
"Papa... Dariel bukan anak yang lemah. Dariel berani seperti kak Raka. Nanti papa bisa menjemputku saat pulang. Dan papa akan lihat Dariel pasti baik-baik saja."
Kata Dariel kecil. Kata-katanya membuat hati Erlangga menghangat. Seorang anak kecil yang dianggapnya tidak bisa apa-apa mampu berkata bijaksana.
Erlangga menggenggam erat tangan Dariel kecil. "Riel... harus janji untuk menjaga diri selama jauh dari papa ya...!" Pinta Erlangga dengan sangat.
"Siap...." kata Dariel bersemangat sambil memperagakan gerakan hormat pada papa nya. Seketika mata Erlangga berkaca-kaca, inilah saatnya ia harus berani melepas Dariel. Ya melepasnya untuk kebaikan Dariel. Membiarkan anak nya bertumbuh menjadi pribadi mandiri tanpa tergantung lagi padanya.
Melakukan apa yang seharusnya seorang ayah lakukan pada anak-anak nya. Seperti nasehat jasmin padanya semalam.
"Seekor induk burung Rajawali akan memaksa anaknya belajar terbang saat umurnya sudah cukup. Bahkan kalau anak-anaknya malas untuk terbang, ia tidak segan-segan menghancurkan sarangnya. Kalau perlu, ia akan mendorong anaknya terjun bebas dari ketinggian."
Kata Jasmin sambil menatap manik mata Erlangga yang terpesona mendengar penuturannya. Setelah mengambil nafas dalam, Jasmin melanjutkan kata-katanya.
"Tindakan induk Rajawali bukan untuk mencelakakan anak nya. Namun sebuah langkah untuk mempersiapkan anaknya menghadapi sulitnya hidup. Dan lihatlah... hanya burung Rajawali yang mempunyai kekuatan besar. Ia bisa mencengkram dan membawa mangsa lima kali lebih berat dari tubuhnya. Dan burung Rajawali saja yang bisa terbang diatas badai. Angin kencang ataupun topan tidak lagi jadi penghalang baginya. Semua itu bisa jadi karena didikan induknya."
Jasmin sengaja kembali menjeda kata-katanya untuk memberikan waktu agar suaminya bisa mencerna ilustrasi yang diberikannya.
"Jadi... pa... Sekaranglah waktunya untuk kita melatih Dariel agar bisa mandiri. Karena itu untuk kebaikan anak kita juga." Kata Jasmin menutup nasehat buat suaminya.
Erlangga sangat kagum pada nasehat Jasmin yang disampaikan dengan lemah lembut. Ya ia menyadari belum menjadi ayah yang baik buat Dariel. Karena selama ini bukan Dariel kecil yang tidak mau belajar mandiri tapi dialah yang terlalu takut berjauhan dengan putra bungsunya.
Pagi ini Jasmin membiarkannya mengantar Dariel sendiri ke sekolah. Sengaja memberinya waktu eklusif bersama anak bungsunya.
"Dada...Papa... see you." Dariel kecil melambaikan tangan ke arahnya sambil dengan riang berlari-lari kecil masuk ke dalam gerbang sekolah.
Erlangga terbangun dari lamunannya.
Ia memandangi Dariel yang saat ini terbungkus perban. "Ya... Riel, katakanlah. Aku percaya sepenuhnya pada mu nak." Kata Erlangga mantap.
__ADS_1
Dariel menarik nafas dalam-dalam. Ia memberanikan diri. Ia percaya apapun yang dihadapinya setelah papanya tahu rahasia besarnya tidaklah masalah lagi baginya. Asalkan mereka bersama-sama saling mendukung.
"Pa... Riel bukan anak lemah." Kata Dariel.
"Iya nak... papa percaya, kamu anak yang kuat. Kamu anak yang tangguh. Papa bangga padamu."
Kata Erlangga pilu. Ia merasa inilah kata-kata perpisahan Dariel. Matanya sudah berkaca-kaca. Sekuat tenaga ditahannya segala kesedihan dalam hatinya.
"Pa... tolong buka perbanku!" Kata Dariel sungguh-sungguh.
"Kenapa? Apakah ada yang sakit? Biar papa panggilkan dokter ya?" Tanya Erlangga cemas.
"Tidak Pa... aku ingin papa saja yang membuka perbanku." Kata Dariel teguh.
