
Wajah Kayra seketika merah padam dipenuhi amarah. Ia merasa dilecehkan.
Rino yang berdiri dibelakangnya, tiba-tiba mendengar suara neneknya.
"Ingat pelajaran yang telah nenek ajarkan!" Suara nenek Ipah terdengar berbisik di telinganya. Membuat Rino kaget dan menoleh ke arah sumber suara. Ia tidak menemukan neneknya di dekat mereka.
Rino mencoba mencari neneknya dengan sudut matanya di tempat mereka terakhir berpisah. Ia melihat neneknya di sana. Sekali lagi suara nenek Ipah terdengar mendesak.
"Lakukan tugas mu Rino!"
Rino segera memegang tangan Kayra. Ia pun melafalkan sebuah mantra yang sudah dihafalnya di luar kepala. Rino merasa tidak terjadi apa-apa.
Namun ada hal besar terjadi pada Kayra. Kemarahan Kayra seketika pudar. Ia merasakan ada rasa sejuk memenuhi rongga dada nya. Membuat Kayra melupakan peristiwa yang barusan membangkitkan amarahnya. Ia bergegas melewati pria bertato dan mencari bangku kosong untuk dirinya dan Rino. Meninggalkan preman itu yang nampak seperti orang linglung.
Bus pun mulai berjalan pelan meninggalkan terminal. Meninggalkan nenek Ipah dengan semua misteri yang meliputinya.
Kayra menggenggam erat jemari Rino. "Trimakasih ya nak, sudah menjaga mama dengan baik."
"Rino hanya melakukan seperti yang nenek ajarkan." Jawab Rino bangga.
Kayra sangat kagum pada kecerdasan Rino meskipun masih belia sudah bisa menjadi penjaga baginya. Adanya Rino di dekatnya, memastikan Kayra tidak berbuat aneh. Seperti halnya menjadi Ratu Petaka yang menimbulkan banyak kematian karena kabut merah yang keluar dari tubuhnya tanpa disadari.
Kayra memandang keluar jendela bus yang melaju kencang. Terlihat pohon-pohonan berlari menjauh. Hatinya kembali diliputi kegalauan. Bagaimana jadinya nanti kalau Rino tidak cukup kuat untuk bisa menekan amarahnya? Ia benar-benar belum siap kalau terjadi kekacauan seperti sepuluh tahun lalu.
Ada kegentaran mulai merambat memenuhi relung hatinya. Apakah langkah yang ia lakukan saat ini sebuah keputusan yang tepat? Apakah ia harus memperjuangkan cintanya pada Dariel dan menggagalkan rencana pertunangan suaminya dengan saudara tirinya? Kayra menghela nafas kasar.
Kayra mengalihkan perhatiannya pada Rino yang sudah terantuk-antuk menahan kantuk. Sesekali kepala Rino membentur kaca, membuat Kayra merasa kasihan padanya. Diulurkannya telapak tangannya untuk menahan agar kepala Rino tidak terbentur kaca kembali.
__ADS_1
Bus yang ditumpangi Kayra mulai melambat saat memasuki ibu kota. Kemacetan mulai mengular. Hari sudah mulai gelap. Kayra mulai resah, bagaimana kalau ia datang terlambat?
"Rino... bangun Nak, kita mesti turun dari bus." Kayra menggoncang pundak Rino berusaha membangunkannya dari tidurnya yang lelap.
"Mama... apakah kita sudah sampai?" Tanya Rino gelagapan. Ia mengucak matanya dan melihat kesekeliling. Penumpang bus sudah mulai turun.
"Belum... kita mesti naik taxi baru sampai rumah." Kayra membantu membawakan tas Rino. Merekapun bergegas turun dari bus umum.
Kayra sangat bingung saat berada di terminal bus yang sangat luas. Ia mengedarkan pandangannya mencari-cari taxi yang bisa mengantar mereka sampai di rumah besar keluarga Erlangga. Hingga seorang pria ramah menawarkan jasa taxi on line. Tanpa ragu, Kayra dan Rino mengikuti pria itu menuju mobil Avansa hitam yang terparkir cukup jauh.
