Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Sandra


__ADS_3

Kayra menggeleng. "Tidak ... aku baru melihatnya di sini." Kata Kayra jujur.


"Dimana? apakah aku juga bisa melihatnya? Aku ingin melihat kembaranku. Aku sangat merindukannya." Shinta berjalan mendekati Kayra. "Ku mohon... bantu aku bertemu dengannya." Shinta menggenggam jemari Kayra.


"Aku tidak tahu apakah bisa. Terus terang aja ini juga pengalaman pertama ku melihat arwah." Jawab Kayra jujur.


"Ra... tolonglah agar aku setidaknya bisa berkomunikasi dengan kembaranku lagi. Seperti waktu kita di rumah makan." Kata Shinta antusias.


"Maaf Shinta... aku tidak bisa mengundang arwah untuk merasuki ku." Kayra jadi merasa tidak enak karena telah membohongi Shinta waktu di rumah makan. Sebuah kebohongan dengan tujuan baik. Namun sebaik apapun kebohongan, bagi Kayra tetaplah sebuah keburukan. Ajaran ayahnya telah berakar kuat dalam hatinya.


Namun untuk kali ini kebohongannya sangat terpaksa harus dilakukan. Karena kebohongan nya semata- mata untuk ia bisa lepas dari Shinta. Kenyataannya ia malah dapat bonus yaitu bahwa Shinta telah membuat keputusan berhenti dari bisnis mucikari. Sebuah komitmen Shinta yang membuat Kayra bangga.


Saat ini Kayra tidak ingin membuat Shinta kecewa. Ia harus menjaga perasaan Shinta agar tidak terpuruk pada rasa sakit hati dan akhirnya akan mendorong Shinta melakukan kejahatan lagi.


Kayra ingin sekali membantu Shinta untuk dapat bertemu dengan arwah saudara kembarnya. Atau paling tidak, bisa berkomunikasi dengannya. Namun masalahnya Kayra tidak tahu cara melakukannya.


Kayra memandangi sosok transparan yang melayang dekat Shinta.


"Apakah kamu benar arwah Sandra, adik Shinta?" Kayra mencoba menanyai sosok transparan itu. Namun tidak memberikan respon seperti yang diharapkan Kayra. Shinta melongo.


"Ra... kamu bisa bicara dengan Sandra?" Tanya Shinta penasaran.

__ADS_1


Kayra menggeleng lemah. "Arwah itu tidak menanggapi ucapan ku."


"Oh.... " Shinta terlihat kecewa, namun ia tidak mungkin menyalahkan Kayra. "Hari sudah mulai malam, apakah Rara tidak lapar?"


"Masih kenyang, aku makan brownis cukup banyak." Jawab Kayra.


"Sebaiknya kamu istirahat aja di kamar. Kamu pasti lelah setelah seharian naik kereta api. Kalau nanti malam tiba- tiba lapar, bikin mie instan aja. Stock nya banyak di dapur. Anggap aja rumah sendiri."


"Oke. Aku masuk kamar dulu ya." Kayra pamit menuju kamar di lantai dua untuknya. Sementara Shinta masih bertahan di sofanya. Lamat- lamat ia dengar Shinta berkata.


"Sandra... apa kau dengar aku? Bicaralah Sansan. Aku sangat merindukan mu....." Dari tangga Kayra hanya menoleh ke arah Shinta, arwah yang tadi selalu berada dekat Shinta sudah tidak ada lagi di sana.


"Wah... kamar yang indah." Kayra berdecak kagum. Kamar bernuansa pink, sprei, sarung bantal juga tembok dan beberapa ornamen berwarna merah muda. Semua terlihat barang- barang berkelas. Kayra mengedarkan pandangnya ke sekeliling kamar. Ia tertarik pada sebuah foto keluarga yang terpaku di dinding berukuran cukup besar. Foto itu berbingkai kayu ukir yang terlihat elegant. Dalam foto terlihat sepasang suami istri yang mengapit dua orang anak gadis kembar berseragam smp. Kayra mengenali wajah kedua gadis kembar itu. Ya wajah mereka mirip dengan sosok transparan yang tadi dilihatnya melayang dekat Shinta.


"Hemmm berarti benar, tadi yang dibawah adalah kembaran Shinta. Tapi sayang aku gak bisa mengajaknya berkomunikasi."