Erlangga mencoba untuk percaya pada anaknya. Ia menggunting perlahan perban yang menutupi lengan Dariel. Erlangga tertegun, ia melihat lengan Dariel mulus tak ada luka di sana. Benang jahitan luruh dari permukaan kulitnya.
"Riel... bagaimana bisa?" Tanya Erlangga keheranan.
"Bagaimana bisa?" Erlangga tercengang tak percaya.
"Bawa aku pulang pa. Buat alasan akan membawaku keluar negeri." Kata Dariel mendesak papa nya.
"Tapi Riel... bagaimana keadaan luka mu yang lain?" Tanya Erlangga ragu.
"Semua lukaku sudah sembuh pa... nanti di rumah papa akan melihatnya." Kata Dariel meyakinkan papa nya.
"Baik lah aku mengerti." Erlangga menggenggam jemari Dariel dan menciumnya.
"Pa... perbaiki perbannya supaya mereka tidak curiga!" Kata Dariel mengingatkan papa nya.
__ADS_1
Erlangga segera meapikan kembali perban Dariel. Ia mengencangkan perban yang kendor dan membuat ikatan simpul mati agar perban tidak mudah lepas nantinya.
Setelah semua selesai, Erlangga keluar dari kamar memberi intruksi kepada beberapa orang.
Erlangga memutuskan membawa Dariel pulang kerumah. Ia mengatakan pada dr Andi bahwa Dariel akan dibawa berobat ke Luar negeri.
Tanpa bertanya dokter Andi selaku kepala rumah sakit segera mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan. Setengah jam kemudian, dokumen-dokumen itu telah siap. Ia sendiri yang menyerahkan nya kepada Erlangga.
Siang itu juga Dariel di bawa pulang kerumah. Membuat semua orang rumah keheranan. Termasuk kakak nya, Raka. Rakalah yang tadi malam membopong Dariel dari kamarnya menuju Ambulan di halaman depan.
Luka Dariel parah banget, hampir seluruh tubuhnya penuh luka. Dan saat melihat siang ini Dariel dibawa pulang. Prasangka buruk seketika menghinggapi hatinya.
Semalam Raka tidak menceritakan secara detail keadaan Dariel pada Keke. Ia tidak mau membuat Keke semakin cemas. Bahkan ia berbohong pada Keke kalau Dariel hanya terluka sedikit saja. Dan sekarang adiknya dibawa pulang dengan segala alat kesehatan yang terhubung dengan kabel dan selang yang terkoneksi pada tubuhnya.
Raka segera membantu paramedis mendorong bangsal Dariel menuju ke ruang tamu. Jantung Raka berdetak kencang, ia sangat kawatir dengan keadaan adiknya.
Sesekali ia mengamati wajah Dariel yang tertutup perban sebagian. Mata Dariel tertutup rapat. Hati Raka perih serasa teriris. Adiknya saat ini pasti sedang sangat menderita.
Erlangga mengunci pintu kamar tamu setelah mereka bertiga berada di dalamnya. Membuat Raka kebingungan.
"Pa... ada apa dengan Riel? Dia kan terluka parah. Kenapa dibawa kerumah. Bukannya diberikan perawatan intensif malah dibawa kesini?" Protes Raka pada papanya. Ia menilai papa Erlangga telah membuat keputusan gegabah.
"Riel....." Erlangga memanggil anak bungsunya. Beberapa waktu tidak ada jawaban.
Raka yang melihatnya merasa kebingungan dengan tingkah papa nya. Jangan-jangan papa Erlangga depresi karena keadaan adiknya yang parah? Raka sangat mengenal papa nya. Sering ia mendapati perhatian papa Erlangga pada Dariel lebih besar dari pada untuknya. Bahkan kepada Dariel, Erlangga sangat posesif.
Meskipun Dariel sudah beranjak remaja, papa Erlangga masih sangat memanjakan Dariel. Dan sekarang jelas terlihat keanehan terjadi pada Erlangga.
Harusnya papa Erlangga bersedih karena anak yang sangat diaayanginya sakit. Namun dalam sorot mata Erlangga ada sebentuk kebahagiaan yang tidak bisa diterima oleh Raka. Apakah sedemikian tertekan papanya?
__ADS_1
Raka masih membiarkan saat Erlangga memanggil-manggil nama Dariel. Sepertinya papa Erlangga mencoba membangunkan Dariel. Namun saat Erlangga menggoncangkan tubuh Dariel, Raka langsung pasang badan.
"Pa... jangan pa...!"