
Dariel dan Kayra menuju rumah ibu Neta. Sepanjang jalan Dariel menggoda Kayra, membuat nya cukup kesal.
Untunglah kekesalan nya segera terobati, saat ia bertemu ibu nya. Terlebih bik Sari sengaja membuat kan brownis kukus kesukaan nya.
Saat itu mereka sedang berbincang di ruang keluarga. Kayra begitu asyik menikmati brownis nya, hingga ibu nya menegur.
"Ra... kalian belum makan siang, kalau kamu kekenyangan makan brownis. Nanti gak bisa makan nasi lagi!" Tegue ibu Neta.
"Tenang Bu... masih muat kok lambung ku untuk menampung sepiring brownis juga sepiring nasi." Kata Kayra dengan mulut penuh makanan.
"Kalau nanti gendut gimana?" Tanya ibu nya mengingatkan.
"Ehmmmm.... Riel kamu bermasalah gak, kalau aku gemuk?" Tanya Kayra menguji Dariel.
"Entah lah.... " Dariel sengaja memberi jawaban ambigu untuk menggoda Kayra. Sepertinya hari ini, ia punya hobby baru. Yaitu menggoda istrinya. Membuat Kayra cemberut, ngambeg. Wajah yang di tekuk, membuat Kayra terlihat imut dan menggemaskan.
Berbeda dengan Kayra. Tadi kekesalan nya sempat menguap, saat ia bertemu ibu nya. Namun kenapa Dariel malah membuat nya kembali jengkel?
Kayra merajuk, ia memilih kabur ke kamar nya yang baru beberapa hari ditinggalkan nya. Dariel sempat melihat sekilas ekspresi wajah istrinya sedang merajuk. Seketika ia merasa bersalah. Dariel pun segera menyusul ke kamar nya. Beruntung Kayra tidak menguncinya dari dalam sehingga membuat Dariel bisa langsung masuk ke dalam kamar nya.
"Ra... kamu marah ya? Maaf kan aku ya cinta. Aku tadi gemes saja melihat ekspresi ngambeg mu yang lucu. Jadi aku ingin terus menggoda mu. Maaf kan aku ya cinta... jangan marah ya? Kalau engkau marah, hati ku sedih banget."
Mohon Dariel pada Kayra. Ia pun berlutut di depan Kayra, yang seketika mengagetkan Kayra.
"Jangan seperti itu Riel... aku enggak benar- benar marah kok." Kata Kayra seraya menghampiri dan mengajak Dariel bangkit berdiri.
"Cinta... gak marah kan?" Tanya Dariel senang. Ia segera merengkuh Kayra dalam pelukannya. Dikecup nya kening Kayra lembut. Saat melihat Kayra marah, hatinya berdesir perih. Dariel berjanji, ia akan selalu menjaga hati Kayra.
"Ra... ini kamar mu ya? Semua bernuansa kuning?" Tanya Dariel keheranan.
"Iya Riel... ini kamar ku. Istana kecil ku." Kata Kayra sambil membuka- buka almari pakaian nya. Ia ingin segera mandi dan berganti pakaian santai.
Dariel memilih untuk membaringkan diri di ranjang Kayra. Dariel cukup lelah setelah beberapa sesi orientasi kampus yang tadi diikuti nya. Tak lama Dariel tertidur. Kayra yang melihat nya hanya tersenyum.
Kayra memutuskan keluar dari kamar. Ia mencari bik Sari, ingin berbagi kisah dengan nya. Seperti kebiasaan nya di masa lalu, Kayra akan ngobrol panjang lebar setiap mereka ada kesempatan.
Di dapur Kayra tidak menemukan bik Sari. Ia segera menuju ke halaman belakang, yang terhubung dengan pintu kaca. Sesaat ia tertegun di depan pintu. Ia melihat pemandangan yang tidak biasa.
Bik Sari di halaman belakang tampak bercanda ria dengan ibunya. Mereka sibuk menanam dan mengatur bunga sambil terus bercanda.
"Sejak kapan ibu Neta begitu dekat dengan bik Sari?" Tanya Kayra dalam hati. Ia beringsut mendekat ingin memastikan kebenaran penglihatan dan pendengaran nya.
"Rara... sini nak, kamu tidak tidur siang?" Tanya ibu Neta mengaget kan nya.
"Ehm.... Dariel sedang tidur, tapi aku ingin ngobrol bersama kalian." Kata Kayra ragu, ia takut mengganggu kebersamaan ibunya dengan bik Sari.
"Kami sedang merapikan taman Ra... lihat, bunga- bunga ini. Kemarin mang Ujang membelinya dari toko bunga. Dan baru hari ini kami sempat untuk mengaturnya di taman." Kata ibu Neta dengan bahagia.
"Ibu... aku senang melihat kalian akhirnya banyak menghabiskan waktu bersama." Kata Kayra hati- hati.
