
"Kalau sudah dalam pengaruh roh jahat Rara gak punya kendali sama sekali atas tubuh mu." Dariel mencoba menjelaskan apa yang diketahuinya. Ia tidak mau sampai kehilangan Kayra.
"Ajari aku ya Riel.... supaya bisa mengalahkan roh jahat. Ya.... please...." Kayra memelas. Walaupun sebenarnya itu tidak perlu dilakukan karena Dariel pasti membantunya sekalipun ia tidak minta. Tapi ia merasa sesekali perlu sedikit bermanja dengan Dariel.
"Sepertinya perlu usaha lebih besar untuk merayu ku." Kata Dariel pura - pura cuek. Ia sedikit memalingkan wajahnya dari Kayra. Membuat Kayra gemas dibuatnya.
Cup....
Kayra mengecup sekilas bibir Dariel, spontanitas yang membuatnya malu sendiri. Wajah Kayra merona tersipu malu. Entahlah ada apa dengannya karena Dariel satu - satunya pria yang dia cintai dan juga cinta pertamanya. Sekalipun hubungan mereka baru namun sudah membuat Kayra sangat nyaman seakan mereka sudah mengenal puluhan tahun.
Dariel memandang gemas Kayra. Kayra sangat menarik dimata Dariel. Kesempurnaan fisik, kecantikan alami dan kemulusan kulit Kayra membuatnya terpikat. Terlebih sesuatu dalam diri Kayra yang tidak diketahuinya telah memikat jiwanya. Seperti magnet menarik besi. Kayra memikat hati Dariel. Membuat Dariel ingin selalu dekat dan menempel pada tubuh Kayra. Ia membayangkan menjadi boneka teddy bear yang selalu dipeluk dan di ciumi Kayra setiap saat.
Dariel merengkuh pinggang Kayra, membawanya dalam dekapan. Ia menghirup wangi tubuh Kayra dan melayangkan ciuman di bibir Kayra dengan lahapnya. Seakan menikmati gula kapas, ia menyesapi manisnya bibir tipis Kayra.
"Sudah.... bau... belum mandi, belum gosok gigi." Kayra mendorong tubuh Dariel menjauh. Dariel tertawa keras dibuatnya.
Ha...ha...ha...
"Mau dimandiin ya?" Tanya Dariel dengan tatapan polosnya menggoda Kayra.
__ADS_1
"Gak mau... jangan aneh - aneh." Kata Kayra sambil mengacungkan jari telunjuknya dan mata melotot mengancam.
"Ampun.... takut!" Dariel merapatkan lengannya seperti orang ketakutan. Kayra yang melihatnya spontan mendekati Dariel dan berniat memukulnya namun Dariel mengelak dan berlari menjauhi Kayra. Kayra semakin gemas, mereka berkejar - kejaran. Tidak berapa lama sebuah pukulan ringan berhasil mendarat di punggung Dariel. Seketika Dariel berbalik.
"Aku akan membalas pukulan ini." Kata Dariel sambil memeluk Kayra yang tidak siaga. Kayra berhasil lolos dari pelukan Dariel. Ia segera berlari, namun Dariel berhasil mengejarnya dan segera mendekap erat tubuh Kayra. Menggelitik tubuh Kayra membuatnya tertawa kegelian dan menjatuhkan tubuhnya di atas batu gua.
Mereka bergumul dan bercanda. Detak jantung mereka bertalu - talu ada rasa bahagia memenuhi rongga dada mereka. Dariel lepas kendali menyerang Kayra dengan ciuman panas dan memburu. Bibir dan lidahnya menyapu dan mengabsen rongga mulut Kayra. Mengabaikan bau mulut yang belum gosok gigi setelah bangun tidur. Tangan Dariel mengusap lembut dan memberikan sentuhan pada permukaan paha Kayra yang tak tertutup sempurna oleh celana pendeknya. Tangan Dariel terus naik masuk ke balik kaos longgar Kayra. Menyentuh lembut gundukan kembar yang tak tertutup dalaman. Ada keinginan Dariel untuk mengecap gunung kembar milik Kayra. Ia masih bisa mengendalikan diri, biarlah untuk saat ini tangannya terpuaskan dengan mainan baru.
Kayra mendesah, membuat sesuatu milik Dariel yang menindih pahanya terasa mengeras. Seketika Kayra tersadar. Ia mengelak ciuman panas Dariel dan dengan lembut ia berbisik pada Dariel.
