
" percuma aku melihat Rara sekarang, dengan keadaan lukanya yang parah, itu akan membuatku jadi lemah. Aku bisa melupakan tujuan utamaku. Aku harus menunggu waktu yang tepat, kalau terlalu cepat maka sia - sia semua yang sudah dialami Rara. Sabarlah cinta... "
Dariel memilih untuk tidur dan mencoba mengabaikan apa yang terjadi pada Kayra kekasihnya. Tetap tidak bisa ia lakukan. Hari hampir pagi, mata memang terpejam namun pikiran tetap terjaga. Sampai ia memutuskan untuk bangun dan lari - lari pagi di sekitar pondokan proyek yang sangat sederhana. Ya... Erlangga mengirim Dariel ke Papua. Sebuah proyek tambang emas yang baru dirintis.
"Selamat pagi Tuan Muda. pagi - pagi sekali sudah lari pagi?" Sapa karyawan proyek yang tinggal dipondokan yang sama.
"Hari ini jadwal kerja ku apa?"
"Hari ini observasi titik baru di pedalaman daerah Ukam, menurut informan ada sebuah tambang tua yang kandungan emas di dalamnya masih melimpah. Ahli warisnya menawarkan dengan harga cukup miring, sebelum transaksi kita perlu survey supaya tidak merugikan perusahaan. Kita akan berangkat jam sebelasan. Berjalan kaki dari sini dan semoga tidak ada kendala karena biasanya medan cukup berat karena semalam hujan." Kata pak Rahmadi mandor tambang menjelaskan panjang lebar.
"Untuk transaksi nanti, apa ada penerjemah?"
"Dari keluarga penjual ada yang bisa bahasa indonesia." Jawab Rahmadi menenangkan. Ia sebenarnya tidak habis pikir karena baru ini bos besar mengirim anaknya untuk ikut serta dalam pembukaan lahan tambang baru. Selain berbahaya karena malaria merajalela, juga tantangan dari penduduk lokal yang sering menyerang tanpa diduga.
Jadi menurutnya mengirim orang penting ke proyek seperti ini sangat beresiko. Entah apa alasan Big boss sebenarnya. Ia hanya dapat info kalau anak kedua bosnya ini sedang dilatih bisnis tambang. Hal yang paling mengesalkan dia mendapat tugas menjaga keselamatan dan kesehatan tuan muda. Emangnya dia baby sister? Saat ia mendapat pesan dari kota kemarin sore, ia tidak menyangka secepat ini tuan mudanya sudah sampai di sini, menjelang dini hari sudah sampai. Belum ada persiapan sama sekali. Terpaksa kamarnya ia relakan untuk ditempati tuan Muda, hingga ia harus berhimpitan tidur dengan empat orang pekerja lainnya. Di tengah kekesalannya, ia berharap semoga Tuan Muda ini tidak merepotkan kedepannya.
"Tuan Muda mau saya buatkan kopi?" Tawar Rahmadi.
"Ya, boleh." Jawab Dariel singkat.
Rahmadi segera membuatkan dua cangkir kopi untuk Dariel dan dirinya sendiri. Mereka menikmati kopinya dalam senyap dengan kesibukan pikiran masing - masing. Dariel menyadari keberadaannya di tempat terpencil ini semata - mata rencana papanya menjauhkannya dari Kayra. Ia tidak keberatan sama sekali. Saat ini ia sedang memikirkan untuk mencari tempat yang tepat untuk membawa Kayra nanti.
Sementara Rahmadi sesekali melirik Dariel yang terdiam dan tergambar seakan sedang berpikir keras. Ia menghela nafas dalam. Jangan - jangan tuan mudanya sedang berfikir untuk segera pulang ke Jakarta. Ia jadi geli sendiri. Anak semuda ini mana ada nyali tinggal di tempat terpelosok seperti ini. Tidak ada vasilitas yang memadai, bahkan signal hp tidak ada sama sekali.
__ADS_1
"pak Rahmadi sudah berapa lama di sini?" Tanya Dariel memecahkan suasana.
"Baru lima tahun Tuan Muda." Jawab Rahmadi sedikit menyombongkan diri.
"Sudah berapa kali penduduk lokal menyerang proyek?"
"Sekitar enam kali Tuan Muda." Jawab Rahmadi.
"Apakah ada korban jiwa?" Tanya Dariel mengorek info.
"Kalau dari kita dua orang meninggal, dan lima orang luka - luka, kalau korban dari mereka kami kurang tahu. " Jawab Rahmadi jujur.
"Sudah pernah ada usaha damai dengan mereka?" Tanya Dariel semakin penasaran.
"Berarti tempat ini belum sepenuhnya aman?" Gumam Dariel masih bisa didengar dengan jelas oleh Rahmadi.
