Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Melepas untuk bisa memeluknya erat


__ADS_3

Sepulang Dariel dari cafe, hari sudah mulai petang. Ia bergegas masuk ke rumah. Keadaan rumah sepi, sepertinya semua anggota krluarga sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Tanpa disadari Dariel, papanya ternyata sedang duduk menonton tv di ruang keluarga.


"Riel...!" Panggil papa Erlangga mengagetkan Dariel.


"Ya pa..." Jawab Dariel terkaget. Ia segera menghampiri papanya. Ia duduk di sofa sebelah papanya.


"Baru pulang?" Tanya Papa Erlangga memastikan apa sebenarnya aktifitas Dariel di kampus. Ia mengkawatirkan keadaan Dariel semenjak Kayra meninggalkannya. Erlangga takut kalau-kalau masalah yang dihadapi Dariel membuatnya sampai salah pergaulan.


"Tadi ketemuan sama teman membahas tugas kuliah, jadi pulang nya agak lambat." Kata Dariel beralasan. Ia tidak mungkin cerita tentang perkataan Toby yang baginya sendiri tidak masuk akal. Sebisa mungkin, ia tidak ingin membuat papanya kawatir.


"Riel... gimana kabar Kayra? Sebenarnya ada apa dengan hubungan kalian? Papa lihat kamu santai banget. Seakan ini bukan masalah besar? Bagaimana kalau Kayra benar-benar meninggalkanmu?" Tanya Erlangga penasaran.


Dariel mengambil segelas air dingin dan menghabiskannya sekali teguk.


"Pa... hubungan kami saat ini memang sedang bermasalah. Kayra menjauhiku. Aku tidak akan memaksanya. Apapun keputusannya aku akan ikut, semua untuk kebaikan kami. Aku akan melepasnya." Kata Dariel ambigu.


"Apa maksudmu melepasnya? Kamu mau menceraikannya? Ya ampun Riel,... kamu itu pria. Seorang kepala keluarga harus punya pendirian. Kamu yang harusnya prmbuat keputusan bukan sebaliknya. Kalau kalian masih saling menyintai, kamu harus pertahankan pernikahan ini. Papa tidak mau tahu, kamu harus bawa Kayra kembali ke rumah ini!" Perintah papa Erlangga bulat. Ia tidak mau dibantah.


"Pa... biarkan Kayra tenang. Karena posisi Kayra saat ini sangat sulit. Sebaiknya kita tidak memaksakan kehendak kita padanya." Kata Dariel memberi pembelaan.


"Riel... pernikahan kalian baru beberapa hari. Bagaimana bisa kalian membuat keputusan berpisah secepat ini? Apakah kalian tidak saling mencintai lagi?" Tanya Erlangga mengungkapkan kesedihannya.


Erlangga tidak menyangka kalau pernikahan anak bungsunya tidak semulus yang diharapkannya. Baru beberapa hari mereka menikah sudah merencanakan perpisahan. Apa sebenarnya yang terjadi?


"Riel... berjuanglah nak, jangan sampai kamu menyesal nantinya saat kamu kehilangan Kayra. Buang semua ego dan kesombongan mu. Waktunya sekarang kamu membuktikan cintamu pada Kayra." Nasehat Erlangga pada Dariel.

__ADS_1


"Pa... ini cara terbaik yang bisa Dariel usahakan. Aku melepas Kayra agar nantinya aku bisa memeluknya erat." Kata Dariel mempertahankan pendapatnya.


"Riel... sungguh papa tidak mengerti jalan pikiranmu. Setahu papa, kalau sekali kita melepaskan orang yang kita cintai maka selamanya kita akan kehilangan dia selamanya." Kata Erlangga putus asa menasehati Dariel yang masih kekeh dengan pendapatnya sendiri.


"Pa... percayalah pada Dariel. Cinta kami sangat kuat. Kami saling mencintai, semua ini terjadi hanya karena keadaan saja yang memaksa kami untuk berpisah sementara. Nanti pada waktunya kami akan bersama lagi dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kami. Pa... maaf Dariel ganti baju dulu."


Dariel menutup pembicaraan nya dengan papa nya. Ia takut tidak bisa mengendalikan diri hingga mengatakan kebenaran yang akan membuat hubungannya dengan Kayra akan semakin sulit. Dariel bergegas menuju ke kamar tamu. Karena kamarnya masih dalam tahap renovasi setelah insiden malam itu.


