Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Sate Hati Ayam, Mau??


__ADS_3

"Ra.... kamu sudah menyembuhkan ku." Dariel terbangun dari pingsan nya. Ia pun duduk di atas rumput taman. Memandang Kayra dengan kekaguman.


"Ra... kamu dah banyak kemajuan. Gunakan kemampuan khususmu semata - mata untuk kebaikan. Jangan pernah menyombongkan diri ataupun untuk pamer. Ingat selalu berhati - hati dan bijaksana dalam menggunakannya." pesan Dariel membuat Kayra terharu.


"Ya Riel... aku akan melakukan semua nasehatmu."


"Ra... kamu harus terus belajar ya..? Supaya lebih seru kita bikin tantangan. Setiap aku berhasil masuk dalam pikiranmu kamu harus membayar sesuatu pada ku..? Gimana? Mau gak terima tantangan ku?" Kayra tersenyum menerima tantangan dari kekasihnya.


"Oke... siapa takut?" Sambut Kayra penuh percaya diri. "Tapi aku gak punya uang Riel. Dengan apa aku membayar kalau sampai kalah?" Tanya Kayra penuh keraguan dalam nada suaranya.


"Gampang.... kamu tinggal lakuin apapun yang aku suruh. Gimana? pasti bisa kan?"


"Oke. deal" Mereka bersalaman sebagai tanda dimulainya tantangan Dariel.


"Ra...hari dah mulai gelap, aku dah rasa lapar." Dariel mengelus perutnya yang terasa mulai perih karena lapar.


"Mau makan apa Riel ?" Tanya Kayra.


"Makan di luar aja ya Ra... aku ingin makan soto lamongan. Gimana kamu Ra... ingin makan apa?" Tanya Dariel. Kayra langsung berbinar saat mendengar menu makanan favoritnya di kota pahlawan. Sebuah warung sederhana di Surabaya yang mereka kunjungi seminggu lalu. Kayra masih mengingat begitu nikmatnya soto ayam lamongan. Apalagi dimakan bersama sate telur muda, rasanya nikmat dan sangat berkesan bagi Kayra.


"Aku juga ingin soto lamongan Riel." Kayra sangat antusias menyebut menu spesial ini. Ia sudah mulai membayangkan bubuk koya sangat gurih membuat rasa soto semakin spesial. Sate hati ampela juga bisa menjadi pelengkap yang nikmat, terlebih ceker setan yang tidak bisa dilupakannya.


"Kita naik GoCar aja, apa jalan kaki ya? tempatnya sekitar satu kilo aja dari sini."

__ADS_1


"Bukan yang di Surabaya itu ya Riel?" Kayra salah sangka, ia kira Dariel akan mengajaknya ke Surabaya. Ternyata masih disekitaran dekat villa yang mereka tinggali. Kayra sedikit kecewa karena tidak seperti yang diharapkannya.


"Nggak... dibawah itu." Tunjuk Dariel kearah sederet bangunan sederhana di bawah bukit.


"Riel... apa boleh kita makan yang di Surabaya tempo hari?" Tanya Kayra penuh harap. Berharap Dariel mau mengajaknya kembali ke warung soto Ayam Lamongan di jl dr Sutomo Surabaya, tempatnya tidak terlalu jauh dari Taman Korea. Kayra sangat ingin makan soto ayam di sana. Membuat Dariel mengiyakan dengan mudah.


"Oke, gak masalah. Mau berganti baju dulu ?" Tanya Dariel.


"Gini aja ya... Riel. Kita berangkat aja sekarang dari pada nanti kemalaman trus kehabisan?" Kayra tidak ingin kesempatan makan soto ayam kali ini sampai tertunda lagi. Hingga ia sangat ingin bersegera ke sana.


"Oke. Siap - siap!" Dariel menggandeng tangan Kayra dan membawanya berteleportasi. Mereka tiba di sebuah rumah tua tidak jauh dari warung soto lamongan favorit Kayra. Mereka melangkah dengan tetap bergandeng tangan. Sampai mereka masuk ke dalam warung soto yang cukup sederhana.


