
"Tidak... jangan kau apa-apakan bayi ku. Berani kau melangkah lagi aku tidak akan segan membunuhmu!" Ancam Kayra sungguh-sungguh. Namun tidak digubris oleh pria bertudung merah itu yang seakan mengejek Kayra dengan tawa seraknya.
"Hahaha... kau kira bisa mengancamku? Kau sudah berhasil ku lumpuhkan. Ada racun dalam tubuhmu! Hahaha..." Tawa sang Pemimpin sangat puas dengan rencananya yang selama ini berjalan lancar.
Sang Pemimpin mengulang ritualnya membaca mantra sambil mengitari Kayra tujuh kali. Kali ini ia membaca mantra dengan suara yang lebih lantang. Kayra berteriak-teriak berusaha memecah konsentrasi sang pemimpin. Namun usahanya tak membuahkan hasil. Sang pemimpin tak bergeming, tetap berkonsentrasi membaca mantra meski Kayra berteriak sekuat-kuatnya hingga membuat tenggorokannya terasa nyeri.
Setelah putaran terakhir Sang Pemimpin menghampiri babby M yang masih saja menangis. Belati perak kecil berkilat menunjukkan ketajamannya. Dengan secepat kilat belati itu menghujam kearah babby M.
"Bleshhh" Belati kecil itu melesak ke dalam kain merah pembungkus bayi. Ada cairan pekat merembes membasahi kain merah itu. Babby M menangis kencang dan terdiam tiba-tiba.
Kayra panik, marah dan hancur. Membuat instingnya sebagai seorang ibu seketika bangkit. Ia tidak terima ada yang mencelakai bayi tercintanya. Memicu amarah Kayra meluap. Ia tidak bisa lagi berdiam. Dengan mengerahkan seluruh kekuatannya ia berteriak sekeras-kerasnya.
"Matilah kau pembunuh!" Teriakan penuh amarah Kayra kembali mengguncangkan bangunan di bawah mereka. Kali ini kekuatan goncangannya lebih kuat, hingga membuat lantai rooftop dan dinding seketika retak.
"PYARRR"
Tak berapa lama terdengar pecahan kaca dari arah atas rooftop. Rupanya tabir magis yang dibuat Sang Pemimpin hancur berkeping-keping. Suaranya pecahan kaca begitu keras namun tidak menyisakan serpihan pecahan kaca sedikitpun.
Hampir dua puluhan pria bertudung merah yang tadinya mengitari Kayra, semuanya terhempas roboh ke lantai. Pria-pria itu seketika tewas dengan cara yang aneh. Tubuh mereka kejang, mata melotot. Mereka tiba-tiba memegangi leher, seakan berusaha melepaskan sesuatu yang mencekik mereka. Sang Pemimpin pun kembali jatuh terhempas. Namun ia masih bisa kembali berdiri.
Jubah merahnya terkoyak, tudung yang selama ini menutupi sebagian wajahnya terbuka. Wajah Sang Pemimpin berangsur berubah.
__ADS_1
Kayra terkejut saat melihat perubahan wajah Sang Pemimpin. Perlahan-lahan, wajah pria dan juga tubuhnya dikenali Kayra sebagai orang yang sangat dikenal dan dicintai Kayra.
"I...i...ibu Neta?" Kayra tergagap. Ia tidak menyangka pada apa yang dilihatnya. Apakah orang di depannya benar-benar ibunya? Bagaimana bisa ibu kandungnya yang melakukan ini?
Neta dengan penampilan kacaunya. Baju koyak-koyak dan lengan kirinya mengeluarkan darah. Berusaha terus meringsek maju mendekati Kayra yang masih terikat.
"Stop Jangan mendekat ibu! Aku hanya perlu jawaban ibu. Setelah itu aku akan sukarela menyerahkan nyawaku pada mu.! Mengapa ibu harus melakukan ini? Bukankah aku ini anak kandung mu?" Tanya Kayra dengan sia-sia menahan air mata yang seketika meluncur deras membasahi pipinya.
Hati Kayra terasa sakit. Selama ini ia sudah sangat bahagia mendapatkan kembali kasih sayang ibu kandung yang telah lama dirindukannya. Bagaimana bisa ibu kandungnya sendiri membunuh cucu juga dirinya?
"Ibu... Kayra cinta sama ibu. Bukankah ibu telah lepas dari kutukan? Mengapa ibu melakukan semua ini pada Kayra juga babby M? Tidakkah ibu mencintai kami?"
