Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Kesalahan Fatal


__ADS_3

Sendi - sendi dalam tubuhnya seakan terlepas. Kayra melorot jatuh ditempat persembunyiannya. Lampu kristal tiba - tiba padam. Kegelapan melingkupi kamar Neta. Seberkas cahaya merah pekat berpendar dari dalam kaca antik. Cahaya merah itu membawa kabut hitam melayang keluar dari kaca. Kabut hitam itu berputar - putar di atas kepala Neta. Semakin lama semakin membesar. Kabut hitam itu menebarkan udara dingin yang membekukan. Neta telah selesai merapal mantra. Ia berdiri tertegun seakan tak percaya, apakah ini karena perbuatannya? Mana mungkin bisa terjadi. Ia bukan seorang penyihir, ia hanya coba - coba saja di tengah - tengah kekalutan hatinya. Neta terduduk, meringkuk ketakutan.


Dari tengah - tengah kabut hitam muncul sosok seperti wajah manusia, tertawa melengking memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya. Suara seorang wanita.


Hahahaahaha....


"Aku turuti kemauan mu dan jadilah budak ku, engkau dan semua anak gadis keturunanmu mulai saat ini sampai sangkakala membelah langit!"


Hahahahaha.....


Kabut hitam semakin tebal melingkupi kamar. Menguarkan aroma lumut, bau tanah basah. Kabut itu merembes keluar melalui lubang fentilasi. Kabut itu kini memenuhi seisi rumah besar. Tidak berapa lama terdengar jeritan -jeritan kesakitan dari segala penjuru rumah. Neta dan Kayra menutup telinga dengan kedua telapak tangannya. Sesaat kemudian hanya hitungan detik, suasana kembali senyap. Tangan Neta terkulai lemas di sisi badannya. Ia terisak dan berbisik lirih.


"Maafkan aku ibu.. Maafkan keputusan ku... Karena aku ingin bahagia bersama kekasih yang ku cinta... hiks....hiks...." Neta menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ia menangis terisak - isak. Menumpahkan segala kegalauan hatinya. Setelah ia puas menangis, ia menghapus air matanya kemudian melangkah terhuyung - huyung keluar dari kamar.


Seperti digerakkan sesuatu, Kayra ikut bangkit dan berjalan di belakang mengikuti Neta. Neta berjalan menuruni tangga menuju ruang keluarga di sana berbaring seorang pelayan dengan bersimbah darah. Neta ketakutan. Ia tersentak mundur, hampir menabrak Kayra.


"Bukan ini yang ku mau! Tidak.... tidak..." Neta bergegas terus berjalan semakin cepat menuju ke sebuah ruangan, Ruangan baca ayahnya. Di sana biasanya ayah Neta menenangkan diri saat mengalami tekanan atau masalah dalam pekerjaan. Tanpa mengetuk pintu Neta langsung mendorong pintu dan menghambur masuk. Ia sangat kalut, tidak menyangka hal seburuk ini bisa terjadi.


"Tidak.... papa..... jangan tinggalkan Neta. Jangan pergi pa..., Kumohon... papa maaf kan Neta."


Neta menggoncang - goncang tubuh papanya yang kaku bersimbah darah. Keputusan yang dibuatnya adalah kesalahan fatal hingga merenggut nyawa orang - orang yang tidak bersalah juga papanya yang sangat disayanginya.

__ADS_1


"papa... jangan tinggalkan aku sendiri. Hiks.... hiks...." Neta memeluk papanya berharap papanya bagun untuk memarahinya. Neta hancur sehancur - hancurnya. Kesalahan fatal yang ia buat membuatnya sangat menyesal. Ia hanya bisa menangis meraung - raung meratapi kematian papanya. Harga yang sangat mahal untuk harapan yang belum tentu dapat diraihnya.


Suara sirine polisi dan ambulan memasuki pekarangan rumah. Beberapa orang polisi masuk ke dalam rumah memeriksa keadaan. Setelah tim forensik mengambil foto para korban juga tempat - tempat yang dirasa mencurigakan. Korban - korban dibawa dengan ambulan menuju rumah sakit untuk divisum.


Keadaan Neta sangat memprihatinkan, ia hanya bisa meratap dengan sangat pilu. Gaun kuningnya telah berbaur dengan darah pekat yang melekat. Rambut panjangnya terurai kusut dengan bekas darah yang membuatnya terlihat mengerikan. Seorang polisi wanita memapah Neta keluar rumah.