Baru saja Dariel selesai mandi dan berganti pakaian. Pintu kamarnya diketuk dari luar.


"Tok...tok... tok..." "Riel... tolong mbak Keke." Terdengar suara Keke dalam kepanikan.


Dariel bergegas membuka pintu. Diluar kak Keke terlihat gugup sambil menggendong bayi Miracle.


"Ada apa kak?" Tanya Dariel kawatir.


"Ada apa kak?" Tanya Dariel semakin cemas. Ia kawatir terjadi sesuatu pada keponakannya.


"Badan Babby M demam." Kata kak Keke panik. Dariel memeriksa tubuh keponakannya. Babby Boy terlihat memejamkan mata, namun tangannya yang mungil menggapai-gapai di udara. Dariel menempelkan punggung telapak tangannya di kening babby boy. Badannya panas sekali.


"Kak kupanggilkan dokter." Kata Dariel buru-buru berlari masuk ke kamarnya kembali mengambil handphone.


"Riel... panggil Kayra saja. Aku lebih percaya padanya dari pada dokter. Tolong ya Riel. Aku tahu, Kayra bisa menyembuhkan babby M. Riel... please.... panggilkan Kayra sekarang." Desak kak Keke tidak sabaran.


"Tapi kak, sebaiknya kita bawa ke rumah sakit aja...! Babby M panas tinggi. Kasihan dia masih bayi, Kak Raka sudah dikabari? Papa... dimana?" Tanya Dariel kalut.

__ADS_1


"Kak Raka dalam perjalanan. Riel tolong... panggil Kayra. Babby M juga anak kalian. Kalau ada yang terjadi pada kami. Jaga dan rawat babby M ya... Sayangi dia seperti anak kalian sendiri." Kata-kata kak Keke membuat Dariel tidak nyaman.


"Kak Keke ngomong apa sih? Kami akan menyayangi babby M dengan sepenuh hati kami. Namun tugas untuk menjaga dan merawat babby M adalah tugas kak Raka dan kak Keke." Jawab Dariel emosi.


Ia merasa ini seperti sebuah wasiat buatnya. Seperti pesan terakhir sebelum sesuatu terjadi pada kak Raka dan kak Keke. Dariel benar-benar tidak menyukainya.


"Panggil Kayra... minta dia menyembuhkan Babby M. Tolong Riel... kakak percaya hanya Kayra yang bisa menyembuhkan Babby M. Cepat telephon dia. Aku tidak mau Babby M dibawa ke rumah sakit. Ini bukan penyakit biasa. Riel... please, untuk kali ini saja percayalah pada kakak." Kak Keke memohon dengan sangat.


"Tapi...." Kata-kata Dariel terpotong saat Keke menyerahkan Babby M ke dalam gendongannya. Kayra berlari ke kamarnya saat ia mendengar panggilan di phonselnya yang tertinggal di kamar.


Dariel mengikuti kak Keke dari belakang. Sementara Keke langsung menjawab telephon yang masuk.


"Hallo..."


"Ya. saya sendiri."


"A... a... apa yang terjadi .... su..su..ami ku... kecela...kaan?" Kata gagap Keke. Seketika Keke jatuh pingsan tak sadarkan diri.


"Kak...? Kak Keke?... " Dariel panik melihat kakak iparnya jatuh tak sadarkan diri. Ia segera memanggil pembantu untuk membantu membaringkan Kak Keke di atas tempat tidur. Hatinya merasa tidak nyaman. Sepertinya ada sesuatu hal buruk telah terjadi.


"Panggilkan dokter suruh segera datang!" Perintah Dariel pada pembantunya yang dengan segera berlalu pergi untuk menghubungi dokter keluarga.


Ia mengambil phonsel yang terjatuh di lantai. Ada suara panggilan dari seberang.


"Hallo dengan siapa ini?" Tanya Dariel

__ADS_1


"Selamat malam tuan, kami dari Rumah Sakit Medika mengabarkan kalau Bapak Raka dan Bapak Erlangga mengalami kecelakaan serius. Saat ini mereka dirawat intensif, mereka dalam keadaan kritis. Perlu persetujuan keluarga untuk tindakan operasi." Suara wanita diseberang memberikan informasi.


"Lakukan segera, selamatkan keluarga ku. Berapapun dana yang diperlukan, kami siap." Kata Dariel tegas. Ia segera menutup telephone dan bergegas masuk ke dalam kamarnya. Di depan kamar ia bertemu dengan salah satu pembantunya.


__ADS_2