Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Hancur


__ADS_3

Dengan sebuah keyakinan yang entah datang dari mana. Kayra kembali mencabut belati perak kecil itu dari dada ibunya. Ia mengangkat tinggi- tinggi belati itu.


Ia bangkit, bergegas melangkah mendekati kaca antik ibu nya.


"Aku kembalikan semua yang telah kamu berikan pada kakek buyut dan keluargaku. Sebagai gantinya kami dapatkan kembali kebebasan jiwa kami!! Kembalilah ke tempat asalmu dan jangan pernah kembali!!!" Kayra berteriak lantang dan ditancapkannya belati perak kecil itu tepat di dada bayangannya di cermin.


Ada hal aneh terjadi. Bayangannya segera mendekap dadanya yang tertusuk belati. Menggeliat dan mengerang kesakitan. Ada darah hitam kental menyembur dari tempat luka. Bayangan Kayra di cermin perlahan berubah menjadi wanita ular. Ia menggeliat kesakitan. Sumpah serapah keluar dari mulutnya. Tak berapa lama, wanita ular itu menggelepar dan mati. Kaca antik yang tertancap belati, tiba- tiba pecah berhamburan. Terdengar suara- suara jeritan dari makhluk tak kasat mata. Saat itulah bik Sari dan Cerry datang sambil berlari tergopoh- gopoh menghampiri kamar Neta.


"Nyonya... ada apa? Apa yang terjadi?" Bik Sari mengetuk beberapa kali pintu kamar Neta. Cerry yang berdiri dibelakangnya tidak dapat menahan diri.


"Minggir Bik...!" Cerry segera mendorong pintu kamar. Ia tertegun melihat keadaan kamar yang porak- poranda. Serpihan kaca berhamburan. Juga ada Kayra yang berdiri linglung di depan kaca rias yang sudah hancur. Sementara Neta mamanya, terbaring dilantai dengan genangan darah di sekeliling nya.


"Heh... Kayra!! Dasar anak tiri tak tahu diuntung! Apa yang kau buat sama mama ku?" Teriak histeris Cerry sambil mendorong keras tubuh Kayra, yang langsung terjatuh karena tidak ada persiapan sama sekali. Bik Sari segera berlari menghambur berusaha menolong Kayra. Namun terlambat, Kayra terjengkang dan kepalanya membentur lantai. Bik Sari sangat kawatir.


"Non... Non Kayra, mana yang sakit? Bibi lihat dulu mungkin kepala non Kayra ada yang terluka." Bik Sari menyibak rambut panjang Kayra berusaha mencari bagian- bagian kepala Kayra yang terluka.


"Bik Sari, tenang bik. Aku tidak apa-apa." Kayra menenangkan bik Sari dan memberikan senyuman terbaiknya. Berharap wanita paruh baya itu tidak larut dalam kecemasannya padanya.


Cerry tidak memperdulikan keadaan Kayra sama sekali. Ia segera menghampiri tubuh mamanya yang terbaring. Ia berjongkok di dekat tubuh mamanya.

__ADS_1


"Ma... Mama..." Cerry menggoncangkan perlahan bahu mamanya. Berusaha membangunkan nya, namun tak juga memberi respon. Ia pun menepiskan rambut yang menutupi wajah mamanya. Seketika tangannya terhenti. Wanita yang terbaring dilantai itu ternyata bukan Neta mama nya. Wajah wanita itu sangat mirip dengan Kayra.


Cerry segera beranjak bangun dan mundur perlahan.


"Siapa wanita itu?" Tunjuk Cerry. Kayra dan bik Sari spontan menoleh ke arah Cerry. Mereka melihat Cerry kebingungan.


"Siapa wanita itu?" Teriak Cerry meninggikan suaranya. Ia tidak sabar menunggu jawaban Kayra.


"Apa maksud mu Cerry ? Jelas- jelas itu ibu Neta." Kayra tidak mengerti mengapa Cerry tidak bisa mengenali mamanya.


"Katakan...! Siapa wanita itu??!!" Cerry semakin berang, ia merasa Kayra telah mempermainkan nya.


