
Dengan raut muka marah Neta menegur Kayra.
"Aku menyuruh bik Sari. Kenapa kamu yang datang Ra..? Kamu sudah dapat fasilitas dan juga ku beri pembantu apa kamu gak suka? Kamu ingin dikembalikan ke posisi mu sebelumnya?" Cerocos Neta membuat Kayra gentar.
"Tidak Bu... Kayra hanya ingin menyenangkan ibu saja. Kayra bersyukur dengan kebaikan yang Kayra sudah dapatkan. Kayra tidak ingin diperlakukan seperti dulu."
"Kalau begitu jangan kerjakan pekerjaan pembantu.!" Bentak Neta.
"Melayani orang yang disayangi, bukan pekerjaan pembantu. Kayra melakukannya karena kasih." Kayra mencoba menjelaskan.
"Setelah semua yang ku lakukan? Rara masih bisa menyayangi ibu?" Neta ingin memastikan perkataan Kayra kepadanya.
"Kayra tidak pernah membenci ibu." jawabnya lirih. Namun cukup jelas terdengar di telinga Neta. Mengundang seberkas perasaan hangat mulai mengetuk hatinya. Sekelam dan segelap apapun hidup Neta, ia juga seorang ibu yang hatinya halus dan sensitif. Juga pasti mengharapkan kasih dari seorang anak. Membuatnya melepaskan senyum pada Kayra. "Makasih ya Ra... , kamu memang anak yang baik." puji Neta tulus.
Kayra tersenyum, entahlah pujian sesederhana itu sudah membuat nya sangat bahagia.
"Kayra juga berterimakasih karena ibu telah jadi keluargaku. Oh ya Bu makanannya segera dimakan ya... takutnya keburu dingin." Kata Kayra mengingatkan.
"Ya... Ra.... kamu perhatian banget nak."
Neta segera menikmati makan malamnya. Kayra masih bertahan duduk di sofa sebelah Neta. Ingin rasanya dia menyuapi ibu tirinya, dikalahkan rasa segan membuatnya hanya memandangi Neta.
Saat Neta akan mengambil jus apel agak jauh dari jangkauan, Kayra dengan sigap membantu mengambilkannya. Bersamaan Cerry masuk ke dalam kamar mamanya. Ia membawa beberapa paperbag. Melihat kebersamaan Kayra dan mamanya membuat Cerry cemburu.
"Kayra, aku dah datang jadi mama dah ada teman. kamu boleh kembali kekamar." Dengan halus Cerry mengusir Kayra.
"Baiklah... sekalian saya bawakan piring kotornya ke dapur." Kayra segera berlalu pergi. Di dapur ada Bik Sari yang menunggunya dengan harap - harap cemas.
"Non, nyonya Neta gak marahkan?" Tanya bik Sari cemas.
"Enggak bik, aman." Jawab Kayra sambil hendak mencuci piring. Seketika di ambil alih bik Sari.
__ADS_1
"Udah, Non istirahat saja. Biar bibik sekalian beresin cuci piringnya." Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Ya... sebaiknya aku segera ke kamar, siapa tahu ada telephon atau pesan dari kekasihku." Batin Kayra sambil melangkah ke kamarnya. Tak lupa ia memberikan pelukan dan ciuman sayang pada bik Sari.
Ada notif pesan masuk pada ponsel Kayra. Dua pesan masuk.
"Met malam cintaku.... lagi apa nich?"
"Kenapa ya... sekalipun baru ketemu siang tadi, malamnya tetap aja kangen? hehehe"
Isi pesan dari Dariel. Membuat Kayra senyum - senyum sendiri.
"Sayang... met malam juga, aku lagi balas pesanmu nich." Balas Kayra.
pesan terkirim dan langsung ada telephon masuk. Kayra seketika tertawa mengetahui siapa penelephonnya. Dariel. Segera diangkatnya.
"Halo sayang.... dah kangen lagi yach?"
"Iya... aku dah kangen pakai bangetz malah." Kata Dariel merayu.
"Cinta, bener kamu gak kangen sama aku?"
"Siapa yang bilang kalau aku gak kangen sama kamu?" Kayra mengelit
" Tadi katanya gak rasa?" Dariel sudah mulai mencium keusilan Kayra.
"Hehehe emang rindu bisa dimakan? jadi ya gak rasa lah." hahahah Kayra tertawa lepas.
"Cinta vcall ya.. pingin lihat wajah cantik kamu." Dariel benar - benar tidak bisa menahan rindunya.
Mereka pun lanjut saling melemparkan kata - kata cinta. Gak terasa hampir dua jam. Kalau obrolan mereka dituliskan sudah
__ADS_1
bisa menjadi lima episod chat story. percakaan mereka terputus saat hp Kayra tiba - tiba mati karena lowbatt. Kayra segera mencharge hpnya. Ternyata jam dinding sudah menunjukkan jam dua belas malam. Saat hp sudah bisa dinyalakannya kembali ia segera mengirim pesan.
