
"Nak Kayra... Om tidak menuntut kamu bicara jujur sepenuhnya. Om tahu kamu pasti punya alasan kuat dibalik nya. Yang Om minta bisa kah engkau membantu agar Dariel juga kembali bersama kami?"
Erlangga berusaha mengorek penjelasan dari Kayra. Ia ingin Dariel anak kandungnya juga segera kembali.
"Om maafkan saya tidak tahu. Kalau waktunya tiba, Dariel pasti dikembalikan pada Om Erlangga." Kayra bersikukuh untuk menutup mulut. Tiba- tiba ada bisikan lembut.
"Ra... kamu kemana saja? Aku kebingungan mencari mu. Kamu baik- baik saja kan?Oh ya kasih tahu papa untuk cari aku di goa batu. Aku akan muncul di sana." Bisik Dariel di pikiran Kayra.
"Om.... Dariel di goa batu. Minta orang untuk mencarinya kesana." Kata Kayra tiba-tiba. Erlangga segera mengetikkan sesuatu di hp nya.
"Ra... kamu cuekin aku? kalau aku ada salah aku minta maaf sama kamu. Ra... aku cinta kamu." bisik Dariel kembali di fikiran Kayra. Kayra menutup hati dan pikirannya agar tak terbaca Dariel. Ia benar- benar sudah bulat hati untuk berpisah dengan Dariel. Setitik air mata menetes dari ujung matanya. Ia tahu Dariel ada di ruangan bersama mereka. Membuat Kayra seketika merindukannya.
"Ra... aku pergi dulu. Jaga diri baik-baik." Dariel berpamitan dan segera pergi kembali berteleportasi.
"Nak Kayra....." Sentuhan lembut di tangan Kayra mengagetkan nya.
"Ya Om..." Kayra tergagap.
"Boleh Om tanya lagi?"
"Ya Om silahkan."
"Saat itu nak Kayra terluka parah, bagaimana bisa sembuhnya?" Tanya Erlangga penasaran.
"Kayra tidak tahu Om, tiba-tiba saja sembuh dengan sendirinya." Erlangga manggut- manggut.
"Om, apakah bisa dibantu agar Kayra nantinya tidak ditanya- tanya orang lain mengenai hal ini? Karena Kayra pun benar- benar gak tahu bagaimana bisa sembuh secepat itu." Kayra sangat mengharapkan bantuan Erlangga.
"Tenang saja, Om sudah mengatur scenario kalau nak Kayra menjalani pengobatan di Singapura." Jawaban Erlangga mengejutkan Kayra. Ia tidak menduga Erlangga sudah memikirkan sedemikian.
__ADS_1
"Oh ya...? Bagaimana bisa Om sudah mengantisipasinya?" Tanya Kayra keheranan.
"Sebenarnya Om hanya menjaga agar keluarga mu tidak panik. Juga tentunya Om tidak ingin reputasi Rumah Sakit ini hancur gara- gara pasiennya tiba- tiba menghilang. Oh ya... nak Kayra belum ingat sama Om?"
Kayra seketika melongo. Apa maksud pertanyaan Om Erlangga, bukankah dia tadi sudah memperkenalkan diri sebagai papa nya Dariel? Jangan-jangan bukan? Tapi tadi Dariel menyebutnya juga papa?
"Heheheh, Rara.... waktu kamu masih SD dulu sering main ke rumah Om, juga sebaliknya Om juga sering main kerumah mu. Om punya dua orang anak laki- laki. Namanya Raka..."
"Ya ampun jadi Om.... Om Erlangga yang itu? Hahaha Akhirnya bertemu lagi" Kayra segera menghambur kepelukan Erlangga. Air matanya menghambur bahagia.
Erlangga mengelus rambut Kayra.
"Rara... kamu sudah dewasa sekarang. Sekian tahun tidak ada kontak, akhirnya kita bisa bertemu lagi." Merekapun bertangis- tangisan melepaskan kerinduan.
"Ra... Om ikut berduka atas meninggalnya ayah mu. Om benar- benar tidak tahu berita itu."
" Ya Om, Kayra mengerti."
"Kak Raka mana Om?" Tanya Kayra antusias.
"Sebentar lagi datang." Jawab Erlangga.
