Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Rencana pernikahan Termegah


__ADS_3

"Beneran pa, Dariel sudah ketemu?" Tanya Raka memastikan berita yang baru saja dikabarkan papa nya.


"Ya... besok pagi, harusnya Dariel sudah tiba di Jakarta."


"Syukurlah... dek Riel segera kembali." Kesya ikut menimpali.


"Oh ya pa, sebelum Dariel dan Kayra masuk kuliah. Sebaiknya dipercepat saja acara pernikahan nya." Usul Raka.


"Buat acara pernikahan termewah, urusan EO nya biar Departy aja yang handle. Dua tiga hari kalau fokus acara ini saja bisa beres kok." Keke ikut menyumbang usul.


"Kalau papa setuju aja, karena papa percaya Raka bisa mengaturnya. Lagian ini acara adek satu- satunya, mesti dibuat semewah mungkin agar berkesan seumur hidup." Erlangga juga setuju usulan Raka. Sementara Kayra hanya melongo. Kalau dia dan Dariel yang mau nikah aja anteng- anteng aja. Malah orang lain yang heboh? Kayra tersenyum, kalau pernikahan ini harus terjadi ya sudah terjadilah. Saat ini yang Kayra fikir, jodoh pasti akan cari jalan.


"Gimana Ra... kamu setuju kan rencana kakak?" Tanya Raka membuyarkan lamunan Kayra.


"Ya kak, terserah kakak aja. Keputusan kak Raka pasti yang terbaik." Jawab Kayra malu- malu.


"Oke berarti fix ya. Minggu depan acara pernikahannya di Star palace." Raka begitu antusias dengan rencana pernikahan Dariel dan Kayra.


"Tapi kak, tunggu Dariel sampai ke Jakarta dulu baru kita bicarakan ini." Kayra mencoba mencari cara supaya ia bisa menghindari topik itu.


"Aku percaya kok Dariel cinta mati sama kamu Ra. Jadi ia pasti senang mendengar rencana pernikahan ini. Apalagi kalau bisa dipercepat." Jawab Raka serius.


"Emang Dariel pernah cerita sama kak Raka?" Tanya Kayra penasaran.


"Enggak sih... tapi aku bisa tunjukkan buktinya." Raka sungguh- sungguh dalam perkataannya.


"Sekalian aja antar ke kamar Dariel, biar malam ini Kayra tidur di kamarnya. Toh sebentar lagi kamar itu juga akan jadi miliknya." perintah Erlangga membuat Kayra tersipu malu mendengarnya.


Raka mengantar Kayra ke kamar Dariel. "Ra... kamu akan segera tahu maksud perkataan ku tadi bahwa Dariel cinta mati sama kamu." Raka mengantarkan Kayra sampai pintu kamar Dariel di lantai dua.


"Anggap kamar mu sendiri ya Ra..." Aku turun dulu.

__ADS_1


"Trimakasih kak Raka." Kayra membuka pintu dan menyalakan lampu kamar. Seketika pemandangan di depannya membuatnya melongo.


"Ya ampun Riel... apa- apaan ini?" Kamar Dariel penuh poster juga foto berbingkai berbagai pose dirinya.


"Dari mana Dariel punya begitu banyak foto- foto ku? Jadi ini maksud kak Raka kalau Dariel cinta mati pada ku?" Melihat foto juga posternya terpasang memenuhi dinding kamar Dariel membuat Kayra tidak nyaman. Ia merasa jengah dan malu. Ia segera melepas poster dan foto dirinya. Di tumpuknya jadi satu di pojokan ruangan.


"Kalau begini baru nyaman." Gumamnya. Kayra mengambil baju tidur milik Dariel. Tidak nyaman memakai baju bekas kecelakaan tadi siang. Bagaimana kabar jenasah Shinta? apa sudah dimakamkan dengan baik? Kayra bertekat besok ia akan mencari tahu.


Sudah hampir jam dua belas, Kayra tak juga bisa memejamkan mata. Ada banyak hal yang mengganggu pikirannya. Terutama mengenai rencana pernikahannya dengan Dariel. Apakah ini sebuah keputusan yang benar? Bagaimana nanti dengan ibu Neta? Apakah ia akan merestui pernikahan ini? Bagaimanapun ia pengganti ibu dan ayah kandungnya. Keputusan ibu Neta lah yang akan menentukannya. "Entahlah.... biar besok aja aku pikirkan lagi." Gumamnya, Kayra akan segera tidur, saat sepasang tangan memeluknya dari belakang.


