Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Santet lagi


__ADS_3

Kayra dan pak Hasan terpaku di depan kamar Erlangga. Tampak kamar begitu berantakan. Seprei dan selimut berserakan di lantai. Kayra mencari-cari papa Erlangga dan tidak terlihat dimanapun.


Saat pandangannya menatap pintu kamar mandi yang tertutup, Kayra panik, seketika muncul perasaan tidak enak. "Papa.... papa!" Panggil Kayra seraya mengetok pintu kamar mandi yang terkunci.


"Pak Hasan... cepat dobrak kamar mandinya! Aku takut sesuatu terjadi pada papa." Perintah Kayra mendesak.


Pak Hasan mengambil ancang-ancang. Kemudian mendobrak pintu dengan sekuat tenaga. Namun pintu itu begitu kokoh tak tergoyahkan.


"Pak... mungkin ada kunci cadangan?" Tanya Kayra kalut.


"Nyonya, kamar mandi tidak pakai kunci." Jawab pak Hasan putus asa.


Kayra memeras otak, memikirkan bagaimana cara membuka kamar mandi. "Pak, ambil linggis. Ingat, jangan bikin kepanikan." Kata Kayra memperingatkan pak Hasan.


Pak Hasan bergegas ke belakang untuk mrngambil linggis. Sementara Kayra berkonsentrasi mencoba berteleportasi menghubungi papa Erlangga. Namun tak juga berhasil. Ia memutuskan menghubungi Dariel meminta bantuan.


Dariel datang bersamaan dengan pak Hasan. Dariel segera meminta linggis dari tangan pak Hasan. Dengan bantuan tenaga dalam, Dariel berhasil menjongkel pengunci pintu. Pintupun akhirnya terbuka.


Dariel terkejut melihat papanya hampir tenggelam dalam bathup. Sementara ada genangan darah yang menetes dari luka di urat nadi tangan papanya.


Kayra berteriak tertahan. Ia sangat tergoncang melihat keadaan papa Erlangga yang sangat mengenaskan.


"Ra... papa masih hidup." Terdengar suara kelegaan Dariel. Ia segera mengangkat tubuh papanya menuju ke ranjang.


Kayra mengikutinya dari belakang. "Pak Hasan tolong ambilkan P3K." Perintah Kayra buru-buru.

__ADS_1


Kayra segera menggenggam tangan papa Erlangga dan menyalurkan tenaga dalam. Ada sebentuk energi menyalurkan udara hangat membungkus tubuh Erlangga. Luka dilengannya telah pulih dan tidak lagi mengeluarkan darah.


Saat pak Hasan datang kembali membawa kotak P3K. Kayra sudah selesai menyalurkan tenaga dalamnya. Ia mengambil perban dari dalam kotak p3K yang dibawa pak Hasan. Dengan hati-hati, Kayra membebatkan perban itu ke pergelangan tangan papa Erlangga. Sebenarnya perban itu sudah tidak dibutuhkan, namun Kayra lakukan demi menjaga agar pak Hasan tidak curiga.


Dariel, menggantikan baju papanya dengan baju kering yang baru. Ia cukup kesulitan untunglah pak Hasan dengan sigap membantu.


Dariel membacakan mantra sirep diam-diam, membuat papanya segera terlelap saat akan sadar tadi. Ia tidak ingin mengambil resiko. Ia berharap dengan membuat papanya tidur akan membuat papanya tenang.


Kayra membawa baju kotor, juga seprei dan selimut yang tercecer dilantai. Diserahkannya pada pak Hasan untuk dibawa keruang khusus binatu.


"Ra.... apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Dariel tertunduk di pinggir ranjang. Ia sama sekali tidak menyangka, kalau papanya serapuh ini. Kenapa papa Erlangga berniat bunuh diri?


"Riel... aku gak tahu, tadi aku hanya berniat memeriksa papa. Namun saat ku dapati pintu kamar terkunci rapat, aku sangat kawatir. Riel... kenapa papa belum sadar juga?" Tanya Kayra kawatir.


"Aku sengaja membuatnya tertidur. Supaya papa bisa istirahat malam ini." Kata Dariel ragu. Apakah dengan mantra sirepnya itu, bisa membuat papanya tenang? Atau jangan-jangan efek pusing akibat rapalan mantranya akan lebih memperburuk psikisnya?


"Pak Hasan, bisakah menunggui papa? Kami akan menghadiri acara penghiburan. Karena ini sudah waktunya. Saya takut tamu pelayat sudah menunggu." Kata Dariel pada pak Hasan.


