
Kayra tidak bisa menahan lebih lama rasa penasarannya. Ia pun bertanya pada Dariel.
"Riel... ada yang aneh dengan kak Keke dan kak Raka. Mengapa ya mereka sepertinya tidak menikmati pesta kita?" Tanya penasaran Kayra.
Dariel mencoba mencari- cari keberadaan kakak nya. Ujung mata nya akhirnya dapat menemukan kak Raka dan kak Keke. Mereka sepertinya mencemaskan sesuatu.
"Coba ku samperin aja mereka." Dariel pun berjalan mendekati kak Keke dan kak Raka. Sepertinya mereka sedang berantem. Terlihat wajah mereka bertekuk menahan amarah.
"Kak Keke ada apa?" Tanya Dariel memastikan keadaan kakak iparnya.
"Nggak apa- apa, itu kak Raka aja yang terlalu posesif." Kata kak Keke ketus.
Jawaban kak Keke semakin membuat Dariel kawatir. Selama ini Dariel tidak pernah melihat kakak nya berantam dengan istrinya. Namun kali ini terlihat sekali kalau pasangan suami istri ini sekarang sedang bermasalah.
"Riel... kakak tidak tahu harus ngomong apa lagi, kak Keke sangat keras kepala. Bagaimana kalau terjadi apa- apa pada nya?" Kak Raka terlihat sangat marah dan cemas.
"Ayolah kak... ini acara bahagia buat keluarga kita. Cobalah saling mendengar. Mungkin ada kebenaran pendapat orang lain." Dariel mencoba menasehati kakak nya. Ini baru pertama kalinya ia menasehati kakak nya sendiri.
Raka terdiam mencerna nasehat Dariel. Adik nya memang benar, ia harus percaya pada istrinya. Sementara Keke juga terdiam.
Raut kesakitan terpancar dari wajah Keke. Usahanya menahan sakit jebol juga. Air mata mulai mengalir membasahi pipi Keke.
"Kak Keke... ada apa kak?" Tanya Dariel saat melihat kak Keke kesakitan. Pertanyaan Dariel seketika membuat Raka dilanda kecemasan luar biasa. Ia segera mendekati Keke.
"Riel... maaf kan kak Keke ya.... a.... duh... sakit" kata Keke sambil memegang perut nya.
Dariel masih kebingungan. Raka sudah paham pada keadaan Keke. Ia segera membopong Keke keluar dari ruang pesta. Meninggalkan Dariel yang melongo kebingungan. Kecemasan meliputi pikiran Raka. Apa yang ditakutkan sekarang benar terjadi.
"Ke... bertahan ya... sayang." Bisik Raka menyemangati Keke yang kesakitan. Raka tidak habis pikir pada kekerasan hati istrinya. Sebenarnya sepulang dari acara pemberkatan Dariel dan Kayra. Perut Keke sudah mulai sakit.
Mulai siang Raka mengajak Keke ke rumah sakit. Namun Keke mengeraskan hati. Ia ingin memastikan acara Resepsi adik iparnya berjalan dengan baik.
"Pasti kontraksi Keke sudah tak tahan lagi" pikir Raka, karena saat ini Keke pasrah saat digendongnya menuju ke parkiran mobil.
Raka membopong istrinya menuju ke ambulan yang sudah diperintahkannya bersiaga di depan gedung resepsi. Dua orang pria berseragam perawat segera membantu Raka menyiapkan ranjang dorong.
Saat Keke dibaringkan di brankar, ia terkulai lemas dan pingsan. Seketika membuat Raka histeris.
"Ke... ke... sadar...!" Raka menepuk-nepuk pipi Keke. Namun tidak juga membangun kannya.
"Cepat... cepat... !" Teriak Raka kalut. Membuat dua perawat tergesa- gesa mendorong barankar tempat Keke terbaring. Mereka semakin kalut karena dokter yang seharus nya ikut bersiaga dengan mereka sudah kembali ke rumah sakit.
Dokter Nita tiba- tiba sakit perut. Sudah beberapa kali Sang Dokter keluar masuk kamar mandi. Membuatnya lemas hingga ia memutuskan ke rumah sakit. Baru saja dokter Nita dijemput Gocar belum sampai lima menit, Raka datang tergopoh- gopoh membopong istrinya.
Kedatangan Raka membuat sopir dan perawat itu kalang- kabut. Si perawat memberanikan diri mengatakan masalah mereka ditengah- tengah kepanikan mereka.
