Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Pemilihan Ratu


__ADS_3

Dariel begitu gemas melihat tingkah Toby yang berasa tak bersalah. Ia bangkit berdiri dan memiting tangan dan kaki Toby. Dengan sekali hentakan, Toby tersungkur di tanah. Dariel menekankan tubuh Toby di lantai.


Toby yang tidak siap dengan serangan Dariel begitu terkejut. Ia tidak menyangka bakal menerima serangan ini.


Toby mengangkat kedua tangannya. "Ampun... sory....sory aku tadi terlambat karena harus belanja keperluan cafe." Kata Toby, dengan rasa takutnya. Ia tidak menyangka teman barunya ini ternyata seorang yang arogan.


"Jangan buang-buang waktu ku. Cepat ceritakan apa yang mau kamu katakan di kantin tadi!" Seru Dariel emosi. Ia pun membantu menarik lengan baju Toby membantunya berdiri.


Toby menebah lengannya yang baru dipegang Dariel. Seperti menebah debu yang melekat. Ia ngedumel tidak jelas. Hampir-hampir Dariel terpancing emosi namun ia menahan diri.


"Kau mau kubuat adonan roti?" Ancam Dariel, saat melihat Toby tak juga buka mulut.


Toby akhirnya duduk di bangku depan Dariel. Ia menghela nafas dalam-dalam, kemudian menceritakan kisah rahasia kampus Tunas Bangsa.


"Ini sudah jadi ritual turun-temurun dijajaran pengurus BEM. Setiap tahun ajaran baru akan dipilih seorang ratu. Seorang gadis yang masih perawan dan murni, biasanya dari angkatan mahasiswa baru. Mereka akan memilih tiga sampai lima orang gadis sebagai kandidat. Masing-masing akan diuji dengan berbagai tes tanpa di sadari oleh siapa pun. Sampai didapatkan seorang gadis yang paling memenuhi syarat. Gadis itu nanti nya akan di angkat menjadi seorang ratu sehari." Kata Toby dengan mimik wajah misterius.


Membuat tanda tanya dalam hati Dariel.


"Bagaimana nasib sang ratu nanti?" Tanya Dariel penasaran.


"Nasib sang Ratu tidak pernah ada orang yang tahu. Dia menghilang begitu saja." Kata Toby dengan sorot mata penuh kepedihan.


"Kau ini kalau cerita yang benar!" Kata Dariel mengancam. "Jangan-jangan ini hanya gosip bualanmu?" Pertanyaan Dariel mengintimidasi Toby.

__ADS_1


"Aku tidak bohong!" Kata Toby tegas.


"Katakan dari mana kamu tahu semua ini?" Tanya Dariel emosi, ia merasa dipermainkan habis-habisan oleh Toby. Cerita yang tak masuk akal sama sekali.


"Kakak perempuanku adalah salah satu ratu yang menghilang setahun yang lalu." Kata Toby tak terima oleh tuduhan Dariel. Toby mengambil sebuah buku harian dari dalam laci mejanya.


"Ini buku Diary kakak ku. Ia menghilang setahun yang lalu, saat bulan purnama darah bersinar." Kata Toby berapi-api. Ada kemarahan dalam nada suaranya. Sebuah bentuk kehilangan yang tak bisa diterimanya.


Dariel menerima buku Diary kakak Toby. Saat ia membuka buku itu tak sengaja selembar foto terjatuh dari dalam nya. Foto seorang pria dan wanita, mereka sepertinya sedang berjalan di sebuah vestifal kembang api. Tampak kedua orang itu tersenyum lebar penuh kebahagiaan. Ia mengenali wajah pria itu adalah Alex.


"Buku ini tebal sekali." Kata Dariel enggan. Ada banyak tugas baca yang harus dikerjakannya. Kalau ditambah membaca diary seorang gadis yang penuh dengan ungkapan-ungkapan melo, itu akan menyita banyak waktunya. Ia mendesah, namun ini semua untuk keamanan Kayra istri tercintanya, jadi ia terpaksa menerimanya juga.


"Kubaca di rumah saja." Kata Dariel enggan. "Besok ku kembalikan di kampus." Janji Dariel.