"Oh iya Ra... ada sebuah hadiah buat mu. Hadiah spesial. Nenek mu sudah ketemu, dan kamu akan segera bertemu dengan nya." Kata Neta berteka- teki. Membuat Kayra seketika terpana dengan rasa bahagia yang meluap.
Baru saja ia mengetahui siapa ibu kandungnya, dan dalam waktu singkat ia juga akan segera bertemu dengan nenek nya. Sebuah kejutan besar yang tidak pernah dibayangkan nya.
__ADS_1
"Benarkah Bu? Aku masih punya nenek kandung?" Tanya Kayra tidak percaya.
Baik Neta dan juga bik Sari mereka tersenyum lebar melihat keterkejutan Kayra.
Ada setitik air mata merembes keluar menitik dari ujung mata Kayra.
"Ra... ini kabar gembira, kenapa kamu malah menangis?" Tanya ibu Neta sembari memeluk anak perempuannya.
"Aku bahagia sekali Bu. Aku tidak sabar bertemu dengan nya. Kapan ibu akan mengajak Rara menemui nenek?" Tanya Kayra tidak sabar.
"Sekarang pun kamu bisa menemui nya." Jawab Neta berteka- teki.
"Oh ya... nenek di sini? Dimana Bu? Rara ingin segera menemuinya." Kata Kayra antusias.
"Ra... nenek tidak pernah jauh dari kita." Neta mulai membuka jati diri bik Sari.
"Yang selama ini Rara panggil bik Sari. Beliau sebenar nya nenek Rara." Jelas Neta.
Kayra sempat terbengong. Permainan nasib seperti apa ini yang telah memisahkan mereka dalam jangka waktu yang lama namun juga dengan cepat menyatukan mereka kembali.
Tiga orang dalam generasi yang berbeda ini saling berpelukan. Mereka tidak peduli dengan tanah dan kotoran yang menempel di tangan mereka.
"Bik Sari nenek Kayra? Bagaimana bisa?" Tanya Kayra seraya berusaha menahan isakan nya.
"Tadi pagi hasil pemeriksaan DNA sudah keluar. DNA kami sangat identik, itu menunjukkan bahwa ibu dan nenek punya persamaan DNA yang signifikan. Jadi Ra... kita berkumpul dalam satu keluarga." Kata Neta menahan haru.
"Nenek Sari...." Kayra mempererat pelukan nya pada dua wanita hebat dalam hidup nya.
"Ehm...." Suara deheman mang Ujang seketika membuyarkan keharuan mereka. Mang Ujang membawa beberapa pot bunga mawar berwarna- warni, yang di letakkan nya dalam kardus.
"Rara.... apakah kamu senang setelah mengetahui bahwa kami kakek dan nenek mu?" Tanya mang Ujang.
Kayra mengangguk. Ia sangat senang. Bahkan Kayra tidak bisa mengungkapkan kebahagiaan nya melalui kata- kata. Ia hanya mengangguk, luapan kebahagiaan nya diiringi tetesan air mata bahagia.
"Bagaimana ibu bisa tahu kalau nenek adalah bik Sari?" Tanya Kayra tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran nya.
"Nenek yang mengenali ibu. Ada tanda lahir di leher ibu. Dari itulah membuat ibu memutuskan untuk tes DNA dan ternyata tes itu membuktikan kami ada hubungan darah." Kata Ibu Neta dengan kebahagiaan nya yang membuncah.
"Hari ini Rara sangat senang. Surprise dari ibu, nenek dan kakek sangat luar biasa. Terimakasih." Kata Kayra bahagia.
"Rara cucu ku, ini hadiah dari kakek ya. Dua pucuk pohon mawar semoga kamu suka ya Cu..." Kata mang Ujang seraya mengeluarkan dua buah pot berisi pohon mawar yang bunganya berwarna kuning. Kayra berbinar saat menerimanya.
"Kakek... terimakasih, Kayra akan tanam bunga ini. Satu di sini, satunya Rara akan tanam di rumah papa Erlangga." Kata Kayra dengan kebahagiaan yang meluap.
"Nenek juga akan kasih kamu hadiah. Sebentar ya, nenek ambilkan dulu." Kata Nenek Sari beranjak masuk ke dalam rumah.
"Ra... pakai ini ya nak. Semoga kamu menyukainya." Kata nenek Sari sembari menyerahkan sebuah kotak perhiasan.
"Ini untuk Rara ya nek...?" Tanya Kayra memastikan. Ia segera mengobati rasa penasarannya dengan membuka tutup kotak perhiasan yang baru diberikan nenek Sari.
Kayra terperangah, ada beberapa set perhiasan di dalam nya. Semua tampak indah dan berkilau.
"Nek... ini benar untuk Rara?" Tanya Kayra meluapkan ketakjuban nya. Perhiasan yang diberikan nenek Sari sangat bagus. Harganya pasti sangat mahal.
__ADS_1
"Iya Ra... kamu senang gak dengan hadiah kami?" Tanya bik Sari meminta kejujuran Kayra.
"Ya... aku sangat suka." Kayra menghambur memeluk Kakek dan nenek nya. Saat ia hendak memeluk ibu Neta. Ia menghindarinya.