"Tuan Raka.. maaf, dokter Nita mendadak sakit perut dan barusan beliau pergi ke rumah sakit. Dokter penggantinya masih dalam perjalanan kesini." Kata sang perawat dengan suara bergetar.
"Ya Tuhan... kenapa ini bisa terjadi?!" Teriak panik Raka. "Sudah... lebih baik cepat bawa istri saya ke rumah sakit!" Bentak Raka emosi. Ia melampiaskan segala kekesalannya.
Brankar Keke sudah berhasil dinaikkan. Sang perawat segera memasang selang oksigen di hidung Keke. Ia juga memeriksa denyut jantung Keke. Denyutan jantungnya mulai melemah. Membuatnya tidak bisa berpura- pura baik- baik saja.
"Pak Tama.. cepat bawa mobilnya secepat mungkin. pasien kritis!" Teriaknya sambil segera menutup pintu belakang mobil. Teriakan perawat membuat jantung Raka berdetak sangat cepat. Bagaimana kalau Keke tidak bisa tertolong? Pikiran buruk langsung mengganggu nya. Raka menatap Keke was- was. Yang pertama diperhatikan adalah gerakan naik turun dada Keke yang terlihat samar. Keke seperti seperti sedang tertidur sangat nyenyak.
"Keke.... sayang.... bertahan lah.. untuk anak kita yang akan segera kamu lahir kan. Keselamatan nya tergantung pada mu Ke.... kamu harus bertahan, untuk anak pertama kita." Bisik Raka tepat di telinga Keke.
__ADS_1
Namun Keke tidak memberi respon sama sekali. Semakin membuat Raka panik. Berkali- kali ia mendesah dalam kekalutannya. Apalagi saat Raka melihat ada pergerakan dalam perut Keke, seakan bayi dalam kandungannya sudah tidak bisa menahan diri untuk segera lahir ke dunia.
Melihat keadaan Keke yang memprihatinkan, membuat seorang pria kuat, menangis pilu.
Suara nyaring sirine membelah jalan raya. Seakan berlomba menyaingi deru ribuan kendaraan yang berlalu lalang, dijalanan padat.
Mereka baru berjalan seperempat jalan, saat ada ratusan motor menguasai jalan raya. Seakan kemalangan Keke sudah diatur sedemikian rupa. Ratusan motor itu memadati jalan raya. Seakan sengaja menghalangi laju kendaraan lainnya tak terkecuali ambulan yang membawa Keke di dalam nya.
Meskipun Ambulan meraung- raung meminta jalan namun parade ratusan motor itu tak juga bergeming. Dalam hati Raka menyumpah serapah. Mengutuki pengendara motor yang bandel itu. Ia bersumpah dalam hati, kalau sampai terjadi apa- apa pada Keke dan bayinya, ia akan membuat perhitungan dengan orang- orang itu.
Sopir Ambulan pun dibuat kelabakan. Pengendara motor yang berparade melaju dengan ugal-ugalan. Tidak memberikan jalan buat ambulan. Membuat nya panik. Ia tahu tugas tanggung jawabnya adalah membawa pasien dengan cepat dan selamat. Tapi ini? Ia mati kutu dibuat oleh parade si*lan ini.
Terlebih saat beberapa orang ada yang dengan sengaja membuang botol minum dan puntung rokok di kaca depan mobil ambulan. Rasa- rasa nya ia ingin turun dan menghajar orang- orang itu. Namun sang sopir harus tetap sabar, untuk menghindari masalah yang tidak diperlukan.
Pikiran Raka jadi semakin kusut. Mengapa ini terjadi pada mereka?
Ada seseorang yang juga melempar sesuatu dibawah ban mobil. Sepertinya itu sebuah untaian paku. Karena tiba- tiba saja laju mobil menjadi oleng. Berjalan zig zag menabrak beberapa pengendara hingga banyak motor terjatuh.
Tidak ada jalan mundur, kalau saat ini mereka berhenti. Mungkin saja ambulan akan jadi bulan- bulanan parede motor itu. Sang sopir memutuskan untuk terus melaju.
Tiba- tiba ada cahaya sangat terang dari belakang mobil mereka. Cahaya itu seperti menyelimuti mobil Ambulan mereka.
"A..... a..." teriak Raka, sopir dan perawat bersamaan. Saat mereka merasakan ada dorongan kuat. Seakan ada yang mendorong mobil mereka dari belakang dengan kekuatan supersonik. Sesaat kegelapan menyelimuti mereka. Mungkin hanya hitungan beberapa detik. Tapi rasanya mereka seperti ditarik masuk ke dalam ruang hampa udara.