Kayra segera menyebutkan alamat yang akan mereka tuju. Sang sopir memberi jaminan mereka akan sampai ke tempat tujuan kurang dari satu jam, karena ia sangat mengenal daerah yang akan dituju Kayra dan Rino.
Rino tampak terheran-heran saat naik ke dalam mobil. Baginya ini pengalaman pertama ia naik mobil yang cukup nyaman. Tak henti-hentinya ia memperhatikan bagian-bagian mobil yang menarik hatinya. Kayra hanya tersenyum melihat tingkah putranya.
Sang sopir tidak marah saat Rino mengutak-atik pembuka kaca jendela mobil bahkan malah menawari Rino beberapa bungkus permen yang langsung diambil dan dimakannya. Sepanjang perjalanan, pria itu bercerita banyak tentang keluarga kecilnya yang bahagia juga ia punya keluarga dari Omnya yang tinggal dekat tempat tujuan Kayra. Perbincangan cukup hangat. Bahkan Rino pun sampai tertawa saat si pria menceritakan kisah lucu.
Kayra terbangun, bertepatan saat sepasang tangan menariknya dengan kuat.
"Lepaskan... apa yang mau kamu lakukan?!" Ronta Kayra berusaha melepaskan diri.
Sang sopir dengan galaknya menghardik Kayra agar mau menurutinya. Kayra ditarik menjauhi mobil.
"Manis kalau kau mau menurut, maka anak mu akan baik-baik saja. Tapi kalau kamu melawan, aku tidak akan segan membunuh anakmu! Cepat sini!"
Kayra sama sekali tidak menyangka kalau pria ramah yang ditemuinya di terminal ternyata orang jahat?
"Tolong jangan jauhkan aku dari anak ku!" Kata Kayra mulai gelisah. Ia sangat takut terjadi hal mengerikan diluar kesadarannya.
__ADS_1
"Layani aku, baru kau bisa bertemu anak mu!" Sang Pria sudah mulai membuka sabuk dan celana panjangnya.
Ada pergulatan batin dalam hati Kayra. Ia tidak boleh terpancing amarah. Ia tidak boleh membenci pria jahat ini.
"Kumohon.... jangan jauhkan aku dari anak ku." Kayra menangis mengiba.
"Berisik...!" Pria itu mendorong Kayra hingga jatuh terlentang diatas rerumputan. Kayra memejamkan mata, ia sangat takut melihat hal buruk yang akan terjadi.
Tawa sang sopir terdengar sangat mengerikan. Membuat bulu kuduk Kayra seketika meremang. Pria itu semakin nekat melihat kepasrahan Kayra. Kayra sangat ketakutan akan apa yang bakal terjadi padanya. Kalau melawan, pria itu pasti mati tapi kalau ia berdiam diri pasti jadi korban kejahatan pria itu.
Beberapa saat Kayra menunggu, namun tidak ada yang terjadi. Suasana malam dirasanya sepi tanpa suara apa pun, bahkan jangkrik dan belalang tak mengeluarkan suara sedikitpun.
Kayra memberanikan diri membuka matanya. Nampak sebuah pemandangan mengerikan di depan matanya. Pria yang tadi hendak berbuat jahat padanya sudah terkapar tak bernyawa. Sepasang matanya melotot dan lidahnya menjulur keluar.
Kayra ketakutan, ia segera berlari menuju mobil.
"Rino... ayo bangun nak... kita harus cepat pergi." Teriak Kayra membangunkan Rino yang tak kunjung membuka mata.
Kayra menggapai tubuh Rino dan menggendong di punggungnya. Sementara tangan satunya menyambar tas sekolah Rino yang berisi baju-baju dan buku sekolah.
Buru-buru Kayra membawa Rino pergi dari tempat itu. Tak berapa lama sebuah mobil berhenti dekat Kayra.
"Ada apa Bu..?" Tanya sepasang suami istri dari dalam mobil.
"Anak saya pingsan. Saya harus segera membawanya ke rumah sakit!" Teriak Kayra panik.
"Ayo Bu masuk, kami antarkan ke klinik terdekat!" Wanita itu keluar dan membukakan pintu mobil untuk Kayra.
__ADS_1
"Ibu dari mana? Mengapa sampai berada di tempat sepi ini?" Tanya sang pria penasaran.