
Kayra segera melahap sepiring spaghetti dengan telur mata sapi sebagai toping nya. Ia merasa sudah sangat lama tidak mencecap nikmatnya spaghetti. Terlebih ini masakan suaminya sendiri.
"Sayang... kamu suka?" Dariel menatap Kayra yang tidak mengalihkan perhatiannya dari piring spaghetti di hadapannya.
"Hmmm" Kayra menunjukkan jempolnya.
Tak berapa lama, sepiring spaghetti bolognese telah tandas dari piring Karya berpindah ke perutnya yang datar. Kayra mengusap ujung bibirnya ragu.
"Sayang mau nambah? Ku masakin sebentar ya?" Dariel beranjak dari duduknya. Ia segera mengambil bahan-bahan dari kulkas. Bersiap memasakkan spaghetti lagi untuk Kayra.
Kayra menatap kosong, jemarinya masih sibuk mengelap bibirnya. "Bagaimana bisa sepiring besar spaghetti terasa hanya lewat seperti angin dalam perutnya?" Makanan yang terlihat lezat namun hambar saat masuk dalam mulutnya. Lebih tepatnya seperti makan udara kosong. Apa ini? Pikiran galau mulai merasuki hatinya. Apakah pertemuannya dengan Dariel ini hanya mimpi? Apakah ini hanya khayalan nya? Bagaimana bisa orang biasa tertidur selama enam tahun tanpa alat penunjang kehidupan dan bisa bangun seperti semula?
Kayra melihat Dariel yang mulai sibuk dengan masakannya. Pria itu terlihat sangat lihai seperti seorang chef profesional. Bibirnya terus saja membentuk senyuman.
Sesekali ia menoleh ke arah tempat duduk Kayra.
"Sayang... kamu lihat kan? Aku sudah bisa memasak spaghetti kesukaan mu? Kayra cepat lah pulang! Aku sangat merindukan mu!" Dariel tertunduk. Air matanya mengalir tak terbendung. Ia tak kuasa menahan gejolak hatinya. Ia pun terduduk bersimpuh di depan kompornya. Membiarkan masakannya gosong. Seketika asap mulai memenuhi dapur.
"Riel... lihat masakan mu gosong!" Kayra buru-buru mendekati Dariel dengan panik. Ia meraih tombol kompor berusaha mematikannya. Namun sebesar apapun usahanya. Ia tidak bisa memadamkan kompor. Api mulai menjilat spaghetti gosong. Beruntung seseorang datang tepat waktu mematikan kompor.
"Tuan... apakah Tuan tidak apa-apa?" Pria paruh baya itu segera membantu Dariel berdiri. Ia memapah Dariel menuju kamarnya.
__ADS_1
Kayra terbengong melihat kejadian di depan batang hidungnya. "Apa ini? Mengapa mereka mengacuhkan ku?" Kayra berlari menyusul Dariel.
Ia seketika terhenti diambang pintu kamar Dariel. Sosok pria tampan yang dicintai nya, kini terlihat pucat dan lemah. Nampak lingkaran hitam tercetak di kedua matanya. Pandangan matanya nampak kosong seperti tanpa jiwa. "Bagaimana bisa sedrastis itu keadaan Dariel? Apa yang sebenarnya terjadi?" Bisik Kayra frustasi.
Ia berjalan mendekat, mencoba meraih tangan Dariel. Ia ingin menggenggamnya. Mencoba menghibur pria yang sangat dicintainya.
Namun tangan Dariel tak mampu di raihnya. Kayra seketika termangu. Mungkinkah ia dan Dariel telah hidup di dunia yang berbeda saat ini?
"Tuan... kalau pingin makan apa pun, tidak perlu repot-repot memasak sendiri. Ada bibi dapur yang siap memasak apa pun buat Tuan. Sekarang Tuan minum obat dan segera istirahat. Bukankah Tuan ingin segera menemui Nyonya Kayra?" Sebuah senyuman menghibur terlukis di bibir pria paruh baya itu.
"Ya... ya... aku ingin segera menemui istri ku." Dariel merebut butiran pil penenang dari tangan pria itu dan segera menelannya sekaligus. Air mata menitik diujung mata Dariel.