Sesaat kemudian terlihat lampu- lampu berpijar. Semakin lama semakin jelas. Terlihat ada sebuah pintu kaca yang sangat besar bertuliskan "UGD". Untung sang sopir dengan cekatan menginjak rem nya, hingga mobil ambulan itu tidak menabrak kaca.
Mendengar decitan rem yang cukup keras membuat para dokter dan perawat di dalam ruang UGD segera menghambur keluar. Mereka ingin tahu apa yang terjadi. Saat melihat sebuah ambulan nyaris menabrak pintu UGD, mereka sempat marah dan memaki- maki sopir. Bagaimana tidak? Mobil itu hanya berjarak sepuluh senti meter dengan kaca pintu.
Kemarahan para medis seketika menguap saat Raka keluar dari pintu ambulan.
"Cepat... tolong istri saya, bawa ke ruang operasi!" Teriakan Raka seperti suara tembakan di telinga mereka. Membuat dokter, perawat dan security berhambur untuk melakukan tugas nya masing- masing.
Keke sudah di bawa ke ruang operasi untuk di tangani. Sementara Raka, sopir dan perawat yang membawa Keke tiba- tiba pingsan. Mereka syok sesudah berhasil mengantar Keke sampai depan ruang operasi. Kejadian yang barusan mereka alami tidak dapat diterima nalar. Itulah yang membuat mereka sampai syok dan pingsan.
Ketiga orang yang pingsan itu segera mendapatkan penanganan dari tim medis.
Di tempat lain, di ruangan pesta resepsi. Terlihat Dariel menarik tergesa Kayra menuju sebuah ruangan.
"Riel ... ada apa?" tanya Kayra penuh tanda tanya. Ia sangat kaget saat melihat kepanikan Dariel sekembalinya dari toilet.
Dariel masih membungkam, hingga mereka masuk ke dalam sebuah ruangan santai. Dariel mengunci pintu di belakangnya.
"Riel... ada apa? Kata kan pada ku? Kau membuat ku takut." Kata Kayra cemas.
"Ra... tolong ... bantu ... kak Keke!" Kata Dariel dengan nafas tersengal.
"Ada apa dengan kak Keke?" Kayra jadi semakin panik. Ia tadi melihat kak Keke dan kak Raka seperti berantem. Ada apa sebenar nya? Mengapa ia harus membantu kak Keke.
"Ra.. kak Keke kritis." Kata Dariel lemas.
"Di... di mana kak Keke?" Tanya Kayra semakin panik.
"Sekarang sudah di ruang operasi. Aku tidak yakin, dokter- dokter itu bisa menyelamatkan kak Keke dan bayi nya... tolong Ra... bantu kak Keke." Kata Dariel mengiba.
Kayra menjadi panik. "Riel.. kutukan itu sudah hilang dari tubuh ku. Mungkin... aku sudah tidak punya kemampuan khusus ku lagi." Kata Kayra penuh penyesalan.
__ADS_1
Dariel mengambil sebilah pisau lipat dari kantong bajunya. Tanpa pikir panjang ia menyayat nadi di lengan kirinya. Darah seketika mengalir, menetes membasahi lantai granit.
Melihat kenekatan Dariel, Kayra berteriak- teriak ketakutan.
"Riel... Riel... apa yang kamu lakukan?" Kayra segera menutupi luka Dariel dengan telapak tangannya. Ia mulai berkonsentrasi membayangkan tangan Dariel pulih dan baik- baik saja. Benar saja seketika itu juga, darah yang mengalir terhenti juga luka di tangan Dariel seketika menutup kembali. Tidak ada jejak luka sedikit pun.
Kayra terpana. "Riel ... aku bisa!" Seru Kayra kegirangan.
"Ayo kita pergi bantu kak Keke." Dariel langsung mendekap Kayra dan membawanya berteleportasi ke ruang operasi kak Keke. Dariel membuat lingkaran pencuri di dinding ruang operasi. Memberikan tempat tersembunyi bagi mereka hingga bisa melihat kepanikan para dokter dan perawat.
Seorang dokter bedah tampak marah- marah pada asisten nya. "Cepat.. persiapkan anastesinya. Ini keadaan darurat!" Geram sang dokter dengan teriakan tertahan dalam geraman.
Para medis yang berada di dalam ruangan terlihat sangat tertekan. Bukan hanya karena mereka menghadapi pasien yang sedang kritis saja. Namun ada beban moral yang cukup berat. Pasien yang mereka tangani saat ini adalah menantu pemilik rumah sakit.
