Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Ibu


__ADS_3

"Kalau ibu tidak mau merestui kami. Rara gak apa- apa, Rara akan nurut apa kata ibu." Kata Kayra melunak.


"Ra... beneran kamu gak papa?" Tanya Neta keheranan.


"Iya Bu, aku gak akan mengorbankan orang lain hanya untuk mencapai kebahagiaan ku sendiri." Jawab Kayra penuh keyakinan.


"Kenapa...? Kenapa engkau tidak berusaha memperjuangkan cinta mu? Bukankah Dariel adalah cinta pertama mu? Bagaimana kalau setelah ini Rara menyesali keputusan hari ini?" Tanya Neta kembali.


"Ibu, bolehkah aku memeluk mu?" Tanya ragu Kayra. Ia tahu Neta hanya ibu tirinya, sampai saat ini pun ia tidak tahu lunaknya hati Neta tulus atau tidak. Namun yang ia yakini, Neta dikirimkan padanya sebagai ibu sambungnya. Setidaknya masih ada sosok seorang ibu baginya. Kayra memeluk Neta yang saat itu sedang duduk di kaki ranjangnya. Kayra menangis dalam diam, ada sebentuk rasa nyaman ia rasakan. Neta membalas pelukan Kayra.


Sementara dalam lubuk hati Neta yang terdalam, ada perasaan berkecamuk. Rasa bahagia terbalut dalam haru membuatnya tersentuh. Air mata Neta tak dapat dibendung lagi.


"Mengapa engkau membolak- balik hati ku Ra? Selama ini aku tidak pernah berbuat baik pada mu. Tapi mengapa kamu masih mau mendengar dan menganggap ibu tiri mu ini? Apakah karena engkau takut pada ku?" Neta menghujani dengan berbagai pertanyaan yang mengganggunya.


"Hik...hik... engkau satu- satunya orang tua yang ku miliki. Maka tugas ku, untuk menghormati mu Bu dan mengikuti nasehat mu." Jawab Kayra dalam tangisnya.


Neta menggelengkan kepala tidak percaya. Ia mendongakkan wajah Kayra hingga mereka bisa saling menatap. "Katakan Ra... apa alasan mu, tidak memperjuangkan cinta mu dengan Dariel? Katakan sejujurnya, jangan ada yang kamu tutup - tutupi." Neta mengintimidasi Kayra dengan penekanan intonasi dan tatapan mata tajamnya.


"Ibu, aku mendapat mimpi." Kata Kayra ragu.


"Apa yang kamu mimpikan Ra..., katakan saja." Desak Neta semakin penasaran.


"Bu Neta, engkau ibu kandung ku kan?" Kayra balik bertanya.

__ADS_1


Sebuah pertanyaan yang seketika memicu jantung Neta berdebar lebih keras. Mengapa Kayra sampai bertanya seperti itu? Apakah anak ini sudah begitu putus asa karena kehilangan ayah dan ibu kandungnya? Hingga kehilangan akal. Menganggapnya sebagai ibu kandung? Apakah selama ini ia kurang jahat dalam mendalami perannya sebagai ibu tiri yang kejam. Neta membisu, tidak tahu apa yang akan diucapkannya. Sekelam- kelamnya kehidupan Neta ia juga seorang ibu. Hatinya begitu tersentuh dengan kata- kata Kayra.


"Rara... aku bukan ibu kandung mu. Tapi aku akan tetap jadi ibumu dan akan belajar menyayangi mu." Neta melawan keangkuhannya. Ia mengulurkan tangan dan membelai rambut halus Kayra.


"Ibu.... kenapa engkau tidak mau mengakui aku sebagai anak kandungmu? Dan mengapa sekian lama engkau meninggalkan ku? Apakah ibu tidak sayang Rara?" Desak Kayra mengharapkan pengakuan Neta.


Neta kehilangan kesabaran, ia berteriak marah.


"Aku bukan ibu kandung mu. Ibu mu sudah lama mati. Aku sama sekali tidak ada hubungan dengan masa lalu mu ataupun ibu mu! Hentikan omong kosong mu ini...! Sekarang lebih baik kamu pergi keluar, dari pada ngomongin hal tak berguna ini..!"


Neta segera beranjak dari duduknya, ia mengusir Kayra. Namun Kayra membulatkan tekat, ia harus membongkar rahasia Neta yang selama ini tertutup rapat.


