Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Jurang Pemisah


__ADS_3

"Aaaa....." "Gludug... gludug"


Tubuh Kayra terguling-guling, beberapa kali badan dan kepalanya terantuk batu yang sangat keras. Memberikan rasa sakit menyayat. Luka sobekan di sekujur tubuh dan kepalanya mengalirkan darah segar. Namun ia tidak lalai dan terus memeluk babby M. Ia pun berusaha melindungi babby M dari benturan dengan mengumpankan badannya sendiri.


Jurang itu cukup dalam dan di dasar jurang itu mengalir sebuah sungai yang sedang meluap airnya. Beruntung tubuh Kayra tersangkut pada sebatang akar yang mencuat. Membuatnya terselamatkan dari amukan air sungai yang seakan siap menelan tubuh kecil mereka.


Luka-luka disekujur tubuh Kayra perlahan pulih. Ia pun mulai merambatkan tubuhnya untuk menggapai permukaan tanah yang landai.


Setelah beberapa waktu ia pun berhasil menyelamatkan dirinya. Diantara cerukan batu jurang terdapat sebuah ceruk yang cukup luas dan dalam. Kayra memutuskan untuk tinggal di dalam nya.


Sisa embun malam masih menggantung di ujung dedaunan. Semburat mentari mulai mengintip di ufuk Timur. Kayra jatuh tertidur sambil memeluk Babby M.


***


Dariel terus menyusur jalanan. Ia berjalan kaki menempuh puluhan kilometer. Namun ia tak menemukan sosok yang dicarinya. Keberadaan Kayra seperti hilang tertelan bumi.


Berhari-hari pencarian Kayra tidak membuahkan hasil. Meskipun sudah dikerahkan tim ahli kepolisian namun belum menunjukkan hasil yang berarti. Berbulan- bulan berlalu namun tak ada sedikitpun petunjuk yang menunjukkan keberadaan Kayra.


°°°☆♡♡♡☆°°°


Hari ini tepat sepuluh tahun hilangnya Kayra dan Babby Miracle. Dariel bangun pagi-pagi sekali, ia segera menemui papanya yang masih tidur.


"Pa... Dariel pergi dulu ya." Dariel meraih tangan kanan papanya dan menciumnya. Tangan itu terasa kaku. Dariel meletakkan kembali tangan papanya dengan hati-hati.


Beberapa tahun lalu, anggota tubuh bagian kanan papa Erlangga terkena strock. Membuat Erlangga terbatas mobilitasnya. Sehingga ia sangat bergantung pada bantuan perawatnya.


Dariel sudah putus asa mengusahakan kesembuhan papanya. Beberapa kali ia sudah membawa papanya berobat keluar negeri. Belum membuahkan hasil seperti yang diinginkan. Berdasarkan hasil pemeriksaan ada masalah psikis yang memperlambat pemulihan kesehatan papa nya.


Matahari baru mengintip diufuk timur. Dengan tergesa Dariel segera melajukan mobilnya menyusuri jalanan ibu kota yang cukup sepi. Disebuah kios bunga yang masih tutup, Dariel menghentikan mobilnya. Ia bergegas menggedor pintu kios yang tertutup rapat.

__ADS_1


Seorang wanita paruh baya membukakan pintu.


"Oh tuan Dariel. Saya tidak menyangka kalau Tuan datang sepagi ini. Mohon tunggu sebentar ya Tuan. Beberapa buket bunga masih dalam penyelesaian." Wanita paruh baya itu masuk ke dalam kios dan tak berapa lama keluar kembali membawakan kursi dan secangkir kopi panas.


"Bu... kartu ucapan ini tolong ditaruh di buket bunga pesanan saya." Dariel menyerahkan kartu ucapan yang diambilnya dari kantong jas blezernya.


"Baik Tuan. Silahkan dinikmati kopinya. Saya tinggal dulu ya Tuan." Wanita pemilik kios itu mengangguk sopan pada Dariel sebelum ia kembali ke dalam kiosnya.


Dariel duduk di kursi. Pikirannya kalut. Kedua telapak tangannya dipakainya menutup mukanya. "Ra... aku kangen pada mu. Aku tahu kamu masih hidup Ra..., Ra maafkan aku memilih jalan ini. Semua ini kulakukan semata-mata agar aku bisa menemukanmu dan babby M. Aku berharap ini bukan suatu kesalahan."


Dariel menghembuskan nafasnya kuat-kuat mencoba menghalau ganjalan dalam hatinya. Ia menyeruput sedikit kopi yang masih mengepul. Menghangatkan tenggorokannya.


"Tuan, buket bunga nya sudah siap." Kata seorang pemuda. Anak dari si ibu pemilik kios bunga. Membuyarkan lamunan Dariel.


