
"Bagaimana keluarga kita sampai kena kutukan Bu?" Kayra benar- benar diliputi rasa penasaran. Neta terdiam sesaat, ia mencoba mengingat semua yang diketahuinya tentang kakek dan nenek buyutnya. Kembali Neta menghirup nafas dalam-dalam.
"Leluhur kita dulu, hanyalah seorang petani miskin. Hidup berkekurangan, hingga terpaksa puasa saat tidak ada makanan. Mereka bertahan hidup dengan makan apa saja yang bisa mereka makan. Bahkan untuk tempat tinggal mereka tidak punya. Mereka membuat gubuk yang sebenarnya tidak layak sebagai tempat tinggal. Hingga suatu saat sang suami pergi ke sungai mencari ikan. Hari itu tak ada seekor pun ikan yang masuk dalam perangkapnya. Hingga membuatnya putus asa. Bagaimana mungkin ia pulang dengan tangan kosong. Sementara di gubuk, istrinya yang sedang hamil menunggu hasil tangkapannya untuk makan mereka. Si suami yang sudah capek, semakin lunglai, saat ia memeriksa dua perangkap yang dipasangnya juga kosong. Tinggal satu perangkap lagi yang belum diperiksanya. Ia berharap didalam perangkap ke empat ada ikan di dapatnya. Namun alangkah terkejutnya, saat ia memeriksa bubu nya. Didalamnya ada seekor ular cukup besar. Ia berpikir tidak apa-apa kalau mereka makan ular itu. Toh rasanya juga tidak jauh beda dengan ikan. Si petani mengambil batu besar bermaksud menumbuk kepala ular. Tiba- tiba ular itu bisa bicara, suara samar seorang wanita.
'Sssttt. ..Jangan kau bunuh aku, aku akan berikan kekayaan yang sangat banyak pada mu, kekayaan turun-temurun yang tidak pernah habis. Kamu dan keluarga mu tidak akan menderita lagi. Hanya satu saratnya, kamu dan keluargamu menjadi abdi ku.'
Sebuah tawaran yang sangat menarik, si petani menerima tawaran itu. Dan sejak saat itulah kekayaan melimpah bahkan sampai anak cucunya bergelimangan harta. Itulah kisah keluarga kita Ra. Kekayaan bukan ukuran kebahagiaan seseorang. Lihatlah ibu, jujur... bukan harta yang membuat ibu bahagia. Menikah dengan ayah mu dan memiliki mu itu saja yang membuat ibu bahagia?" Neta menutup kisahnya dengan helaan nafas berat.
Kayra mengeryitkan keningnya, ada banyak hal yang tidak bisa dimengerti oleh nya.
"Kalau kami adalah sumber kebahagiaan Ibu... kenapa ibu pergi, meninggalkan kami ? Dan... semua yang ibu lakukan... aku sama sekali tidak mengerti."
Neta memandangi Kayra, ia terbayang sepuluh tahun lalu. Kayra yang menangis terisak saat ia harus pergi meninggalkannya.
"Kutukan itu mengikat ibu Ra.. Apapun yang ibu sayangi harus ibu korbankan sebagai tumbal. Itulah tuntutan menjadi abdi si jahat." Neta menutup mukanya, berusaha menghilangkan bayang-bayang kengerian kehidupannya. "Sekalipun kita hidup jauh dari kekayaan, kutukan itu tetap bekerja, Beberapa kali ayahmu nyaris celaka, kamu pun juga demikian. Si jahat itu terus menuntut balik pada apa yang telah diberikannya pada keluarga ibu. Sebuah bayaran yang sangat mahal." Neta menggeleng- gelengkan kepala tidak dapat memahami penderitaan yang harus dialaminya.