"Stop... ibu belum kasih kamu hadiah Ra. Jadi peluk nya nanti." Kata Neta berusaha menahan pelukan Kayra.
"Ibu sudah kasih hadiah termewah. Mempertemukan ku dengan kakek dan nenek kandung ku. Itu melebihi hadiah apa pun." Kata Kayra.
Ibu Neta manggut- manggut. Ada rasa bangga yang dirasanya. Kayra bertumbuh menjadi gadis sederhana. Bisa menilai kebahagiaan bukan karena hadiah mewah.
"Ibu juga punya hadiah buat kalian." Kata ibu Neta saat melihat Dariel akhirnya datang menemui mereka.
"Sepertinya saya tertinggal perayaan ya?" Tanya Dariel saat melihat Kayra begitu bahagia bersama keluarga nya.
"Oh ya Riel... aku mau kenalin kamu sama kakek dan nenek. Sini..." Kata Kayra sembari menggandeng tangan Dariel kearah kakek dan nenek nya. Dariel menurut saja meskipun ia tidak mengerti maksud Kayra.
"Riel... kenalkan kakek dan nenek Kayra." Kayra membantu Dariel mengulurkan tangan kanan nya didepan kakek Ujang dan Nenek Sari. Dariel masih kebingungan. Terlebih ia mendapat pelukan dari mang Ujang, membuatnya bertanya- tanya.
"Kami kakek dan nenek nya Kayra. Jadi secara tidak langsung, engkau juga cucu ku bukan?" Tanya kakek Ujang.
Dariel menolehkan kepalanya pada Kayra dengan raut penuh tanda tanya. Membuat Kayra tidak tega, ia pun memberikan penjelasan pada Dariel dengan telepati nya.
"Kakek Ujang... bolehkah aku memanggil seperti itu?" Tanya Dariel memastikan.
"Ya... ya... boleh... boleh." Kata kakek Ujang dengan keharuan yang membuncah dalam dada rentanya.
Ia tidak pernah menduga akan punya anak dan cucu secepat ini. Setelah sekian lama, rumah tangga nya tanpa keturunan. Sekarang ia bisa tersenyum lega ada ahli waris yang akan segera mewarisi deposito mereka di bank. Seorang anak dari masa lalu istrinya. Juga cucu perempuan yang disayanginya bahkan sebelum tahu tentang kebenaran Kayra.
Ibu Neta datang membawa sebuah bingkisan kecil di tangan nya. Ia segera menyerahkan bingkisan kado itu pada Kayra.
"Apa ini Bu?" Tanya Kayra penasaran.
"Buka aja dulu supaya tidak penasaran." Jawab ibu Neta masih merahasiakan hadiah nya.
Kayra membuka bingkisan itu. Di dalam nya ada sebuah kunci mobil. Kayra menyalakan alarm nya. Seketika terdengar bunyi alrm mobil dari arah halaman depan. Kayra menggandeng Dariel dan bergegas memeriksa halaman depan.
Saat Kayra kembali menyalakan alarm mobil, seketika ia terkesima. Alarm itu berasal dari sebuah mobil mewah. Porsche Carrera GT berwarna putih. Membuat Kayra dan Dariel terkesiap. Ibu Neta memberi hadiah mobil yang sangat mahal. Apakah tidak salah?
"Ini hadiah pernikahan buat kalian semoga kalian suka ya." Kata ibu Neta dengan penuh harap. Kayra sangat bahagia dengan apapun yang diberikan ibunya buat nya.
Hadiah mobil, bagi Kayra membangkitkan ingatan ngeri pada Kayra. Dua kali ia mengalami kecelakaan mobil dan itu belum benar- benar hilang sampai sekarang. Ia hanya berharap Dariel lah yang akan menjadi sopir setia untuk nya.
Saat Kayra menoleh menghadap Dariel ia melihat ekspresi ngeri sekilas yang hanya dia saja yang menangkapnya.
"Riel ada apa?" Tanya Kayra bertelepati.
"Porsche Carrera GT, merk mobil yang sama yang dipakai Paul Walker kecelakaan hingga terpanggang di dalamnya. Aku sedikit ngeri saat mengingat nya. Tapi sebenarnya tidak ada yang salah dengan mobil ini." Jawab Dariel.
"Siapa Paul Walker?" Tanya Kayra bingung. Ia tidak pernah ingat dengan nama itu.
"Seorang aktor Hollywood, ia membintangi banyak film action. Diantaranya The Fast and The Furious." Jawab Dariel.
"Trus gimana? Apakah kita tolak?" Tanya Kayra ragu.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah pada mobil ini. Jadi sebaik nya kita terima dengan suka- cita." Jawab Dariel sambil merengkuh Kayra dalam rangkulannya.
"Ibu... trimakasih banyak ya." Kata Dariel tulus. Kayra pun berterimakasih juga pada ibunya. Hari ini begitu banyak kejutan dan hadiah manis dari keluarganya.