"Ibu.... ibu... sadar lah Bu... semua telah berakhir. Ibu... bangun Bu." Kayra berusaha membangunkan Ibunya. Namun ibu Neta tidak bergeming. Membuat Kayra penasaran. Ia menyingkapkan baju ibunya yang berlumuran darah. Di balik baju itu ada luka menganga bekas tusukan. Darah segar merembes keluar dari lukanya. Kayra terkesiap. Ibu nya tak lagi punya kemampuan menyembuhkan diri.


"Bik... panggil mang Ujang. Kita harus segera membawa ibu ke Rumah Sakit. Pendarahannya cukup parah. Tidak akan sempat kalau menunggu ambulan datang." Perintah Kayra.


Kebetulan bersamaan Mang Ujang masuk ke dalam kamar Neta yang tak tertutup. Sebelumnya Cerry pergi sambil mengomel tidak jelas menyebut Kayra juga Neta. Membuat mang Ujang kawatir dan memutuskan untuk segera memeriksa. Tidak disangkanya Kayra membutuhkannya untuk membawa Neta ke Rumah Sakit.


"Kebetulan mang Ujang datang... Tolong bantu bawa ibu segera kita bawa ke rumah sakit."

__ADS_1


Mang Ujang segera membopong Neta dibantu Kayra. Mereka bergegas membawa Neta ke Rumah Sakit Melati.


Setibanya mereka di rumah sakit, para perawat dengan sigap membantu. Neta segera mendapat perawatan intensif. Dokter jaga mengatakan tidak perlu tindakan operasi. Luka Neta hanya perlu beberapa jahitan. Kurang dari setengah jam, Neta sudah dipindah ke ruang perawatan. Kayra dan bik Sari menunggui Neta yang terbaring lemah. Wajahnya masih pucat pasi.


Bik Sari menyimpan tanya dalam hatinya. Siapa sebenarnya wanita yang saat ini mereka jaga? Ini bukan Neta yang dikenalnya selama ini. Wajah wanita yang terbaring di ranjang rumah sakit ini tampak familier. Ya... bik Sari baru sadar kalau ternyata wajah wanita itu, meskipun tampak pucat pasi tidak dapat menyembunyikan kemiripannya dengan Kayra. Apakah mungkin wanita ini ada kaitannya dengan Kayra? Tapi kapan wanita ini masuk rumah mereka? Dan dimana nyonya Neta? Masih banyak pertanyaan yang memenuhi benak bik Sari. Namun ia merasa tidak enak menanyakan itu pada Kayra. Bik Sari melihat Kayra begitu kawatir dengan keadaan wanita misterius itu. Bik Sari memilih untuk diam, ia percaya Kayra pasti akan menjelaskan semuanya.


"Ibu... akhirnya ibu sadar?" Kayra bersemangat saat melihat ibunya telah membuka mata. Serta merta ia memeluk ibunya dan menangis.


"Ibu... jangan pernah tinggalkan Rara..." Kayra menumpahkan kelegaannya.


"Ra.... kenapa kamu lakukan ini Nak? Mengapa engkau tidak menuruti perintah ibu mu ini?" Neta terlihat kecewa. Ada nada kesal tersirat dalam kata- katanya.


"Wanita ular itu sudah mati Bu." Bisik Kayra di telinga Neta.


Neta seketika terkesiap dengan jawaban Kayra. Mana mungkin itu bisa terjadi? Sementara ia yang sudah melatih diri dengan ilmu sihir yang semakin kuat saja tidak mampu. Bagaimana mungkin Kayra bisa mengalahkan bahkan memusnahkan ratu ular itu? Mungkinkah Kayra menemukan titik lemah sang ratu ular?


"Ibu lihatlah...!" Kayra menyodorkan handphone yang telah aktif mode kamera ke depan wajah ibu Neta.


Masih kebingungan Neta menerima hp Kayra. Ia memandang pantulan wajahnya di layar hp. Seketika ia takjub melihat bayangan dirinya dicermin. Ia telah kembali ke wajah aslinya yang telah ditutupnya bertahun- tahun. Hanya dengan sihir tingkat tinggi yang bisa membuka jati dirinya yang asli atau bisa juga karena sihir dalam tubuhnya telah lenyap.

__ADS_1


Neta menutup matanya berkonsentrasi merapal mantra.


__ADS_2