
"Engg... gak... aku bisa kok." Kata Kayra menolak bantuan Dariel. Ia masih canggung berganti baju di depan suaminya.
Kayra mengunci pintu kamar mandi segera setelah ia masuk ke dalam nya. Ternyata gaun nya tidak sesimpel yang ia kira. Letak resleting nya tersembunyi oleh mutiara penghias gaun. Ia tidak bisa melepas nya sendiri.
Tadi pagi, ibunya yang membantu memakai gaun. Kali ini ia tidak mungkin memanggil ibu nya datang hanya untuk membantu membuka resleting gaun nya. Ia takut menjadi bahan becandaan nanti.
Entah berapa lama ia berkutat di kamar mandi. Tangan nya sampai pegal. Usaha nya membuka resleting tidak membuahkan hasil. Kayra sudah menyerah, tapi ia malu minta bantuan Dariel.
"Cinta... kamu tidak apa- apa di dalam sana?" teriak Dariel dari dalam kamar.
Kayra membuka pintu kamar mandi, Ia terlihat kacau.
Dariel yang melihat kekusutan di wajah Kayra mendadak merasa cemas, apalagi Kayra belum berganti baju. Apakah ada yang salah? Apakah Kayra sakit. Mendadak banyak pertanyaan bercokol di pikirannya.
"Riel... aku tidak bisa membuka resleting baju ku. Bisakah engkau membantu ku?" Tanya Kayra pada akhirnya.
"Sini ku bantu," ada kelegaan menyeruak dalam hati Dariel. Istrinya ternyata baik- baik saja.
Tidak perlu lama resleting itu dengan mudah dapat di buka Dariel. Kayra hendak berlari ke kamar mandi, namun dihalangi Dariel.
"Bagaimana kalau kamu kesulitan membuka gaun sendiri? Kasihan papa sudah menunggu lama di ruang makan." Kata Dariel mengingatkan. Membuat Kayra terpaksa berganti baju di depan Dariel.
Melihat kecanggungan Kayra, Dariel menegurnya.
"Cinta... kamu dah sah jadi istri ku. Jadi gak ada alasan untuk kamu malu menunjukkan tubuh indah mu," goda Dariel.
Membuat pipi Kayra seketika merona tersipu malu. Ya ia harus belajar untuk tidak bersikap canggung pada Dariel. Toh dia suami nya.
"Ayok... kita bertemu papa mertua mu." Canda Dariel, membuat Kayra menyerang perut Dariel dengan cubitan.
__ADS_1
"Dia papa mu Riel." Jelas Kayra.
"Papa mertua mu Ra..." goda Dariel kembali. Mereka berdua bersenda gurau sambil berjalan beriringan turun ke ruang makan. Disana papa Erlangga, kak Raka dan kak Keke sudah menanti.
"Akhirnya pengantin baru turun juga!" Sambut kak Raka jenaka.
"Kami sudah menunggu sangat lama, kesulitan mengganti gaun ya Ra?" Tanya kak Keke, seperti peramal.
Membuat Kayra langsung menoleh ke arah Dariel, mereka saling berpandangan heran. Baik papa Erlangga, Raka dan Keke langsung tertawa melihat Dariel dan Kayra yang kebingungan.
"Hahaha... kalian ini pasangan baru yang masih canggung. Belajar dong sama kak Raka biar kamu pinter Riel!" Tawa kak Raka seketika membahana.
"Sudah- sudah jangan digoda terus," kata Erlangga membela Dariel.
"Sudah... cepat duduk, kita makan siang saja." Erlangga sudah tidak sabar untuk segera makan. Karena ia sudah cukup lama menunggu Kayra dan Dariel.
Hari ini, Erlangga sangat bahagia bisa menikmati kebersamaan bersama anak- anak dan menantunya.
"Kak Raka, bagaimana persiapan acara makan malam nanti? Saya lihat rumah kita tidak diapa- apakan?" Tanya Dariel di sela- sela makan siang nya.
"Emang nya rumah kita perlu diapain?" Tanya Raka bingung.
"Malam nanti keluarga Kayra akan datang, masakan rumah kita tidak dihias sedikit pun?" Tanya Dariel lagi. Karena dua hari lalu kakak nya sudah janji akan bikin acara makan malam menjadi sebuah pesta resepsi kecil. Kalau begini, bisa dikatakan hanya makan malam biasa saja. Tahu gitu, Dariel bisa pakai jasa EO yang lain untuk mengurusnya. Toh ia juga punya uang.
