
"Maksud dokter, anak saya tidak bisa disembuhkan?" tanya Neta.
" Luka anak ibu sangat parah, sebenarnya bila melihat keadaan lukanya yang seperti ini belum pernah saya dapati bisa bertahan selama ini. Jadi saya kira ini suatu mujizat. Banyak - banyak berdoa supaya anak ibu bisa melewati masa kritisnya. Kedepannya perlu beberapa kali lagi operasi. Untuk menangani jantung dan paru-paru yang mengalami benturan cukup keras dikawatirkan ada kerusakan jaringan atau pembekuan darah di dalam. Cedera pada otaknya ditakutkan akan menyebabkan koma. Dua tulang rusuknya juga patah. Menurut perhitungan kami pasien tidak mungkin disembuhkan. Bahkan kalaupun sembuh akan mengalami kelumpuhan total." Dokter memberikan penjelasan yang semakin membuatnya sedih.
"Setidaknya masih ada harapan anak ku hidupkan dok?" Tanya Neta putus asa.
"Diperlukan beberapa operasi lagi Bu."
"Lakukan apa saja, supaya anak ku sembuh." Neta kembali memelas. "Kapan lagi operasinya dilakukan dok?"
"Operasi baru bisa dilakukan bila keadaan pasien sudah pulih, setidaknya saat sudah stabil. Diperlukan dana besar Bu untuk tindakan operasi, namun tidak menjamin anak ibu akan kembali normal." Dokter menjelaskan segala kemungkinan terburuk.
"Operasi yang harus segera dilakukan adalah mengamputasi kaki pasien. Ini sangat perlu dilakukan karena tulang kakinya hancur. Sehingga tidak mungkin dapat pulih, kalau lambat ditangani bisa - bisa infeksi dan bila sampai terjadi akan mengancam nyawanya. Kami memerlukan persetujuan dari keluarga dekat pasien untuk melakukannya." Kata dokter sambil menyodorkan lembar persetujuan.
"Jangan dok, jangan diamputasi. Saya tidak mau anak saya sampai cacat. Tolong beri penanganan terbaik. Atau kalau perlu carikan dokter terbaik. Saya akan membayar berapapun dananya." Kata Neta mengiba.
"Tolong selamatkan Non Kayra, dokter, nyonya Neta. Tolong lakukan apapun asal Non Kayra selamat. Hu.... hu....hu...." Kata bik Sari memelas. Bik Sari menangis meraung, tidak bisa menahan diri.
"Bik Sari lebih baik tunggu di luar. Ada beberapa hal yang aku mau diskusikan dengan dokter, ini juga untuk kesembuhan Kayra!" perintah Neta sambil melebarkan matanya saat melihat bik Sari yang ogah - ogahan pergi. Akhirnya Bik Sari keluar ruang dokter, ia berjalan gontai, ia ingin menemui Kayra di ruangan ICU.
Bik Sari ingin memeluk Kayra, menyemangatinya untuk terus berjuang. Dinding kaca membatasi mereka. Bik Sari tidak bisa menahan tangisnya. Kayra, yang sudah dianggap sebagai anak nya sendiri. Saat ini berbaring lemah tak berdaya melawan maut. Sekujur tubuhnya dibebat perban putih. Mengingatkan Bik Sari pada kepompong ulat sutra. Banyak selang yang tertancap masuk ke dalam tubuh Kayra. Juga selang bantu pernafasan. Monitor jantung saja yang jadi indikator masih ada kehidupan Kayra. Saat melihatnya membuat bik Sari semakin merinding ngeri.
"Ya Tuhan, ambil saja nyawaku selamatkan Non Kayra!" Teriak bik Sari.
Mang Ujang segera datang dan memeluknya. Ia memberikan kata - kata untuk menghibur. Padahal dirinya sendiri juga terpuruk. Seakan separuh nyawa terenggut dalam hidupnya. Air mata mengalir tak terkendali meleleh dipipi rentanya.
__ADS_1
"Sudah bu... kendalikan dirimu, Kayra akan sedih melihatmu seperti ini." Mang Ujang Menasehati.
"pak lihatlah keadaannya, sangat buruk. Dokter bilang sekalipun Kayra hidup, ia akan lumpuh total." Bik Sari meluapkan kesedihannya. Ia menangis, meraung seperti induk beruang kehilangan anaknya.
