Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Siapa Ibu ku?


__ADS_3

"Seperti inikah wajah ibu ku? Ibu aku sangat merindukanmu. Aku ingin sekali memelukmu. Setidaknya ijinkan aku merasa memiliki seorang ibu yang telah melahirkan ku." Air mata menitik membanjiri pipi Kayra yang mulus. pandangan matanya menjadi kabur. Saat Kayra memandang cermin terlihat seorang wanita di dalam cermin. Mirip dengannya, ada banyak kesamaan, mata, alis, bibir mirip sekali dengannya. Rambutnya yang kecoklatan dan tarikan tulang pipinya sama dengannya. Lambat- lambat wajah itu berubah. Menjadi wajah Neta ibu tirinya.


Kayra mengusap- usap matanya mungkin ia salah melihat. Neta memandangnya dan tersenyum manis ke arahnya. Sepasang tangan rampingnya terulur ke depan. Ia seperti melihat sebuah film di dalam kaca riasnya.


"Rara sayang.... ayo... kamu pasti bisa. Ayo sayang mendekatlah ke ibu" Kata sosok dalam kaca. Tiba- tiba muncul seorang gadis kecil berumur satu tahun. Rambut pendeknya dikuncir dua dengan jepit lucu menghiasi rambut nya. Ia baru belajar berdiri. Tangannya menggapai - gapai ingin meraih ibu nya yang berjalan mundur menjuhinya.


"Ma...mamamamama..." Oceh si gadis kecil yang seakan protes karena dijauhi ibunya.


"Rara sayang... ayo nak langkahkan kaki mu!" Si ibu terus memberikan semangat pada si anak untuk belajar berjalan. Si gadis kecil tahu ibunya mendukungnya. Dengan terhuyung- huyung ia mulai melangkahkan kakinya. Satu langkah ia berhenti. Ia menggapai- gapai kan tangannya minta pertolongan ibunya. Namun ibunya tidak bergeming dari tempatnya berjongkok.


"Rara... ayo nak, sedikit lagi. Kamu pasti bisa. Ayo sayang...!" Teriak si ibu terus memberi semangat padanya. Rupanya si anak memahami perkataan ibunya. Ia melangkahkan kakinya kembali, kali ini dengan lebih bersemangat. Hingga tubuhnya terhuyung kedepan hampir jatuh. Dengan sigap sang ibu menangkapnya dan mengangkat si anak dalam gendongannya. Mata si ibu berkaca- kaca.


"Ha...ha....ha... Rara sayang kamu memang anak ibu yang hebat." Kata sang ibu dengan bangganya. Ia membawa anaknya berlarian ke segala penjuru rumah yang cukup sederhana.


"Ayah... ayah.... Rara sudah bisa jalan." Si ibu terus memanggil- manggil suaminya. Kemudian muncul dari pintu belakang sang ayah datang dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Ada apa Bu?" Tanya Mahendra dengan paniknya. Sepertinya ia takut terjadi sesuatu pada anak atau istrinya. Ia mengamati dengan teliti kedua orang yang amat dicintai yang saat ini ada di depannya. Si ibu mengambil nafas seperti baru lari maraton puluhan kilo meter.


"Ayah.... hari ini Rara sudah mulai jalan." Seru sang ibu kegirangan. Sang anak ikut - ikutan membenarkannya.


"Mamamama....mamama." celoteh sang anak.


Sang ayah segera meminta untuk menggendong anaknya.


"Anak Ayah sudah bisa jalan ya?"


"mamammama amama." jawab sang anak. Membuat gemas sang ayah. Ia mengangkat tinggi - tinggi anak gadisnya dan membawanya berputar- putar. Sepasang suami istri itu tertawa bahagia. Beberapa kali sang ibu menepuk bahu suaminya. Air mata bahagia tak luput menitik pada mata sang ibu.