__ADS_1
"Beberapa waktu aku bisa menipu si jahat. Dengan memposisikan diri mu sebagai anak tiri yang tertindas, si jahat tidak berbuat apapun padamu. Ra... sungguh ibu lelah dengan semua ini. Membenci anak kandung sendiri, sangat menguras emosi. Kalau boleh lebih baik aku mati dengan damai untuk segera menyusul ayah mu. Namun tidak sesederhana itu. Aku akan bertahan hidup untuk melihat mu hidup bahagia lepas dari kutukan keluarga kita. Meskipun sudah banyak cara ibu lakukan, namun sepertinya semua usaha ibu selama ini untuk membebaskan kita dari kutukan hanya berbuahkan kesia- siaan. Tidak ada hasil yang berarti. Bahkan Cerry yang kusiapkan sebagai pengganti diri mu, ia telah berpihak pada si jahat. Pasti ada jalan Ra... kamu bisa hidup normal seperti orang normal lainnya." Neta memberi semangat pada Kayra.
"Ibu... aku tidak pernah tahu beratnya beban yang harus ibu tanggung selama ini." Kayra kembali memeluk Neta.
"Ayah mu selama ini mendukung semua keputusan ibu. Dia sangat pengertian Ra... sekalipun kami berpisah bertahun- tahun, ayah mu tetap setia menunggu ibu. Sampai empat tahun lalu, ia terkena kangker otak. Berbagai pengobatan sudah dijalani namun penyakitnya semakin parah. Saat itulah, ia memanggil ibu untuk datang. Kalau saja ayah mu mau, ibu bisa menyembuhkannya dengan kuasa gelap. Namun ayah mu memilih untuk menghadapi penyakitnya hingga meninggal. Ayah mu tidak ingin engkau terpuruk saat ia meninggal, itulah sebabnya ia berpura- pura jahat padamu." Air mata mengalir dari sudut mata Neta. Ia harus membuka semua tabir yang tertutup selama ini. Meskipun itu akan menyakiti dirinya sendiri.
"Ibu.... aku bersalah pada ayah. Aku sempat marah padanya. Dan bagaimana aku anaknya, tidak tahu sama sekali kalau ayah begitu menderita dengan sakitnya sekian lama?" Kayra merosot, hingga terduduk di lantai. Terisak dalam tangisan penyesalan yang dalam.
"Tidak Ra... ibu lah yang menjadi sumber segala masalah ini. Maafkan ibu." Neta tersedu, menahan perih luka di hatinya. Ketakberdayaannya atas kendali hidupnya lah yang membuat segala kekacauan ini. Kutukan yang terus menghantui hidupnya.
Di luar Cerry berdiri di depan kamar Neta. Hampir saja, Kayra menabraknya. Namun Kayra terus melangkah dan segera berlari menuju kamarnya sendiri. Cerry sangat penasaran akan apa yang terjadi di dalam kamar Neta. Hampir setengah jam ia menunggu di depan pintu mama nya untuk mencuri dengar. Namun tak ada suara apapun yang dapat ditangkap oleh telinganya.
"Ma.... ada apa?" Cerry nyelonong masuk ke dalam kamar Neta.
"Anak itu memohon pada mama minta restu menikah dengan Dariel." Kata Neta tanpa emosi.
__ADS_1
"Terus.... mama kasih restu?" Tanya Cerry semakin penasaran.
"Kasih restu? Gak bakalan, enak banget dia. Mama gak bakalan membiarkan Kayra bahagia."
Penjelasan Neta membuat Cerry menyeringai bahagia.
***
Di kamar Kayra melanjutkan tangisannya. Ia menyesali masa lalunya. Andaikan waktu bisa diputar kembali, ia ingin menyenangkan hati ayahnya. Ingin merawat ayahnya dengan sepenuh hatinya. Kali ini Kayra merasa kehilangan kembali ayah kandung yang sangat disayanginya. Kesedihannya lebih dalam dari saat ayah nya meninggal dua tahun lalu. Kesedihan penyesalan atas ketidak pekaannya pada kondisi penyakit ayah nya saat itu.
"Hiks....hiks... ayah.... kenapa engkau tidak pernah cerita tentang sakit mu??? Ayah ... aku ingin ayah kembali ke sini. Kita berkumpul bersama ibu. Ayah.... hiks.... hiks..." Isakan Kayra menyayat hati.
'Tok... tok..., kriettt...'
Suara pintu kamar dibuka dari luar.
__ADS_1