Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Kejutan


__ADS_3

Ajakan Dariel sangat menggiurkan. Sudah lama Kayra gak makan es Krim, sekalian ia mau cerita banyak tentang pembicaraannya dengan Bapak Darmawan. Namun seketika ia ingat, tadi Neta menyuruhnya segera pulang. Ia tidak ingin membuat Neta marah setelah kebaikannya tadi siang.


"Yang.... kapan-kapan aja makan es krimnya, soalnya tadi dipesani ibu Neta agar aku cepat pulang." Kayra menolak halus ajakan Dariel.


"Oke gak papa." Dariel maklum, ia menepikan mobilnya saat sudah tiba di halte dekat komplek. "Apa gak sebaiknya aku antar sampai kerumah?" Tanya Dariel.


"Sampai sini aja, makasih sayang. Jadikan nanti kerumah?"


"Iya paling agak sorean, nanti aku kabari."


"Da.... sayang, sampai jumpa nanti." Kayra melambaikan tangan sambil memberikan kiss bay pada Dariel sebelum keluar dari mobil.


Masih satu kilometer dari halte menuju rumahnya. "Haus banget, mana siang ini panas terik." Gumam Kayra. Ia tetap melangkah dengan semangat. Tiba di depan sebuah mini market Kayra tidak bisa menahan hasratnya untuk membeli sebotol minuman dingin. Ia pun segera membeli teh botol dingin kesukaannya. "Hemmmm segar" Kayra meminum teh botolnya sambil melanjutkan jalannya.


Akhirnya sampai juga ia di depan rumah, saat ia mencoba membuka pintu. Ternyata terkunci? Sungguh aneh baginya, karena selama ini tidak pernah sekalipun pintu rumah dikunci waktu siang hari. Kayra pun mengetuk pintu.


Tok...tok...tok...


Cekrek.... suara kunci dibukakan dari dalam. Saat Kayra melihat orang yang membukakan pintu ia sangat kaget. "Bik Sari?" Kayra tidak menyangka kalau bik Sari sudah ada didepannya. Spontan ia segera memeluknya. Bik Sari membalas pelukan Kayra dan membelai rambut Kayra yang tergerai indah.


"Sudah lama gak liat Non Kayra sekarang jadi tambah cantik."


"Bik Sari, Kayra kangen bibik."


Tak terasa Kayra meneteskan air mata dan terisak. Bik Sari sudah ia anggap anggota keluarga sendiri. Waktu ayahnya masih susah, Kayra sering dititipkan di rumah bik Sari. Bik Sari dan Mang Ujang tidak memiliki anak, sehingga hadirnya Kayra dianggap seperti anaknya sendiri. Kayra juga sangat menyayangi mereka. Hingga Bik Sari dan mang Ujang bekerja di keluarga Mahendra.


Namun Saat ayahnya mulai mendapat pengaruh ibu tirinya, ia tidak segan memecat semua pembantu bahkan Bik Sari dan Mang Ujang.


Saat itu Kayra sama sekali tidak bisa berbuat apa- apa karena ayahnya yang telah membuat keputusan. Kayra sangat sedih dan merasa kehilangan mereka.


Setelah beberapa tahun, tak berjumpa. Tiba- tiba bik sari ada di rumahnya Kembali? Spontan Kayra bertanya pada bik Sari.

__ADS_1


"Bagaimana Bibik.... bisa kesini?" Tanya Kayra penasaran.


"Kenapa? Non Kayra tidak mau bibik disini? hehehe." Bik Sari mencoba menggoda Kayra.


"Apakah Bik Sari kembali kerja di sini?" Tanya Kayra antusias.


"Iya, bibik sama Mang Ujang dipanggil Bu Neta untuk kembali kerja disini, bibik sangat senang bisa bersama non Kayra lagi." Bik Sari segera menuntun Kayra untuk masuk ke ruang makan. Bik Sari ingin bercerita banyak, bagaimana ia bertemu bu Neta hingga ditawari untuk kerja kembali di rumahnya. Tentu saja kesempatan bisa bertemu dengan Kayra kembali tidak disia- siakan Bik Sari maupun Mang Ujang. Hingga mereka bersedia dengan senang hati bekerja dengan Nyonya Neta.


Saat mendengar cerita Bik Sari, Kayra sangat bahagia. Ya, ia bisa bersama lagi dengan Bik Sari dan Mang Ujang. Orang- orang yang sangat disayanginya. Kayra sangat berharap ini satu awal untuk ia mendapatkan kebahagiaannya kembali.