Anak- anak yang tadi berkerumun terlihat berbisik- bisik sambil memberi kode satu sama lain. "Dukun santet"


"Iya.. penyihir" "Tukang teluh"

__ADS_1


Si ibu merasa jengkel ia memandang anak- anak yang berbisik- bisik itu dengan marah. Membuat anak- anak yang berkerumun ketakutan dan segera lari meninggalkan ibu dan anaknya.


"Ibu... bagaimana ibu bisa menyembuhkan ku dengan cepat?" Tanya sang anak.


"Ibu bisa melakukan apa saja untuk mu Ra..., karena ibu sangat menyayangi mu. Jangan pernah benci sama ibu ya nak?" Kata sang ibu mengiba.


"Kenapa Rara benci ibu? Ibu adalah terbaik buat Rara." Kata si anak berusaha menyenangkan hati ibunya.


"Trus... ayah gimana? Apa Rara gak sayang ayah?" Si Ibu bertanya kembali.


"Ibu dan ayah sama- sama Rara sayangi." Kata- kata sang anak sangat menghibur, membuat sang ibu tidak ragu menghadiahkan beberapa ciuman gemas buat si anak. Mereka pun bangkit dan berjalan bergandengan kembali kerumah. Tangan kanan Sang ibu menuntun sepeda sementara tangan kirinya menggenggam tangan sang anak, seakan tak ingin lepas dan terus memberi perlindungan pada anaknya. Gambar ini pun perlahan - lahan pudar dan lenyap. Tergantikan oleh gambaran baru.


Sekarang di dalam kaca tergambar suasana Sekolah Dasar yang sangat ramai. Anak- anak sekolah berlarian keluar dari Kelas. Kayra juga dengan semangat berlari meninggalkan kelas. Biasanya sang ibu sudah menunggunya di depan gerbang sekolah. Ia takut ibunya menunggu lama sehingga ia lari cepat- cepat untuk menemui ibunya. Apalagi ia ingin memberitahu ibunya bahwa ia mendapatkan nilai seratus dari ulangan Matematika dan IPA. Ini ulangan harian pertamanya di kelas 1 SD.


Kayra berlari mendapatkan ibunya yang sedang menunggunya di depan gerbang. Dua orang ibu dan anak begitu bahagia saling bertukar cerita. Merekapun bersepeda untuk pulang ke rumah. Sampai di jalan sepi, tiba- tiba ada mobil box menghadang perjalanan mereka. Sepuluh laki- laki kekar keluar dari dalam mobil box itu dan langsung menangkap sang ibu yang dengan segenap kekuatan berusaha melawan.

__ADS_1


Perlawanannya berakhir saat sebuah sapu tangan berisi cairan bius menyumpal hidung dan mulutnya. Detik -detik sebelum sang ibu kehilangan kesadaran, ia menunjuk Kayra. Kayra tidak tahu harus berbuat apa namun ia merasa ada bisikan di telinganya agar ia lari bersembunyi. Itulah yang ia lakukan, Kayra berlari dan terus berlari tidak menoleh sedikitpun ke belakang. Ia harus mencari ayahnya supaya bisa membantu ibunya. Kayra terengah - engah tidak menghiraukan sapaan atau lebih tepatnya ejekan orang- orang disekitarnya. Kayra sangat sedih namun ia tidak tahu apa penyebabnya. Bahkan saat ayahnya bertanya kepadanya ia kebingungan tidak tahu harus menjawab apa. Kayra kecil hanya bisa menangis. Sang ayah segera mencari ibunya dan mendapati sepedanya di dekat jembatan. Keadaan sepedanya rusak parah. Sang ayah menangis dan berteriak histeris saat regu penolong yang terjun ke sungai menemukan baju ibunya.


Banyak orang berkerumun menyaksikan pencarian sang ibu. Orang- orang datang semakin banyak. Dalam waktu bersamaan orang- orang itu mendongakkan kepala menghadap Kayra yang duduk di depan cermin. Tangan- tangan mereka terulur. Mereka berteriak bersama- sama "TOLONG SELAMATKAN KAMI!!!"


__ADS_2