Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Tes DNA


__ADS_3

Di dalam kamar, bik Sari menangis terisak - isak. Ia sangat terguncang pada kenyataan yang di dapat nya. Anak yang telah dibuang nya sejak lahir. Ternyata sudah lama ada di depan matanya. Ia merasa sangat bersalah. Ya... tahun- tahun dilaluinya dengan perasaan bersalah pada anak perempuannya yang ia tinggalkan dalam pengasuhan suami yang tidak dicintainya. Tanpa sepengetahuan bang Ujang, ia menyimpannya sendiri.


Ada masanya bik Sari pingin menemui putri kandungnya tapi ia menahan diri. Karena takut suaminya akan marah dan meninggalkannya.


Neta Ardilla, putri semata wayang yang ia buang? Bik Sari semakin larut dalam penyesalannya. Ia tidak bisa menahan diri untuk mengeluarkan isakannya. Rasa bersalahnya pada Neta selama ini berusaha ia tebus dengan mengasihi Kayra, yang ternyata cucu nya sendiri? Saat mengetahui kenyataan ini, bik Sari seperti sudah tidak punya muka lagi untuk melihat Neta maupun Kayra.


"Neta, ... ibu yang salah Nak, Ibu telah meninggalkan mu. Dan menganggap mu tidak pernah ada." Ratap nya menyayat hati. "Ibu mu ini sangat jahat... ibu egois... ibu tidak pernah menyayangi mu dengan benar. Aku malu... aku benar- benar takut bertemu dengan mu. Hik...hik...hik.." Bik Sari tertelungkup di ranjang. Menangis dalam penyesalan yang dalam.


"Brakkk..." Pintu di dobrak dari luar. Mang Ujang dan Neta segera menghambur menghampiri bik Sari yang meringkuk di ranjang.


"Buk... ada apa? Apakah kamu sakit?" Mang Ujang sangat mengkawatirkan istrinya.


"Hik...hik...hik..." Tangisan pilu bik Sari semakin menjadi. Mang Ujang segera merengkuh tubuh renta bik Sari. Ia pun ikutan menangis melihat bik Sari yang tidak juga bicara pada nya.


"Nyonya... Neta ada apa sebenarnya dengan bik Sari? Kenapa dia tiba- tiba seperti ini?" Tanya mang Ujang kalut.


"Kami hanya ngobrol biasa dan tiba- tiba bik Sari lari ke kamar." Jawab Neta. Ia pun tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padanya.

__ADS_1


"Nyonya... apakah engkau telah menjahati bik Sari? Jawab nyonya! Jangan ditutup-tutupi. Aku tidak rela kalau istri ku di perlakukan buruk!" Suara mang Ujang bergetar menahan amarah.


"Pak... bukan nyonya Neta yang salah. Aku pak yang jahat. Aku telah meninggalkan bayi tak berdosa. Aku sudah menerima hukuman pak. Hik...hik...hik..." Jawaban bik Sari membuat mang Ujang juga Neta menjadi semakin bingung.


Neta bergegas mengambil segelas air putih dan segera memberikannya pada bik Sari. Bik Sari meminum sedikit air yang diberikan Neta. Ia mengambil nafas dalam- dalam berusaha menenangkan diri.


"Neta... maaf kan ibu mu yang jahat ini ya nak..." kata- kata bik Sari membawa kejutan besar baik mang ujang juga Neta.


"Hik....hik... hik... Waktu itu aku masih sangat muda, Aku baru lulus SR. Ada seorang pria kaya menyukai ku. Tapi aku sudah punya orang yang kusayangi. Pria kaya itu memaksakan kehendaknya pada ku, hingga aku hamil anaknya. Membuat ku terpaksa menikahinya. Namun seiring waktu kebencian ku pada pria itu semakin bertambah. Meskipun pria itu sangat baik, tapi aku tidak bisa mencintainya." Bik Sari menjeda kisahnya, ia menarik nafas dalam sebelum kembali melanjutkan ceritanya.