Reflek Kayra mengelak dan menoleh ke belakang. "Dariel... kamu sudah sampai?"


"Sssst... jangan keras- keras aku masih di Timika. pesawat ke Jakarta baru berangkat jam tujuh pagi." Dariel duduk dipinggir ranjang. "Cinta kamu kangen aku gak?" Tanya Dariel manja.


"Enggak!" Jawab Kayra ketus.


"Kalau gak kangen ngapain tidur di kamar ku? Trus itu pakai baju tidur ku juga?" Dariel mulai menggoda Kayra.


"Kalau gak boleh tidur di sini aku pulang aja sekarang." Kayra merajuk.


"Ya udah tidur aja." Kayra beringsut ke sisi ranjang dan memberi batas bantal guling diantara mereka. Hari ini cukup melelahkan bagi Dariel juga Kayra hingga tak berapa lama merekapun tertidur pulas. Tidur Kayra terasa nyaman, ia serasa ada yang memeluknya?


"Aaaaa.........?... Siapa kamu?"


Kayra mendorong dengan sekuat tenaga pria yang tidur diranjang bersamanya. pria itu terjatuh ke lantai dengan mengelurkan suara gedebug keras.


"Aduhhhh.... Ra.... ini aku kenapa kamu mendorong ku?" Dariel protes.


"Riel....? Maaf aku lupa kalau itu kamu."


Tok...tok...tok...

__ADS_1


"Kayra.... ada apa ? Apa kamu baik- baik saja?" Suara Raka di depan pintu.


Dariel segera bersembunyi sementara Kayra membuka pintu.


"Iya kak Raka, aku gak papa. Cuma mimpi buruk aja tadi." Bohong Kayra.


"Oh? Apa perlu ditemani Keke?" Raka menawarkan bantuan.


"Nggak usah kak, lagian juga sudah pagi." Kayra beralasan.


"Ya udah kalau gak papa, aku balik ke kamar." Kata Raka sambil berjalan kembali ke kamar sebelah. Diikuti pandangan Kayra yang kuatir ketahuan.


Dariel keluar dari kamar mandi terlihat sudah segar dan wangi.


"Riel kamu sudah mandi?" Hanya dijawab senyum nyengir Dariel.


"Kamu tuch ngagetin aku. Kenapa tadi pake acara meluk segala? Aku kan kaget jadinya?" protes Kayra.


"Aku meluknya dah dari semalam, ngelihat Cinta bolak-balik badan susah tidur, ya aku inisiatif meluk kamu. Nyatanya Cinta langsung lelap?" Kembali Dariel tersenyum tak berdosa.


"Sudah rapi?" Kayra keheranan.


"pesawat terbang jam tujuh, jadi berangkat dari sini jam lima. Tinggal sejam lagi, mestinya mereka sudah bersiap berangkat ke bandara." Dariel kasih penjelasan.


"Hati- hati di jalan ya Riel. Dan maaf aku mendorongmu sampai jatuh ke lantai." Kata Kayra.


"Iya, aku maklum karena kita belum menikah. Kalau udah nikah nanti, banguninnya mesti dengan cara halus ya?"


Goda Dariel. Kayra hanya mengangguk mengiyakan. Mata Dariel tertumbuk pada tumpukan foto di pojok kamar.


"Ra... apa yang kamu lakukan dengan semua foto ini?" Dariel memprotes ulah Kayra yang mencopot semua foto dan posternya. Kayra tersenyum pias.

__ADS_1


"Kalau nantinya aku juga tinggal di kamar ini emang foto- foto itu masih diperlukan?" Jawaban lewat pertanyaan membuat Dariel mengakui calon istrinya memang paling pintar berkelit.


Dariel mendekati Kayra dan memeluknya. "Cuma kamu sudah cukup Ra... aku tidak perlu yang lain." Kecupan pagi mendarat di kening Kayra membuatnya langsung menutup mata. Melihat itu, Dariel melanjutkan kecupannya di bibir Kayra. Baru saja bibir mereka bersentuhan, Kayra reflek mendorong Dariel.


__ADS_2