Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Selamat tinggal nenek Ipah


__ADS_3

Rino dan Kayra bergegas menuju ke rumah nenek Ipah. Sebuah rumah sederhana dimana Rino telah tumbuh dan dibesarkan. Rino menjadi penunjuk jalan, sementara Kayra mengikuti dari belakang. Beberapa kali kakinya menginjak duri, darah mulai menetes melalui luka di telapak kakinya. Kayra tetap melangkah, karena dia tahu luka itu pelan-pelan sembuh sendiri.


Langkah kaki Rino yang gesit sering membuat Kayra kewalahan dan tertinggal cukup jauh. Saat menyadari mama nya masih tertinggal di belakang, Rino serta merta menghentikan langkahnya. Ia menunggu sampai mamanya sudah berjalan mendekat.


Dari kejauhan, mulai nampak sebuah rumah sederhana. Rumah nenek Ipah. Tampak asap mengepul dari dapur. Mungkin nenek Ipah sedang memasak di dapur.


Rino berlari-lari riang sambil memanggil-manggil neneknya.


"Nek... lihat Nek. Siapa yang ku ajak ke sini." Teriak Rino dengan riangnya.


Nenek Ipah yang sedang memasak segera keluar dari dapur, menyongsong kedatangan Rino. Ia sangat senang mendengar Rino sudah pulang, namun senyumannya berganti dengan kegentaran saat melihat siapa yang ikut pulang bersama Rino.


"Nek... mama ku sudah bangun." Rino mengguncang tangan neneknya yang tercengang melihat kedatangan Kayra.


Kayra sudah melemparkan senyum ramahnya. Namun nenek Ipah menunjukkan rasa tidak senangnya.


"Nek... mama Rara tidak akan menjahati Nenek. Karena Nenek sudah baik sama Rino selama ini." Rino berusaha menenangkan neneknya yang terlihat ketakutan.


"Ratu... sebelum Anda membawa Rino, ijinkan saya menjamu makanan sederhana terlebih dahulu." Kata nenek Ipah, membuat Kayra tercengang.


"Panggil aku Rara." Kata Kayra dengan nada tidak suka. Dia merasa tidak nyaman mendengar panggilan Ratu terhadapnya.


Nenek Ipah bergegas menyiapkan makan siang sederhananya. Ikan bakar dengan sambal terasi dan daun ubi rebus.


Baik Nenek Ipah, Kayra dan Rino makan dalam diam. Suasana canggung membuat mereka memilih untuk tidak memulai sebuah percakapan.


Setelah mereka selesai makan, Rino berniat membantu neneknya mencuci piring. Nenek Ipah mencegahnya.

__ADS_1


"Rino... sebaiknya kamu bersiap. Supaya kalian tidak kemalaman sampai ke Jakarta." Rino kaget, neneknya bisa tahu rencana mereka akan berangkat ke Jakarta. Bagaiamana nenek nya bisa tahu? Padahal baik ia maupun mama Rara tidak mengatakan apa pun mengenai rencana mereka akan segera berangkat ke Jakarta.


Rino tidak tahu kalau sebenarnya saat mama Rara juga nenek Ipah berdiam diri, mereka sedang bertelepati. Banyak hal yang mereka bicarakan tanpa suara.


Nenek Ipah masuk ke dalam rumah, tak berapa lama ia membawa sepasang baju yang masih cukup terawat. Ia menyerahkannya pada Kayra.


Kayra mengangguk. Ia segera menuju ke belakang rumah di sana ada sebuah kamar mandi darurat. Kayra mandi dengan cepat dan mengganti bajunya dengan baju yang diberikan nenek Ipah. Sebuah kemeja merah muda dengan setelan rok plisket panjang. Bagi Kayra baju nenek Ipah lebih nyaman dari gaun merah terbuka yang selama ini dipakainya.


Saat Kayra kembali ke ruang tamu sekaligus tempat tidur nenek Ipah. Ia melihat nenek Ipah memberikan wejangan panjang lebar pada Rino dan diakhiri dengan saling berpelukan dan tangisan. Nenek Ipah segera melepaskan Rino saat menyadari kehadiran Kayra.


"Ratu... maafkan kalau ada kesalahan saya dalam mengasuh dan mendidik Rino. Saya sudah iklas melepas Rino, karena dia adalah penjaga ratu." Kata nenek Ipah membuat panas kuping Kayra. Ia benci panggilan itu. Namun Kayra memilih diam, tidak ingin menambah kecanggungan antara mereka. Kayra pun tidak ingin membuat Rino merada tidak nyaman.


