
"Bagaimana hari mu Riel?" Kayra melemparkan pandangan menuntut jawaban jujur Dariel. Membuat Dariel mendesah perlahan. Ia bangkit dan duduk dipinggir ranjang menjajari Kayra.
"Lumayan hari yang berat. Seharian ikut sibuk membantu memasang pompa. Waktu Sore dalam perjalanan pulang ada sekelompok suku asli pedalaman menghadang perjalanan kami. Salah satu orang menangkap dan menyiram ku dengan cairan bercampur darah. Membuat ku lemah tidak bisa berteleportasi. Aku dibawa ke tempat mereka dalam kondisi mata tertutup kain hitam. Aku dibawa kesebuah perkampungan dengan aura mistis yang sangat kuat." Dariel berhenti sesaat mengambil nafas berat.
"Banyak hal aneh ku rasakan di sana. Aku mendapati tidak ada satupun dari mereka yang memiliki bayangan. Sekalipun ada cahaya bulan yang sangat terang, bayangan mereka tak terlihat. Yang lebih membuat ku tidak mengerti tidak ada memori sama sekali di kepala mereka. Mereka tidak seperti suku Asmat yang lain. Kalau dilihat kostum atau penampilan sama persis." Dariel mengarahkan pandangan di tempat kosong, seperti mencoba melihat menembus tembok. Ia berkali - kali menarik nafas dalam seakan berusaha membuang sumbatan dalam paru - parunya. Kayra yang melihatnya merasa iba. Ia menggenggam jari - jari Dariel yang gemetaran.
"Riel.... mungkin kamu lelah. Istirahat aja! Hari juga udah menjelang pagi." Kayra mencoba menenangkan Dariel.
"Ra... ijinkan aku menceritakan semua. Mungkin dengan berbagi aku bisa merasa lega...?" Dariel menatap mata Kayra dengan memohon.
"Ok... Sambil baring aja supaya gak capek." Kayra beringsut membaringkan badan dan menutupi tubuhnya dengan selimut memberi tempat untuk Dariel. Dariel menuruti Kayra dan membaringkan tubuhnya di samping Kayra. Dariel memiringkan tubuhnya menatap Kayra.
"Ra.... di sana aku dimasukkan ke dalam sebuah kerangkeng bersama puluhan orang."
Kayra terkejut. "Gimana keadaan mereka Riel..? Apakah mereka manusia atau...?" pertanyaan Kayra menggantung, tidak tahu istilah yang tepat untuk mendefinisikan orang - orang aneh yang diceritakan Dariel.
"Mereka manusia biasa, mereka punya bayangan. Tapi mereka sudah tidak punya memori. Mereka seperti kehilangan ingatan. Bahkan tingkah mereka sangat aneh. Seperti patung, memandang kosong kedepan namun masih ada nafas dari hidung mereka."
Dariel mencoba mengingat wajah - wajah orang yang disekap bersamanya dalam kerangkeng.
"Riel.... kamu gak papa kan?" Kayra menyentuh lengan Dariel. Ia mulai khawatir karena berkali - kali Dariel menarik nafas panjang juga sering dilihatnya Dariel melamun dengan pandangan kosong.
__ADS_1
"Baru kali ini Ra... aku merasa sangat takut." Kayra mendekat dan memeluk pinggang Dariel.
"Riel... aku sesorean juga merasa takut kamu tinggalkan. Sekarang kita sudah bersama lagi. Tidak ada yang perlu kita takutkan bukan?" Kata- kata Kayra menenangkan Dariel, juga parfum lembut ditubuh Kayra menghipnotisnya. Membuat Dariel merasa nyaman hingga ia tidak bisa menolak buaian mimpi yang mengantarnya terlelap dalam tidur. Kayra pun terlelap dalam pelukan Dariel.
Matahari sudah beranjak naik saat Kayra terbangun dari tidurnya. Terasa udara pegunungan masih cukup dingin. Kayra segera bangun dan membuka semua tirai. Matanya terpesona pada pemandangan di balik kaca jernih di depannya. Bukit hijau terbentang luas membuat hati terasa damai. Kayra terbius pesona alam disekitarnya, membuatnya enggan untuk mengerjapkan mata walau sedetik. Belum pernah dilihatnya pemandangan bukit se asri ini. Hingga ke khusukan nya menikmati keindahan alam terusik ketukan pintu. Kayra bergegas membukakan intu. Seorang wanita paruh baya berdiri menunggu.