Erlangga reputasinya sangat baik dimata semua karyawan nya. Erlangga sangat murah hati dan memperhatikan kesejahteraan semua karyawan nya. Bahkan karyawan terendah pun diperlakukan dengan sangat baik. Itulah sebab nya setiap orang yang bekerja dengan Erlangga serasa memiliki hutang budi pada nya. Tak terkecuali para medis yang saat ini berusaha mati- matian untuk menyelamatkan Keke dan bayinya.
"Ra... nanti aku akan matikan lampu di ruang operasi, kamu harus cepat membantu Kak Keke. Aku percaya dengan kemampuan mu kamu pasti bisa." Bisik Dariel di telinga Kayra. Ia pun mengangguk.
Rupanya kepanikan dalam ruang operasi semakin bertambah saat monitor jantung Keke menunjukkan tanda terendah.
"Siapkan defibrilator !"
'Tek'
"Apa- apa an ini... kenapa tiba- tiba lampu mati!" Suara- suara panik membahana dalam ruangan.
"Cari lampu, apa saja!" Teriak para dokter.
Kayra langsung mendekati ranjang Kak Keke. Ia menyentuh perut Keke, kandungan Keke bergerak- gerak. Tiba- tiba di dalam kegelapan terdengar suara yang mengejutkan. Teriakan Keke menggema.
"A... a ....gh...." Dokter bedah dan tiga orang asistennya segera menghambur ke arah Keke. Dengan penerangan lampu sorot hp mereka memeriksa keadaan Keke. Mereka keheranan, melihat Keke sudah sadar dan saat ini ia sedang mengerang kesakitan. Mengabaikan segala keanehan yang terjadi. Sang dokter segera memberikan arahan pada Keke.
Keke diposisikan duduk dengan paha terbuka lebar.
"Saat ada kontraksi lagi, langsung dorong sekuat tenaga. Jangan berteriak...!" Kata dokter dengan suara bergetar.
"A...a...gh" Desah Keke mendorong kuat- kuat bayinya.
Terdengar suara tangisan bayi menggema di ruang operasi.
"Oe... oe....oe.." Tangisan bayi menggetarkan dinding- dinding ruangan. Yang menjadi saksi terjadinya sebuah keajaiban. Bersamaan lampu ruang operasi pun menyala terang.
Di salah satu dinding ruangan tersembunyi oleh lingkaran gaib. Dariel dan Kayra berpelukan. Mereka sangat bahagia melihat bayi dan Keke baik- baik saja. Kelahiran bayi mungil itu telah membawa suka- cita. Semua orang di ruangan itu sangat bahagia. Saat sang dokter mengucapkan selamat pada Keke yang telah jadi seorang ibu. Tanpa disadari matanya berkaca- kaca meluapkan kebahagiaan nya.
"Nyonya Keke, selamat atas kelahiran putranya. Nyonya ini benar- benar Miracle. "... hik...hik.. " Tangisan dokter Aldi membuat Keke tersenyum. Seorang laki- laki menangis karena kelahiran putranya? Itu sesuatu yang sangat menyentuh.
Keke masih mencoba mengumpulkan ingatannya. Ya seharian ini ia sudah menahan segala kesakitan kontraksi yang dialaminya. Semua itu ia lakukan agar acara resepsi Dariel dan Kayra bisa berlangsung lancar sampai selesai. Meskipun ia juga harus menghadapi kemarahan Raka karena sangat mengkuatirkan nya.
Namun seingat nya tadi ia tiba- tiba pingsan. Dan tadi ia merasa ada yang menyentuh perut nya dan seketika membuat perutnya sangat sakit seperti di robek. Ternyata, bayinya mendesak keluar. Dua kali dorongan, bayi mungil nya terlahir selamat.
Keke tersenyum bahagia. "Dokter... terimakasih telah membantu kelahiran saya." Kata Keke tulus.
"Sama- sama Nyonya. Saya akan membantu membersihkan rahimnya. Kalau nanti ada dorongan untuk mengejan biarkan saja. Karena plasenta akan keluar sendiri." Dokter memberi penjelasan. Tidak berapa lama plasenta dan tali pusar bayi keluar.
Dokter pun melanjutkan tindakan nya dan terakhir ia menjahit sobekan pada jalan lahir bayi.
__ADS_1
Keke tidak sabar ingin menunjukkan bayi nya pada Raka, suaminya. Pasti Raka akan sangat bahagia mendapatkan bayi laki- laki yang sangat tampan.
"Ayo Ra... kita kembali." Bisik Dariel dan membawa Kayra berteleportasi.