Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Dimana Aku?


__ADS_3

" Ayo, sebaiknya kita segera pergi dari sini. Takutnya suku asli akan datang lagi."


Kata Rahmadi mendesak. Merekapun segera meneruskan perjalanan ke arah Utara. Melewati hutan yang tidak terlalu rimbun. Jalanan tanah cukup keras, tidak seperti saat perjalanan berangkat mereka kemarin. Setengah jam kemudian mereka telah sampai di kaki sebuah gunung. Gunung Kwoka tidak terlalu tinggi dan merupakan gunung mati. Ada sebuah aliran sungai sempit namun airnya cukup dalam dan deras melintasi kaki gunung. Mereka merobohkan sebatang pohon untuk dijadikan sebagai jembatan. Merekapun menyeberang bergantian.


Sang Ahli Geologi segera mengeluarkan alat - alatnya yang aneh. Alat - alatnya di rakit sedemikian rupa dan dihubungkan pada sebuah tablet. Alat ahli Geologi mendeteksi adanya kandungan emas dan tembaga di bawah tanah sepanjang kaki bukit dalam kwantitas yang sangat banyak. Mereka menandai tempat itu dengan koordinat satelit.


Rahmadi mengambil beberapa foto dari titik - titik lokasi yang akan dijadikan lubang tambang. Hari sudah mulai panas, mereka beristirahat sejenak menghabiskan bekal yang mereka bawa kemarin. Roti tawar dengan kopi yang sudah dingin. Makan siang yang cukup lezat mengingat tidak ada menu makanan yang lain.


Setelah menghabiskan bekal yang ada, mereka melakukan perjalanan pulang dengan panduan navigasi tentara. Dariel ingin segera pulang ke proyek, badannya capek. Ia ingin segera merebahkan tubuhnya dan beristirahat.


Sekitar pukul 16.OO WIT rombongan Dariel telah kembali ke mess proyek. Ia segera mandi. Hampir setengah jam ia habiskan waktu menikmati segarnya air dingin. Setelah hampir dua hari tubuhnya tak tersentuh air, membuatnya seakan enggan meninggalkan kesegarannya. Kalau tidak ingat ada orang lain yang sedang mengantri mandi, mungkin ia akan semalam - malaman di kamar mandi. Ia segera berpakaian santai, celana jeans pendek dengan kaos oblong hitam berlogo Denim.


Waktu makan malam tiba. Dariel mengambil makanan cukup banyak. Sepiring penuh nasi, tiga potong ayam bakar, sambal terasi dan rebusan daun ubi yang ditaruhnya dipiring terpisah, tidak lupa ia mengambil sebotol besar air mineral. Ia tidak perduli dengan tatapan karyawan tambang yang terheran - heran. Mungkin mereka tidak menyangka dengan porsi makan Dariel yang sangat banyak. Biarlah mereka berfikir semau mereka. Setelah berpamitan pada Rahmadi untuk makan malam di dalam kamarnya sendiri. Tak lupa ia berpesan bahwa tidak ada yang boleh mengganggunya.


Dariel masuk kamar. Ia makan sepotong ayam bakar dengan dua sendok nasi dan meminum segelas air mineral. Ia merasa sangat kenyang.


"Nikmatnya..." Dariel mengakhiri makan malamnya. Kemudian ia merapikan piring bekas makannya. Sisa makanannya ia masukkan ke dalam kotak makan. Ia memasang jam weker untuk tiga jam kedepan. Kamar yang ia tempati sudah dirapikan dengan springbad, bantal dan sprai baru. Baju - bajunya juga sudah tertata rapi dalam almari kayu. Di atas meja diletakkan ac portable, segera dinyalakannya. Udara dingin berhembus keluar membuat Dariel merasa nyaman dan tidak berapa lama setelah ia merebahkan diri di kasur ia pun langsung terlelap.


****

__ADS_1


Kayra Mahendra terbaring tak berdaya di ruang ICU Rumah Sakit Melati. Tiga


hari ini belum juga menunjukkan tanda - tanda membaik. Keadaannya bahkan lebih parah dari hari pertama ia di bawa ke RS. Kakinya yang remuk sudah mulai membengkak dan membiru, tanda - tanda mulai ada infeksi. Wajahnya juga menyisakan memar dan luka yang mengerikan. Meskipun sudah mendapatkan penanganan dari dokter spesialis dari Singapura, tidak juga ada kemajuan yang berarti. Operasi amputasi kakinya juga belum bisa dilaksanakan karena keadaannya yang tidak memungkinkan, tensi yang terlalu rendah dan detak jantung yang sangat lemah.


