
***
Pagi itu suasana sibuk masih mewarnai rumah besar keluarga Erlangga. Hari ini tepat seminggu peringatan kematian mendiang Raka dan Keke. Karangan bunga ucapan bela sungkawa masih terus berdatangan.
Termasuk sebuah karangan bunga tanpa nama pengirim. Karangan bunga dihiasi mawar putih, sekilas nampak seperti karangan bunga yang lain. Namun kata-kata yang tertulis dari rangkaian mawar hitam, sangat tidak biasa.
Seorang satpam telah melaporkan pada pak Hasan. Itulah sebabnya pak Hasan berdiri tertegun mengamati karangan bunga itu. Ia masih bingung menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya pada karangan bunga itu. Akhirnya ia memutuskan sebaiknya ia memberitahukan pada nyonya muda yaitu Kayra. Menurut pertimbangan pak Hasan, nyonya Kayra lebih sabar dan bisa membuat keputusan bijaksana.
"Simpan dulu di belakang pos, saya akan kasih tahu ke nyonya Kayra!" perintah pak Hasan pada dua orang satpam di depannya. Ia pun berlalu dan mulai mencari keberadaan nyonya muda.
Pak Hasan bertanya pada pelayan yang baru keluar dari kamar Kayra.
"Bik... nyonya muda ada di dalam?"
"Barusan ke taman belakang, membawa aden kecil," jawab si pelayan.
Pak Hasan langsung bergegas menyusul Kayra ke taman belakang. Di antara hamparan bunga Krisan, terlihat Kayra sedang menjemur babby M.
"Nyonya muda... permisi." Sapa pak Hasan saat ia sudah dekat dengan Kayra.
"Oh... Pak Hasan. Ada apa Pak?" tanya Kayra ramah.
"Nyonya, pagi ini ada orang mengirim karangan bunga. Isi tulisannya aneh. Apa yang sebaiknya dilakukan nyonya?" tanya pak Hasan meminta keputusan Kayra.
"Pak Hasan bisa difoto saja, dan kirim ke wa saya." Seketika perasaan tidak enak meliputi perasaan Kayra.
"Saya kirim ke WA nyonya," kata pak Hasan sambil menekan tanda kirim.
__ADS_1
Kayra segera mencari tempat duduk di kursi taman. Ia pun membuka file foto yang barusan dikirimkan pak Hasan ke ponselnya.
Sebuah foto karangan bunga yang didominasi dengan mawar putih. Hati Kayra berdegup, menyalurkan sinyal bahaya. Tulisan dengan goresan aneh itu, sebelumnya terlihat seperti tulisan kanji tapi bukan. Namun saat Kayra memusatkan pikiran, tulisan itu terbaca olehnya.
"SI PENCURI PASTI MATI!!! SI PERAMPAS PASTI DI TUMPAS HABIS TAK TERSISA!!!
Kayra merasa tulisan itu sebuah teror untuknya. Ingatannya langsung tertuju pada wanita bercadar yang mengacau diacara pemakaman kakak iparnya. "Mungkinkah wanita itu pelakunya? Ia benar-benar tidak mau menyerah, meskipun usaha pembunuhan yang dilakukannya gagal." gumam Kayra geram.
"Pak Hasan, bawa rangkaian bunga itu ke sini. Kemudian bakar saja ya pak. Itu karangan bunga dari orang gak jelas. Juga kalau ada wanita bercadar yang tempo hari mengacau di makam, jangan sekali-kali diijinkan masuk. Apa pun alasannya. Walaupun dia adalah orang tua mendiang kak Keke. Saya takut ia membuat kekacauan lagi di sini. Kasian keadaan papa Erlangga belum pulih benar."
"Baik nyonya akan saya laksanakan." Pak Hasan pamit pergi. Kayra termenung sesaat. Ia memutuskan kembali masuk ke dalam rumah. Ada sesuatu yang harus dilakukannya. Kayra ingin mencari petunjuk tentang mama kak Keke yang bertingkah aneh itu.
Kayra memanggil seorang pelayan wanita setengah baya. "Bik, saya minta tolong jaga babby M. Saya akan mencoba mencari kartu imunisasi babby M." Kata Kayra seraya menyerahkan babby M pada pelayan setengah baya itu.
Hari ini ia pertama kalinya memasuki kamar kakak iparnya setelah kematian mereka. Ia bermaksud mencari petunjuk tentang misteri wanita bercadar. Mungkin ada catatan atau apapun yang ditinggalkan kak Keke. Ia tidak mau wanita bercadar itu kembali menyakiti keluarganya yang tersisa.
Laci meja hanya berisi arsip-arsip penting perusahaan kak Raka. Sementara laci lemari berisi tumpukan perhiasan milik kak Keke. Kayra tercenung, ia mengira-ngira. Dimana sebenarnya kak Keke meletakkan diary nya? Apa mungkin tertinggal di rumah mereka?
