Mantra Kutukan

Mantra Kutukan
Terperangkap


__ADS_3

Rasa kantuk mulai menyerang Kayra. Selain karena kekenyangan, semalaman ia tidak benar- benar tidur. Ditambah udara sejuk pagi hari, seperti memberi lem pada kelopak matanya. Kayrapun mulai memejamkan mata. Ia terkejut saat ada seseorang yang menjawil lengannya.


"Mbak... maaf mengganggu." Suara seorang pria mengagetkan Kayra yang sudah mulai terlelap. Kayra langsung membuka mata. Disampingnya sudah duduk seorang pria yang tadi bertemu di depan toilet.


"Ya.... ada apa?" Tanya Kayra kebingungan.


"Maaf apa mbak merasa kehilangan sesuatu?" Tanya si pria tidak langsung mengutarakan maksudnya. Membuat Kayra semakin bingung.


"Kehilangan? Aku gak merasa menjatuhkan sesuatupun." Jawab Kayra masih dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya.


"Tadi saya nemu cincin, apa mbak kehilangan cincin?" Tanya si pria lagi. Kayra reflek melihat jari manisnya. Cincin hadiah Dariel telah raib. Bagaimana bisa? ia merasa tidak pernah sekalipun melepaskan cincin Dariel dari jarinya. Membuatnya seketika kebingungan.


"Ya... cincin ku hilang, cincin sederhana dengan berlian mungil." Deskrisi Kayra cocok dengan cincin yang ditemukan si pria.


Sehingga si pria segera mengeluarkan sebuah cincin dari saku bajunya.


"Tadi saya menemukan dilantai toilet." Kata si pria seraya menyerahkan cincin Kayra. Kebahagiaan melingkupi hati Kayra, ia sangat bersyukur cincinnya tidak hilang. Hadiah pertama dari kekasih yang sangat dicintainya. Ia berjanji tidak akan ceroboh menghilangkan cincinnya lagi. Kayra menciumi cincinnya meluapkan rasa bahagia. Hingga sejenak ia melupakan keberadaan pria disebelahnya.


"Ehm...", si pria berdehem mengingatkan Kayra akan eksistensinya di samping Kayra.


"Maaf, trimakasih banyak mas. Sudah menemukan dan mengembalikan cincin saya." Kayra tersipu malu.


"Kenalkan nama saya Doni." Si pria mengulurkan tangannya. Kayra segera menyambutnya.

__ADS_1


"Rara." Kayra sengaja hanya menyebutkan nama panggilannya.


"Rara mau ke Jakarta juga?" Tanya Doni menebak.


"Iya, aku mau cari kerjaan di Jakarta." Jawab Kayra berbohong.


"Kalau gitu sama donk, aku mau kuliah ke Jakarta. Kalau boleh tukeran nomer hp?"


"Maaf aku gak punya hp." kata Kayra jujur.


"Ha... masak cantik- cantik kayak gini gak punya hp? apa jangan - jangan ia berbohong?" pikir Doni terdengar jelas di kepala Kayra.


"Sebenarnya aku kabur dari rumah, jadi gak sempat bawa apa- apa." Kata Kayra setengah berbisik, namun cukup jelas terdengar oleh Doni.


"Kamu gak takut pergi sendiri? Di Jakarta ada tempat yang dituju?" Doni mulai mencemaskan Kayra.


"Udah sering ke Jakarta?" Tanya Doni kembali menyelidik.


"Aku beberapa kali ke Jakarta, melihat Monas, Taman mini juga Ancol. Aku sangat senang ke Jakarta karena tidak pernah sepi ataupun gelap. " Kayra berbinar membayangkan dirinya pulang kerumah berkumpul kembali dengan keluarganya.


Doni manggut- manggut. "Kasihan sekali anak se polos ini harus dijadikan umpan. Bagaimana lagi, ini harus tetap dilakukan untuk menguak sindikat penculikan dan perdagangan gadis - gadis perawan. Mengingat sindikat penculikan ini cukup licin, sudah lebih dua tahun beroperasi namun belum bisa membongkar pentolannya. Lebih baik Rara tidak perlu dikasih tahu, yang terpenting aku sendiri yang akan melindunginya."