"Ibu lihatlah, Rara bukan gadis kecil lagi. Rara sudah dewasa, sudah saatnya Rara tahu segala rahasia masa lalu Rara, juga Ibu Neta. Aku janji akan tetap menyayangi ibu Neta apapun yang terjadi." Rengek Kayra mengharapkan kejujuran Neta.


"Aku sudah tahu semua yang Bu Neta simpan rapat- rapat. Rara cuma mau kejujuran dari bibir ibu. Apakah ini terlalu sulit Bu. Katakan, Rara anak kandung bu Neta kan?" Kayra semakin memojokkan Neta.


"Harus berapa puluh kali ku katakan, aku bukan ibu kandung mu." Suara Neta terdengar bergetar, ada sesuatu yang coba dipertahankannya. Ia mulai bimbang, apakah benar Kayra sudah tahu rahasianya?


"Bu... hubungan darah seorang ibu dan anak sangat kuat. Koneksi itu tak dapat diputuskan begitu saja. Apalagi tidak ada istilah mantan atau bekas anak bukan?"


"Sudah... stop Ra... hentikan omong kosong mu ini!!!" Neta berteriak- teriak histeris.


"Demi bersatu dengan Ayah Hendra ibu kehilangan kakek. Tapi kenapa ibu memilih meninggalkan ku dengan ayah ? Padahal waktu itu Kayra masih kecil dan sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu." Kayra mulai menuntut jawaban dari Neta.

__ADS_1


Tiba- tiba Neta menangis keras.


"Ra.... aku memang ibu kandung mu, yang gagal menjadi istri ataupun ibu yang baik. Aku tidak bisa menjaga kalian. Bahkan kehadiran ku disamping kalian selalu membawa bencana. Itulah alasan ku meninggalkan kalian. Semua ini ku lakukan untuk kebaikan mu Ra..." Raungan tangis Neta semakin menjadi.


Kayra mendekati Neta dan segera memeluknya.


"Ibu, i love you." Neta dan Kayra bertangis- tangisan menumpahkan segala rasa yang selama ini terpendam dalam hatinya.


"Rara.... maaf kan ibu mu ini nak. Ibu sudah terlalu banyak membuatmu sedih dan menderita. Apa yang harus ibu lakukan untuk menebus semua kesalahan ibu?" Neta berkata dengan penuh kesungguhan dan penyesalan.


"Ijinkan aku berbakti pada ibu." Kayra menyatakan keinginan terdalamnya.


"Ra... engkau anak yang sangat baik, ayah mu berhasil mendidik mu. Teruslah jadi orang yang baik dan tulus ya nak..." Neta menatap jendela menerawang. Ia mengingat masa kecil Kayra. Anak gadis yang cantik dan menggemaskan. Kebersamaan keluarga kecilnya selalu dilingkupi dengan kebahagiaan. Namun ada satu kenyataan yang sejenak dilupakan Neta.


"Ra... kita tidak akan pernah bisa hidup bersama. Karena pasti salah satu dari kita akan segera meninggal. Keluarga ibu terikat dengan kuasa kegelapan. Leluhur kita telah melakukan kesalahan, hingga kuasa kegelapan memberikan kutukan. Dikatakan bahwa hanya ada satu wanita saja yang bisa hidup dalam satu periode. Itulah sebabnya ibu pun tidak pernah mengenal ibu kandung ku, karena beliau meninggal saat melahirkan ku."


Neta sejenak mengambil nafas dalam- dalam, seakan udara dalam rongga dadanya telah terkuras habis.


"Ra... kita pun, mendapat kutukan itu. Salah satu diantara kita harus ada yang mati." Neta merasakan betapa beratnya membuka semua beban masa lalunya yang selama ini berusaha di tutupnya rapat- rapat.


"Ra... kutukan itu hanya bisa terlepas kalau kamu tidak menikah selama-lamanya." Kembali Neta merasakan pahitnya kejujuran yang harus dikatakannya.


Kayra tertegun, ternyata tidak sesederhana yang disangkanya. Kehidupannya ternyata sangat rumit. Terlebih saat ini, ia merasa sulit mempercayai semua perkataan Neta. Benarkah kutukan itu ada?

__ADS_1


__ADS_2