Kayra mendesah. Ia ingin sekali membantu Shinta. Namun apa daya ia tidak tahu bagaimana caranya. Kayra memutuskan untuk segera mandi dan istirahat. Badannya terasa lengket juga sekujur tubuhnya terasa pegal. Diambil nya sebuah baju tidur berwarna pink. Sebenarnya semua baju dalam almari berwarna merah muda. Bahkan dalaman semua berwarna merah muda. Handuk yang tersusun di rak terbawah juga semua berwarna pink. Kayra menyunggingkan senyum.


"Ide yang bagus. Hehehe kalau aku sudah pulang nanti akan ku ubah kamar ku serba kuning. Mungkin akan sangat menyenangkan dikelilingi dengan warna favorit." Gumamnya dalam hati.


Kayra masuk ke kamar mandi yang juga bernuansa pink. Membuatnya serasa tinggal di dunia penuh cinta bernuansa pink romantis. Ada sebuah bathup yang segera menarik Kayra untuk segera berendam di dalamnya. Aroma segar nan wangi langsung merebak memenuhi ruangan kamar mandi. Beberapa lama Kayra berendam dengan air hangat bercampur sabun mandi aroma terapy. Membuat sejenak ia meluakan kelelahan tubuhnya setelah hampir lima belas jam dalam kereta api.

__ADS_1


Tiba- tiba ia teringat Dariel. Kayra sangat merindukannya. Namun ingatannya pada acara makan malam kemarin sangat menyakiti hatinya. Saat Dariel tiba- tiba berlari meninggalkannya dengan raut wajah kecewa. Mata Kayra menghangat, dan tanpa bisa dicegah air mata mengalir deras membasahi pipinya. Kayra terisak meluapkan kesedihannya. Ia mengingat lagi keputusannya meninggalkan Dariel.


"Ya... ini keputusan terbaik. Dengan meninggalkannya akan memperkecil kemungkinan aku melukainya. Kalau kami memang berjodoh, pada waktunya nanti saat aku terlepas dari kutukan. Kami akan bersatu dan tidak ada yang bisa memisahkan kami." Kayra segera keluar dari bathup dan berganti pakaian. Badannya sudah kembali terasa segar.


Kayra merebahkan tubuhnya di kasur yang cukup nyaman. Kepalanya masih terbungkus handuk, rasanya ingin segera tidur. Namun rambut yang basah terasa tidak nyaman. Kayrapun kembali bangkit menuju kaca rias. Ia mengambil hair drayer dan segera mengeringkan rambut panjangnya. Sesekali ia melihat bayangan wajahnya yang cantik. Ia tersenyum memandang wajahnya.


"Ibu... aku tahu engkau tidak pernah jauh dari ku. Engkau pasti mendukung keputusan ku meninggalkan Dariel, iya kan bu?" Bayangan dalam cermin tersenyum. Lamat-lamat bayangan Kayra berubah menjadi Neta. Kayra terkejut, serta merta ia menyambar selimut dan menutupi kaca rias. Jantungnya berdebar- debar. "Aku sudah gila."


***


Neta yang saat itu merapal mantra didepan kaca rias antik, seketika mengumpat. "Bagaimana mungkin mantra ku tidak bekerja? Apa aku mungkin sudah terlalu lemah? Mungkin perlu beberapa tumbal untuk memulihkan kekuatanku." Gumam Neta marah.


***


Kayra sangat terkejut setelah melihat bayangannya berubah menjadi Neta ibu tirinya. Masih dengan terengah ia berusaha meredakan detakan jantungnya. Ia membuka kulkas mini di pojok ruangan. Mengambil sebotol air mineral dingin dan langsung meminum beberapa teguk. Segera tenggorokannya basah dan jantungnya pun mulai berdetak normal.


"Hhhhhh lebih baik aku cepat tidur."


Kayrapun memejamkan mata dan tak berapa lama ia pun terlelap. Dalam tidurnya ia memimpikan masa kecil bersama ayahnya. Mereka sedang bermain di sebuah taman. Kayra kecil tertawa lepas. Ia begitu bahagia. Kemudian datang seorang wanita cantik membawa tiga cone es Krim. Wanita itu.... Neta. Tiba- tiba saja nafasnya sesak. Seperti ada yang mencekik lehernya. Kayra terbangun dari tidurnya. Saat ia membuka mata, suasana kamar terasa mencekam. Lampu tidurnya berkedap- kedip menyeramkan. Ada sesosok transparan berdiri di dekatnya.


"San.... dra?"

__ADS_1


__ADS_2