
Semalam saat Kayra menyerangnya, Dariel sempat terluka pada lengannya. Tetapi bukan karena itu yang membuatnya lari dan mengunci diri di kamar. Ada alasan lain. Dariel terganggu dengan suara mistis yang berdengung di rongga telinganya. Suara pria ketua suku makhluk gaib yang pernah menyekapnya di pedalaman Papua beberapa waktu lalu.
Suara yang di dengarnya tadi malam itu sangat mengganggu, membuat dadanya terasa sesak. Hingga keluar darah segar dari mulutnya. Semalam- malaman ia muntah darah. Namun ia enggan meminta pertolongan pada Kayra. Takut membuat Kayra cemas. Siang ini ia baru bangun dari tidurnya, atau mungkin lebih tepatnya semalaman hingga siang ini ia jatuh pingsan. Namun Dariel tidak tahu pasti, yang jelas saat ia terbangun hari sudah siang. Dan tidak ada sepotong mimpi yang diingatnya.
Dariel merasa kuatir terjadi sesuatu dengan Kayra. Tadi ia menyempatkan diri menengok ke dapur, sebelum kemudian mencari Kayra di kamarnya. Keadaan dapur dan meja makan masih berantakan seperti semalam. Kamar Kayra juga tertutup rapat. Jangan- jangan Kayra ngambeg padanya. Dariel mengetok pintu kamar, lagi- lagi tidak ada respon sama sekali dari dalam. Dariel membuka pintu, tidak dilihatnya Kayra. Apa mungkin Kayra sedang mandi? ternyata kamar mandinya juga kosong.
"Ya ampun Ra... kamu di mana?" Dariel kebingungan.
***
"Ra... ngelamun aja..!" Suara Ratih membuyarkan lamunan Kayra.
"Ah ngagetin aja."
"Kuliatin dari tadi ngelamun. Apa sih yang kamu pikirkan Ra...?"
"Ehm... sepertinya keputusan ku meninggalkan rumah sebuah kesalahan." Gumam Kayra lirih namun ditelinga Ratih seperti suara klakson kereta api. Membuatnya kaget, namun secepat kilat ia menguasai diri dan berpura- pura menunjukkan simpatinya pada Kayra.
"Iya Ra... tidak baik seorang anak kabur dari rumah. Lebih- lebih kamu cewek, keluarga pasti sangat mengkawatirkanmu. Gini aja, sesampainya di Jakarta istirahat aja semalam di kosan ku. Trus besok sore ku belikan tiket balik ke Malang. Bagaimana?" Ratih melancarkan siasatnya.
__ADS_1
"Ya. Lebih baik seperti itu karena di Jakarta tidak ada tempat yang ku tuju. Aku takut membuat keluarga ku kawatir." Kayra mulai bisa mengimbangi kebohongan Ratih.
Ratih tersenyum, dalam hati ia berkata. "Kalau banyak kutemui gadis-gadis polos kayak gini cepat kaya aku. hahaha. Bisa beli tas bermerk, baju branded, bisa puas belanja. hahaha. Sudah ada yang nawar Rara 25 jt, Bisa buat jalan- jalan ke Singapura. Beruntungnya aku." Ratih tersenyum simpul membayangkan keuntungan yang akan segera didapatnya.
Kayra berusaha menguatkan hatinya, masih ada kegentaran didalam hatinya juga sekarang terselip kemarahan dan rasa ingin melawan. Kayra berpikir gadis disampingnya tidak pantas menyandang nama Ratih. Atau lebih baik lagi bila tidak berada di dunia ini lagi.
Tepat pukul 13.OO WIB kereta api tiba di stasiun Senin. Ratih memimpin jalan keluar dari kereta. Kayra menoleh ke kanan kiri mencari- cari Doni. Namun tak terlihat di mana pun. "Di mana Doni? Jangan- jangan terjadi sesuatu pada nya?" Kayra mulai was- was. "Bagaimana ini, apa sebaiknya aku kabur saja? Dari pada terjadi sesuatu hal buruk pada ku? Ya Tuhan apa yang harus ku lakukan?" Kayra semakin bimbang.
Seperti mengetahui pikiran Kayra, Ratih segera menggenggam tangan Kayra. Mengajaknya berjalan terus, menuju pangkalan taxi. Kayra menurut saja kemana pun Ratih mengajaknya. Hampir sepuluh taxi yang terpakir telah mereka lewati, namun Ratih tidak juga berhenti. Mereka terus berjalan, hingga tiba di gerbang keluar. Disana sudah menunggu sebuah mobil Terios hitam menanti. Sang sopir tetap bertahan di dalam mobil.