"Iya Nek, saya berterimakasih banyak atas pertolongan Nenek pada Saya juga Rino. Oh ya Nek, sebaiknya saya juga berpamitan pada orang terdekat supaya tidak ada yang mencemaskan Rino."


"Iya Ratu, sebaiknya sebelum kembali ke kota, Rino berpamitan pada Asep dan pak Pembekal supaya tidak berfikiran aneh-aneh. Ratu nanti mengaku sebagai cucu jauh saya membawa Rino untuk diajak pergi kerja ke Jakarta." Nenek Ipah mulai mengarang cerita.


Rino pun berpamitan pada sahabatnya Asep. Mereka berjanji untuk saling mengunjungi dan mengirimkan surat. Pak Pembekal mengingatkan Asep agar memberikan nomor telepon saja pada Rino. Asep segera melakukan perintah bapaknya.


"Rino, kalau kamu nanti sudah punya handphone, telepon aku ya!" Kata Asep seraya menyodorkan kertas bertuliskan nomor hp nya.


"Iya, aku pasti menghubungimu. Nanti kalau ke Jakarta kabari ya... supaya aku bisa mengantarmu keliling Jakarta." Kata Rino dengan girang.


"Ya pasti..." Dua sahabat itu saling berpelukan.


Kayra dan Rino berpamitan, mereka melanjutkan perjalanan menuju terminal angkutan umum yang tak seberapa jauh dari rumah bapak Pembekal.


Angkutan yang menuju ke Jakarta masih belum penuh, sehingga mereka terpaksa harus menunggu cukup lama. Sambil menunggu mereka duduk-duduk dibawah pohon yang cukup rindang.

__ADS_1


Nenek Ipah menyerahkan beberapa lembar uang pada Kayra.


"Maaf Ratu, nenek hanya bisa kasih ini. Semoga bisa cukup untuk biaya di perjalanan."


Kayra sangat terharu dengan kebaikan nenek Ipah.


"Terimakasih nenek Ipah, lain kali semoga Rara bisa membalas kebaikan nenek Ipah. Kalau keadaan kami sudah baik nanti, nenek ikut kami saja tinggal di Jakarta." Kata Kayra antusias.


Nenek Ipah menggeleng, "Tidak Ratu... tempat tinggalku di sini dan aku akan menunggu kematian ku di sini." Jawab nenek Ipah penuh tekat.


Kayra menghargai keputusan nenek Ipah. "Kalau aku kangen, bolehkan Nek aku menengok Nenek?" Kata Rino dengan hati yang cukup berat karena akan berpisah dengan orang yang selama ini telah merawatnya sejak bayi.


Nenek Ipah menggeleng, "Tidak perlu engkau mengunjungiku. Kamu tahu kan tugasmu? Rino harus menjadi penjaga buat mama Rara. Jangan lupa pada semua pelajaran yang telah nenek ajarkan ya!" Kata nenek Ipah tegas.


Rino terperanjat, "Jadi semua yang nenek ajarkan itu untuk menjaga mama?" Tanya Rino ragu.


"Iya, semua yang nenek ajarkan itu semua untuk menjaga mama Rara. Kamu harus bisa melakukannya dengan benar." Nenek Ipah mengusap rambut Rino.


Kayra bingung sendiri saat mendengar percakapan Nenek Ipah dan Rino. Pelajaran apa yang dimaksud nenek Ipah? Ia belum sempat menanyakan siapa sebenarnya nenek Ipah. Dan bagaimana bisa ia menemukan dirinya saat jatuh ke jurang? Dan masih banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Namun Kayra merasa belum menemukan waktu yang pas untuk menanyakan semua itu pada nenek Ipah.


"Jakarta... Jakarta.." Seru seorang kenek bus memanggil penumpang agar segera masuk.


Penumpang yang masih di luar segera berhambur masuk kedalam bus. Demikian juga Kayra dan Rino. Saat mereka berusaha masuk ke dalam bus. Ada seorang pria bertato yang sengaja memegang tangan Kayra.


"Nona cantik mau ke Jakarta ya? Sini abang bantu. Kalau mau biar abang gendong!" Pria bertato itu mulai berani terang-terangan menggoda Kayra.


Wajah Kayra seketika merah padam dipenuhi amarah.

__ADS_1


__ADS_2