"Sayang Dariel.... maaf ya, hp aku lowbatt. Met istirahat sayang."
"Met malam juga, mimpiin aku Cinta. I love you. muachhhh...." balas Dariel.
"I love u too." Kayra segera meletakkan hpnya. Senyum bahagia terlukis pada wajahnya yang cantik. Ia segera gosok gigi. Sudah larut malam, Kayra harus segera tidur. Ia pun merebahkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut.
Baru saja, ia memejamkan matanya. Kayra terusik oleh suara berisik yang tidak biasa. Ia mendengar desahan.... teriakan - teriakan yang tercekat di tenggorokan dan jeritan - jeritan kesakitan. Suara - suara itu berputar di kepalanya. Membuatnya serta merta membuka matanya. Seketika tengkuknya meremang, tangan dan kaki - kakinya gemetaran. Apa yang dilihatnya suatu pemandangan yang sangat mengerikan.
Ia berada di sebuah goa atau lebih tepatnya sebuah lubang pembantaian. Ia melihat ada orang - orang berpakaian serba hitam sedang melakukan penganiayaan pada dua orang yang terantai di tembok. Seorang wanita dan seorang pria, memakai baju layaknya pembesar kerajaan jaman dulu. Mereka berusaha saling melindungi, namun tak juga bisa menghindar dari pukulan kayu yang membabi buta. Tubuh mereka penuh luka, darah merembes dari luka - luka itu. Darah berceceran... suara - suara kesakitan semakin menyayat hati. Kayra ingin lari, namun tubuhnya serasa dipaku. Ia tidak bisa sekalipun hanya untuk menggerakkan kakinya saja.
Kayra hanya bisa jadi penonton saja tidak bisa berbuat apa - apa. Ada rasa mual menggelitik diperutnya. Sekali lagi, tak ada yang bisa diperbuatnya. Ia ketakutan, sekaligus merasa kasihan kepada orang yang telah dianiaya. Tapi Kayra tak berdaya bahkan lidahnya kelu tak bisa berkata ataupun berteriak.
"Brukkkk" Suara tubuh terjatuh dengan kerasnya. Dua orang yang baru dianiaya pria dan wanita itu terjatuh dan tak sadarkan diri, atau mungkin mereka telah mati? Kayra terhenyak.
Tiba - tiba empat orang berbaju hitam yang baru saja menganiaya itu berbalik serempak dan menghadap pada Kayra. muka mereka tertutup tudung hitam. Salah satunya menunjuk Kayra dengan jari - jarinya yang tinggal tulang. Tak ada sedikitpun daging yang menempel disana. "Kamu selanjudnya...!!!" Teriakan mereka serempak. Empat orang itu mendekati Kayra. Aroma busuk menguar diudara seiring helaan nafas mereka. Membuat Kayra tersedak kehabisan udara.
Hosh...hosh....hosh
Kayra menggerakkan tangannya mencoba mengusir orang - orang berbaju hitam itu. Namun sia- sia mereka semakin mendekati Kayra. Mereka mengayunkan batang kayu kearah Kayra. Batang kayu itu seketika berubah menjadi tulang- tulang kaki dan tulang tangan manusia.
"Tidakkkk..... " jerit Kayra putus asa. Seketika ia melihat ada cahaya yang menyilaukan mata. Ia mencoba menghalagi sinar itu dengan telapak tangannya. perlahan- lahan sinar itu meredup. Kayra menurunkan tangannya dan mencoba mengintip sumber cahaya itu. Sebuah jendela kaca dengan kain horden yang sedikit tersibak, hingga cahaya matahari leluasa menerobos ke dalam kamarnya. Kayra melayangkan pandang dan mengamati sekelilingnya. Ia ada di kamarnya sendiri.
"Hhhhh untunglah cuma mimpi" desah Kayra lega.
Tidak berapa lama ia kembali dikejutkan suara berisik di luar kamar. Suara bik Sari, Mang Ujang, Neta dan Cerry. Didorong rasa penasaran Kayra segera keluar kamar tanpa mencuci muka terlebih dulu.
"Ada apa?" tanya Kayra penasaran.
"Itu non .... di depan ada bangkai ayam hitam, badannya tercabik - cabik terus digantung di pagar depan." Mang Ujang menjelaskan.
__ADS_1
"Apa mungkin ada orang yang sengaja melakukan itu untuk meneror kita ya Ma?" Tanya Cerry berspekulasi.
Bik Sari dan Mang Ujang saling berpandangan melempar rasa ngeri.