"Tenang Riel, kak Raka sudah siapin tempat spesial untuk acara resepsi nanti malam. Kalian tenang aja semua sudah di urus The Party" Kak Keke tidak tega melihat adik iparnya dikerjain terus oleh suaminya.
"Ya..h gak surprise donk... udah dibocorin." Kata Raka sembari mencium kening istrinya dengan gemas.
Kayra merasakan kehangatan keluarga Dariel. Ia merasa nyaman, ia sangat bersyukur atas keluarga baru yang Tuhan beri kepada nya.
__ADS_1
"Ra... untuk gaun acara nanti malam, udah kakak siapin. Juga nanti jam 6, MUA datang ke sini. Sekalian bawa baju nya. Ada 6 setel baju yang harus kalian pakai sore ini. Sekalian buat foto-foto after wedding. hehehhe. Soal nya kalian kan belum ada foto prewed nya. Jadi sore ini lah jadi gantinya." Kak Keke begitu antusias menjelaskan pada Kayra dan Dariel.
Kayra sempat tertegun. Hari ini mereka akan ganti baju enam kali? Gak kebayang repotnya.
"Tenang Ra... MUA, hairstylist, dan fotographer nya semua terlatih dan profesional. Tidak akan memakan banyak waktu. Jadi kalian masih sempat untuk berfoto dan juga bisa tepat waktu datang ke acara resepsi kalian nanti. Mungkin nanti akan perlu banyak tenaga, jadi kalian harus makan banyak- banyak. Dan setelah ini sempatkan diri tidur siang. Supaya nanti sore sudah bugar." Nasehat kak Raka panjang lebar.
"Ok," jawab Dariel singkat. Ia pun melahap makanan nya dengan cepat. Sepertinya sudah tidak sabar untuk menghabiskan waktu hanya berduaan dengan Kayra.
Kayra sudah terlebih dahulu selesai makan, ia sengaja mengambil sedikit makanan.
"Silakan dinikmati hidangan penutupnya." Kata seorang asisten rumah tangga seraya meletakkan sebuah mangkok kristal di atas meja.
Kayra langsung antusias saat melihat isi mangkok kristal itu. Es sarang burung, sangat cocok dinikmati siang hari yang panas ini.
Kayra mengambilkan untuk suaminya, papa Erlangga juga kak Raka. Sementara Keke tidak ingin es itu karena kandungannya sudah terlalu besar. Dokter telah melarangnya terlalu banyak mengkonsumsi makanan atau minuman manis. Menurut penjelasan dokter, janin bisa bertumbuh terlalu besar sehingga akan menyulitkan dalam proses kelahiran normal. Jadi itulah sebabnya Keke tidak berani lagi minum berbagai macam olahan es. Ia cukup minum air hangat dengan perasan lemon.
"Oh ya... Ra... beberapa waktu lalu kamu mengobati kak Keke dari alergi telur. Sepertinya pengobatan mu berhasil Ra... karena sampai sekarang alergi kakak tidak pernah lagi kambuh. Bahkan saat kakak mengkonsumsi banyak olahan telur. Makasih ya Ra..."
Kata Keke dengan sangat bahagia. Sekarang ia tidak perlu lagi takut pada makanan apa pun. Kalau dulu selama ia mengidap alergi, ia tidak pernah berani makan apapun di luar. Hingga membuatnya tidak nyaman saat mendampingi suaminya Raka makan diluar bersama klien nya. Namun sekarang, ia bisa leluasa makan apa pun yang ia mau.
"Iya kak Keke. Syukurlah kalau kak Keke cocok dengan pengobatan Rara. Kalau ada keluhan apa pun tentang alergi kak Keke jangan sungkan kasih tahu Rara ya kak." Kata Kayra penuh perhatian. Baginya Keke adalah seperti seorang kakak bagi nya.
"Rara... sepertinya aku juga perlu kau obati. Badan ku pegal semua, bisakan kau obati suami mu ini?" Kerling Dariel sengaja menggoda Kayra. Dan seketika semburat merah merona menghiasi pipi Kayra.
"Udah Ra... sana, sepertinya suami mu butuh perhatian. Hahaha." Goda papa Erlangga menambah Kayra tersipu malu.
Serta merta Dariel bangkit dari kursinya dan menarik tangan Kayra untuk segera mengikutinya.
"Kalau papa bilang seperti itu, itu perintah Ra... ayo..." Dariel mengajak Kayra untuk segera masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1