Rupanya ada perawat yang melihat keributan Bik Sari dan Mang Ujang. perawat itu menyuruh bik Sari untuk pindah ke ruang tunggu, khusus keluarga pasien.
Bik Sari menurut, saat ini yang bisa dilakukannya hanya menangis dan menangis. Mereka berjalan gontai menuju ruang tunggu yang tidak berapa jauh dari ICU.
Ada panggilan masuk ke nomor Mang Ujang. panggilan dari Cerry.
"pada kemana ini, kenapa rumah sepi?" tanya Cerry.
"Kami di rumah sakit non, non kayra kecelakaan." Kata Mang Ujang.
"Oh ya sudah, besok pagi - pagi saja aku ke rumah sakit. Sekarang sudah tengah malam dan aku sangat capek." Cerry menutup panggilan.
Di seberang telephon, Cerry tersenyum puas. "Hah.... akhirnya bisa kusingkirkan dia. Apapun akan ku lakukan, bahkan aku tidak ragu untuk melenyapkan siapa saja yang jadi pengganggu atau yang jadi penghalang jalanku." Cerry menyeringai puas karena rencananya berhasil. Ia telah menyuruh orang untuk merusak kan rem mobil Kayra.
***
Di tempat lain, di sebuah kamar kerja.
Erlangga sedang berbicara dengan Dio, asistennya.
"Bagaimana kondisi Kayra?" Tanya Erlangga.
__ADS_1
"Kabar yang saya dapat dari dokter yang menanganinya, saat ini non Kayra dalam masa kritis. Lukanya cukup parah diprediksi tidak bisa bertahan hidup lebih lama, kalaupun sembuh akan lumpuh total."
Dio mencoba menjelaskan keadaan Kayra dengan sangat hati - hati takut pada respon tuan besarnya.
"Segera datangkan dokter terbaik dari Singapura.. secepatnya!!!" perintah Erlangga.
"Baik Tuan, segera saya kerjakan!" Dio segera berjalan hendak keluar ruangan, saat ia akan membuka pintu dihentikan Erlangga.
"Apa Dariel sudah tahu kabar ini?"
"Seharusnya belum Tuan, karena segera setelah mendapat perintah Tuan, saya langsung sabotase signal hp tuan muda. Juga penerbangan dan perjalanannya ke proyek terpencil papua lancar tidak ada kendala. Juga ada bodyguard menyamar yang akan memastikan Tuan Muda tidak mengetahui kabar ini. Jadi saya pastikan Tuan muda tidak akan tahu kabar tentang non Kayra." Jawab Dio meyakinkan.
"Maaf tuan, apakah saya boleh tahu mengapa Tuan besar merahasiakan ini pada Tuan Muda?" Tanya Dio dengan takut - takut.
"Aku takut Dariel akan terpuruk saat mengetahui kabar ini karena Kayra cinta pertamanya. Dariel pernah sakit parah dan hampir tidak bisa tertolong saat ibunya meninggal. Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi." Kata Erlangga ragu.
"pastikan juga Dariel dapat perlindungan ekstra di sana. Jangan sampai ia kabur."
"Baik Tuan." jawab Dio
"Sudah jangan tanya - tanya lagi, segera kerjakan tugasmu!" Erlangga menutup pembicaraan. pembicaraan ini membuatnya mengingat mendiang Jasmine istrinya yang telah meninggal dua tahun lalu. Kangker rahim merenggut hidup Jasmine. Bertahun - tahun tanpa penanganan, karena Jasmine menutupi penyakitnya. Hingga saat sudah pada stadium empat baru ketahuan. perawatan terbaik sudah diberikan, namun sudah sangat terlambat. penyakitnya tidak dapat diobati. Erlangga sampai mendirikan sebuah rumah sakit berkelas internasional 'Rumah Sakit Melati' untuk mengenang istri yang sangat dicintainya.
"Baik Tuan." Dio segera meninggalkan ruang kerja Erlangga. Ia segera menghubungi dokter spesialis di Singapura.
***
__ADS_1
Di pelosok papua, dalam kamar sederhana. Hanya ada sebuah kasur kayu dengan busa tipis. Dariel menangis dalam diam. Ia sudah mengetahui kecelakaan yang dialami Kayra. Ingin sekali ia kembali ke Jakarta untuk menjenguk dan mengetahui kabar Kayra namun ada sesuatu hal yang membuatnya mengurungkan niatnya.