Tak terhitung berkantong - kantong darah masuk ke dalam tubuhnya. Namun tubuhnya masih sangat pucat seperti mayat.


Bik Sari terus setia menemaninya dari balik dinding kaca. Mata sayunya tak pernah lengah mengawasi. Ia sudah kehabisan air mata. Namun ia tak berhenti berharap untuk kesembuhan Kayra.


Ada sepasang mata tak ber raga dan tak pernah disadari siapapun. Mata penuh duka. Ingin ia memeluk wanita paruh baya itu dan menenangkannya.


"Bik, jangan sedih.... aku baik - baik saja."


Besok hari ulang tahun Kayra, namun ia tidak bisa melakukan apa - apa. Ia tidak bisa kemana - mana. Hanya bisa pergi sejauh radius lima meter dari tubuhnya, tidak lebih.


Ia merindukan Dariel. Namun tidak sekalipun Dariel mengunjunginya di Rumah Sakit. Apakah Dariel tidak tahu keadaannya? Bagaimana Dariel mengabaikannya sampai tiga hari? Tidakkah Dariel merindukannya? Ia ingin sekali melihatnya.


Kayra saat ini hanyalah sukma/jiwa yang terpisah dari raga. Ingin ia kembali masuk ketubuh penuh luka itu, namun ada tembok energi yang menahan. Hingga membuatnya seperti orang linglung. Tidak bisa berbuat apa - apa.


Hari mulai gelap saat ia melihat ada beberapa dokter dan perawat berlari masuk ke ruangannya. Mereka terlihat panik. pandangan Kayra teralihkan pada sebuah sinar tenang meneduhkan turun dari langit - langit. Kayra mendekatinya, ia seakan terhipnotis untuk masuk kedalam cahaya itu. Namun kakinya terjerat sesuatu yang menyeretnya menjauhi sinar. Sukmanya seperti tergulung oleh kegelapan pekat menyesakkan.

__ADS_1


Ia terlempar di dunia orang mati. Banyak tangan tangan menggapai - gapai. suara - suara kesakitan minta pertolongan. Namun sukmanya tiba - tiba raib, tersedot vacum cleaner raksasa.


Hingga ia terjatuh di suatu tempat. Sebuah lapangan luas penuh bangunan batu candi.


"Dimana aku?" Tanya Kayra sambil melayangkan pandang ke sekitarnya. Sepertinya ia pernah kesini sebelumnya. Saat ia mencoba mengingat - ingat, tiba - tiba dari arah belakang muncul pria yang sangat dicintainya. Dariel dengan pakaian khas Raja Jawa jaman dulu.


"Riel.... apakah kamu Dariel....kekasih ku....?"


Tanya Kayra ragu. Wajah dan postur tubuh sama milik Dariel. Namun seringai kejam dan sorot mata tajam membunuh tidak seperti Dariel.


"Kau benar - benar menguji kesabaranku. Saat kau mengubur aku di sumur Jalatunda, aku masih memaafkanmu. Namun permintaan keduamu untuk membangun seribu candi dalam satu malam kau gagalkan dengan cara curang. Aku sudah kehabisan kesabaran." kata pemuda mirip Dariel penuh luapan amarah.


Kayra terpaku tak berkutik. Ada satu perasaan tidak nyaman meresap dalam hatinya. Sebuah kebencian menguar dalam hatinya. Kebencian dalam ketidak berdayaan.


Ayahanda juga orang - orang terdekatnya telah dibunuh oleh orang yang berdiri di depannya saat ini. Keluarganya bukanlah orang biasa. Ayahandanya Prabu Baka seorang raja dari kerajaan Baka yang cukup besar. Mereka adalah keturunan raksasa bahkan manusia seperti pemuda di depannya merupakan salah satu hidangan favorit keluarganya. Namun niat pemuda itu untuk menikahinya telah menjatuhkan martabatnya.


pemuda itu Raden Bandung Bondowoso, hanya seorang pangeran dari Kerajaan Pengging. Kerajaan kecil yang akan segera dihancurkan oleh ayah handanya. Namun entah kekuatan apa yang dimiliki pangeran Bondowoso hingga berhasil mengalahkan Ayahanndanya dan patih Gupala.


Seandainya ia punya kekuatan ingin sekali membalaskan dendamnya pada pangeran Bondowoso. Namun ia hanya seorang wanita biasa.

__ADS_1


__ADS_2