
"Ya... aku bisa membaca pikiran orang." Dariel mendesah ia menjawab dengan beban yang berat.
"Kalau kamu bisa membaca pikiran itu sangat menguntungkan buat mu. Tidak ada satupun rahasia yang bisa disembunyikan dari mu." Kayra sangat kagum pada kekasihnya yang memiliki banyak kemampuan khusus.
"Bisa membaca pikiran orang tidak selalu menyenangkan, malah seringkali membuat kita tertekan." Dariel menatap kosong tembok di depannya.
"Bagaimana bisa membuat tertekan?" Tanya Kayra tidak mengerti.
"Aku membaca pikiran mu Ra... kamu berniat menolak ku bukan? kamu gak mau menikah dengan ku." Seketika pernyataan Dariel yang dikatakan dengan pelan mempunyai efek luar biasa. Seperti guntur menggelegar membuat seketika Kayra membeku karena terkejut.
"Ehmmm Riel.... maaf kan aku sudah melukai mu. Setidaknya kamu dah tahu kan apa alasan ku?" Kayra tidak ingin berdalih. Ia hanya ingin Dariel mengerti, mengapa ia tidak mau menikah dengan Dariel pada waktu singkat.
"Entahlah Ra.... apa kamu masih tidak bisa percaya pada ku?"
"Apa maksud mu menanyakan itu Riel? Aku rasa kamu tahu benar apa isi dalam pikiran ku." Kayra kecewa dengan pernyataan Dariel. Bagaimana Dariel membuat kesimpulan itu. Kalau ia tidak percaya pada Dariel mana mungkin ia mau mendengarkan Dariel dan mengikuti semua saran Dariel. Termasuk keberadaannya di kota Malang saat ini. Bukankah lebih baik ia berkumpul kembali dengan ibu tiri, saudara tiri juga bik Sari dan Mang Ujang yang sudah sangat dirindukannya. Air mata Kayra menetes dari ujung matanya.
Dariel melihatnya, serta merta direngkuhnya Kayra dalam pelukannya.
"Ra... maaf kan aku. Aku belum siap menerima penolakan darimu."
"Riel... aku belum siap untuk menikah sekarang. Maafkan aku Riel." Kayra memandang Dariel dengan penuh permohonan. Ia ingin Dariel memahaminya. Ia menolak menikah cepat dengan Dariel karena banyak pertimbangan yang harus dipikirkannya.
"Riel... bolehkah kita untuk sementara tidak membahas mengenai pernikahan. Aku takut Riel." Jawab jujur Kayra.
"Ra... terus terang aku kecewa. Tapi kalau ini keputusan mu baik lah." Dariel tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
__ADS_1
Beberapa saat mereka terdiam. Kayra masih dalam pelukan Dariel. Ia tidak bisa menyangkal perasaan hatinya. Namun ada sesuatu yang membuatnya sudah bulat dengan keputusannya. Sebelum ia bebas dari pengaruh roh jahat yang selama ini menguasainya membuatnya takut menikah dengan Dariel. Ia takut kalau sampai menyakiti atau bahkan membunuh Dariel.
"Riel... kau tahu kan isi hati ku. Perasaan cinta ku padamu sangat besar. Aku mau menikah dengan mu saat aku sudah terbebas dari kungkungan roh jahat, yang selama ini berusaha menyakiti mu." Kayra tertunduk menahan beratnya beban yang dipikirkannya.
"Ra... aku akan ajarkan apa yang aku bisa. Pertama aku akan mengajarkan membuat pelindung agar pikiran mu tak terbaca oleh orang lain.
"Ok... aku siap." Kayra sangat antusias belajar hal baru, terlebih Dariel kekasihnya yang menjadi guru. Senyuman Kayra mengembang membayangkan kegembiraan saat ia mulai belajar. Dariel mengajak Kayra keluar kamar. Mereka berjalan ke taman belakang. Duduk di sebuah bangku taman.
Hari sudah mulai sore, senja hari menyuguhkan pemandangan yang sangat indah. Semburat lembayung senja meneduhkan sukma. Membuat Kayra terpana pada indahnya semesta. Langit begitu cerah, menjadi kanvas sempurna.
"Ra...." sentuhan lembut dipundak Kayra membangunkan lamunannya.
"Riel.... indah banget."
"Gimana supaya kamu gak bisa baca pikiran ku?" Tanya Kayra antusias.