"Riel... kita belum menikah, kita tidak boleh melakukan ini." Dariel yang sedang menindih tubuh Kayra seketika bangun dengan gugupnya.
Selesai mandi, Dariel mengambil sarapannya dan membawanya ke dalam kamar. Mereka makan sepiring berdua. Kayra menyuapi Dariel sesendok nasi goreng dengan sepotong kecil telur mata sapi. Kemudian mengambil sesuap untuk dirinya sendiri. Sekalipun sarapan cukup sederhana namun terasa nikmat saat dinikmati bersama. Saat suapan kedua akan diberikan kembali pada Dariel, mereka dikejutkan ketukan di pintu.
Tok...tok...tok...
"Tuan,.. saya mengantarkan lauk untuk Tuan." Dariel membuka pintu. Didepan sudah menunggu seorang pria, yang dikenali Dariel sebagai salah satu asisten dapur membawa dua buah kotak makan. "Maaf Tuan, saya disuruh madam mengantarkan lauk buat Tuan."
"Trimakasih ya .... sampaikan salam ku pada bik Nah."
__ADS_1
"Baik Tuan, saya permisi." Dariel segera masuk dan menutup rapat pintu kamarnya. Ia membawa dua kotak makan dan menyerahkannya pada Kayra. Dengan penuh tanda tanya Kayra segera membuka kotak makan. Seketika matanya berbinar bahagia. Salah satu kotak berisi spageti sea food yang dimakannya beberapa hari lalu. Hari ini Kayra berbaik hati mau berbagi dengan Dariel. Ia mengambil spageti dengan garpu dan menyuapkannya ke Dariel. Dan menyuapkan satu suapan untuk dirinya.
"Hmmm enak. Tumben mau berbagi?" Dariel mengucak kepala Kayra. Kayra hanya nyengir dan menyibukkan diri menikmati kunyahannya. Sepiring nasi goreng dan spageti tandas tak tersisa membuat perut mereka puas kekenyangan. Kayra membuka kotak makan ke dua penasaran ingin tahu apa isinya. Kotak makan kedua berisi potongan - potongan buah segar ada nanas, apel, melon dan buah naga. Kayra menyuapkan apel pada Dariel. Namun Dariel menolak.
"Udah Ra... perut ku kenyang banget." Namun Kayra tidak mau menerima penolakan hingga membuat Dariel terpaksa memakan sepotong apel yang disuapkan Kayra padanya. Sementara Kayra memilih menghabiskan potongan buah nanas.
"Ra... ku tinggal ke ruang makan ya? Siapa tahu pak Rahmadi mencari ku." Kayra mengangguk memberikan ijin Dariel pergi. Dariel membawa piring dan kotak makan kosong, Saat ia akan membuka pintu Kayra menahannya.
"Jangan lama - lama ya." Kayra enggan ditinggalkan.
"Ya... tenang saja. Aku akan mencari cara agar kita bisa menghabiskan waktu bersama." Ia mengecup kening Kayra. Dariel menuju ruang makan, disana ia melihat pak Rahmadi yang langsung menyambutnya dengan senyuman mengembang.
"Bagaimana istirahat Tuan muda tadi malam?"
"Sedikit terganggu dengan mimpi buruk." Kata Dariel, ia tahu kalau dirinya terus diawasi. Jadi ia tidak boleh sampai salah kata, dan setiap tindakannya harus dipikirkannya baik- baik dengan penuh pertimbangan.
"Ehm... hari ini sebenarnya saya ingin mengajak Tuan muda ikut tim CSR Corporate Social Responsibility. Tim akan merealisasikan rencana pengadaan air bersih untuk suku asli daerah Ukam Tengah yang kita datangi beberapa waktu yang lalu. Kami memerlukan bantuan tuan muda untuk membantu menjadi penerjemah. Tapi saya juga masih takut kalau ada sesuatu yang terjadi pada Tuan Muda nanti. Mengingat kejadian serangan penduduk asli waktu itu." Kata Rahmadi ragu - ragu.
"Ada pengawalan kan? Saya percaya kemampuan pengawal kita cukup bisa diandalkan" Kata Dariel meyakinkan Rahmadi. Karena sudah ada sebuah rencana di kepalanya untuk perjalanannya kali ini.
__ADS_1