"Sampai anak perempuan ku lahir, belum ada rasa cinta di hati ku. Bahkan setiap kali melihat anak perempuan ku itu, selalu mengingatkan ku pada kejahatan ayah nya. Suatu hari aku membuat keputusan untuk meninggalkan pria itu bersama anak perempuan ku. Aku mengejar cinta lama ku, yang menerima ku dengan tangan terbuka. Aku menutup rapat- rapat rahasia ini. Menganggap masa lalu ku yang kelam tidak pernah ada. Namun aku mendapatkan hukuman yang sangat berat. Aku telah menyia- nyiakan anak kandung ku sendiri, hingga Tuhan menutup kandungan ku. Sehingga aku tidak lagi bisa punya anak." Air mata mengalir dari pipi bik Sari yang mulai keriput.


Pengakuan bik Sari sangat mengejutkan Neta. Semua tanda lahir itu memang sama persis seperti yang di punyai nya. Meskipun tanpa sepengetahuan orang, ia telah membuang tahi lalat di dada nya dengan operasi saat ia beranjak dewasa.


Entahlah, perasaan apa yang sekarang mengaduk- aduk perasaan Neta. Antara marah, bahagia, kecewa, rindu... semua berbaur menjadi satu. Ia tidak tahu, apakah ia percaya pada bik Sari, yang hanyalah seorang pembantu di rumahnya?


"Kita tes DNA" Putus Neta tiba- tiba.

__ADS_1


Bik Sari terperangah mendengar nya. "Kalau melalui tes itu terbukti aku ibu mu, apakah engkau mau mengampuni wanita tua ini? Apakah engkau masih mengijinkan ku untuk bertemu cucu ku Kayra?" Tanya bik Sari putus asa.


"Entahlah.. aku belum memutuskannya. Segera bersiap... kita ke rumah sakit." Kata tegas Neta.


"Bu... siapa yang sakit?" Tanya Kayra tiba- tiba muncul dari depan pintu kamar bik Sari.


"Bik Sari sepertinya kurang enak badan, Ibu mau antar ke rumah sakit." Kata Neta membuat alasan, ia tidak mau membuat Kayra kebingungan dan cemas sebelum semuanya benar- benar jelas.


"Rara... di rumah sendiri, gak papa sayang? Ibu antar bik Sari periksa. Tidak akan lama kok. Rara makan dulu aja. Kalau mau tidur, tidak perlu nunggu kami. Besok hari spesial mu kamu harus tampil maksimal. Jadi jangan terlalu malam tidurnya." Kata Neta sambil mengecup kening Kayra. Setelahnya mereka bertiga berangkat ke rumah sakit.


Kayra ditinggal sendiri, rumah baru ini dirasanya masih asing. Kayra menuju ruang makan. Ia memeriksa masakan apa yang di masak bik Sari. Ternyata soto ayam dan bergedel kentang. Ia mengambil nya dan menikmati makanan nya sendirian. Belum tiga suapan berhasil ditelannya. Saat ada suara bergemerisik dari teras belakang rumah. Tiba- tiba saja bulu kuduk Kayra meremang.


Ia segera meninggalkan ruang makan untuk memeriksa halaman belakang. Dari dapur Kayra dapat melihat ke halaman belakang melalui pintu kaca. Di situlah Kayra mengintip keadaan halaman belakang yang remang- remang.


Kayra melihat ada sesosok wanita yang sedang membelakangi pintu kaca. Dimana ia mengintip. Jantung Kayra berdebar- debar. Ia takut, namun sekaligus penasaran. Siapa wanita itu? Mengapa malam- malam ada di halaman belakang rumah nya? yang ia tahu, tidak ada akses orang luar bisa masuk ke sana karena tertutup tembok yang sangat tinggi. Dan satu- satu nya akses satu- satunya ke halaman belakang hanya lah pintu kaca yang terkunci rapat di depannya.


Kayra terus mengamati gerak- gerik wanita di belakang rumah nya. Ia mau memastikan wanita itu tidak punya niat jahat di rumah nya. Beberapa lama wanita itu tetap berdiri mematung membelakanginya. Membuat Kayra bosan menunggu dan akan segera pergi, saat wanita itu menoleh.

__ADS_1


'Aaaaa.....' jerit Kayra.


__ADS_2