"Non Kayra kapan datang nya?"
"Tadi malam, maaf ibu siapa?" Tanya Kayra keheranan bagaimana wanita asing di depannya bisa mengenal namanya.
"Oh... Saya bik Sumi, penjaga villa Tuan Dariel. Saya hanya memastikan kalau- kalau ada yang Nona dan Tuan Muda perlukan?" Tanya bik Sumi.
"Bik... Dariel masih tidur. Nanti kami kabari kalau ada yang kami perlukan. Bik Sumi tidak masuk dulu?" Kata Kayra ramah.
keluarga. Sore baru saya bisa bersih - bersih rumah. Kalau begitu saya permisi dulu ya non." Bik Sumi pun melangkah pergi. Kayra hanya terbengong menatap kepergian bik Sumi. Hingga ia tidak menyadari, Dariel berjalan mendekat dan langsung memeluk pinggangnya.
"Riel... ngagetin aja!"
"Bik Sumi ya.... yang baru datang?"
"Iya, Riel bagaimana ia tahu nama ku?"
__ADS_1
"Hehehe Bik Sumi tahunya kamu istriku. Supaya gak merepotkan dalam pengurusan pembelian. Aku minta bantuan bik Sumi dan suaminya. Sengaja aku buat alasan telah menikah muda, semua itu untuk antisipasi agar kita bisa leluasa tinggal di villa ini." Alasan Dariel tidak dapat diterima Kayra. Seketika Kayra merengutkan bibirnya.
"Kenapasih bikin kebohongan kayak gini?" Kayra menunjukkan ke tidak sukaannya.
"Maaf ya cinta.... aku gak tahu kalau ini bakalan membuatmu kecewa. Ra... aku pikir lebih baik kita cepat menikah saja." Dariel mengeratkan pelukan dan menempelkan bibirnya di tengkuk Kayra. Seketika membuat Kayra bergidik kegelian. Kayra melepaskan diri dari pelukan Dariel.
"Riel.... jangan bermain - main api. Kita sudah berkomitmen untuk menunggu saat yang tepat. Setidaknya lima atau enam tahun lagi saat kita sudah lulus kuliah dan mencapai cita - cita kita. Kalau kita menikah muda, bagaimana masa depan kita nanti?" Kayra meluapkan semua emosinya.
"Ra.... dengarkan aku. Kau juga pasti menyadari kalau hubungan kita tidak akan mudah. Dengan keadaan kita yang berbeda dengan orang normal, itu akan menjadi kendala terbesar bagi hubungan kita. Kejadian tadi malam semakin meneguhkan niat ku untuk cepat menikah dengan mu."
"Katakan Riel... apakah masih ada yang belum kamu ceritakan mengenai peristiwa penculikan mu?" Kayra menuntut jawaban jujur Dariel.
"Baiklah aku akan katakan. Tapi tolong Ra... pikirkan. Apasih sebenarnya yang kita mau capai? Benar, kalau kita lulus kuliah kita dapat kerjaan yang kita impikan. Setelah itu dapat uang, terus apa?" Dariel sengaja memberikan waktu untuk Kayra bisa merenung. Kemudian Dariel melanjutkan kata- katanya.
"Kita menikah, punya anak dan kembali pada kesibukan kita? Apakah itu saja yang dapat kita capai? Sementara proses yang kita alami bukan sehari dua hari tapi bertahun- tahun lamanya. Terus terang Ra... aku tidak mungkin sanggup menunggu bersama mu selama itu?"
"Riel.... kita masih terlalu muda untuk menikah bagaimana kalau pernikahan kita nanti gagal? Bukan kah banyak artis yang menikah muda dan akhirnya cerai juga?"
Kayra tidak mungkin menolak permintaan Dariel untuk segera menikah dengannya namun ia masih dibayang- bayangi ketakutan. Usaha satu - satunya yang bisa dilakukan adalah dengan mencoba memberikan pengertian kepada Dariel. Namun sepertinya tidak mudah. Membuat Kayra patah semangat. Ia melangkahkan kaki meninggalkan Dariel. Ia merasa perutnya mulai lapar. Ya bagaimana bisa membahas masa depan dengan perut yang kosong.
Kayra berjalan menuju dapur, memeriksa mungkin ada bahan makanan di lemari es yang bisa diolahnya untuk pengganjal perut.
__ADS_1
"Ra.... !!! " Dariel berteriak mencoba menghentikan langkah Kayra.