Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Bulan Darah


__ADS_3

"Pa minta no kontak Rahardian?" Dariel mengeluarkan ponsel dari kantong celananya.


Erlangga mengambil ponselnya dan mengirimkan nomer kontak Rahardian.


"Riel... papa harap kamu berhati-hati ya?" Pesan Erlangga sebelum Dariel pergi keluar rumah.


"Iya Pa, Dariel akan jaga diri. Doa kan supaya pencarian kali ini berhasil." Pamit Dariel. Ia pun berjalan menuju kehalaman rumah. Kali ini ia berencana mencari Kayra dengan perjalanan normal.


Sambil berjalan keluar rumah ia menghubungi Rahardian, meminta share lokasi. Tak berapa lama ada notif pesan masuk. Dariel buru-buru mengecek nya. Ia segera memastikan lokasi yang baru diterimanya.


Dariel memasuki mobil dan segera melajukannya meninggalkan halaman rumah. Saat ia berada di jalan tol sepi. Ia berkonsentrasi membawa mobilnya berteleportasi. Dalam sekejab mata ia sudah berada di jalanan kompleks villa Bogor.


Dariel memperlambat laju mobilnya. Ia mulai memeriksa satu persatu villa yang berjajar di sepanjang jalan Puncak. Hingga terlihat sebuah villa besar tiga lantai dengan tulisan besar di gerbang pintu masuk yang tertutup.


"BLOOD MOON"


"Kayra apakah kamu di dalam villa itu?" Gumam Dariel lirih. Ia hanya bisa berharap, pencariannya kali ini bisa membuahkan hasil. Ia inginberkumpul bersama dengan istri juga anaknya.


Konsentrasi Dariel terganggu oleh lampu sign mobil yang terparkir seratus meter di depannya. Lampu sign mobil itu berkedap-kedip menarik perhatiannya. Dariel mendekati mobil itu dan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.


Seorang pria nampak berjalan keluar dari dalam mobil dan menghampirinya. Lamat-lamat ia mengenali pria berjaket kulit hitam itu. Dariel menurunkan kaca mobilnya.


"Masuk !" perintah Dariel saat pria itu melongokkan kepalanya di celah kaca mobil.


Rahardian menuruti perintah Dariel. Dengan hati-hati dibukanya pintu mobil, ia masuk dan duduk di sebelah kusir pengemudi.


"Ada berita terbaru?" tanya Dariel saat Rahardian sudah duduk di sampingnya.


"Iya Tuan, tadi Hadi baru mengabari saya kalau ada seorang wanita disekap di sebuah kamar. Juga ada kabar kalau malam ini mereka akan mengadakan sebuah ritual saat bulan darah tepat muncul." Lapor Rahardian.


"Hadi ? Apakah ia salah satu anak buah mu yang menyamar?" Selidik Dariel.

__ADS_1


"Iya tuan." Jawab Rahardian ragu.


"Siapa Hadi? Seharusnya kamu pastikan. Supaya jangan sampai ternyata ini sebuah jebakan." Kata Dariel tegas.


"Maaf Tuan, sebenarnya saya mengenalnya tidak sengaja. Dia cerita kalau dia hanya iseng mencari pekerjaan dan saat mendapatkannya ia berada di sekelompok kumpulan orang misterius." Rahardian tidak menyangka tuan muda Dariel sangat teliti menanyainya.


"Apakah sekarang kamu bisa menanyai Hadi? Suruh dia memastikan wanita yang di sekap apakah benar-benar Kayra? Juga suruh dia mengirim foto pimpinan mereka."


Rahardian segera mengetikkan pesan dan mengirimkan pada temannya yang berada di villa.


Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya ada balasan.


"Tuan muda, ini balasan dari Hadi." Kata Rahardian seraya menyodorkan ponselnya pada Dariel. Dariel segera menerima dan membacanya. Ia mengerutkan dahi, seperti sedang berpikir keras. Akhirnya ia mengetikkan sesuatu dan mengirimnya. Selang tak berapa lama, ada balasan.


Dariel mengembalikan ponsel Rahardian. "Apakah ada villa disamping Bloodmoon yang kosong?"


"Iya tuan, villa di kiri dan kanan Bloodmoon dua-duanya kosong."


"Baik Tuan." Rahardian keluar dari mobil Dariel. Ia mencari tempat persembunyian yang bisa mengawasi dengan lebih jelas jalan masuk ke dalam villa bloodmoon.


