Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Ternyata


__ADS_3

"Huammmmm...." Dariel menguap lebar-lebar, membuat Raka dan Erlangga kaget.


"Kak Raka, sini kak..!" Panggil Dariel. Raka yang tadi menghalangi papanya seketika berbalik untuk melihat keadaan adiknya.


"Riel... kamu tidak apa-apa?" Tanya Raka kebingungan, saat melihat Dariel sudah duduk di pinggir ranjang.


"Kak Raka bantu aku lepasin perban-perban ini. Sesak banget rasanya." Kata Dariel menunjuk perban yang menutupi hampir sekujur tubuhnya.


Raka termangu tidak percaya. Membuat Papa Erlangga berkesempatan meringsek maju. Erlangga segera membantu Dariel melepaskan perbannya. Namun Raka masih berdiri mematung. Benarkah apa yang saat ini dilihatnya? Hingga panggilan Dariel mengembalikan kesadarannya.


"Kak Raka... cepatlah bantu sini!" Panggil Dariel yang kesulitan melepas perban.


"Tunggu, jelaskan dulu pada ku. Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Raka pada Dariel dan papanya.


"Aku bisa menyembuhkan diri." Jawab Dariel singkat.


"Benarkah dek... jadi kamu tidak apa-apa sekarang?" Teriak Raka bahagia. Raka segera membantu melepaskan perban di kaki Dariel.


"Ya ampun Riel... kakak sampai ketakutan tadi. Kakak sampai berpikiran yang tidak-tidak pada papa karena membawamu pulang dengan keadaan seperti ini." Raka sangat bahagia.


"Ceritakan bagaimana kamu bisa menyembuhkan diri sendiri?" Tanya Raka kebingungan.


"Setelah aku sakit keras dan hampir mati. Mulai saat itulah setiap aku terluka dengan cepat lukaku pulih seperti sedia kala. Hanya dalam hitungan menit." Kata Dariel menjelaskan.


"Riel... sebenarnya apa yang terjadi tadi malam? Papa mendengar ledakan dari kamarmu?" Tanya Erlangga penasaran.


"Aku menggoda Kayra, membuat lelucon hingga ia ketakutan." Kata Dariel berbohong.


"Riel... kau keterlaluan sekali nak. Kayra sampai pingsan dan saat sadar ia langsung pulang ke rumah orang tuanya. Jangan-jangan ia merasa bersalah hingga melarikan diri?" Kata Erlangga dengan nada jengkel. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Dariel seiseng itu pada istrinya?


"Iya kah Pa... jadi waktu aku dirawat di rumah sakit, Kayra tidak menemui ku?" Tanya Dariel getir. Apakah ini berarti Kayra memilih untuk meninggalkannya karena insiden ini?


"Ia sempat menemuimu di ruangan ICU. Setelah keluar dari ruangan ia terhuyung-huyung. Papa melihatnya dari rekaman cctv." Kata Erlangga sambil menjewer kuping Dariel.


"Kamu harus segera selesaikan kesalah-pahaman ini. Kasihan Kayra."


"Ya Pa," jawab Dariel merasa sangat bersalah.

__ADS_1


"Kak, minta tolong ambilkan baju ku donk." pinta Dariel pada kakak nya.


Raka segera pergi mengambilkan baju yang diminta Dariel.


Sementara Erlangga menyelesaikan sisa perban yang membebat kepala Dariel. Semua luka disekujur tubuh Dariel sudah sembuh sempurna. Bahkan tidak meninggalkan jejak sama sekali.


Dariel sudah mengganti pakaian rumah sakitnya dengan pakaian santai. Sepotong kaos oblong dan celana jeans pendek.


"Riel..tunggu!" papa Erlangga menahan Dariel yang akan segera pergi meninggalkan ruangan kamar.


"Ya Pa?" Tanya Dariel.


"Riel... kenapa rahasia ini kamu tutup-tutupi dari kami?" Tanya Erlangga sedih. Ia sempat membuat kesimpulan kalau Dariel melakukannya karena tidak percaya kepadanya.


"Papa, kak Raka... Dariel sangat menyayangi kalian. Aku takut menyulitkan kalian saat tahu keadaanku. Pa... kak ... kalau boleh Riel minta tolong. Jangan sampai ada yang tahu kemampuan Riel ini. Meskipun itu seorang dokter. Riel tidak mau jadi bahan uji coba dan berakhir dengan kematian." Kata Dariel seraya menghela nafas berat.


"Ya Riel... kita akan tutup rapat-rapat masalah ini." Kata Erlangga meyakinkan Dariel. Raka pun mengangguk menyetujui perkataan papa nya. Bagaimanapun rahasia ini menyangkut keselamatan adiknya. Ia akan menjaga keselamatan adiknya.