"Kamu harus membuat shield pelindung. Coba pikirkan sesuatu yang lain, yang sangat berkesan pada mu!" Perintah Dariel. Sesaat Kayra kebingungan. Apa kenangan yang sangat berkesan baginya? Ia memikirkan taman yang indah, pemandangan senja, saat ia mendengar pengumuman kelulusan juga penghargaan atas prestasi yang diraihnya. Masih terlalu lemah, Dariel masih bisa menembus pikirannya. Kayra membayangkan perjumpaan pertamanya dengan Dariel, namun kenangan itu pun tidak begitu kuat.
"Riel.. aku tidak tahu apa lagi kenangan berkesan ku." Kayra terengah - engah seperti baru berlari marathon mengitari GOR. Padahal tidak satupun kegiatan fisik yang dilakukannya.
"Ra.... coba lagi, lebih serius dan berkonsentrasilah." Dariel memegang kedua pundak Kayra membakar motifasi dalam diri Kayra.
"Baiklah Riel.... akan ku coba lagi." Kayra memejamkan mata. Mencari- cari bagian potongan memori yang mungkin terselip. Seakan baru terbangun dari tidur panjang. Sebuah memori menggeliat keluar ke permukaan. Uluran jari - jari pucat semi transparan mengarah padanya. Sayup - sayup terdengar desahan yang meningkat menjadi teriakan minta tolong. "TOLONG BEBASKAN KAMI !" Tubuh Kayra menggigil merasakan sebuah teror ketakutan mencengkeramnya. Sampai ia terbangun oleh gertakan Dariel.
"Cukup Ra... hentikan." Kayra membuka mata. Dariel di depannya sedang menghapus darah yang menetes dari lubang hidungnya.
__ADS_1
"Riel.... kamu kenapa?" Kayra seketika mengkawatirkan Dariel.
"Gak papa Ra... kamu dah berhasil membuat shield yang sangat kuat. Sampai aku gak bisa menembusnya. Kalau boleh aku tahu apa kenangan yang sangat kuat itu?" Dariel penasaran meluapkan rasa ingin tahunya.
"Ehm.. sebuah mimpi mengerikan. Sebuah mimpi yang selalu membuat aku ketakutan. Bagaimana sebuah mimpi bisa jadi sebuah pelindung pikiran?" Kayra mengungkapkan rasa ingin tahunya. Sebuah mimpi, jelas bukan sebuah kenangan. Apalagi sebuah mimpi buruk, yang kalau bisa ia akan menghindari nya.
"Kalau itu aku kurang tahu Ra... karena selama ini yang aku tahu hanya kenangan yang cukup kuat saja yang bisa jadi shield pikiran." Dariel merenung sesaat.
"Ra... apa mungkin yang kamu lihat sebagai mimpi, sebenarnya sebuah kenyataan?" Dariel beretoritika. Bagaimanapun Kayra tidak akan tahu jawaban atas pertanyaannya. Membuat Kayra ikut terhanyut dalam pertanyaan yang membuatnya bingung sendiri. Hingga ia tidak sadar menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Ra... selain kemampuan penyembuhan, apa kamu bisa baca pikiran orang?" Dariel menanyakan kemungkinan kemampuan lain yang dimiliki Kayra.
"Hahaha aku gak bisa. Riel... gimana, apa aku sudah berhasil membuat shield pikiran?" Tanya Kayra.
"Sudah sangat bagus Ra... Sekarang kamu bisa ngerasa gak ada yang berusaha masuk ke dalam pikiran mu?" Tanya Dariel, ia mengerahkan kemampuannya menembus pikiran Kayra.
"Iya Riel... aku merasa ada yang aneh merasuk ke dalam pikiranku."
"Lawan Ra.... pikirkan mimpimu!" perintah Dariel.
Kayra langsung memejamkan mata dan membayangkan mimpi tangan- tangan yang terulur dan memekik bersamaan. "TOLONG BEBASKAN KAMI.... !" Teriakan menyayat seketika membuat mata Kayra terbelalak. Ia sendiri merasa ketakutan. Sementara kepala Dariel terasa pening. Ia kehilangan keseimbangan, Dariel pun terjatuh.
Kayra berusaha menangkap Dariel, namun karena tenaga nya kalah kuat. Merekapun terjatuh bersamaan.
"Riel.... riel... kamu kenapa !? Teriak Kayra panik. Dalam pikirannya bergelut berbagai perasaan yang serasa diaduk - aduk. Dariel belum pulih benar. Itulah sebabnya ia sampai mimisan dan jatuh pingsan kembali. Kayra meletakkan telapak tangannya pada dahi Dariel. Ada udara hangat keluar dari telapaknya. Tidak berapa lama Dariel terbangun.
__ADS_1