"Ya begitulah,...." jawab Rahmadi gamang.
Mereka kembali menyibukkan diri menyesap kopi panas yang sangat nikmat di pagi hari. Ditambah dengan singkong rebus hangat yang baru diantarkan tukang masak proyek.
Saat jam menunjukkan pukul 10.OO WIT, Sudah banyak orang yang berkumpul. Rahmadi segera mengecek orang - orang yang sudah berkumpul. Sepuluh orang terdiri dari enam tentara bersenjata berpakaian sipil, dua orang ahli geologi dengan ransel penuh peralatan aneh, Rahmadi dan Dariel.
Setelah persiapan selesai, mereka segera berangkat. Dariel telah berganti sepatu boat, mengenakan celana jeans panjang dan jaket parasut untuk antisipasi hujan saat mereka dalam perjalanan. Tak lupa bucket hat biru navy sebagai pelindung kepalanya. Dipanggulnya tas ransel berisi bekal makanan dan minuman cukup banyak untuk perjalanan yang diperkirakan lima jam pulang pergi jalan kaki.
__ADS_1
Mereka berjalan melintasi tanah berlumpur, becek dan sangat lengket. Jalan setapak itu melintasi berhektar - hektar pohon sagu liar. Udara sangat lembab dan panas. Hingga tak sadar botol minum Dariel sampai tandas, tersisa hanya setetes air.
Saat mengetahui itu Rahmadi segera menyodorkan botol minumnya, namun ditolak oleh Dariel. Dalam hati Rahmadi mengumpat, Anak manja ini belagu hingga tidak mau menerima air dari botolnya mungkin takut ketularan penyakit? Dalam hatinya ia mengharapkan tuan mudanya segera pingsan karena dehidrasi.
Memikirkan hal itu saja membuatnya dapat satu level semangat. Namun yang dilihat berikutnya membuatnya semakin jengkel. Dariel memotong batang pohon hutan dan meminum air yang mengalir dari dalamnya. Rahmadi sempat panik ia takut kalau - kalau itu beracun. Salah satu tentara menjelaskan kalau itu pohon bajakah yang airnya aman dikonsumsi. Setelah meminum air dari batang pohon bajakah membuat Dariel lebih segar dan tidak merasa haus lagi.
Tak terasa hampir dua jam perjalanan telah mereka tempuh. Mereka mulai berjalan lebih waspada saat mulai terlihat perkampungan penduduk.
Saat angin berhembus seketika bau busuk memuakkan menghadang mereka.
"Weekkkk... bau busuk apa ini?" Kata salah satu ahli geologi yang baru pertama kali ke pelosok Papua.
"Sssstttt jangan berisik, ini hanya kuburan warga." Kata salah satu tentara.
"Warga asli tidak pernah menguburkan mayat, mereka hanya meletakkan mayat begitu saja diatas para, bila sudah membusuk dan tinggal tulang belulangnya. Nantinya tulang belulang itu dikumpulkan dan diletakkan diatas pokok - pokok kayu, sementara tengkoraknya dibawa ke rumah untuk dijadikan bantal." Kata seorang tentara yang sangat paham mengenai adat istiadat suku asmat.
"Ih serem.. apa gak mimpi buruk tuch." Kata si ahli geologi baru bergidik ngeri.
"Jangan salah, itu mereka lakukan sebagai wujud kasih sayang mereka pada yang sudah meninggal. Sebaiknya kita bahas nanti lagi. Kita sudah memasuki pemukiman mereka. Tetap waspada!" Bisik salah satu tentara dengan tegas. Mereka berjalan dalam diam sampai mereka menemukan sebuah bangunan paling besar yang disebut Rumah Jeu. Dibangun dari batang pohon besi, atap dan dinding terbuat dari anyaman daun sagu. Bangunan panggung berbentuk persegi panjang dengan ukuran 1Ox15 m. Hebatnya, rangka bangunan tidak menggunakan paku ataupun besi sama sekali, melainkan menggunakan akar rotan sebagai pengaitnya. Arsitektur luar biasa dengan hanya menggunakan kekayaan alam sekitar.
Dari dalam Jeu keluar dua puluh orang pria muda, membawa sebilah tombak bermata batu tajam. Sementara dari beberapa rumah panggung di sekitarnya yang lebih kecil Rumah Tysem muncul pria suku Asmat yang lebih tua. Mereka juga membawa tombak dan pisau batu. Orang - orang itu segera mengepung rombongan Dariel.
Salah satu berteriak lantang yang sama sekali tidak dimengerti oleh salah satu orangpun dari rombongan. Diikuti gerakan serempak orang - orang itu mengacungkan senjata.
__ADS_1