"Jangan... jangan kamu bawa ke kampus. Aku tidak mau ada seorangpun yang tahu kalau aku ada hubungannya dengan kak Dewi." Kata Toby cemas.


Toby terlanjur membuka rahasianya pada Dariel. Ia hanya berharap kalau Dariel bukan salah satu anggota kelompok mistis di kampusnya.


"Beberapa waktu lalu ada yang merekrutku masuk ke dalam sebuah kelompok berlebel Peduli Sesama. Salah satu anggotanya adalah Alex. Misi utama kelompok ini adalah menyambut kedatangan seorang ratu dengan kekuatan supranatural yang sangat besar." Toby menjeda ceritanya. Ia meneguk segelas air putih. Lalu melanjutkan ceritanya.


"Aku merasa ada sesuatu dalam kelompok ini yang tidak bisa dijelaskan secara rasional. Aku baru ikut dua kali pertemuan dalam dua bulan ini. Aku merasa seperti ada yang mencuci otak ku perlahan-lahan. Karena setiap malam aku tak bisa tidur nyenyak. Seakan ada suara-suara berbisik diotak ku. Suara-suara itu seakan mengambil alih kesadaran ku. Seringkali saat aku terbangun aku sudah berada ditempat yang tak terduga." Kata Toby kalut.


"Lama-lama aku bisa gila." Kata Toby ketakutan.

__ADS_1


Dariel semakin pusing mendengar penjelasan Toby. Seperti sebuah puzzel yang terpecah belah dan tak terlihat kaitan satu sama lainnya.


"Aku rasa hilangnya kak Dewi ada kaitannya dengan kelompok mistis yang kuikuti itu." Kata Toby akhirnya.


Dariel mengangguk-angguk. Meskipun pada kenyataannya ia tidak percaya pada kebenaran cerita Toby. Mana mungkin ada orang yang bisa mencuci otak orang lain?


"Kau kesulitan tidur. Itu masalah mu sekarang bukan? Kenapa kamu tidak minum obat tidur atau penenang?" Tanya Dariel heran.


"Setiap malam aku meminumnya, namun suara-suara dalam otak ku dari hari kehari semakin kuat. Obat penenang sama sekali tidak membantu. Meskipun aku meminum dosis double, tetap saja aku tak bisa tidur lelap." Kata Toby putus asa.


Dariel mengambil selembar kertas, menuliskan sesuatu di dalam nya. Kemudian dilipatnya rapi. Diserahkannya kertas itu pada Toby.


"Buka dan baca dalam hati saat kamu benar-benar ingin tidur." Kata Dariel. "Jangan dibaca sembarangan kalau kamu tidak ingin celaka. Ingat simpan kertas ini baik-baik. Dan keluarkan saat kamu benar-benar membutuhkannya." Kata Dariel panjang lebar menjelaskan.


"Apakah ini semacam mantra?" Tanya Toby memastikan.


"Bisa dibilang seperti itu. Kata-kata dalam tulisan itu memiliki kekuatan mempengaruhi bawah sadar membuat pembaca dan pendengarnya merasa rileks dan akhirnya tertidur." Jelas Dariel. Ia tidak mengatakan kalau mantra itu adalah rapalan si pencuri yang pernah dipelajarinya secara tak sengaja.


"Oke... aku pulang dulu." Kata Dariel tanpa basa-basi ia meninggalkan dua lembar uang ratusan ribu di atas meja tempat piring dan gelas bekas makannya.


Tanpa menunggu jawaban Toby, Dariel langsung ngeloyor pergi. Membuat Toby tidak perlu bersusah payah mengantarkannya.


Toby terduduk dengan pandangan menerawang. Desahan nafas dalam lolos dari mulutnya.

__ADS_1


"Kak Dewi, maaf aku belum bisa menemukan mu. Setidaknya aku bisa mencegah gadis-gadis lain menghilang seperti diri mu." Kata Toby penuh penyesalan.


"Kak, dimana pun kamu berada semoga kamu baik-baik saja. Dan kita bisa berkumpul lagi seperti dulu. Kakak, kamu satu-satunya keluarga ku yang tersisa. Suatu waktu nanti kita bisa bertemu." Kata Toby dengan luapan kepedihan yang menyayat hatinya.


__ADS_2