Sekalipun tempatnya cukup sederhana, kebersihan tempat sangat terjaga. Juga pelayanan nya cukup ramah. Kayra memesan satu porsi soto ayam sementara Dariel memesan soto Babat. Kayra mengambil dua tusuk sate telur muda, satu tusuk sate hati rempela juga satu porsi ceker setan. Ceker setan itu nama makanan biasa, bukan hal - hal bersifat mistis. Ceker setan adalah kaki ayam yang setelah dibersihkan kuku dan kulitnya, direbus dan diberi bumbu dengan cabe giling yang sangat banyak. Sehingga saat dimakan memberikan sensasi sangat pedas namun sangat nikmat.


Dariel mencubit pipi Kayra karena gemas, melihat Kayra begitu lahap makan.


"Aduh.... sakit Riel, kenapa kamu mencubit ku?" Tanya Kayra sewot. Ia tidak tahu menahu kesalahannya kenapa sampai ia dicubit. Bekas cubitan Dariel terasa sedikit perih. Kayra segera mengusap pipinya untuk menghilangkan rasa pedih bekas cubitan Dariel.


Masih dengan sedikit kesal, Kayra melanjutkan makannya. Terganggu deheman Dariel.


"Ehm... gitu ya? kalau makan gak ngajak - ngajak. Makan dihabisin sendiri." Sekali lagi Dariel mencubit pipi Kayra.


"Udah jangan cubit - cubit. Riel mau sate? Aku ambilin ya?" Kayra sedikit gondok karena Dariel terus iseng mencubit pipinya di depan orang banyak.

__ADS_1


"Nggak... aku nggak suka sate hati ayam." Dariel bergidig ngeri membayangkan rasa hati ayam yang aneh yang auto bikin perutnya mual.


"Riel... kamu harus mencobanya. Ini enak sekali." Kayra menyuapkan sepotong hati ayam pada Dariel.


"Gak... gak mau Ra.... bau." Dariel mengelak. Namun Kayra terus memaksa. Dengan ancaman ngambegnya membuat Dariel terpaksa menerima suapan Kayra. Dariel menutup hidung, cepat- cepat mengunyah sate hati yang disuapkan Kayra. Saat ia coba rasa. Ternyata enak juga, bau khas hati yang tidak disukainya sama sekali tak terasa. Tertutupi aroma sedap rempah- rempah. Dariel pun segera menelan kunyahannya. Ia meminta disuapi lagi. Membuat Kayra merasa terancam gak kebagian sate hati ayam. Untunglah nasi soto Lamongan yang mereka pesan sudah datang. Uapnya yang mengepul menebarkan aroma menggugah selera.


"Mas, saya pesan semua sate hati dan telur muda. Tolong bawa kesini ya!" Kata Dariel pada mas- mas pelayan warung.


Bersamaan masuk seorang pria.


"Mas tolong bungkus nasi soto babat dua porsi sama lima tusuk sate hati." Kata si pria yang baru masuk ke dalam warung.


"Maaf pak Drajat, sudah habis dipesan pak." Kata mas pelayan warung dengan penuh penyesalan. Karena dia tahu pak Drajat adalah salah satu pelanggan soto yang sangat setia. Ia setiap sore pasti makan di warungnya kalaupun tidak makan di warung, pasti membungkus soto untuk di bawa pulang.


"Padahal ini masih banyak banget." Tunjuk pak Drajat pada tumpukan sate hati dan telur muda di depannya. Mungkin kalau dihitung ada lima puluhan tusuk.


"Mas, siapa yang dah pesan. Aku mau minta langsung ke orangnya. Lima tusuk aja masak gak boleh?" Kata pak Drajad dengan optimis empat lima.


"Pasangan muda di pojok ruangan." tunjuk Mas penjaga warung sambil menata sate hati dan sate telur muda ke dalam piring lebar.


Pak Drajat berjalan mendekati meja Dariel dan Kayra.


"Mas, mbak... maaf. Apa boleh..." Kata - kata pak Drajat menggantung di langit - langit tenggorokannya, saat Dariel dan Kayra menoleh bersamaan ke arahnya.

__ADS_1


"Ya... ada apa pak?" Tanya Dariel bertanya pada pria yang tidak dikenalnya itu.


__ADS_2