
Dariel sempat bertanya- tanya dalam hati. Mengapa saat ia melihat si ketua BEM itu, seketika hatinya terusik? Sepertinya pria itu menjadi ancaman buat nya. Apakah pria itu akan jadi saingan nya dalam memperebutkan hati Kayra?
"Jangan coba- coba," desis nya dalam hati. Ia tidak akan membiarkan istrinya dilirik orang lain. "Lihat saja... aku akan buat perhitungan pada siapa pun yang macam- macam." Gumam nya marah. Gigi Dariel mengetat dan bergemeretuk.
Acara masih belum selesai juga, ada beberapa pengarahan yang diberikan beberapa dosen dan komisaris BEM. Bagi Dariel, bukan hal yang menarik. Ia sudah tidak sabar mengajak Kayra jalan- jalan.
Pengarahan dari rektor universitas akhirnya menjadi penutup acara siang itu. Seketika membuat Dariel bernafas lega.
Maba sudah dibubarkan, namun Kayra masih bertahan di ruangan aula bersama Dariel. Ia menolak ajakan Tia untuk pulang bersama.
"Ngapain sih dari tadi kita disini?" Tanya Dariel kebingungan melihat Kayra yang berputar- putar mengawasi ruangan aula yang besar.
"Ra.... ada apa?" Tanya Dariel bertambah bingung.
"Ada cctv di mana saja, harus nya kampus ini jadi tempat paling aman." Kata Kayra sambil menggeleng- gelengkan kepalanya.
"Ra.." Lagi- lagi Dariel memanggil Kayra yang tiba- tiba ngeloyor keluar dari aula.
"Kayra benar- benar aneh" gumam Dariel tidak mengerti. Dariel hanya mengikuti Kayra dari belakang menuju parkiran mobilnya.
Sepanjang perjalanan Dariel membiarkan kebisuan diantara mereka. Bahkan saat mereka mengantri saat beli es krim tidak ada pembicaraan sama sekali. Dariel asal saja memilihkan berbagai rasa dari es krim nya.
Tiba-tiba Kayra berbicara melalui telepati. "Riel... aku merasa ada seseorang yang memasang penyadap dekat kita." Kata- kata Kayra membuat Dariel bertanya- tanya.
"Iyakah? Bagaimana kamu mengetahui nya?" Tanya Dariel melalui telepati.
"Aku melihat ada kelebatan tangan yang melakukan hal mencurigakan. Di daun pintu dekat mu." Kata Kayra masih dengan telepati.
Dariel menghentikan mobil dipinggir jalan, ia mulai meraba- raba seluruh permukaan pintu, dan akhirnya ia menemukan nya. Sebuah benda kecil. Penampakannya seperti kamera hp yang cukup kecil direkatkan dengan selotip. Dariel segera menariknya dan melemparkan kearah mobil yang melaju lalu lalang.
Ia tidak tahu pasti kemana arah kamera mini itu terlempar. Namun ia rasa, kamera itu terlontar ke atap sebuah mikrolet.
"Gimana Ra... sudah aman?" Tanya Dariel. Ia kagum istrinya mempunyai kemampuan khusus seperti ini?
__ADS_1
"Ya... aku sudah tidak merasa di ikutin." Jawab Kayra lega.
"Ra... bagaimana kamu bisa tahu?" Tanya Dariel penasaran.
"Entahlah.. tiba- tiba saja. Terlintas bayangan dua orang pria mengancam mu. Dan salah satunya meletakkan benda itu." Kata Kayra sedikit ragu.
"Seperti apa mereka?" Tanya Dariel memastikan. Apakah mungkin dua mahasiswa arogan di parkiran tadi pelakunya?
"Yang satu berkulit putih, yang satu berkulit hitam dan lebih tinggi." Jawaban Kayra membuat Dariel gusar.
"Apakah mereka benar- benar mengancam mu Riel?" Tanya Kayra cemas.
"Ya mereka menggertak ku, menghina mobil ku. Dan katanya aku tidak pantas berkuliah di sana. Kalau aku tidak keluar, mereka yang akan mengeluarkan ku." Jawab Dariel blak- blakan.
"Riel.. kita ke taman sebentar yukk, supaya kita enak bahas ini sambil kita makan es krim." usul Kayra.
Dariel pun melajukan mobilnya menuju Taman Pelangi. Mereka memilih sebuah bangku yang cukup terlindung dari sinar matahari.