"Aku dengar kamu sudah pacaran sama Dariel ya?" Tanya Erlangga tiba- tiba membuat Kayra seketika bungkam.
"Berarti sebentar lagi Kayra harus panggil papa, tidak boleh Om lagi." Kata Erlangga sambil mengucak rambut Kayra.
Segera terjadi pergulatan dalam batin Kayra. Bagaimana ini? Saat ia berniat meninggalkan Dariel ia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Sekitar delapan tahun lalu saat ia masih kelas empat SD. Ia pernah membuat janji di hadapan mendiang ayah dan juga papa mama Dariel kalau mereka akan menikah saat dewasa. Apakah ini suatu kebetulan bahwa saat dewasa mereka dipertemukan dan saling jatuh cinta? Dan saat Kayra berniat meninggalkan Dariel malah ia dipertemukan dengan Om Erlangga. Menagih janjinya untuk menikah dengan Dariel? Apa maksud semua ini? Kayra serasa makan buah simalakama. Entahlah... sebaiknya ia ikut arus nasibnya. Karena semakin dilawan. Ia akan kehabisan tenaga dan toh ia tetap akan terbawa arus nasib yang tidak bisa ditolaknya.
"Kayra tidak lupakan?" Erlangga coba mengingatkan. "Waktu itu kalian mengikat janji anggap saja sebagai acara tunangan." Tinggal pengesahannya saja sekarang. "Dariel pulang kalian segera menikah."
__ADS_1
"Kami setuju pa, Semakin cepat itu akan lebih baik." Tiba-tiba Raka dan istrinya sudah muncul di ruang makan menemui Kayra dan Erlangga.
"Kak.... Raka?" Kayra segera menghambur ke dalam pelukan Raka. Ia sudah menganggap Raka sebagai kakaknya sendiri.
"Ra... ini Keke, kakak ipar mu." Raka memperkenalkan Kayra pada istrinya.
"Kayra"
"Kesya, panggil aja Keke." Kesya menarik Kayra mendekat dalam pelukannya. Merekapun berpelukan. Sebuah perkenalan yang akan segera meningkatkan hubungan lebih dekat kakak dan adik ipar. Harapan Kayra, Keke akan menjadi saudara dekatnya seperti Shinta. Tiba- tiba ada gerakan dalam perut Keke.
"Aw... si kecil menendang. Sepertinya ia sangat senang pada calon tantenya. Hehehhe". Kata Keke kegirangan. Merekapun tertawa serempak.
"Ayo makanan sudah siap, kita makan malam dulu kasihan Kayra sudah kelaparan."
Ajak Erlangga, membuat pipi Kayra merona, ia merasa tersanjung menerima perhatian lebih dari Erlangga. Makan malam terasa sangat menyenangkan. Baik Erlangga, Raka dan juga Keke berlomba- lomba mencari perhatian Kayra. Ada yang menyuapi Kayra, mengambilkan lauk dan sayur, hingga piring Kayra tampak paling penuh. Kayra hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang lucu. Ia berharap kebahagiaan ini tidak akan berlalu dalam hidupnya.
Kayra merasa tidak enak saat makanan dalam piringnya tidak habis. Namun perutnya sudah sangat kenyang, tidak mungkin lagi diisi walau hanya sesendok makanan.
Keke seperti tahu dilemanya. "Sudah... gapapa, ayo biarkan saja kalau sudah tidak mampu memakannya. Jangan memaksakan diri. Nanti kalau gemuk susah jadi kurus lagi." Keke mengajak Kayra meninggalkan ruang makan. Mereka bergandeng tangan seperti teman akrab. Berjalan beriringan, senyum bahagia menghiasi bibir Kayra.
Mereka pindah ke ruang keluarga sambil menonton tv. Candaan, kelakar dan obrolan ringan mengalir di tengah- tengah mereka. Tiba- tiba hp Erlangga berbunyi.
"Ya..."
"Segera antar pulang malam ini juga."
panggilan pun diakhiri. Tampak Erlangga tersenyum bahagia.
Raka, Keke dan Kayra kompak terdiam, mereka memberi kesempatan Erlangga berbicara dengan penelephonnya. Mungkin ada hal penting yang dibicarakan.
__ADS_1
"Dariel ketemu, malam ini juga mereka berangkat dari Papua."