Kayra tertunduk putus asa. Diary itu tidak ada di mana-mana. Apa mungkin sebenarnya diary itu tidak ada?
"Kak Keke... tolonglah aku, beritahu siapa sebenarnya wanita bercadar itu? Dia telah membunuh kak Raka juga dua kali berusaha mencelakai papa Erlangga juga babby M. Bantu aku untuk mengungkapnya." desah Kayra putus asa.
Kayra bermaksud pergi, setelah ia tidak berhasil menemukan apa yang dicarinya. Ia berjalan gontai hendak keluar dari kamar kakak iparnya. Tiba-tiba saja terdengar suara menjeblak keras. Pintu lemari yang terbuka seperti dengan paksa.
Kayra terhenti dan menoleh ke arah sumber suara. Sebuah pintu lemari baju tiba-tiba terbuka. Kayra tertegun keheranan. Bagaimana bisa pintu lemari itu terbuka? Ia ingat sudah mengunci pintu itu tadi.
Kayra mendekati lemari pintu yang terbuka itu, ia berniat menguncinya kembali. Saat tatapan matanya menangkap sebuah sampul buku menyembul diantara tumpukan baju, ia mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Kayra menariknya keluar. Hingga ia bisa mengenali bahwa yang ia tarik itu sebuah buku agenda. Ada sesuatu terselip diantara halamannya. Sebuah kertas terlipat rapi, sebuah kartu imunisasi milik Miracle. Kayra menghela nafas lega. Akhirnya ia menemukan apa yang ia cari.
Dibukanya sebentar buku agenda itu, beberapa halaman hanya berisi resep masakan. "Ini bukan buku diary kak Keke, sebaiknya aku kembalikan ke tempatnya semula," gumam Kayra. Ia bermaksud hendak mengembalikan buku itu ke tempatnya. Namun suara tangisan babby M mengejutkannya. Ia pun bergegas keluar dari kamar mendiang kakak iparnya.
Pembantu yang tadi mengasuh babby M sedang menunggunya di depan pintu kamar.
"Nyonya... aden terbangun, mungkin ia kelaparan." Kata pembantu itu melapor. Ia terlihat kesulitan menenangkan babby M yang menangis semakin kencang.
"Bawa ke kamar. Ku buatkan susunya di sana." Kata Kayra sambil tergesa masuk ke dalam kamarnya, dengan buru-buru ia meletakkan buku agenda itu diatas meja dan dengan cekatan ia membuatkan sebotol susu hangat buat babby M.
"Bibik boleh kembali bekerja. Terimakasih sudah menjagai babby M." Kata Kayra.
"Iya nyonya, tidak apa-apa. Saya permisi kembali ke dapur." Pamit pembantu itu minta diri.
Babby M sudah kembali tenang, apalagi saat ia sudah meminum susunya. Kayra duduk termenung di sofa. Ia merasa putus asa, kemana lagi ia harus mencari buku harian kak Keke?
"Ra... kenapa babby M? Aku dengar ia tadi menangis keras?" tanya Dariel saat ia masuk ke dalam kamar.
"Kehausan, tadi aku titipkan babby M pada pembantu. Sementara aku mencari kartu imunisasi babby M dan buku diary kak Keke. Kartunya ketemu, api aku tidak menemukan buku hariannya. Apa mungkin di rumah kak Raka ya Riel...?" Sebuah prediksi tiba-tiba hinggap di kepala Kayra.
"Mungkin saja ada di rumah mereka. Tapi kapan kita ada waktu ke sana untuk mencarinya? Sementara keadaan papa masih sangat mengkawatirkan dan juga babby M tidak mungkin kita tinggal di rumah. Kalau kita masuk diam-diam takutnya malah membuat keributan yang tak perlu. Terpaksa kita nunggu waktu yang baik untuk ke rumah kak Raka." Kata Dariel galau.
Ia melihat sebuah buku agenda tergeletak di atas meja. Ia tertarik untuk memeriksanya. "Buku apa ini Ra...?" tanya Dariel penasaran.
"Buku resep masakannya kak Keke." Kata Kayra pelan. Ada kekecewaan dalam nada suaranya. Ia tadi sempat lega menemukan buku agenda itu di tempat yang tidak biasa. Kayra mengira itu adalah buku diary kak Keke, namun ternyata isinya hanyalah resep masakan.
"Aku tidak pernah tahu kak Keke masak, dan dia punya buku resep masakan?" Dariel sangat tertarik dan mulai membuka buku agenda itu.
__ADS_1
Terlihat tulisan cantik dan rapi. Di sana tertulis aneka resep masakan. Mulai dari masakan nusantara, oriental juga Italia. Dariel berhenti di sebuah halaman buku. Ia merasa setiap resep yang dibacanya ada sesuatu yang janggal.