Orang - orang berseragam medis berlalu lalang melewati Kayra. Mereka tidak melihat keberadaan Kayra. Beberapa ada yang menabraknya namun tidak ada sesuatupun yang dirasa Kayra. Kayra hanya sebuah bayangan tak terlihat. Keberadaannya antara ada dan tiada. Dua orang polisi berbisik - bisik di dekat Kayra. Mereka sama sekali tidak menyadari keberadaan Kayra.


"Keluarga ini sepertinya baru dibantai pembunuh bayaran. Mungkin pelakunya sama dengan yang telah meneror mereka beberapa waktu yang lalu." Bisik salah seorang polisi.


"Tak seorangpun yang ditinggalkan hidup. Mulai dari security, tukang kebun sampai pelayan berjumlah dua puluh lima orang terbunuh."


"Untunglah anak gadisnya berhasil lolos dan masih hidup. Sehingga ada saksi mata yang akan mengungkap peristiwa ini."


"Ayo segera pergi, semua korban sudah dibawa ke RS, dan tim pembersih juga sudah datang di depan." Keempat polisi itu segera bergegas meninggalkan tempat.


Kayra masih terbengong sendiri, ia bingung harus ke mana. Tiba - tiba ada suara mengejutkannya. Kayra mendengar suara seperti ada barang berat yang diseret. Kemudian muncul lah sosok - sosok tubuh transparan yang tiba - tiba sudah mengelilinginya. Tangan - tangan kurus, tulang berbalut kulit dengan kuku - kuku panjang terjulur kearah Kayra. Mulut - mulut mereka terbuka menguarkan bau busuk. Bau yang membuat Kayra mual dan pusing bersamaan.


"Tolong.... kami....!" Suara serentak sosok - sosok transparan itu membuat Kayra semakin ketakutan. Ia memejamkan mata dan berteriak sekuat - kuatnya.


"pergi... menjauhlah dari ku....!"

__ADS_1


Brakk.... brakkkk.... brakkk...


Suara pintu didobrak paksa membangunkan Kayra dari mimpi buruknya. Ia membuka mata dan mencoba mengumpulkan kesadarannya.


"Gawat... mungkin saat aku mimpi buruk tak sengaja aku berteriak - teriak hingga membuat orang diluar curiga?" Gumamnya. Kayra segera menyambar remot TV dan membawanya bersembunyi.


Bertepatan dua orang berhasil masuk ke dalam kamar. Mereka terbengong saat melihat DVD sedang memutar film horor.


"Ternyata cuma suara DVD saja." Kata salah satu orang salah tingkah. "Tadi aku benar - benar mendengar suara seorang wanita berteriak - teriak. Suaranya sangat jelas dan dekat."


"Udahlah, kita matiin saja TV nya. Nanti kalau tuan muda datang biar saya yang jelasin mengapa kita sampai masuk paksa ke dalam kamarnya. Apapun resikonya kita tanggung bersama." Mereka segera menutup kembali pintu kamar.


Kayra yang bersembunyi di dinding persembunyiannya mengelus dada.


"Syukurlah kali ini aku lolos."


Kruyukkkk...


Suara perut Kayra protes minta diisi. Kayra memeriksa jam dinding sudah jam empat sore. Rupanya Kayra tertidur cukup lama, dari pagi sampai sore hari. Hingga ia melewati jam makan siangnya. Kayra segera memeriksa lemari pakaian Dariel. Ia berharap menemukan sesuatu yang dapat dimakannya. Sebungkus biskuit berhasil ditemukannya. Ia segera memakannya. Rasa laparnya seperti seminggu tidak makan. Sebungkus biskuit dengan cepat habis, namun ia merasa masih lapar. Di lihatnya masih ada sisa potongan buah tadi pagi. Saat dibukanya ia sangat kecewa karena mendapati potongan buah itu sudah tidak segar lagi.


"Apa boleh buat, dari pada kelaparan." Kayra segera mencuci buah itu dengan air mineral. Ia memakan buah- buah itu dengan sangat lahap.

__ADS_1


"Kenapa Riel belum pulang juga? Hari sudah mulai gelap. Apa jangan - jangan rencananya gagal?" Kayra menghela nafas dalam - dalam.


__ADS_2