"Pa... Riel akan menemui Kayra, bolehkan ?" Tanya Dariel meminta pertimbangan papanya.


"Ya sebaiknya biar kakak mu saja yang menjemput Kayra, karena kalau ada orang yang tahu keadaanmu sebelumnya, mereka pasti curiga." Kata Erlangga membenarkan masukan Raka.


"Lebih baik saya jemput sekarang, nanti kalau lambat-lambat adik ku ini bisa kehilangan cintanya." Canda Raka.


Membuat Erlangga dan Dariel tertawa lepas.


Raka segera berangkat ke kampus menjemput adik iparnya. Ia menunggu di dalam mobil sambil memperhatikan mahasiswi dan mahasiswa yang mulai keluar dari gerbang kampus.


Dari jauh nampak olehnya, Kayra berjalan bersama teman ceweknya. Saat mereka berjalan semakin dekat, Raka keluar dari mobilnya. Ia melambai ke arah Kayra.


Kayra melihat kak Raka melambaikan tangan ke arahnya. Ia mengajak Tia bergegas mendekati kak Raka. Meskipun beribu tanya hinggap di kepala Tia, ia tetap menurut saat diajak Kayra melangkah lebih cepat.


"Kak Raka... ada apa kak Raka ke kampus?" Tanya Kayra saat ia sudah dekat kakak iparnya. Sebuah kejutan yang tak disangka sama sekali oleh Kayra.


"Kakak mau menjemputmu." Kata Raka dengan raut wajah berbinar-binar.


Tia penasaran siapa pria yang menjemput Kayra ini? Apakah ini kekasih Kayra? Tia menyikut lengan Kayra. Seketika Kayra ingat kalau ada orang lain di dekatnya.

__ADS_1


"Kak Raka... kenalkan ini teman ku. Namanya Tia..." Tia mengulurkan tangan ke arah Raka yang menyambutnya dengan ekspresi dingin.


"Tia, temannya Kayra," kata Tia ramah.


"Raka"


"Ra... kakak disuruh papa jemput kamu." Kata Raka lembut pada Kayra, sangat berbanding terbalik saat ia menghadapi Tia dengan dingin.


"Maaf kak... Rara pulang ke rumah ibu saja." Kata Kayra penuh sesal. Ia tidak akan lagi kembali pada Dariel. Kayra sangat takut kalau dikesempatan berikutnya, Dariel tewas di tangannya.


"Ra... Riel nungguin kamu di rumah." Bujuk Raka.


"Ehm... kak Raka, maafkan Rara." Kata Kayra membulatkan tekat.


"Riel sudah cerita. Ia sangat menyesali kelakuannya pada mu. Harusnya Rara kasih kesempatan pada Riel. Tolonglah Ra... kasian Riel." Kata Raka tidak putus asa membujuk Kayra.


Kayra menggeleng kuat-kuat. Tekatnya bulat. Ia tidak mungkin membuat kesalahan yang sama kali ini. Kayra memilih menghindari Raka. Ia berlari meninggalkan Raka dan Tia yang kebingungan melihat Kayra lari menjauh.


"Ra... Rara... tunggu...!" Panggil kak Raka. Ia pun berlari mengejar Kayra.


Raka berhasil menangkap lengan Kayra dan menghentikannya.


"Kak... aku tidak mau. Lepaskan aku kak!" Kayra meronta dari pegangan tangan Raka.


"Ra... dengar kakak. Please...!" Kata Raka penuh permohonan.


Kayra menggelengkan kepala nya kuat-kuat. Ada dilema besar bergelut di hatinya.


"Kak Raka... please, beri kesempatan Kayra sendiri. Saat ini Kayra tidak ingin ketemu Riel. Tolong kak Raka mengerti..." Kayra berbalik dan langsung berlari. Kebetulan mobil kakek Ujang sudah menunggu di depan gerbang kampus. Kayra langsung masuk ke mobil dan menyuruh kakek Ujang untuk segera melajukan mobilnya.


Raka berdiri tercenung. Sebegitu bencinya kah Kayra pada Riel. Hingga Kayra tidak mau bertemu dengan Dariel lagi. Terlebih Kayra tidak menanyakan bagaimana keadaan Dariel saat ini. Apakah hubungan pernikahan Dariel dan Kayra begitu rapuh?


Raka memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia memacu mobilnya kencang. Ia harus memberitahu hal ini pada Dariel.


Di sebuah mobil sport hitam, seorang pria tersenyum masam.


"Oh... ternyata ini kah sebabnya Kayra menolak ku?" Gumam Alex.

__ADS_1


__ADS_2