Jantung Kayra berdebar- debar sudah mulai dihantui rasa takut. "Ya Tuhan, bagaimana ini?" Ratih mengajak Kayra naik ke dalam mobil. Mereka duduk di kursi belakang.
"Jalan Kramat Baru pak...!" Kata Ratih memberi perintah. "Berhenti di Depot Sederhana!" Sopir Terios langsung melajukan mobil, tak berapa lama mobil berhenti di sebuah rumah makan.
"Kita makan dulu, aku sudah sangat lapar. Disini kita juga bisa mandi supaya segar. Karena perjalanan kita masih cukup jauh." Ratih memberi penjelasan.
"Hahahaha di sini sebentar lagi acara transaksi. Aku sudah dapat pembeli bagus. Baru kali ini seorang gadis dapat harga sangat mahal. Rara seharga tiga puluh juta. Bagian ku lima belas juta. Cukup besar buat ku. hahah" Ratih mulai menghayalkan barang- barang branded apa saja yang akan segera dibelinya.
"Ayo sebaiknya kita mandi dulu biar segar baru makan." Ajak Ratih seraya menyerahkan baju ganti untuk Kayra. Kayra mengikuti langkah kaki Ratih menuju kamar mandi umum. Di sana berjajar beberapa kamar mandi minimalis moderen dengan design interior yang sangat nyaman juga terlihat sangat bersih. Mengundang keinginan untuk menikmati kesegaran air sower.
__ADS_1
Sesaat Kayra tertegun, sebenarnya ia ingin mandi menyegarkan tubuhnya. Namun ia takut ada kamera tersembunyi terpasang di dalamnya. Sehingga ia memutuskan hanya menyeka saja badannya dengan handuk basah.
***
Di sebuah ruang khusus operator cctv seorang pria dengan tampang mesum mengeluarkan sumpah serapahnya. Ia kecewa tidak mendapatkan rekaman menarik. Gadis cantik bergaun kuning yang disangkanya akan mandi, ternyata hanya menyeka badannya. Tidak ada pandangan indah yang dinanti- nantinya. Hingga membuatnya hanya bisa gigit jari.
***
Kayra sangat berhati- hati saat berganti baju. Ia meminimalisir kulit badannya terekspos. Itulah sebabnya sang operator monitor cctv tidak mendapatkan rekaman gambar buruannya.
"Ra... sudah? Aku tunggu di luar." Teriak Ratih yang secara tidak langsung menuntut Kayra mempercepat ganti bajunya.
"Bentar... dikit lagi." Kayra mengulur waktu, supaya Ratih tidak curiga padanya. Namun ia juga tidak mungkin berlama- lama di kamar mandi. Kayra pun menemui Ratih yang sedang ber make up di depan kaca toilet. Ratih menawarkan Kayra untuk bermake up.
"Ra... pakai bedak dan lipstik tipis supaya kamu terlihat segar. Setidaknya kita mesti kembali terlihat cantik setelah perjalanan melelahkan sepanjang hari."
"Ok." jawab Kayra singkat. Ia pun menyapukan bedak tipis pada wajahnya dan juga lipstik di bibir tipisnya.
Sudut mata Ratih melirik perubahan penampilan Kayra. "Memang anak ini punya kecantikan alami. pantas saja ada yang berani bayar mahal hanya untuk sekali tidur dengannya. Hahaha." Ratih merapikan tempat alat make up nya ke tempatnya semula.
__ADS_1
Merekapun berjalan beriringan menuju ke ruang makan. Saat melihat mereka, orang pasti menyangka mereka saudara dekat. Karena baik Ratih ataupun Kayra sama- sama memiliki kulit mulus dan juga raut wajah yang cantik dengan bibir tipis. Namun orang tidak akan menyangka ataupun menduga bahwa mereka adalah mangsa dan predator.
Ratih dan Kayra menuju tempat duduk di pojokan , sehingga mereka lebih leluasa mengamati pengunjung yang masuk ke dalam Rumah makan. Tanpa setahu Kayra, kursi pojokan itu memang tempat favorit Ratih. Sebuah saksi bisu terhadap banyak korbannya.