"Ya... tuan muda. Saya akan menunggui tuan Erlangga." Jawab pak Hasan.


Kayra dan Dariel keluar dari kamar papa Erlangga. Mereka berjalan menuju ruang tamu. Namun Dariel menghentikan langkahnya.


"Ra... bajumu terkena darah." Kata Dariel menuding gaun hitam putih selutut yang dipakai Kayra. Kayra spontan melihat bajunya. Pasti saat ia membebat tangan papa Erlangga tak sengaja ada darah yang mengenai bajunya.


"Riel... aku ganti baju dulu ya." Kata Kayra sembari berlari menuju ke kamarnya. Ia cepat-cepat mengganti bajunya dan memperbaiki riasannya yang terlihat pucat, juga tatanan rambutnya yang terlihat acak-acakan.

__ADS_1


Saat ia memandang ke dalam kaca cermin nampak sebuah penglihatan. Wanita bercadar kembali menemui dukun yang berbeda. Ia menyerahkan foto papa Erlangga dan memerintahkan dukun itu untuk membunuh pria dalam foto. Penglihatan itu hanya sekilas dan seketika itu juga, bayangannya sendiri kembali.


Hati Kayra memanas. Jadi ada yang berniat membunuh papanya dengan cara mistis? Kayra segera berkonsentrasi, ia membayangkan wajah sang dukun yang telah berbuat jahat pada papa Erlangga.


Kayra membayangkan dukun itu merapal mantra dan menyantet dirinya sendiri. Tak berapa lama dirumah dukun terjadi keributan. Istrinya menemukan sang dukun mati dengan menggantung diri di kusen kamarnya.


Kayra mengambil nafas dalam, sebenarnya ia tidak ingin membalas dengan kejahatan. Namun para dukun itu telah mengambil sasaran orang-orang yang disayangi Kayra. Dan itu tentu tak bisa dibiarkan oleh Kayra.


Kayra terdiam di depan kacanya, ia tidak habis mengerti mengapa lagi-lagi wanita bercadar itu ingin membunuh papa Erlangga? Setelah usahanya membunuh dengan kecelakaan gagal dilakukan?


Siapa sebenarnya wanita bercadar itu? Apakah ia benar-benar mamanya kak Keke? Tapi mengapa ia berambisi membunuh kak Raka, papa juga babby M? Kayra diliputi tanda tanya yang membuatnya semakin tak mengerti.


Kayra menatap jam dinding, sudah hampir jam delapan. Ia harus bergegas, acara ibadah penghiburan pasti sudah dimulai sejak tadi. Ia tidak ingin melewatkan acara itu.


Saat ia turun ke ruang tamu, Kayra berpapasan dengan ibu Neta.


"Ra... dari mana saja? Ibu nyariin kamu kemana-mana." Tanya ibu Neta kawatir.


"Nanti aku ceritain. Ayo Bu... temani Kayra." Ajak Kayra yang segera diikuti ibunya. Saat Kayra sampai di ruang tamu bertepatan ada ucapan penghiburan dari beberapa tamu yang hadir. Sebagian besar menyayangkan kematian kak Raka dan istrinya yang begitu tiba-tiba. Dan mereka memberikan kata-kata penghiburan untuk Dariel dan pak Erlangga.


Kayra melayangkan pandangnya mengamati tamu-tamu yang datang. Sepertinya tak satupun orang diruangan itu yang dikenalnya. Sepertinya mereka adalah karyawan dan klien mendiang kak Raka.


Di pojokan ruangan ia melihat seorang gadis yang bersedih. Kayra mengenalinya, itu Tia sahabatnya. Bagaimana Tia mengenal kak Raka? Ia tidak mengabari siapapun mengenai kematian kakak iparnya. Bagaimana Tia bisa tahu? Sepertinya Tia datang bukan untuk dirinya.


Kayra mengamati sahabat barunya itu. Tia terlihat sangat bersedih. Tak henti-hentinya ia menangis terisak. Kayra sangat penasaran, mungkin ia akan menanyakannya langsung pada sahabatnya saat ada kesempatan nanti.

__ADS_1


Kayra mengalihkan perhatiannya, Ia menatap dua buah foto yang ditata di atas meja. Foto kak Raka dan kak Keke. Seketika ada rasa sedih dan penyesalan hinggap di hatinya. Ia menyayangkan orang sebaik mereka harus meninggal dengan cara yang mengenaskan.


__ADS_2