Kayra mendengar dengan jelas pikiran Doni. Ia tertegun, ia tidak menyangka akan terlibat dengan masalah sebesar ini. Kayra merasa takut, namun yang lebih menakutkan membayangkan jatuhnya korban perdagangan anak- anak gadis tak berdosa. Mereka akan kehilangan masa depan nya. Kayra memutuskan untuk mengikuti skenario Doni. Ia percaya Doni cowok baik- baik.

__ADS_1


Ratih datang mengagetkan Kayra dan Doni. Doni langsung berdiri dan memberikan ruang untuk Ratih bisa kembali duduk ke kursinya semula. Dalam hati Ratih mengumpat kesal. "Rara ini adalah calon korban yang bisa dijual dengan harga sangat mahal. Jangan sampai gara-gara cowok ini operasiku kali ini gagal. Aku harus menjauhkannya dari Rara. Aku tidak rela buruan terbaikku sampai lepas. Aku harus berhati - hati pada cowok ini, jangan sampai ia curiga."


"Ratih... dari mana? Lama sekali baru datang? Kenalkan ini Doni. Dia tadi menemukan cincin ku di toilet. padahal aku tidak menyadarinya sama sekali saat cincin ku jatuh." Kayra memulai pembicaraan untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka.


"Aku Ratih." Ratih mengulurkan tangannya dan segera disambut Doni.


"Doni." Doni menyebutkan namanya dengan suara parau dan sedikit batuk. Ratih langsung mengangsurkan sebotol air mineral kepadanya.


"Rara belum memerlukan bius ini. Biar ku kasih padanya saja, toh efeknya baru bekerja setelah enam jam. Obat bius ini bisa diandalkan, hingga tidak ada seorangpun dapat mengkaitkannya pada ku. Efek bius baru bereaksi tepat saat kereta api tiba di Jakarta. Hahaha tidak akan ada pengganggu yang patut ku kuatirkan." pikir Ratih dalam hatinya.


Saat mendengar pikiran Ratih, Kayra kebingungan. "Bagaimana ini? aku harus melakukan sesuatu." pikirnya. Kayra langsung berdiri ia sengaja menyenggol Doni yang bersiap meminum air mineral di tangannya. Botol air meneral itu terjatuh dan tumpah di lantai kereta api. "Maaf, aku buru- buru... perut ku mendadak mulas. Aku harus cepat ke toilet." Kayra segera berlari menuju ke toilet. Sesampainya ke toilet yang kosong ia segera mengunci pintu di belakangnya. Ia pun mengatur nafasnya yang tersengal. Kayra memang tidak berbakat menjadi pemain film atau sinetron. Baru berbohong sedikit, ia seketika grogi hingga detak jantungnya berdetak lebih cepat.


Beberapa waktu ia bertahan di dalam toilet. Ia mulai bertanya- tanya, berapa lama lagi waktu yang dimilikinya sampai kereta tiba di Jakarta? Bagaimana kalau nanti Ratih curiga padanya? Bagaimana kalau ia terjebak dalam perangkap Ratih dan tidak ada yang menolongnya?


Bermacam pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya. Ia pun memilih untuk menenangkan diri. Untuk kali ini ia akan mengumpulkan keberaniannya. Kayra segera kembali ke tempat duduknya. Disana Ratih sendirian. Ibu- ibu yang duduk dibangku yang berhadapan dengannya sudah tidak ada. Ia melihat ke pintu gerbong depan, si ibu- ibu sedang berdiri bersiap turun di stasiun.


"Ratih, mana Doni?" Tanya Kayra.


"Dia kembali ke gerbong belakang, bajunya tadi basah jadi ia perlu berganti baju." Kata Ratih acuh sambil tetap asyik mengirim pesan lewat WA. "Awas kau Ra... kau harus membayar kecerobohan mu. Stock bius terakhir ku terbuang percuma. Sekarang aku harus berikir keras untuk menjauhkan cowok rese itu."


Kayra membuang pandangannya keluar jendela. Ia tidak mengerti mengapa Ratih yang masih sangat muda terlibat pada tindak kejahatan seperti ini. Apakah Ratih sebelumnya juga adalah korban perdagangan anak? Ia ingin sekali minta penjelasan pada Ratih. Namun Kayra tahu ini bukan saat yang tepat.


***

__ADS_1


Tok...tok...tok


"Ra.... keluarlah, ini sudah hampir tengah hari. Apa kamu tidak lapar?" Dariel mengetok pintu Kayra.


__ADS_2