, sebuah perasaan sayang yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.


"Babby M... mama dan papa akan menyayangi dan menjagamu, selamanya." Janji Kayra. Seperti memahami kata-kata Kayra, babby M tersenyum padanya.


"Babby M... i love you." Kayra mencium pipi babby M dengan gemasnya.


Kayra membuatkan sebotol susu dan diberikan pada babby M. Yang segera diminum bayi itu seakan sudah sangat kehausan. Saat susu dalam botol terkuras habis, babby M sudah tidur lelap. Tingkah babby M membuat Kayra gemas. Ingin sekali ia mencubit hidungnya kalau tidak ingat bayi itu perlu istirahat yang cukup sebelum nanti sore ikut menghadiri acara pemakaman orang tua kandungnya.


Sambil menunggu jam tiga sore, Kayra bersiap dan memilih dress panjang bernuansa gelap. Ia juga mempersiapkan semua keperluan babby M yang akan dibawanya ke pemakaman nanti.


Semua perlengkapan babby M diaturnya dalam tas bayi. Dua pasang baju, pampers, botol susu steril, tumbler kecil berisi air panas, susu formula yang dikemas per sekali seduh, juga tissue basah. Setelah dirasa lengkap, Kayra kembali menghampiri Babby M yang tertidur pulas.


Hanya dengan memandang babby M, hati Kayra menghangat bahagia. Mungkin seperti inilah yang dirasakan seorang ibu saat melihat buah hatinya.


Tok...tok..tok


Pintu Kayra diketok dari luar, Kayra segera membukakan pintu. Ia berusaha agar babby M tidak terbangun karenanya. Di depan pintu berdiri ibu Neta dan nenek Sari.

__ADS_1


"Ibu... nenek... " Kayra menghambur dan memeluk kedua wanita yang disayanginya.


"Ayo... masuk Bu... nek..." Kayra menyuruh ibu dan neneknya masuk ke dalam kamar.


"Babby M tidur ya Ra...?" Tanya nenek Sari. Ia begitu takjub melihat bayi mungil yang sedang tidur lelap.


"Iya Nek... babby M sudah tidur dari tadi. Seharusnya ia sudah bangun dan minta susu." Kata Kayra menunjuk botol susu.


"Sini nenek buyut gendong." Kata nenek Sari, seraya membawa babby M dalam gendongannya.


"Hati-hati buk... babby M masih terlalu kecil." Kata ibu Neta mengingatkan.


"Iya... aku akan sangat hati-hati." Kata nenek Sari sambil melucu berusaha membangunkan babby M. Namun babby M hanya sebentar membuka mata dan kembali tidur dengan pulas.


"Iya Bu... meskipun, babby M masih sangat kecil dan ia mungkin juga tidak mengerti. Namun Kayra ingin agar babby M bisa melepaskan kepergian papa dan mamanya dengan iklas. Juga agar mendiang kak Keke dan kak Raka juga bisa melepas babby M. Itu saja alasan Rara berencana membawanya serta dalam acara pemakaman ini. Nanti Kayra minta ibu dan nenek Sari membantu mengasuh babby M saat acara nanti." Kata-kata Kayra masuk akal bagi ibu juga nenek Sari. Mereka akhirnya menyetujui rencana Kayra membawa babby M.


"Nanti kita sama-sama aja perginya. Ibu yang bawa mobil. Kakek Ujang menemani Dariel menjaga pak Erlangga. Juga mempersiapkan segala persiapan di rumah duka. Sudah hampir jam setengah empat, ayo kita bersiap berangkat ke rumah duka." Ajak ibu Neta.


Kayra, nenek Sari dan ibu Neta bersiap berangkat ke rumah duka, sebuah fasilitas yang disediakan rumah sakit melati. Tempat menyemayamkan jenasah sebelum acara pemakaman.


Tidak lupa, Kayra berpesan pada pak Hasan untuk mempersiapkan segala keperluan untuk ibadah penghiburan nanti malam. Pak Hasan mengangguk pelan. Ada ganjalan dalam hatinya, ia ingin melihat tuan muda Raka untuk terakhir kalinya. Karena bagi pak Hasan baik Raka ataupun Dariel sangat disayanginya.

__ADS_1


Saat mendengar isi hati pak Hasan, Kayra berbalik. Ia memanggil pak Hasan.


"Pak Hasan... tolong delegasikan tugas yang saya berikan tadi pada pelayan yang dapat dipercaya. Pak Hasan bawa mobil ikut ke rumah duka Melati, untuk memberikan salam perpisahan terakhir pada tuan Raka dan nyonya Keke!" Perintah Kayra lembut.


Seketika hati pak Hasan menghangat diliputi kebahagiaan yang tak terlukiskan. Ia mendapat kesempatan untuk melihat tuan mudanya untuk terakhir kali.


"Baik nyonya... saya akan segera menyusul." Pak Hasan berlari-lari kembali ke dalam rumah dengan hati lega.


Ibu Neta dan nenek Sari memandang Kayra dengan kagum. Mereka tidak menyangka, putri mereka begitu ramah dan bijaksana meskipun hanya menghadapi seorang pelayan.


Ibu Neta membawa mobil dengan sangat hati-hati. Ia tidak berani melajukan mobilnya dengan cepat. Karena ia membawa seorang bayi bersama mereka. Saat sampai ke rumah duka, sudah banyak orang yang datang memberikan salam perpisahan. Nampak juga Dariel sedang menjaga papanya yang duduk diatas kursi roda.


Papa Erlangga nampak menatap jauh kedepan. Memberikan tatapan kosong dan tidak meresponi ucapan bela sungkawa dari tamu yang melayat. Kayra tidak tega melihat keadaan papa Erlangga. Matanya berkaca-kaca terharu melihat keadaan papa Erlangga yang nampak rapuh.


Nenek Sari menyerahkan babby M ke dalam gendongan Kayra.


Acara ibadah penutupan peti dipimpin seorang pendeta. Suasana semakin mengharu biru saat Bapak Pendeta memberikan renungan Firman Tuhan. Kayra begitu terhanyut dalam suasana duka. Ia hanya menangkap sepotong pesan bapak Pendeta. "Kematian bukan akhir hidup, tetapi awal menuju kehidupan kekal."


Kedua jenasah diberangkatkan dengan dua ambulan terpisah menuju pemakaman elite. Dua buah lubang disamping makam mama Jasmine telah disiapkan. Suasana kembali mengharu biru saat Bapak pendeta menaburkan tanah di atas kedua buah peti. Tiba-tiba papa Erlangga menangis keras. Ia berusaha turun dari kursi rodanya. Dengan sigap Dariel segera memeluk papanya dan menahan agar papanya tidak terjatuh.


"Pa... tenanglah pa..." Dariel terus berusaha menyadarkan papanya.

__ADS_1


Papa Erlangga menangis pilu. "Raka ... anak ku, kenapa engkau meninggalkan papa mu ini lebih dulu?" Isakan pak Erlangga seketika menular pada banyak orang yang menghadiri acara pemakaman. Mereka ikut terharu melihat kesedihan Erlangga. Kebanyakan yang datang adalah karyawan perusahaan Raka juga karyawan Erlangga.


__ADS_2