Seminggu lalu tim forensik menghubunginya untuk mengidentifikasi kerangka yang ditemukan di jurang dekat reruntuhan villa bloodmoon. Dua buah kerangka yang diidentifikasi sebagai milik seorang wanita yang diduga kuat Kayra istrinya dan Sebuah kerangka bayi yang besar kemungkinan milik babby M. Hasil tes DNA sudah keluar pagi tadi dan menunjukkan kalau kerangka bayi itu memiliki hampir enam puluh persen kecocokan dengan DNA nya. Hal itu membuktikan bahwa kerangka bayi itu adalah babby M. Keponakan yang telah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.
Dariel tertidur karena pengaruh obat penenang yang diminumnya. Pria paruh baya itu masih setia menunggunya. Nampak kesedihan tercetak di raut wajah tuanya. Sesekali ia memperbaiki selimut Dariel. Setelah memastikan bahwa Dariel telah benar-benar terlelap. Ia segera meninggalkan kamar Dariel dan menutup pintu dibelakangnya.
Kayra mengikuti pria paruh baya itu. Ia merasa ada yang menarik tentang pria itu. Ia ingin mengenal pria tua yang dianggapnya sangat baik pada Dariel. Kalaupun ia hanya arwah penasaran, ia ingin menjaga Dariel dan orang-orang dekatnya.
Pria itu berjalan menjauh. Keluar dari ruang tamu dan membuka pintu samping yang mengarah ke teras. Setelah menutup pintu, iapun duduk di salah satu bangku.
Pria itu terlihat meraba-raba kantong celana, mengeluarkan sebungkus rokok. Ia mengambil sebatang namun tak ada niat untuk menyulutnya.
__ADS_1
"Hhhhhh.." Sebuah ******* terdengar sebagai pelampiasan beban yang mendalam.
Matanya menerawang, pria tua itu mengingat tahun-tahun pengabdiannya pada keluarga Erlangga. Ia tidak menyangka kalau majikannya sekarang benar-benar terpuruk. Meskipun harta tuannya tak terhitung banyaknya, namun apa arti semuanya itu kalau ahli warisnya pun tidak bisa menikmati warisan kekayaan yang tidak akan habis dimakan tujuh turunan.
Sebulir air mata menitik. Sebuah kesedihan yang tidak bisa ditahannya lagi. Majikannya sekaligus satu-satunya yang dianggapnya keluarga mengalami masa-masa sulit. Ia pun merasakan hal yang sama.
Kayra berjalan perlahan mendekati pria itu. Ia tidak bisa mengingat wajah penuh kerutan dengan rambut putih kusam di depannya. Sekalipun ia berusaha mengingat, namun otaknya serasa buntu. Ia akhirnya menyerah dan mengambil tempat duduk di samping pria tua yang acuh tak acuh pada keberadaannya. Ya mungkin karena ia tak terlihat.
Ada rasa nyaman saat ia didekat pria tua itu. Kayra memandang lekat pria tua itu. Keinginan hatinya, ia ingin bertanya banyak hal pada pria tua di sampingnya. Hatinya kembali ragu. Bagaimana ia bisa bertanya, kalau keberadaannya saja tidak disadari pria tua itu.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Pria tua itu tiba-tiba mengeluarkan suara. Kayra tertegun, benarkah pria tua itu benar-benar melihat keberadaan nya?
"Tanyakan saja! Aku memang gak bisa melihat wujud mu. Namun aku bisa merasakan kehadiran mu. Kamu adalah roh penasaran yang belum menemukan jalan kembali." Gumaman pria tua itu cukup membuat Karya terkejut.
"Apakah kamu mendengar suara ku?" Tanya Kayra ragu.
"Ya ... aku mendengarnya dengan jelas."
Ekspresi pria tua itu masih tetap datar. Tidak ada raut ketakutan atau sesuatu yang mengganggunya.
"Aku Kayra... istri Dariel," Jawab Kayra to the poin.
__ADS_1
Pria tua itu nampak terkejut. Ia menjatuhkan rokok di tangannya.