"Non... mau dibuatin jus apel?"


" Iya bik, trimakasih. Sambil nunggu Kayra mau ganti baju dulu". Kayra segera menuju kamarnya. Namun serta merta dihentikan Bik Sari.


"Non Kayra mulai sekarang pindah ke kamar atas, kamar non Kayra yang lama." Kata Bik Sari dengan senyuman.


"Yang benar Bik? Bagaimana bisa?" Kayra terbengong.


"pagi tadi waktu Bibik dan Mang Ujang baru sampai, Nyonya Neta menyuruh bibik beres- beres kamar lama. Barang-barang Nona yang masih bagus, Bibik sudah pindahkan ke kamar atas." Bik Sari memberi penjelasan.


Kayra segera turun menuju ruang makan. Bik Sari sudah menyiapkan makan siang kesukaannya dan segelas jus apel. Sayur asem, sambal terasi, pepes ikan teri dan tempe mendoan. "Bik... ayo makan bareng Kayra."


"Makasih Non, bibik baru makan tadi sama mang Ujang."


"Oh iya dari tadi Kayra gak lihat mang Ujang Bik?" Tanya Kayra sambil lahap menikmati makan siangnya.


"Mang Ujang lagi antar Non Cerry belanja, katanya cari gaun untuk pesta ulang tahunnya."


" Kalau Ibu Neta, apa sudah pulang?"


"Lagi di kamar Non, dari tadi belum keluar."

__ADS_1


"Makan yang banyak Non, biar cepat gede." Kata Bik Sari berniat mengambilkan tambahan makan.


"Iya bik nambah nasi dan sambalnya. Hehehe masakan bik sari memang paling enak. Bisa- bisa Kayra nanti jadi gemuk." Kayra asyik makan dengan lahapnya.


"Wah.... enak ya makannya.... masih ada gak buat saya?" Seloroh Neta mengagetkan Kayra. Bagaimana ia tidak terkejut, hampir tiga tahun ini ia tidak mendapatkan perlakuan baik dari Neta. Sekarang tiba- tiba berubah.


"Masih banyak nyonya, saya ambilkan piring." Spontan Kayra menjawab dan hendak mengambilkan piring untuk Neta.


Namun Neta menahannya. "Biar bik Sari aja yang mengambilkan piring. Kayra lanjutin aja makannya. Dan mulai sekarang panggil aku ibu atau mama, sesukamu. Kayra tidak keberatankan?" Tanya Neta dengan senyuman manisnya.


"Tentu saja Kayra sangat senang. Ijinkan Kayra memanggil ibu. Kayra juga berterima kasih karena ibu memberi ijin untuk Kayra bisa lanjut kuliah dan juga Kayra kembali menempati kamar atas."


" Ini semua ibu lakukan untuk menebus kesalahan ibu yang lalu dan ibu mengharap hubungan kita akan menjadi lebih baik."


"Trimakasih Bu." merekapun bercerita panjang lebar.


Suatu pemandangan yang langka, setelah hampir dua tahun lebih akhirnya ibu dan anak tiri bisa makan satu meja. Biasanya yang satu jadi bos dan yang lain jadi pembantunya. Sekarang kesenjangan itu telah terhapus, tak ubahnya seperti hubungan anak dan ibu kandung yang saling menyayangi satu sama lain.


Setelah selesai makan, Neta pamit mau pergi ke perusahaan menghadiri meeting dengan para investor. Sementara Kayra segera masuk ke dalam kamarnya. Ia ingin berbagi kebahagiaan dengan Dariel.


Kayra mulai mengetikkan pesan di hp Dariel, saat ada ketukan di pintu kamarnya.


Bik Sari memanggilnya "Non ada tamu."


Kayra segera keluar dari kamarnya.


"Siapa bik?"


"Katanya dari De party". jawab Bik Sari.


"Bibik tunggu dibawah aja, nanti Kayra menyusul." Saat bik Sari sudah turun, Kayra segera menyisir rambutnya dan segera menyusul bik Sari yang sudah turun duluan.

__ADS_1


Di ruang depan sudah ada tiga orang yang sedang menurunkan barang - barang keperluan pesta yang cukup banyak. Kayra masih mencari - cari kekasihnya. "Riel .... mana ya?" batinnya.


Kayra segera berjalan ke halaman, mungkin pangerannya ada di sana.


__ADS_2