Kayra segera membuka bungkusan es krim nya dan memberikan sebuah untuk Dariel.
"Riel.... hari ini di kampus ada kejadian aneh banget. Pertama teman ku Tia. Banyak hal ditutup- tutupinya dari ku. Ke dua bu Jessie. Ia menyuruh agar ada bodyguard yang menjaga ku. Katanya di kampus ada yang suka membulli. Padahal dalam hati nya ia mengatakan ada psikopat di kampus." Cerita Kayra panjang lebar.
Dariel menghembuskan nafas dalam. "Sepertinya memang ada yang seperti itu di kampus. Rara... kamu mesti hati- hati ya. Kalau ada sesuatu yang terjadi. Segera hubungi aku dengan telepati. Aku jadi was- was mengingat dua orang yang mengancam ku tadi. Sepertinya mereka hanya orang suruhan. Aku menduga ada suatu kelompok rahasia dengan tujuan yang berbahaya. Ra... apakah kita perlu pindah kampus?" Tanya Dariel ragu.
Kayra menggeleng, "Tidak Riel... kita sudah masuk ke dalam nya, kita harus bisa membersihkan kampus dari hal- hal yang tidak benar. Bagaimana pun, itu yayasan punya keluarga kita. Jangan sampai dikotori dengan kejahatan." Kata Kayra yakin.
"Baik lah.... kita akan mengungkap nya. Apakah kita perlu memberi tahu papa dulu?" Tanya Dariel.
"Kita belum benar- benar tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam kampus. Mungkin kalau semua sudah terlihat jelas baru kita libatkan papa. Gimana Riel?" Tanya Kayra meminta pertimbangan.
"Ya sepertinya itu lebih baik, kalau kita beritahu sekarang papa pasti cemas. Bisa saja papa langsung mengirim kita kuliah di luar negeri. Dan segala misteri di kampus tidak akan terkuak." Jawab Dariel.
Mereka pun menikmati es krim nya. Tiba- tiba terdengar dering hand phone Kayra. Saat Kayra melihatnya ia langsung tersenyum bahagia. Ibunya menelephon.
__ADS_1
"Hallo... Ra... gimana kabar kamu nak?" Tanya ibu Neta di seberang.
"Rara baik buk." Ada kerinduan dalam hati Kayra padahal hanya beberapa hari mereka berpisah.
"Ra... ada hadiah buat kalian yang belum kami berikan. Bisakah datang ke rumah?" Tanya ibu Neta penuh harapan.
"Iya Bu... terima kasih hadiah nya, nanti aku bilang dulu sama Dariel. Kapan kami bisa ke sana." Jawab Kayra.
"Iya Nak... kami tunggu ya." Ibu Neta mengakhiri panggilan telephon nya.
Dariel menunggu nya dengan tanda tanya.
"Riel... ibu menyuruh kita datang ke rumah. Katanya ada hadiah buat kita." Kata Kayra dengan rasa senang yang meluap- luap.
"Kalau gitu kita ke sana saja sekarang." Jawab Dariel antusias.
"Tapi kita sudah janji mau ke rumah sakit nengokin babby boy?" Tanya Kayra bimbang.
"Gak papa Ra... kita kerumah ibu ambil hadiah dulu baru kita ke Rumah sakit." putus Dariel, Kayra pun setuju. Mereka bergandeng tangan kembali ke parkiran mobil.
Saat di parkiran mereka melihat sosok yang mereka kenal. Tia sedang berangkulan dengan seorang pria masuk menuju ke sebuah kafe.
"Ra... itu teman mu kan?" Tanya Dariel memastikan.
"Iya, itu Tia. Bersama siapa ya? Apakah mungkin itu saudaranya? Mereka terlihat akrab banget." Kata Kayra penasaran.
"Hahah... kamu sudah suka bergosip sekarang ya?" Kata Dariel sambil memencet hidung Kayra.
"Cuma bilang gitu aja dikatain ngegosip?" Kayra tidak suka dibilang bergosip. Ia buru- buru masuk ke dalam mobil.
"Gitu aja istri ku ngambeg? Ayo kita temui Tia dan tanya siapa pria yang bersamanya? Supaya Rara ku ini gak penasaran." Kata Dariel menggoda Kayra.
"Apa an sih....," Protes Kayra.
__ADS_1