Dariel mengendap-endap, saat ia menemukan dinding tergelap, ia pun berteleportasi masuk ke villa bloodmoon.


Sementara itu di dalam villa terlihat keributan. Seorang pria dipukuli rekan-rekannya.


"Ada apa ini?!" Teriak lantang sang pemimpin menghentikan keributan.


"Ampun.. Sang Pemimpin, ada penghianat. Orang ini memberikan informasi pada orang luar." Lapor salah satu anggota dengan suara berapi-api.


"Apakah perlu kita bunuh sekarang?" Tanya pria yang lain.


"Sekap saja dia di kamar gelap. Setelah ritual aku perlu informasi darinya." Kata Sang Pemimpin tegas. Membuat tiga pria berjubah hitam bersegera menyeret si penghianat menjauh.

__ADS_1


"Sebentar lagi ritual akan dilangsungkan. Hah... akhirnya aku akan segera mendapatkan kekuatan besar. Hahahah." Tawa serak sang pemimpin membahana di lorong lantai tiga.


Sang pemimpin segera masuk ke ruangannya. Ruangan operator yang sekaligus menjadi ruang pribadinya. Ia berjalan cepat, hingga tak menyadari sesosok tubuh terbaring dilantai. Saat tak sengaja ia tersandung tubuh itu, ia mengumpat keras.


"Anak buah tak becus kerja. Bagaimana bisa mereka belum membuang mayat ini?! Heh...biar saja sejam lagi aku bisa segera mulai ritual. Aku harus pastikan, kali ini semua berjalan mulus seperti rencana.


"Tok...tok..tok"


"Permisi Sang Pemimpin, Sang Ratu sudah saya siapkan di rooftop." Lapor Alex takzim.


"Bagus, aku akan segera bersiap."


Alex segera kembali ke rooftop untuk memastikan Kayra tidak lepas. Ia sengaja memakai topeng, karena sebenarnya ia takut dikenali Kayra dan gadis itu membencinya. Sesungguhnya Alex masih sangat mencintai Kayra. Bahkan saat ia mencuri pandang ke arah Kayra yang saat itu diikat kuat di sebuah pilar kayu. Masih ada rasa bergetar. Terlebih saat ia melihat Kayra tampak sangat cantik dengan balutan gaun malam berwarna merah darah.


Kayra nampak pasrah. Ia tidak berusaha meronta ataupun melepaskan diri. Pemandangan itu membuat Alex jatuh iba. Ia benar-benar tidak tega melihatnya. Air matanya menitik di ujung mata.


Disatu sisi, ada kuncup cinta yang mulai bersemi di hatinya. Namun satu sisi yang lain, bagaimanapun ia tidak bisa berkhianat pada sang Pemimpin. Ia sangat takut akan konsekuensi yang akan dihadapinya saat ia berkhianat. Alex sangat mengenal sang pemimpin. Kekejaman dan kehebatannya dalam hal supranatural tak bisa diremehkan.


Alex beringsut, memilih berdiri dibarisan belakang pria-pria bertudung hitam yang mengelilingi pilar tempat Kayra diikat. Ia tidak sanggup berlama-lama melihat Kayra yang seperti sudah siap untuk dikorbankan.


Hari sudah menunjukkan jam dua malam, bulan darah telah menampakkan wujudnya. Secara kasat mata hanya nampak seperti bulan purnama pada umumnya. Namun kali ini cahayanya lebih redup dan kemerahan.


Sang pemimpin tampil ke tengah-tengah lingkaran. Tangan kirinya memegang buntalan kain merah. Nampak sesuatu bergerak-gerak dibalik kain itu. Buntalan itu lebih mirip bentuk bedongan bayi.


Kayra terkesiap saat melihatnya. Apakah dalam ritual ini ada pengorbanan bayi juga? Tiba-tiba saja jantung Kayra berdegup keras. Ada kengerian yang tiba-tiba menikam jantungnya. Ia tidak menyangka bukan hanya dia yang akan dikorbankan.


Buntalan kain merah itu semakin intens bergerak-gerak. Sepertinya sesuatu di dalamnya berusaha melepaskan diri.


"Oe....oek...oek" Tangisan keras bayi memecah kesunyian malam.


Jantung Kayra semakin berdegup kencang. Suara tangisan semua bayi mungkin terdengar sama. Namun Kayra merasa kalau suara bayi itu milik...

__ADS_1


"Babby M...?!"


__ADS_2