"Hahahahahha.... aku hanya cinta kekuatan. Kalian tidak berarti bagi ku. Aku hanya ingin Mahendra kembali padaku." Ada kesedihan dalam nada suara Neta.
"Ibu, sadarlah! Ayah sudah meninggal dan ayah sudah tenang bersama Tuhan. Apa maksud Ibu kalau ayah menghianatimu? Bukankah ayah tidak pernah menduakan Ibu?" Tanya Kayra tidak mengerti.
"Semua gara-gara kamu! Aku membenci mu! Aku akan membunuh mu!" Tuding Neta pada Kayra.
"Ibu... ?"
"Mahendra lebih mencintaimu dari pada aku. Ia pilih mati dari pada mengorbankan mu?"
__ADS_1
"Ibu, apa maksud ibu?" Kata Kayra tergagap. Hatinya terasa pedih mendengar pengakuan ibu yang sangat disayanginya.
"Mahendra sakit. Hanya dengan membunuh mu dia bisa disembuhkan. Namun Mahendra tidak mau. Hari ini saat bulan darah kembali dengan sinar magis nya, aku akan membangkitkan Mahendra dengan mengorbankan kamu. Hahahaha." Tawa mengerikan memecah kesenyapan malam.
"Ibu, tolong jangan lakukan itu. Biarkan ayah tenang di alam kuburnya. Karena bila sudah waktunya nanti, kita akan menyusul ayah ke sana." Bujuk Kayra berharap ibunya tidak melakukan kegilaannya. Kayra tidak percaya kalau ibunya bakalan bisa menghidupkan ayahnya kembali. Namun ia takut kalau arwah ayahnya sampai tersiksa.
"Rara kau memang bodoh. Hati mu yang lemah itu akan menjeratmu. Kau tidak pantas menjadi ratu. Hanya dengan mengambil jantungmu aku akan punya kuasa penuh. Aku akan bisa melakukan apapun yang ku mau. Hahaha." Seringaian mengerikan tersungging di bibir Neta. Diambilnya belati perak yang tadi sempat terlempar. Neta tanpa ragu mengangkat tinggi belatinya bersiap menghujamkannya ke tubuh Kayra.
Kayra terkesiap, ia tidak ingin mati. Saat ini yang difikirkan adalah arwah ayahnya. Ia tidak mau, kalau nasib ayahnya seperti arwah-arwah yang berteriak minta tolong padanya. Ia ingin ayahnya damai di alam kuburnya.
"Tidak... jangan ibu! Jangan... jangan bunuh aku." Isakan Kayra berusaha menghentikan ibunya yang seperti orang kerasukan. Belati Neta terayun.
"Tidakkkk...." Teriak Kayra putus asa.
Teriakannya menyelamatkan Kayra dari hujaman belati Neta. Tiba-tiba Neta terpental, hingga ia terhempas ke lantai rooftop yang kasar. Darah segar mengalir dari bibirnya.
Tali-tali pengikat yang selama ini mengikat erat Kayra tiba-tiba luruh. Seperti tali rapuh yang putus dan jatuh begitu saja. Kayra segera berjongkok mengambil babby M. Ia memeriksa keadaan Bayi kecil yang tampak begitu mengenaskan. Ada luka yang cukup lebar di dada bayi mungil itu. Namun ajaibnya, bayi itu masih bernafas.
Kayra segera menyalurkan kemampuan khususnya, ia berusaha menyembuhkan babby M. Tanpa di sadarinya, Neta telah kembali mendekatinya dengan tertatih-tatih. Neta menikamkan belati di punggung Kayra. Namun tiba-tiba seberkas cahaya merah keluar dari tubuh Kayra. Serta merta membungkus tubuh Neta.
Kayra menoleh kebelakang saat mendengar suara orang tercekik mengerikan. Ia sangat terkejut saat melihat keadaan ibu Neta. Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu telah terbujur kejang dengan mata melotot, kaki dan tangan terlihat kejang.
__ADS_1
"Ibu... apa yang terjadi?" Kayra panik dan bergegas mendekati ibunya.
"Ka...u.... ra... tu.. pem... ba... wa pe...ta...ka!" Neta memaksakan diri mengatakan kata-kata terakhirnya. Meskipun tersendat. Neta pun menghela nafas panjang dan nyawanya tercabut dari raga.