"Oh ya... tolong tata di bagasi." Dariel segera membuka kunci bagasi dengan remot kontaknya.


"Semua sudah dimasukkan ke dalam mobil tuan. Ini tanda terimanya!" Kata wanita pemilik kios bunga menyerahkan selembar nota.


"Trimakasih ya Bu." Dariel menerima nota dengan tersenyum ramah.


"Tuan, kami yang harusnya berterimakasih. Telah lebih sepuluh tahun, Tuan menjadi pelanggan setia kami. Pastinya istri tuan sangat bahagia menerima buket bunga tanda cinta Tuan. Semoga menjadi keluarga yang bahagia dan berlimpah suka-cita." Kata si ibu pemilik kios bunga.


Dariel mengangguk, ia pun segera pergi meninggalkan kios bunga. Meninggalkan si ibu pemilik kios yang melambaikan tangan tak perduli mobil Dariel hilang dari pandangan.


Dariel berteleportasi dengan mobilnya. Dalam hitungan detik ia sudah berada di daerah Puncak. Tempat yang ditujunya adalah deretan Villa. "Villa BloodMoon" sekarang hanya tinggal bangunan tua dengan tanaman menjalar menutupi pilar-pilarnya. Keindahan dan kemegahan villa itu dimasa lampau telah terganti dengan onggokan bangunan yang hanya tinggal puing-puing sisa kebakaran.


Setelah kejadian berdarah di Villa itu, penduduk desa setempat sangat marah. Mereka beramai-ramai membakar villa sesaat setelah ratusan mayat dievakuasi dari atap rooptop. Pemilik Villa yang tak diketahui siapa sebenarnya pemiliknya juga seakan enggan mengurusi. Sehingga Bangunan yang tinggal puing itu dibiarkan begitu saja.


Dariel mengambil sebuah buket bunga dan meletakkannya di depan gerbang Villa. Air matanya menetes pedih.

__ADS_1


"Ra.. cepatlah pulang. Aku sangat merindukanmu." Bisiknya lembut pada buket bunga mawar kuning kesukaan Kayra.


Dariel membawa beberapa buket bunga dan meletakkannya disepanjang jalan Villa. Saat ia melalui jalan yang berbatasan dengan jurang. Ia melemparkan sebuah buket bunga ke dalamnya.


"Ra... kenapa mesti ada jurang yang selalu menjadi pemisah diantara kita?" Tangis Dariel pecah. Ia tidak bisa lagi menahan hatinya. Ia menumpahkan tangisannya beberapa lama hingga air matanya mengering sendiri.


Dariel berjalan gontai, kembali ke mobilnya. Semua buket telah disebarnya di sekitar puing villa BloodMoon. Sebelum Dariel meninggalkan tempat itu, sekali lagi ia menoleh, memandangi buket-buket bunga itu dengan penuh harapan. Ia tahu meskipun ia telah melakukan hal itu berkali-kali selama sepuluh tahun ini, masih selalu ada harapan di hatinya. Suatu saat, Kayra akan melihat mawar kuning itu dan kembali pada nya lagi.


Dariel segera masuk ke mobilnya dan berteleportasi kembali ke Jakarta. Hari ini ada banyak pekerjaan yang harus dikerjakannya.


***


Jam dua belas siang, segerombolan anak SD nampak berjalan melalu jalanan Villa. Saat mereka melalui depan puing bangunan Villa BloodMoon. Anak-anak itu saling berpandangan, dan tak berapa lama tanpa menunggu aba-aba mereka lari terbirit-birit.


Setelah cukup jauh mereka baru menghentikan larinya.


"Aku sudah bilang kan? Jangan lewat jalan itu. Angker...!" Kata seorang anak dengan kesal.


"Hahaha... tapi seru! Kalian lihat tadi. Ada banyak bunga diletakkan di sana. Itu pasti dari suami yang mencari istrinya yang hilang itu."


"Kamu Sep... sok tahu aja." Timpal temannya tidak percaya pada perkataan Asep, anak pembekal.


"Kalau gak percaya tanya Bapak ku." Kata Asep penuh percaya diri.


Lima anak SD itu akhirnya tertawa. Namun tawa mereka segera terhenti saat Asep tertegun melihat Rio. Pandangan Asep menunjukkan sorot mata ketakutan.


"Rino... kenapa kamu ambil bunga itu? Bunga itu penuh kutukan! Kembalikan! Kalau tak kamu kembalikan Roh penunggu villa akan marah dan memakanmu!" Teriak Asep ketakutan. Ia pun berlari diikuti teman-temannya. Sementara Rino hanya bengong melihat teman-temannya yang terlihat konyol.


"Bunga ini untuk mama Rara. Ia pasti akan senang nanti." Rino memeluk buket bunga itu di dadanya dan berlari menuju ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2